Cerpen – Gong di Balik Bulan

Adi Putra Purnomo

 

“Aku harus pergi, aku sudah muak dengan semua ini”

“Jangan…!!! kau hanya akan membuat kecewa orang banyak”

“Tidak…!!! aku harus pergi, aku sudah bosan dengan semua”

“Pikirkan perasaan orang tuamu, pikirkan kebahagiaan mereka, pikirkan perasaan orang-orang yang kamu tinggalkan”

“Aku bosan, tidak ada bagusnya, tidak membanggakan sama sekali”

Parmin tetap bersikeras akan kemauannya. Kata-kata Sular takmenyentuh perasaannya sama sekali. Malam itu angin berhembus dingin melewati sela-sela leher di bawah telinga, daun dan ranting bergoyang mesra sambil mendesah di bawahterangsinar bulan purnama. Bulan malam ini memang sangat terang.Keadaan sekitar terlihat jelas meski tanpa tintir yang menyala. Tanggal lima belas mongso ketiga dalam penanggalan jawa, langit cerah dihiasi hamparan bintang. Di sela rimbunan daun pohon trembesi, anak burung kutilang meringkuk kedinginan dalam pelukan induknya.Di wajah induk burung, tersirat kasih sayang bercampur rasa takut kehilangan. Barangkali angin malam serupa ancaman bagi jiwa anaknya.

Parmin melihat kuning cerah bulan purnama kala rebah di atas lincak. Melamun ia. Sinar kuning mengantar kehangatan bagi kedinginan musim kemarau. Bulan malam itu merupa lingkaran seutuhnya. Tak bisa tidak, Parmin ingat wujud gong yang sering dimainkannya.

Sudah sejak lama Parmin ingin berhenti menjadi pemain gamelan. Ia hanya berperan sebagai pemain gong. Ia membenci gamelan, terutama gong. Gong telah merenggut kehangatan hidupnya. Musabab gong, ia tak merasai kasih sayang seorang ayah. Sedari awal, menjadi pemain gong memang bukan keinginan Parmin. Ayahnya dulu pemain gong di kelompok karawitan desa. Kini, ia mewarisinya. Menurutnya, menjadi pemain gong itu membosankan dan tidak membanggakan sama sekali. Gong hanya pelengkap dalam sebuah pertunjukan. Bagaimana tidak, gong hanya dimainkan dua kali dalam satu gending. Sebagai pembuka dan penutup. Selebihnya hanya diam memperhatikan permainan para wiyaga lain. Pemain gong tidak pernah diperhatikan oleh penonton. Ia jelas-jelas  tidak menarik perhatian laiknya pemain kendang atau siter yang terlihat sangat piawai.

Terlebih Parmin punya alasan lain mengapa ia sentimentil terhadap gamelan, dan terutama gong.  Masa kecil Parmin sangat jauh dari kasih sayang ayahnya. Ayah Parmin jarang dirumah. Hari-harinya ialah berkeliling mementaskan karawitan dari satu desa ke desa lain, bahkan sampai keluar kota. Kalaupun sedang dirumah, ayahnya lebih memuliakan gong dari pada anaknya. Pernah suatu ketika Parmin kecil menduduki gong yang tergeletak di lantai, seketika ayah mendorongnya sampai terguling dan menangis. Sejak itu kebenciannya terhadap gong muncul.

***

Alunan gending mengalir masuk kedalam rongga telinga.Cengkok-cengkok yang mendayu merdu membuai penonton yang mulai memenuhi pelataran pendopo yang terletak di pusat desa. Angin berhembus membelai daun dan ranting yang sedang bermesraan. Suasana semakin terasa sakral ketika para wiyaga mulai hanyut dalam permainan. Tangan kuat mereka bergerak seolah tanpa kendali.Dalam kelindan irama, mereka bukan lagi diri mereka. Hanyut dalam irama serta buai suara gending yang dimainkan. Hari ini adalah latihan terakhir sebelum pentas esok hari. Pentas rutin dilakukan setiap tahun saat musim panenmangsa ketiga, bersama serangkaian upacara adat untuk memberi hormat serta syukur terhadap Tuhan yang menciptakan alam.

Gending terakhir sebagaipenutup latihan hari ini sedang dimainkan. Parmin melamun disela menunggu jatah permainan. Dalam lamunannya ia membayangkan rencana untuk melarikan diri. Tentu tanpa seorang pun mengetahuinya. Tekadnya kokoh tak dapat digugat ombak kebimbangan. Jantungnya berdegup kencang. Malam ini, ia berencana melarikan diri beserta gong paling besar yang ia mainkan. Rencana yang disusun sudah matang. Tinggal menunggu waktu latihan selesai. Saat malam tiba, ketika orang-orang sudah terlelap dengan mimpi indah di gubuk masing-masing, ia akan pergi bersama gong tersebut.

Parmin tetap memperhatikan alunan gending dengan seksama, ia tak ingin orang disekitarnya curiga. Tetap fokus pada permainan, menguasai diri agar terlihat biasa, dan sabar menunggu waktu sesuai rencana. Semua orang disekitar tak berprasangka kepadanya, kecuali Sular,seorang lelaki yang duduk di sudut luar teras pendopo.Diam-diam Sular memperhatikan tingkah laku Parmin. Sular satu-satunya orang yang mengetahui perihal masalah Parmin, ia sahabat Parmin sejak mereka masih senang menangkap ikan di sungai dan mencari belalang di ladang. Sular curiga bahwa Parmin memiliki rencana yang disembunyikan erat-erat.

Malam tiba. Angin berhembus dingin. Desah daun dan ranting yang saling bermesraan membuat para lelaki lebih memilih mendekap istri dan anak-anak mereka dalam balutan jarik yang hangat. Cahaya kuning emas remang-remang menyorotkan seberkas bayangan manusia dalam gelap. Bayangan itu nampak bergerak pelan sekali. Meski dilewati oleh sesosok bayangan, anak ayam pun tetap terlelap tanpa gangguan dalam pelukan sang induk.

Cahaya kuning emas rembulan terhalang oleh rimbunan daun dan ranting pohon-pohon johar menciptakan bagian gelap yang samar-samar. Dalam kegelapan yang samar,Parmin mengendap. Menjaga langkah supaya tak merupa suara. Parmin melewati jalan desa menuju gudang penyimpanan gamelan. Langkahnya cepat seperti tak menyentuh tanah memasuki pelataran pendopo. Burung hantu bersiulan. Kelelawar beterbangan di atas pendopo yang hanya bercahayakan lampu remang. Bulan purnama menyorotkan cahaya kuning keemasan membuat suasana menjadi mencekam. Ragu sempat melintas menghampiri Parmin. Saat ia melangkahkan kaki memasuki emperan. Namun tekadnya meluluhkan keraguan itu. Segera ia ambil gong yang besar, lalumembalutkan kainmoripadanya. Gong berbalut kain mori itu ia gendong di balik punggung. Secepat mungkin Parmin melangkahkan kaki meninggalkan desa.

Beban di balik punggungnya mulai terasa berat, tapi ia tetap harus bertahan. Ia hampir sampai batas terluar desa. Ia melambatkan langkah, terlihat sosok orang berdiri di bawah gapura batas desa. Wajahnya tertutup bayangan gapura sebab sorot cahaya purnama. Parmin lambatkan langkahnya.

“Jangan halangi aku, Lar! Tekadku sudah bulat. Persetan dengan segala omong kosong mereka nanti”. Sosok di balik gapura batas desa itulah si Sular, sahabatnya sedari kanak-kanak.

“Aku tidak menghalangimu. Tapi pikirkan kembali orang-orang desa, terutama kedua orang tuamu, mereka akan kecewa”

“Persetan! Aku sudah bosan”

“Kenapa kamu membawa gong itu?”

“Alat ini tidak berarti. Apa gunanya, Cuma alat tambahan”

“Kau egois, Min!”

“Persetan!”

Parmin berlari mengambil jalan melewati pematang sawah. Langkah kakinya semakin cepat meninggalkan Sular. Toh Sular tidak mengejarnya. Meski mungkin setelah ini persahabatan keduanya akan lebur. Parmin tidak peduli. Gambaran dalam hatinya hanya kesal dan muak terhadap gong yang dibawanya.Kini, ia sudah sampai dibalik bukit yang terletak di sebelah barat desa. Ada sebuah gubuk kecil yang terbuat dari gedhek tanpa pintu. Di depan gubuk terdapat lincak panjang dengan beberapa daun kering yang dihantarkan angin. Gubuk itu diterangitintir yang bercahaya redup. Ditengah sawah, di balik bukit yang sepi. Siapakah penghuni gubuk ini, batin Parmin.

“Kulo nuwun…”

Terlihat sosok lelaki tua sedang memandang tintir yang menyala redup. Keriput di wajahnya terlihat sama-samar dalam keremangan. Pakaiannya berwarna hitam sudah luluh, terlihat compang-camping di bagian dada.

“Iya nang. Ada apa? Siapa kamu? Kenapa kamu sampai disini?”

Mata lelaki tua itu bercahaya memantulkan api tintir. Seperti permata hitam yang mengkilat, seakan menyiratkan keindahan serta kebijaksanaan dalam diri lelaki tua itu.

“Saya Parmin, mbah. Saya sedang dalam perjalanan, dan mau menumpang istirahat sampai fajar tiba”

“Silakan, nak. Tapi ya cuma begini ini keadaannya”

“Tidak mengapa, mbah. Saya hanya butuh tempat merebahkan badan”. Parminmenurunkan beban di punggung. Melepaskan gong dari kain yang menutupinya. Gong itu ia sandarkan di dekat lincak tempatnya hendak merebah.

“Kenapa kamu membawa gong, nang? Apa kamu seorang wiyaga?” Tanya lelaki tua itu tiba-tiba. Parmin yang hampir sampai pada alam tidur sontak membuka matanya.

“Benar mbah. Tadinya saya seorang wiyaga, tapi sekarang tidak lagi. Saya sudah berhenti. Gong ini akan k hilangkan. Karena aku membencinya”

“Kenapa kamu berhenti dari pekerjaan mulia, nang? Kenapa kamu membenci benda yang tidak berdosa itu?”

“Aku muak! Aku hanya pemain gong. Bermain hanya dua kali dalam satu gending. Aku tidak menarik perhatian penonton. Lagi pula aku membenci gong ini mbah. Benda ini telah merenggut kasih sayang ayahku. Karena benda busuk ini masa kecilku dingin. Tak bergairah.”

“Hemmmmm”. Wajah lelaki tua itu masih saja menatap tintir yang menyala redup.

“Tahukan kamu apa sebenarnya gong itu, nang?”

“Apa maksudmu mbah?”

“Gong itu apa, nang?”

“Gong ya gong mbah. Hanya sebongkah alat pelengkap pertunjukan karawitan. Apa lagi?”

“Kamu tidak memahaminya, nang. Gong itu lebih dari sebuah benda”.

“Apa maksudmu mbah?”

“Gong itu besar, nang. Perlambang keagungan Tuhan. Kamu beruntung dapat memainkannya. Artinya kamu dekat dengan keagungan Tuhan. Kalau kamu menganggap gong itu tidak membanggakan karena hanya bermain dua kali dalam satu gending, coba bayangkan apa yang bakal terjadi kalau gong itu tidak dipukul dalam sebuah pentas? Kalau gong tidak dibunyikan, maka gending tidak dapat dimainkan. Gending juga tidak dapat diakhiri kalau tidak ada bunyi gong. Gong adalah mula. Gong adalah akhir. Perlambang kelahiran dan kematian manusia. Bila gending sendiri kehidupan. Maka gong itulah kelaihiran, dan kemudian kematian. Pertanda keseimbangan.Semua orang yang dilahirkan juga akan mati. Kalau kamu memukul gong di tengah gending, berarti melawan kehendak Tuhan. Membunuh yang belum waktunya mati. Sungguh mulia kamu bisa menjadi pemukulnya, nang. Kamu berada di dekat keagungan Tuhan. Keagungan Tuhan.”

Kalimat panjang lelaki tua menghantar Parmin pada alam tidur. Ia dan lelaki tua itu tak tahu sampai di manakah kalimat yang masih didengar Parmin sebelum terlelap. Angin menyisir kulit legamnya. Rerumput mendesah di antara bait lagu kesedihan. Menyayat hati setiap yang mampu mendengar bisikannya. Api tintirkian meredup. Lantas mati.

***

Matahari mulai meninggi, memulai pekerjaannya mengawasi setiap hamparan permukaan bumi. Anak-anak burung kutilang bersiul riang, bertengger di ranting pohon yang kering, menyanyikan lagu keindahan. Angin kering yang dingin berhembus membelai leher setiap orang yang sudah memadati pelataran pendopo. Saling surup terdengar lirih dari mulut mereka. Suara gumremeng memenuhi pelataran pendopo, tumpang tindih suara mereka seperti bunyi sekelompok lebah yang siap menyerang. Di dalam pendopo, sekelompok orang terduduk dalam kebingungan. Raut wajah yang tegang terpancar di wajah setiap orang. Gong paling besar hilang, Parmin juga menghilang. Acara tidak dapat dimulai, setiap orang membicarakan prasangka. Sular terdiam, termenung dalam ingatan kejadian semalam.

Duuuuuunnggggg………………

Tiba-tiba terdengar suara dasyat menggema kesegala sudut desa memecah keriuhan. Semua mata berpaling ke segala arah mencari asal bunyi. Mata mereka segera mengarah ke atas bukit sebelah barat desa. Terlihat benda seperti bulan yang bersinar di pagi hari. Cahayanya kuning keemasan memantulkan cahara matahari. Bentuknya lingkaran sempurna. Di sebelahnya terlihat Parmin memegang pemukul gong.

Suara gendingmengalir kerongga telinga.Cengkok-cengkok mendayu merdu mengejutkan penonton yang memenuhi pelataran pendopo. Didalam pendopo terlihat para wiyaga sudah menempatkan diri memainkan gending. Acara dimulai.

 

Leave a Comment