Pesawat Kertas

Penulis Yuditeha
Versi cetak Gora Pustaka Indonesia 2019
Pencerita Noer Atmaja
Ilustrasi musik Endah Fitriana

Tersebutlah lima sekawan yang kompak. Yang pertama bernama Anjani yang berarti putih, kedua bernama Hepita yang berarti putri, ketiga bernama Kamal yang berarti luar biasa, keempat bernama Nursam yang berarti cahaya matahari, dan kelima bernama Sehar yang berarti cerdas. Meski mereka berbeda sifat tetapi selalu rukun. Suatu hari mereka memutuskan untuk bertanding membuat dan menerbangkan pesawat kertas. Siapa di antara mereka yang bisa menerbangkan paling jauh pesawat kertas buatannya, dialah yang menjadi juaranya.

Hari yang ditentukan tiba. Kelima sekawan telah bersiap. Yang digunakan untuk bertanding adalah tempat favorit mereka biasa bermain, di sebuah kebun yang cukup luas, belakang rumah tak berpenghuni yang di dekatnya ada sungai kecil yang airnya sangat jernih. Masing-masing dari mereka sudah menyiapkan kertas sebagai bahan membuat pesawat. Begitu pembuatan pesawat kertas telah selesai, mereka berlima siap di tempatnya masing-masing untuk menerbangkannya.

Dari kelima sahabat itu, hanya Nursam yang sangat yakin akan memenangi pertandingan itu. Sedangkan yang lainnya lebih menikmati uforia kegembiraan bertanding. Ketika sudah siap, mereka memberi aba-aba bersama-sama. Satu, dua, tiga…. Pesawat kertas mereka terbang.

Setelah masing-masing melakukan pengamatan sendiri-sendiri, pesawat Sehar menempati urutan ke-4, dan pesawat Anjani meraih nomor 3. Lalu yang berhasil menempati urutan ke-2 pesawat milik Kamal. Dan tidak disangka, yang meraih juara pertama si cantik Hepita. Mereka tampak bersuka ria. Tapi sorak-sorai mereka seketika terhenti usai mendengar peringatan “Stop” dari Hepita.

“Ada apa Hepita?” tanya Kamal.

“Pesawat Nursam mana?” tanya Hepita. Spontan mereka melihat ke arah Nursam, yang ternyata sedang nangis terisak.

“Nursam kenapa?” tanya Anjani. Tanpa bicara tangan Nursam menunjuk ke arah sungai. Ternyata pesawat Nursan sedang hanyut di sungai kecil itu. Tanpa diberi aba-aba keempat teman Nursam mendekati pesawat. Mereka saling bantu untuk meraih pesawat Nursam yang hanyut. Saking gembiranya mereka seperti tak peduli basah, bahkan tak peduli tentang peringkat juara yang ditentukan di awal. Kegembiraan itu terasa sempurna kala Sehar memanggil Nursam untuk ikut larut dalam kebersamaan itu.***

Pesan Bu Aini

Cerita anak Reski Indah Sari
Versi cetak Gora Pustaka Indonesia 2019
Pencerita Indah Darmastuti
Ilustrasi musik Endah Fitriana

Guru baru itu terus melangkah menyusuri lorong-lorong kelas. Buku-buku tebal sudah ia pegang sejak turun dari mobil angkutan umum. Penampilannya biasa saja, tidak ada bedak, lipstik, dan alis tebal yang menghiasi wajahnya. Tidak ada cincin, jam tangan atau pun gelang emas yang ia kenakan. Ia sangat sederhana.

“Wahh, di sekolah kita ada guru baru, Gin.”

“Iya, Nai. Aku juga melihatnya. Kalau tidak salah, namanya Bu Aini, guru Bahasa Indonesia di kelas empat.”

“Senyumnya manis sekali, yahh. Semanis gula aren di kampung kita. Hehehe.”  jawab Gina sambil tertawa kecil.

*

Bu Aini selalu masuk ke sebuah ruangan yang sepi, ruangan itu sudah tiga tahun tidak difungsikan. Aku sering mendapai Bu Aini menyapukan jemarinya di sepanjang rak buku. Ia merapikan buku-buku yang berdebu, buku-buku itu ia susun sepenuh hati.  Bu Aini selalu bilang kalau perpustakaan adalah ruang ajaib. Perpustakaan bisa mengenalkan banyak hal, ruang yang dipenuhi kata-kata indah seisi dunia.

Bapak Kepala Sekolah pernah memandang Bu Aini dengan kesal. Bu Aini masih terus merapikan buku-buku tua yang mulai termakan rayap.

“Apa yang Bu Aini lakukan di sini?”

“Saya sedang  merapikan buku-buku perpustakaan, Pak.”

“Ini ruangan yang tidak difungsikan lagi. Bu Aini pergi saja mengajar.”

“Astagaaa. Maaf, Pak. Saya benar-benar lupa. Tapi ini perpustakaan, Pak. Anak-anak harus dekat dengan buku. Anak-anak harus rajin membaca.”

“Ah, cukup. Terserah Ibu saja.” Kepala Sekolah pergi begitu saja, Bu Aini terlihat cemas. Ia melupakan waktu mengajarnya karena merapikan perpustakaan.

*

Bu Aini selalu mengerti apa yang kami inginkan, entah dengan cara apa. Saat ajakan pertama, kami selalu menolak untuk datang ke perpustakaan, tapi Bu Aini  selalu menang dengan cara yang tak pernah bisa dimengerti. Aku tahu kalau Bu Aini sudah sepenuh hati mengubah perpustakaan menjadi tempat mengagumkan seperti saat ini. Aku juga tahu kalau Bu Aini telah mengeluarkan uang pribadinya demi merenovasi perpustakaan di sekolah kami.  Lukisan, buku-buku baru, dan warna ruangan sangat menarik perhatian kami

Seluruh siswa mulai berkunjung ke perpustakaan setiap jam istirahat. Tempat ini benar-benar ajaib, semakin hari semakin ramai, perpustakaan menjadi tempat yang menyenangkan untuk semua siswa.

“Nailah….” sahut Bu Aini.

Ia tersenyum lebar saat melihatku dan beberapa teman lainnya membaca buku di perpustakaan.

“Terima kasih untuk hari ini. Besok datang lagi, yaaaah.”

“Iya, Bu. Pasti.”

*

Tapi, aku benar-benar terlambat. Hari itu aku melihat Bu Aini berbicara dengan Bapak Kepala Sekolah di kantor, aku belum mengerti maksud mereka. Bu Aini mulai berjalan keluar, pergi dan tidak menoleh lagi. Semakin jauh, tubuh Bu Aini pelan-pelan mengecil dan hilang di lorong kelas. Aku terlambat sadar kalau Bu Aini benar-benar berhenti menjadi guru di sekolah kami

“Tolong jaga perpustakaan. Rajinlah membaca, Nak!”

Hanya kalimat itu yang aku temukan di atas meja Bu Aini.

“Hmm. Ini tidak lucu. Ini jahat.” aku menggumam.

Aku menelan ludah yang terasa pahit, susah payah menguatkan diri. Aku maju selangkah dan merapikan buku-buku yang berserakan di perpustakaan.

Dua bulan benar-benar singkat bersama Bu Aini. Semenjak Bu Aini pergi, aku selalu duduk di lantai dengan punggung yang bersandar di dinding. Perpustakaan terasa berbeda, kami selalu terdiam. Tak ada senyum yang dulunya meneduhkan hati kami, tak ada tatapan yang menguatkan kami, tak ada kata-kata  ajaib yang menyihir kami lagi.

Banyak buku-buku cerita yang menarik perhatian kami untuk ke perpustakaan. Buku-buku baru dengan gambar yang beragam selalu kami lihat bergantian. Menghidu halaman buku-buku  juga sangat menyenangkan. Bu Aini pernah berpesan, kalau sesama manusia itu harus sipakainge. Dalam bahasa Bugis, sipakainge  itu berarti saling mengingatkan dalam kebaikan. Membaca itu baik, dan mengajak orang lain membaca adalah mengajak pada kebaikan.

“Terima kasih untuk hari itu, Bu.”

Aku berjanji akan rajin membaca dan menjaga buku-buku di perpustakaan.

***

Berburu Kupu-kupu

S. Gegge Mappangewa
Versi cetak Antologi Memetik Keberanian, Gora Pustaka Indonesia 2019
Narator Indah Darmastuti
Ilustrasi Musik Endah Fitriana

Peserta perkemahan SD Plus Al Ashri akhirnya tiba di Bantimurung.  Semua murid  sangat senang karena  selain terkenal dengan air terjun dan guanya, kawasan  wisata ini juga dikenal sebagai tempat penangkaran kupu-kupu.  Aneka spesies kupu-kupu ada di Bantimurung, bahkan beberapa jenis kupu-kupu langka dunia sering didapatkan terbang di sini.

Dede sudah hendak berlari untuk melihat-lihat kupu-kupu yang diawetkan dan dijual di pinggir jalan tapi Pak Bahtiar melarang lewat speaker megaphone.

“Seluruh peserta perkemahan, tidak meninggalkan kelompoknya!”

Langkah Dede.

“Seluruh komandan regu, langsung mengatur barisannya. Regu putra di samping kanan saya. Putri di sebelah kiri. Jangan lupa, barang-barang disimpan di samping  barisan masing-masing.”

Selain pemandangan air terjun yang jatuh dari tebing tinggi, peserta perkemahan juga  terkesima dengan  kupu-kupu yang terbang  bebas di atas kepala mereka.

“Woow…cantiknya! Masyaallah!” puji Gita saat seekor kupu-kupu bersayap biru kombinasi putih terbang di depannya.

“Air terjunnya juga  indah, tuh sana, tinggi sekali!” teriak Zahira.

“Menurut Pak Bahtiar, besok sebelum pulang, akan ada acara mandi-mandi di bawah air terjun….” ucap Gita sambil terus melangkah bersama teman regunya.

“Asyiiikkkkk…!” seru mereka satu regu.

***

Hari kedua. Mencari jejak.

Regu Kijang, regu Dede dan Rahmat mendapat giliran berjalan paling terakhir. Sepanjang perjalanan, setiap regu akan memecahkan kalimat sandi. Namun, Dede dan Rahmat sudah punya misi lain. Sengaja mereka berdiri di barisan paling terakhir agar   bisa keluar dari barisan untuk mencari kupu-kupu.

“Duh, perutku mules!” Dede bersandiwara. “Kalian duluan aja, saya mau  buang air dulu. Rahmat temanin saya ya!” lanjutnya sambil mengedipkan mata.

Temannya yang lain tak curiga. Mereka berangkat duluan, sementara Dede dan Rahmat mengambil jalur lain. Belum beberapa menit berjalan mereka sudah menemukan kupu-kupu kuning yang terbang rendah.

“Tuh sana, De! Cantik sekali!”

Mereka sudah menyiapkan stoples plastik bening yang tutupnya dibocori untuk menyimpan kupu-kupu yang sudah tertangkap. Sementara alat penangkapnya, mereka buat dari  plastik bening yang diikat berbentuk  stoples tanpa tutup kemudian diberi kayu panjang.

Mereka melangkah pelan. Kupu-kupu yang diincarnya sedang hinggap di rumput berbunga. Dede melangkah hati-hatisambil menjulurkan kayu panjang yang ujungnya berupa perangkap kupu-kupu.

Satu… dua… tiga… happp…! Berhasil.

“Alhamdulillah…. Cepat, Rahmat! Cepat masukkan stoples!”

Rahmat berlari ke arah kupu-kupu yang terperangkap dan memasukkannya ke dalam stoples.

“Cantik sekali…! Cari lagi, yuk!”

Mereka berjalan lagi ke dalam hutan. Mengejar kupu-kupu biru yang lebarnya  hampir sama dengan telapak tangannya. Sayangnya, kupu-kupu yang dikejarnya kali ini tak pernah terbang rendah, jadi susah untuk ditangkap.

“Kejar terus aja, De! Kayaknya kupu-kupu ini langka lho, lebar sekali!”

Semak belukar mereka lompati, berlari dengan mata mengarah ke kupu-kupu membuat mereka sering terjatuh karena kaki tersangkut rumput  yang merambat, hingga akhirnya kupu-kupu yang dikejar itu menghilang. Tanpa mereka sadari, mereka  terlalu dalam masuk ke hutan.

Kuweekkk…,kweeekkk….

“De, suara apa itu?”

Keduanya kemudian melihat ke sekeliling. Tak ada yang didapatkannya kecuali hutan lebat.

Kuweekkk…,kweeekkk….

Mereka secara bersamaan menghadap ke atas, dan didapatkannya kawanan monyet di atas pohon. Dede yang usil kemudian melemparinya dengan batu kecil dan tanpa pernah diduga, monyet itu melemparinya dengan buah pohon liar. Tak hanya membalas dengan melempar, suaranya yang semakin keras ternyata memberi isyarat kepada monyet lain untuk terus berdatangan. Mereka melempari  Dede dan Rahmat, bahkan ada yang berani turun  lebih rendah untuk mencakar Rahmat dan Dede.

Keduanya lari terbirit-birit, sementara suara monyet semakin ramai melompat di atas pohon, tepat di  atas mereka berlari.  Dede kemudian mengambil kayu yang dipakai sebagai  alat penangkap kupu-kupu. Kayu panjang itu dipukul-pukulkan ke arah monyet, hingga monyet ketakutan.

“Kita hampir mati dicakar monyet,”

“Tapi, De! Sepertinya sudah hampir sore….”

Dede mencari matahari yang terlindung pohon lebat sehingga tidak terasa kalau mereka sebenarnya sudah lama sekali berada di dalam hutan. Dede yang pemberani itu, kini mulai menampakkan wajah cemas. Semakin lama mereka berjalan, hutan malah semakin lebat.

“De, sepertinya ini bukan jalan pulang,” Rahmat sudah setengah menangis.

Suasana dingin  mulai  menyerang pertanda sore semakin mendekati malam. Hutan juga sudah mulai gelap.

“Rahmat, kamu punya bekal nggak, lapar nih,”

“Tasku cuman berisi stoples tempat kupu-kupu….”

“Kalo gitu, kita coba jalan ke arah sana….”

Semakin lama dia berjalan, semakin lelah, juga semakin gelap. Bukan karena hutan yang semakin lebat, tapi karena malam sudah mulai datang.     

“Istirahat dulu, De! Capek. Saya juga lapar sekali,”

Dede yang merasakan hal yang sama, memilih duduk dan bersandar di sebatang pohon besar. Malam benar-benar telah turun. Dede dan Rahmat sudah menangis ketakutan. Kini, mereka  baru menyesal telah melanggar aturan mencari jejak.  Terbayang di kepalanya, dia akan dimangsa binatang buas malam ini. Tenaganya pun semakin habis. Lagi pula, dia tak tahu jalan pulang, semakin dia berjalan, yang didapat hanyalah hutan yang semakin  lebat.

“Teman-teman pasti sudah pulang ke Makassar,” Dede terisak.

“Kita jalan lagi, yuk! Daripada tinggal di sini, bisa-bisa kita dimangsa binatang buas.”

 Mereka memaksakan diri untuk  berdiri dan berjalan lagi. Berkali-kali mereka terjatuh karena  kaki tersangkut.  Mereka tak melihat apa-apa karena  cahaya bulan tak bisa menembus hutan berpohon lebat. Mereka berjalan sambil menangis dan berteriak meminta tolong. Dalam hati, mereka berjanji tidak akan mengulang lagi perbuatannya yang melanggar aturan.

“Toloooonngngng…,” teriaknya bergantian dengan suara yang serak karena bercampur tangis.

Tak ada balasan kecuali suara rayap malam yang bersahut-sahutan. Tapi dia tetap berusaha, berjalan dan berjalan terus untuk keluar dari hutan itu. Dalam hati pun mereka selalu berdoa agar diselamatkan.

“Rahmaaaaatt….”

“Deeeedeeeeee….”

“Ada yang memanggil-manggil, De!”

Mereka semakin mengeraskan suaranya minta tolong.  Dalam hati mereka bergembira dan bersyukur. Tapi begitu suara orang-orang yang memanggilnya mendekat, mereka ketakutan lagi. Suara-suara itu bukan suara gurunya, juga bukan suara teman-temannya. Mereka membawa obor.

“Jangan-jangan mereka penghuni hutan ini,” bisik Dede.

“I…iya, mereka pasti akan menangkap lalu membakar kita untuk disantapnya….”

Orang-orang yang memanggilnya tadi semakin mendekat ke arahnya. Dede gemetar. Rahmat  sudah ngompol ketakutan. Mereka pingsan berdua saat orang-orang  yang mendekat ke arahnya itu.

***

Saat terbangun, Dede dan Rahmat sudah berada di tenda. Ternyata yang menangkap mereka di hutan semalam adalah  regu penyelamat.

“Bukannya dapat kupu-kupu langka dunia malah tersesat dan hampir meninggal dunia.” goda Pak Bahtiar.

Teman-temannya tertawa. Dede dan Rahmat tersenyum malu-malu. Mereka senang punya teman yang selalu ada untuk menghibur dan memaafkannya.***

Kaca mata Nenek

Penulis : Efierfita Ayulis
Versi cetak Gora Pustaka Indonesia 2019
Pencerita : Indah Darmastuti
Ilustrasi Musik : Endah Fitriana

Thania heran melihat Nenek yang hanya berputar-putar saja di ruang tamu. Entah apa yang akan dilakukan Nenek, dari tadi hanya berputar-putar di ruangan itu.

“Nek!” sapa Thania. Tetapi Nenek tidak menjawabnya.

Thania mendekati Nenek, beliau sibuk mencari-cari sesuatu. Thania pun ikut melihat-lihat di sekitar Nenek. Thania melihat ada kacamata di bawah meja, sekarang dia mengerti.

Tanpa membuang-buang waktu lagi, Thania mengambil kacamata tersebut dan meletakkannya ke dalam genggaman Nenek.

“Terimakasih, Cu!” Nenek memakai kacamata. Thania melihat rona bahagia di wajah Nenek.

“Wealah, Thania, Nenek tidak tahu kalau itu kamu. Pusing Nenek mencari kaca mata ini dari tadi, terimakasihya Than!” Nenek membelai rambut Thania dengan lembut.

“Sama-sama, Nek!” Thania ikut senang melihat senyum Nenek.

Pandangan Thania terhenti pada kaca mata nenek yang sudah jelek, ada rasa kasihan timbul di hatinya. Tiba-tiba saja Thania punya ide,

“Nek, Thania pamit dulu ya, Thania mau main ke rumah Ratna.”

“Hati-hati ya Than, jangan pulang kesorean!”

“Iya Nek, Assalamualaikum!”

Thania menyalami Nenek dan berlalu ke luar rumah.

Thania tidak pergi ke rumah Ratna, tetapi dia berbelok ke samping, dia mencari kakaknya Naila yang sedang menanam bunga.

“Uni! Tadi Thania lihat kacamata Nenek sudah jelek, Uni kan pintar melukis, bagaimana kalau kaca mata Nenek kita perbaiki?”

“Boleh juga Than, tapi bagaimana caranya meminjam kaca mata itu? Nenek kan tidak pernah melepaskan kaca matanya,” Naila terlihat bingung.

“Uni tenang saja, sekarang Uni pikirkan lah model yang akan Uni buat, supaya kaca mata Nenek jadi bagus,” Thania menjawab dengan tersenyum.

“Okay deh, tugas Thania mengambil kaca mata Nenek ya, biar Uni yang menghiasnya,” Naila segera merapikan tanaman bunga, dan membersihkan tangannya.

Thania senang sekali, dia kembali ke dalam rumah. Diam-diam dia mengintip Nenek yang sedang istirahat di kamar. Sepertinya Nenek sudah tertidur, dengan berjinjit Thania masuk pelan-pelan, dia mengambil kaca mata Nenek yang ada di meja samping tempat tidur. Tanpa banyak halangan, Thania berhasil mengambil kaca mata itu, lalu segera membawanya ke kamar Naila.

“Ini kaca matanya, Ni,” Thania memberikan kaca mata itu pada Naila.

“Wah…kasihan Nenekya, kaca matanya sudah jelek begini.”

Naila mengeluarkan cat air yang biasa digunakannya untuk melukis, dengan hati-hati, dia mulai menyapukan kuas itu ke cat air yang telah dituangkan ke mangkok. Naila memang suka melukis, perlahan gagang kaca mata itu mulai dilukisnya, ternyata dia melukis pelangi, sehingga gagang kaca mata yang tadi kusam, dan mengelupas, kini berubah seperti untaian pelangi, paduan warnanya juga bagus.

Ada belitan pelangi mengitari gagang itu, di dekat bagian kaca yang ada lempengannya, diberi gliter warna warni.

“Wahhh.. bagus sekali Uni,” Thania sangat senang melihat hasil kerja Naila.

“Iya Than, Nenek akan tambah keren kalau pakai kaca mata ini,” mereka sangat senang.

“Ayo kita ke kamar Nenek,” Thania mengajak kakaknya menemui Nenek.

Ketika sampai di kamarNenek, mereka sangat kaget, karena di sana ada Papa yang sedang sibuk mencarise suatu, sementara Nenek duduk di kasur sambil memegang keningnya yang benjol.

Sepertinya Nenek kejedut pintu, gara-gara tidak pakai kaca mata.

“Nah…kebetulan kalian datang, tolong bantu Papa mencarikan kaca mata Nenek!” Papa berkata sambil terus mencari-cari kaca mata di bawah tempat tidur. Thania dan Naila saling berpandangan, ada rasa takut tiba-tiba muncul di hati mereka.

“Kok kalian tidak juga bergerak?” tanya Papa heran.

“Maaf Pa, ini kacamata Nenek,” Thania menyerahkan kaca mata itu pada Papa. Papa terlihat kaget. Dia membolak balik kacamata yang ada di tangannya.

“Kenapa kaca mata ini ada pada kalian? Kok gagangnya jadi seperti ini?” tanya Papa heran. Thania dan Naila ketakutan, mereka bingung mau berkata apa. Tidak pernah terpikirkan oleh mereka, Nenek akan celaka gara-gara kaca matanya mereka ambil.

“Ada apa dengan kalian? Kok diam saja?” tanya Papa heran.

“Maaf Pa!” Thania menjawab sambil mengumpulkan segenap keberaniannya.

“Kami sengaja mengambil dan menghias kaca mata itu, Pa. Karena gagangnya sudah jelek,” jawab Thania ragu-ragu.

Papa terlihat kaget, ada rasa yang tidak dapat ditebak dari wajahnya, selama ini dia tidak memperhatikan kondisi kacamata Ibunya. Kalimat Thania serasa menampar wajahnya.

“Wahhh… pintar cucu Nenek, makasihya Thania dan Naila, Nenek senang sekali dengan kejutan kalian ini,” ujar Nenek dengan wajah penuh kebahagiaan.

“Wow…kaca mata Nenek jadi keren, nih!” Nenek memakai kaca matanya dengan senyum ceria.

“Alhamdulillah Nenek suka dengan karya kami,” Naila tersenyum puas. Nenek meraih Thania dan Naila ke dalam pelukannya. Mereka berdua tersenyum bahagia.

Diam-diam Papa menghapus air matanya yang luruh tak tertahan, ada rasa haru merasuk ke dalam hatinya. Papa sangat bersyukur memiliki putri yang sangat peduli dan menyayangi neneknya.

Papa berdoa semoga Naila dan Thania tumbuh menjadi anak-anak yang soleha, penuh kasih saying dan membanggakan kedua orang tuanya.

Dalam hati, Papa berjanji akan membelikan Nenek kaca mata baru. Memang sudah waktunya kaca mata nenek diganti.

Terima kasih anak-anak baik, papa pun ikut memeluk Naila dan Thania. Mereka semua tersenyum bahagia. Nenek pun larut dalam kehangatan pelukan anak dan cucu-cucunya.

Andi dan Teman Barunya

Penulis : Arie Siregar
Versi Cetak Gora Pustaka Indonesia 2019
Pencerita : Indah Darmastuti
Ilustrasi Musik : Endah Fitriana

Andi berjalan mengumpet ke dapur sambil menenteng tas sekolahnya. Ia melihat sekeliling, memastikan tidak ada siapa pun yang melihatnya. Sampai di dapur, ia mengambil beras dari tempat penyimpanan beras. Dimasukkannya satu liter ke dalam kantong plastik lalu disimpannya ke dalam tasnya. Ia tidak tahu, ibunya melihat perbuatannya itu dari balik tembok ruang tengah. Mengintipnya sejak tadi.

            “Andi berangkat, ya, Bu!” teriak Andi dari pintu samping, setelah meninggalkan dapur dan memakai sepatu. Ia hendak berangkat ke sekolah.

            Ibunya lantas keluar dari persembunyian, mengejarnya ke pintu samping sambil balas berteriak, “Andi, tunggu dulu!”

            Andi berhenti dan berdiri di depan pintu, menunggu Ibunya. Ia menyandang tasnya yang bertambah berat karena seliter beras yang dimasukkannya.

            “Ada apa, Bu?” tanya Andi pada Ibu yang sudah berdiri di ambang pintu.

            Ibu tersenyum sekejap lalu meraih dan mengelus-elus kepala Andi.

“Kamu nggak bawa bekal kan? Ini ibu kasih uang saku, siapa tahu nanti kamu lapar di sekolah dan pengin beli jajan. Tapi jangan jajan sembarangan,” kata Ibu sembari memberikan selembar uang lima ribu rupiah.

            Andi tentu saja menerima uang itu dengan senang hati, lalu berangkat ke sekolah setelah mencium punggung tangan kanan Ibu. Lantaran sekolahnya tidak jauh, Andi berangkat sendiri berjalan kaki. Ia tidak pernah mau lagi diantar Ayah atau Ibu sejak ia naik kelas tiga. Sekarang, ia sudah duduk di kelas lima.

            Begitu Andi keluar dari halaman rumah, Ibu ternyata diam-diam mengikuti Andi. Berjalan agak jauh di belakangnya. Ibu mengikutinya karena ingin tahu mengapa tadi ia mengambil beras di dapur. Apakah akan memberikannya kepada orang lain sebelum masuk ke sekolah? Tanya Ibu dalam hati.

            Namun ternyata, perkiraan Ibu salah. Andi tidak mampir ke mana-mana. Andi langsung menuju sekolah. Tapi Ibu tetap saja tidak yakin kalau Andi akan menggunakan beras itu di sekolah, atau menyerahkannya kepada orang lain di sekolah. Maka Ibu akhirnya memutuskan pulang dulu ke rumah, dan akan melanjutkan lagi pengintaiannya saat nantiAndi pulang sekolah.

Benar kecurigaan Ibu, setelah bel pulang berbunyi dan Andi keluar dari gerbang sekolah, Andi ternyata tidak langsung pulang rumah. Ia berjalan sendirian menuju ke arah yang lain.

Ibu yang ternyata sudah bersembunyi di dalam warung depan sekolah sejak tadi, langsung keluar dan mengikuti Andi lagi. Ibu berjalan diam-diam agak jauh di belakang Andi. Hingga hampir lima belas menit berjalan, Ibu berhenti dan bersembunyi di balik sebuah pohon besar di pinggir jalan. Ibu berhenti karena melihat Andi menghampiri seorang anak laki-laki di sebuah pos ronda.

            Anak laki-laki yang dihampiri Andi itu, terlihat lebih tua dari Andi. Tubuhnya juga terlihat lebih tinggi dan besar. Ia menyambut kedatangan Andi dengan senyum yang sangat ramah. Tapi, penampilan anak laki-laki itu membuat Ibu khawatir. Ia Nampak kotor dan lusuh. Bercelana pendek dan kaos oblong yang sudah compang-camping. Ibu menduga ia pasti bukan anak sekolah.

            Ibu terus memperhatikan Andi dan anak laki-laki itu dari balik pohon hingga Andi memberikan beras yang dibawanya kepada anak laki-laki itu. Setelah itu, Ibu cepat-cepat pulang lebih dulu ke rumah

Di rumah, Ibu langsung menanyakan soal beras itu kepada Andi setelah Andi menyantap habis makan siangnya. Andi sempat terkejut dan takut ingin menjawab, karena mengira Ibu akan marah. Tapi setelah Ibu mengatakan “tidak akan marah”, Andi akhirnya menjawab jujur.

“Buat Andi kasih ke teman Andi, Bu,” jawab Andi pelan sambil menundukkan wajah.

            “Teman Andi siapa? Kok dikasih beras?” Tanya Ibu lagi semakin penasaran.

            Andi sempat bingung mau menjawab apa, tapi akhirnya ia menjelaskannya pelan-pelan tentang siapa temannya itu. “Namanya Lindu, Bu. Dia pemulung. Dia Cuma tinggal dengan ibunya di rumah kardus di pinggir sungai dekat sekolah. Ibunya sakit, nggak bisa berjalan lagi. Andi sudah beberapa kali kasih dia beras, dan kadang Andi bawain bekal Andi juga buat dimakan bareng sama dia.”

            “Terus, kenapa dikasih beras sama bekal Andi?”

            “Karena dua minggu lalu, dia tolongin Andi dari anak-anak jahat, Bu.”

            “Anak-anak jahat?” Tanya Ibu dengan raut wajah terkejut.

            “Iya, Ma. Anak-anak SMP yang sering memalak uang saku Andi setiap kali pulang sekolah. Waktu Andi digangguin sama mereka dua minggu lalu, Lindu nggak sengaja lihat dan langsung menghajar mereka. Berkat Lindu, Andi nggak pernah digangguin anak-anak nakal itu lagi, Bu.”

            Ibu benar-benar tidak tahu kalau ternyata Andi sering diganggu dan dipalak anak-anak nakal. Ibu sedih, tapi senang juga karena ternyata Andi mendapatkan teman baik, yaitu Lindu. Ibu kemudian beranjak memeluk Andi.

Dalam pelukan Ibu, Andi berkata, “sebenarnya, Andi sering coba ngasih Lindu uang jajan Andi. Tapi Lindu menolak. Makanya, Andi kasih beras. Andi sedekah, seperti Ibu.”

Ibu tersenyum menatap wajah Andi yang juga tersenyum. Ibu mencium kening Andi laluberkata, “Ya sudah. BesokajakLindukemari, ya. Kalaudiamausekolah, Mama akan bantu biaya sekolahnya. Kita sedekah buat dia.”

“Bener, Bu? Asyik!” Andi teriak kegirangan.

Tikus Besar dan Kerbau Kecil

Penulis : Syaifuddin Gani
Versi Cetak : Gora Pustaka Indonesia 2019
Penutur : Indah Darmastuti
Ilustrasi Musik : Endah Fitriana

Suatu hari, seekor anak kerbau sedang asyik menyantap padi di sawah. Batang-batang padi yang mudadimakannya dengan lahap. Tiba-tiba saja, terdengar suara cericit yang kesakitan.

“Aduuuuh tolooong, sakiiit. Kakiku sakit. Kakiku kau injak.”

Anak Kerbau kaget. Siapa yagerangan yang kesakitan minta tolong itu. Ah pusing amat, katanya dalam hati.

Anak Kerbau semakin asyik saja mengunyah daun-daun padi yang kehijauan, ketika suara kesakitan kembali tedengar.

“Tolong Kerbau, jangan injak kakiku, saya bisa mati tenggelam ke dalam lumpur.”

“Siapa kamu. Kok saya tidak melihat rupamu. Saya hanya mendengar suara saja,” balas Kerbau.

“Saya, Tikus. Kaki kecilmu sedang menginjak tubuhku yang besar,” jawab Tikus.

Kerbau kaget. Apa saya salah dengar? Begitu ia berkata dalam hati mendengar Tikus mengatakan bahwa kakinya kecil.

“Eh Tikus, telapak kakiku saja lebih besar daripada badanmu. Sayalah penguasa sawah.”

“Kamu jangan sombong Kerbau kecil. Kamu hanya anak Kerbau, sedangkan aku adalah ibunya tikus,” jawab Tikus tidak mau kalah.

“Walaupun kamu ibunya tikus dan saya anak kerbau, tetap saja saya lebih besar daripada kamu,” jawab Kerbau dengan nada sombong.

Ibu Tikus tidak mau kalah. Walaupun memang dia seorang ibu, tetap saja tubuhnya lebih kecil dibanding daun telinga kerbau. Tetapi dia mempertahankan nama baiknya.

“Hei anak Kerbau, jangan anggap remeh saya. Untuk membuktikan siapa yang besar, ayo kita masuk kampung secara beriringan.”

“Oke, siapa takut. Saya pasti lebih besar. Tidak perlu kita beriringan, kamu cukup berada di atas badanku saja,” ejek Kerbau.

“Oke…oke. Saya ikutsaranmu. Saya akan berdiri di atas badanmu,” jawab Tikus.

Nah, Anak Kerbau dan Ibu Tikus pun masuk ke dalam kampung. Saat mau masuk ke kawasan perumahan warga, Ibu Tikus pun meloncat naik di atas belakang Anak Kerbau. Secara sepintas yang besar adalah Anak Kerbau. Tikus tampak kecil di atas belakang sambil menari-nari. Akan tetapi, Tikus yang satu ini lebih besar dari biasanya.

Akan tetapi, saat melewati warga, orang-orang pun berteriak.

“Waaaw besarnya itu tikus.”

“Tapi kenapa ada juga itu anak kerbau kecil.”

“Barusan saya lihat ada tikus yang sangat besar, berjalan bersama anak kerbau kecil.”

Anak Kerbau pun bingung. Dia tiba-tiba merasa kecil. Sebaliknya, Ibu Tikus bergembira disebut sangat besar.

Tiba di ujung kampung, Anak Kerbau lemas. Dia duduk di tanah masih dalam kebingungan. Dia pun bertanya kepada Ibu Tikus.

“Tikus, saya benar-benar bingung, kenapa orang kampung bilang saya kerbau kecil dan kamu tikus besar. Bukankah saya lebih besar daripada kamu?”

“Memang benar, kamu besar daripada saya. Tetapi karena perasaanmu yang terlalu percaya diri dan merendahkan saya, kamu jadi percaya bahwa saya lebih besar daripada kamu.”

“Saya mohon maaf Tikus atas kesalahan saya. Kamu mau kan maafkan saya?”

“Iya mau dong, kita kan teman. Saran saya, hargailah semua orang, eh semua binatang yang ada di dekatmu, oke?”

Nah, adik-adik, Kerbau dan Tikus pun kembali berteman akrab. Mereka berdua melanjutkan perjalanan ke ujung kampung . Di sana ada padang hijau menanti. Mereka akan makan bersama.

Berteman itu asyik bukan?

Kendari, 5 November 2018

Kejutan Tengah Malam

Cerita anak Tyas Widjati
Versi cetak Kompas Anak Mei 2015
Narator Tyas Widjati
Ilustrasi musik Endah Fitriana

Grusak!

Aku segera mencari sumber suara tadi.Dari balik semak-semak,kulihat sosok tambun berbulu yang sangat mencurigakan. Tanpa suara, kusergap dia dengan tiba-tiba.

“PETOK!!” si tambun berteriak kaget.

Ia berusaha terbang, tetapi tidak berhasil. Ketika kukejar, ia lari tunggang-langgang meninggalkan halaman rumah.

“Fido!” kudengar sebuah teriakan dari belakangku.

Aku menoleh dan mendapati Ello sedang berdiri sambil berkacak pinggang.

“Kenapa kamu kejar ayam Pak Seno? Dia kan hanya cari makan,” omelnya.

Aku berusaha menjelaskan bahwa si tambun tadi adalah mata-mata, tapi Ello malah menghardikku.

“Masuk kerumah!”

Dengan sebal kuturuti perintahnya. Sebenarnya aku lebih suka berlarian di luar, meski lidahku akan berkeringat setelahnya.

Sudah hampir seminggu aku tinggal bersama Ello, tetapi anak itu belum juga memercayaiku. Berkali-kali kukatakan bahwa aku hanya ingin melindunginya, seperti pesan Pak Toni.

Pak Toni adalah seorang polisi yang bertugas melatihku sejak bayi. Dengan bantuannya, aku bisa mengenali situasi bahaya dan gerak-gerik mencurigakan. Aku sangat sayang dan hormat padanya.

Suatu hari, Pak Toni mengajakku ke rumah ini.

“Fido, mulai sekarang kamu akan tinggal bersama Ello, keponakanku,”kata Pak Toni.

Dengan sedih, aku mengiyakan.

“Jaga dia baik-baik, ya. Kamu harus selalu menuruti apa yang dia katakan. Ayo, kenalan dulu.”

Pak Toni menarik rantaiku mendekat. Aku berdiri sambil mengulurkan tangan, tapi anak itu malah mundur selangkah.

“Tidak apa-apa, Ell. Fido tidak akan menggigitmu. Dia adalah anjing yang terlatih.”

‘Ah anak ini pemalu sekali,’pikirku. ‘Mungkin aku harus berkenalan dengan cara lain.’

Kudekati kakinya lalu kujilat. Saat itu juga aromanya terekam dalam memoriku.

“Hiii…” Ello lari menjauh dengan ekspresi jijik dan takut. Pak Toni hanya tertawa.

Tadi pagi aku ikut mengantar Ello ke sekolah yang letaknya tak jauh dari rumah kami. Dia berjalan bersama seorang anak perempuan dan seorang anak laki-laki.

“Ini anjingmu, Ell?” si anak perempuan bertanya sambil menatapku baik-baik.

“Iya. Namanya Fido. Menurut Omku, merawat anjing adalah salah satu terapi untuk penderita cynophobia sepertiku,” Ello menjelaskan sambil memegang rantaiku erat.

“Kamu masih trauma gara-gara dulu pernah digigit anjing tetanggamu?” tanya anak laki-laki satunya sambil sesekali menoleh ke arahku dengan waswas.

Ello hanya mengangguk.

Wah, aku baru tahu tentang cerita ini. Pantas saja, selama ini Ello selalu menjaga jarak denganku.

“Tampang anjingmu seram sekali, ya,”kata si anak perempuan.

“Iya juga sih. Apalagi bulunya hitam legam dan badannya tinggi besar. Tetapi menurut Om Toni yang sudah bertahun-tahun melatih rottweiler, mereka sebenarnya adalah anjing yang baik hati dan setia. Tetapi insting pemburunya kadang sedikit merepotkan. Jadi pemiliknya harus tegas.”

Jalanku makin tegap dan dadaku makin membusungmendengar pernyataan Ello.

“Wah, kalau punya bodyguard seperti Fido, pasti tidak ada yang berani menggangumu,  ya Ell,” sahut si anak laki-laki.Sesampainya di depan sebuah gedung bercat hijau, Ello menyuruhku pulang.

“Jangan mampir kemana-mana ya,” pesannya. Aku menjilat tangannya sambil berpamitan. Sekarang dia tidak keberatan bila aku melakukan itu.

“…Dan ingat! Jangan kejar ayam Pak Seno lagi.”

Malam ini, seperti biasa aku tidur di dekat tempat tidur Ello. Anak itu sudah terlelap dari tadi. Sekitar tengah malam, aku mendengar suara aneh dari luar. Telingaku langsung berdiri tegak.

‘Mungkinsi tambun itu iseng lagi,’pikirku.

Semenit kemudian, kudengar suara Hi…..Hu…tepat dari luar jendela. Sekarang aku yakin ini bukan ulah si tambun. Selain aromanya berbeda, bayangan dari balik tirai jendela menunjukkan kalau si penyusup berbadan besar. Aku cepat-cepat menarik selimut Ello.

“Aduh, Fido! Ada apa sih malam-malam…” kalimat Ello berhenti ketika dia melihat apa yang tadi kulihat.

“H..h..hantu!” ia berteriak lalu menutupi wajahnya.

Wah, ini situasi bahaya! Aku segera berlari dan menerjang jendela,tapi benda itu bergeming. Aku mencoba mendorongnya sekali lagi dengan kedua kaki depanku, sambil menyalak keras-keras.

“Tolong! Tolong!” si penyusup berteriak.

Saat itulah Ello melompat dari tempat tidur, memegang kalungku erat dan berkata, “Fido, stop!”

Aku menahan langkah meski masih menggeram.

Ello buru-buru membuka jendela kamar.Ketikaaku melongok keluar, kulihat dua anak yang tadi pagi berjalan bersama Ello.

“Ilham? Ferina? Ngapain kalian disitu?” Ello segera menolong keduanya, lalu mengajak mereka masuk ke kamar.

“Kami berniat memberi kejutan ulang tahun untukmu dengan menyamar jadi hantu,”Ilham menjelaskan sambil mengelap wajahnya yang belepotan krim kue.

“Mana kami tahu kalau anjingmu tidur disini. Ketika hendak lari, kami malah terbelit selimut dan menjatuhkan kue tar untukmu. Rusak deh kejutannya,” rutuk Ferina.

Ello tertawa terbahak-bahak dan aku makin bingung. Pak Toni belum pernah mengajariku kasus seperti ini.

“Terimakasih atas kejutannya, teman-teman. Fido hanya bermaksud melindungiku,kok,” jawab Ello.

Lalu ia melakukan sesuatu yang tak pernah ia lakukan sebelumnya. Ia memelukku!

“Terimakasih, ya sobat,” bisiknya.

Memetik Keberanian

Cerita Anak: Deasy Tirayoh
Versi cetak: Gora Pustaka Indonesia 2019
Narator: Indah Darmastuti
Ilustrasi musik Endah Fitriana

Sejak dulu, ibuku sering membacakan sebuah cerita pengantar tidur, dan cerita paling berkesan adalah kisah seorang anak yang ingin memetik bintang di langit.

Dikisahkan, bahwa ada seorang anak yang takut gelap, ia selalu menatap ke luar jendela untuk menatap bintang. Ia berandai-andai jika saja bintang itu bisa diraihnya, ia akan menaruhnya tepat di muka jendela, atau ke dalam kamarnya. Ia membayangkan kamarnya tak akan pernah gelap setiap gelap malam datang.

Di satu malam, bintang pun datang ke dalam mimpinya. Anak itu merasa senang.

“Hai bintang yang terang, tinggallah di sini,” ucapnya. Bintang itu tersenyum, lantas menjawab dengan lembut,“Maaf aku tidak bisa.”

Wajah anak itu menjadi sedih, “Apakah kau tak mau jadi kawanku? Aku takut gelap, tolonglah …,” pinta anak tersebut.

“Aku tahu kau takut gelap. Tapi aku tak bisa tinggal di kamarmu.”

“Kenapa?” ucap anak itu dengan tatapan sendu.

“Ada banyak anak sepertimu, mereka juga takut gelap dan selalu menatap ke jendela untuk menatapku, untuk itu, aku harus tinggal di langit agar bisa menemani semua anak dari sana. Kau jangan takut gelap, sebab, jika tanpa gelap, maka cahayaku tak mungkin tampak dari jendelamu.” Bintang kembali tersenyum.

Anak itu terbangun dari tidurnya. Ia pun bergegas ke jendela. Ia bahagia karena melihat bintang mengerling padanya. Dan sejak malam itu, ia belajar untuk tak takut lagi pada gelap. Karena ia tahu, ada bintang yang akan selalu menemaninya.

***

Nah, cerita tentang anak kecil dan bintang itu menjadi inspirasiku, ketika aku ingin melawan ketakutanku sendiri. Satu hari, di belakang rumahku, tumbuh sebatang pohon jambu yang tak begitu tinggi. Dan di pohon itu, ada jambu yang tampaknya telah matang karena warnanya yang merah.

Aku membayangkan rasanya yang manis dan segar. Tetapi, bagaimana caraku mengambilnya? Sebab aku sangat takut ketinggian. Aha! Aku melihat ada sebuah gala yang tersandar di tembok. Aku mengambilnya, tapi rupanya gala itu terlalu berat untuk aku pikul, terlebih untuk aku ayunkan ke dahan pohon jambu.

Tak habis akal, aku mengambil kursi plastik dari teras rumah, lalu berdiri di atasnya dengan kaki yang gemetar karena takut. Hmmm …, ternyata buah jambu itu masih terlalu jauh dari tanganku.

Aku sangat ingin mendapatkan jambu itu, tapi bagaimana caranya. Sedangkan tak ada satu orang pun yang bisa dimintai tolong. Aku pun duduk memandangi pohon sambil mencari cara.memanjatnya?

Sebetulnya pohon jambu itu tak begitu tinggi, aku hanya perlu memanjat sedikit agar sampai ke dahan kedua saja. Aku sangat ingin mendapatkan jambu, tapi aku takut ketinggian.

Rasa takut membuatku gelisah. Tetapi, sampai kapan aku takut.

Pelan-pelan kupegangi pohon jambu. Dengan penuh hati-hati, aku telapak kakiku menapak dan dengan tangan yang bertumpu kuat pada sebuah cabang, kuayunkan tubuhku agar bisa terangkat. Aku sudah di dahan pertama.

Napasku berat sekali. Dadaku berdebar. Sebisa mungkin aku tak menengok ke bawah.

Kemudian, tangan kananku kembali memegang cabang pohon, dan kakiku mencari pijakan yang kokoh agar tak membahayakan saat aku naik ke dahan kedua.

Tak kusangka aku sudah sampai di dahan yang jadi tujuanku. Seketika aku mengingat cerita seorang anak di muka jendela, menatap bintang yang sedang tersenyum padanya. Aku pun menatap jambu di hadapanku dengan perasaan senang karena telah melawan ketakutanku. Lalu, tangan kiriku berpegang erat di batang, saat yang kanan memetik jambu itu. Aku tersenyum beberapa saat sebelum menuruni pohon dengan penuh hati-hati.

Setiba kakiku menginjak tanah, ada perasaan haru sekaligus puas karena baru saja kutaklukkan ketakutanku selama ini. Kuraih jambu dari kantong bajuku. Lagi-lagi kutersenyum menatapnya. Hingga kudengar samar, ada suara seorang kawan yang memanggil namaku dari depan rumah. Aku bergegas menemuinya.

Aku pun mengisahkan perjuanganku melawan ketakutan, dan kawanku memberiku tepuk tangan yang riang. Kemudian, jambu yang kuperoleh itu, akhirnya kubagi dua.

Sapotong untuk kawanku, dan sepotong lainnya untukku. Itulah jambu terenak yang pernah kumakan selama ini.

Lapangan Sepakbola Baru

Cerita Anak: Irma Agryanti
Versi Cetak : Antologi Memetik Keberanian, Gora Pustaka Indonesia 2019
Narator: Abednego Afriadi
Ilustrasi music Endah Fitriana

“Hari ini kami belum bisa main sepak bola lagi,” kata Dion dengan kesal sambil memasang wajah cemberut kepada ayahnya. 

“Jangan kesal begitu, Dion kan masih bisa bermain yang lainnya, kelereng barangkali.” Ayahnya kali itu mencoba membujuknya agar tak murung lagi seraya menawarkan permainan yang lainnya yang tak membutuhkan tempat seluas lapangan sepak bola, tempat biasa Dion menghabiskan sore hari dengan kawan-kawan sepermainannya.

Memang semenjak bencana gempa bumi melanda pulau kelahirannya, hampir semua lahan kosong dipenuhi oleh tenda-tenda pengungsian tak terkecuali lapangan sepak bola di dekat rumah Dion yang menjadi tempatnya biasa bermain juga telah dipenuhi oleh tenda-tenda pengungsian. Dion sendiri tak ikut mengungsi ke lapangan sepak bola karena halaman rumahnya sudah cukup luas untuk menjadi area pengungsian di malam hari bagi Dion, ayah serta ibunya.

“Aku rindu main sepak bola lagi. Aku bosan kalau hanya bermain kelereng di halaman rumah terus,” sungut Dion. Ia ingat ayahnya tempo hari mengatakan kalau gempa bumi yang terjadi akan segera selesai dan dia membayangkan akan bisa bermain sepak bola lagi. Tetapi nyatanya meski frekuensi gempa sudah mulai menurun, orang-orang masih ada di pengungsian dan belum berani untuk kembali ke rumah mereka masing-masing.

Keesokan harinya sepulang dari sekolah, Dion kembali menyambangi lapangan sepak bola yang dijadikan tempat pengungsian untuk melihat-lihat apakah hari itu para pengungsi sudah ada yang kembali ke rumahnya. Tetapi sesampainya di sana ia kembali kecewa. Sore itu ia masih tak punya tempat untuk bermain sepak bola.

“Ini semua gara-gara gempa. Kenapa harus ada bencana gempa bumi yang seperti ini. Coba kalau di bumi ini tak pernah terjadi gempa pasti aku bisa main sepak bola sepanjang waktu,” gerutu Dion sambil berjalan lesu di antara tenda-tenda pengungsian.

“Tapi kalau tak ada gempa bumi juga tak baik lho,” kata seseorang yang muncul tiba-tiba dari belakang Dion. Dion terperanjat. Ia tak menyangka kalau ada seseorang yang diam-diam mendengar gerutuannya tadi. Dion menolehkan kepalanya dan mendapati seorang perempuan yang kira-kira usianya lebih muda dari ibu guru di sekolahnya. Dion kemudian menjadi tersipu malu karena tak menyangka ada seorang perempuan cantik yang tahu-tahu mendengar ocehannya sedari tadi.

“Kamu boleh panggil aku Kak Luna. Kak Luna sedang menjadi relawan di pengungsian ini. Kalau belum bisa main sepak bola, kamu boleh juga ikut bermain dengan Kak Luna dan kawan-kawan yang lainnya di sini. Nanti kita bisa bernyanyi bersama, menggambar atau mendengarkan kak Luna bercerita. Kamu pasti suka.” Mendengar ajakan kak Luna yang cantik itu seketika membuat hati Dion menjadi terhibur. Sore itu Dion menghabiskan waktu bersama Kak Luna dan kawan-kawan lainnya di pengungsian. Mereka bernyanyi dan menggambar bersama. Dion begitu gembira dan berjanji besok akan datang lagi untuk mendengar Kak Luna bercerita.

Esok harinya di pengungsian yang sama bersama anak-anak lainnya, Dion menunggu kak Luna untuk mulai bercerita tetapi rupanya Kak Luna tak hendak menceritakan dongeng kerajaan seperti dugaan Dion melainkan cerita tentang bagaimana terjadinya gempa bumi.

“Jadi apa perlunya kita tahu tentang peristiwa gempa bumi, Kak?” Tanya Dion.

“Supaya kita bisa lebih waspada terhadap kondisi lapisan bumi yang ada di bawah kita ini. Tetapi selain mengantisipasi berbagai kemungkinan terburuk, kalian juga harus tahu, dengan terjadinya fenomena alam gempa bumi, kandungan nutrisi di permukaan bumi bisa mengalami perbaharuan kembali sehingga dapat ikut menjaga keseimbangan alam kita.”

“Terus apa lagi, kak?” Tanya Dion semakin antusias.

“Gempa bumi juga dapat memicu timbulnya daratan-daratan baru yang bisa difungsikan sebagai tempat tinggal kita juga lho.”

“Berarti bisa ada lapangan sepak bola yang baru juga dong, Kak?” sahut Dion dengan mata berbinar-binar.

Kak Luna mengagguk dan tersenyum ceria ke arah Dion. Kini Dion menyadari kalau ternyata gempa bumi tak selalu menyebalkan. Ia kemudian membayangkan sebentar lagi akan muncul sebuah daratan yang jauh lebih luas dari pengungsian itu supaya nantinya bisa dijadikan lapangan sepak bola baru olehnya dan kawan-kawannya.  (*)

Dilerai Ombak

Cerita anak Raudal Tanjung Banua
Versi cetak Antologi memetik Keberanian, Gora Puskata Indonesia 2019
Narator Indah Darmasuti
Ilustrasi musik Endah Fitriana

Pantai merupakan tempat bermain yang mengasyikkan bagi Adi, Anto, Kardi, Nuril dan Detarini, serta teman-teman mereka yang lain. Mereka menyukai pantai yang tenang, indah, bersih dan lapang lagi landai. Ombak yang menghempas lalu berdesir, menambah rasa senang. Angin di pucuk-pucuk kelapa pun membelai halus kulit mereka.

Suasana itu menjadikan mereka betah dan leluasa bermain pasir. Mereka membuat rumah-rumahan, patung, terowongan, dan sebagian melukis di atas pasir yang lembut.

Nuril tampak bersemangat sekali menyelesaikan rumah-rumahan yang dibikinnya dari pasir basah. Tetapi di sana-sini sengaja ia taburi pasir kering yang putih sehingga berkilat diterpa sinar matahari, seperti habis dicat. Ia dibantu Adi yang tak kalah bersemangat menyelesaikannya.

Sementara Anto menyiapkan sebuah patung Hanoman, halus dan memikat. Detarini melukis pemandangan laut dengan latar belakang jala dan sampan nelayan sebagaimana yang tengah ia saksikan.

“Hei, lihat, betapa bagusnya patung kijangku!” tiba-tiba Kardi berseru bangga. Rupanya ia baru saja menyelesaikan sebuah patung kijang, besar dan tanduknya bercecabang. “Hebat, kan?” tambahnya sambil berkacak pinggang.

“Apanya yang hebat?” sahut Ayu tak setuju. “Kau membuat patung kijang, sementara kau tahu di laut tak ada kijang, bukan? Yang ada hanya ikan atau camar, seperti karyaku ini,” katanya lagi seraya membanggakan patung ikan tongkol yang baru saja diselesaikannya.

Nuril dan Adi merasa penasaran dibuatnya.

“O, itu belum seberapa, Kawan!” timpal Nuril kemudian. “Lihat, rumah-rumahan kami persis aslinya!”

“Huu, hasil kerja sama. Karya sendiri dong!” sahut Anto tak mau kalah. “Nih lihat, patung Hanoman murni karyaku.”

“Ah, ndak persis,” bantah Aby cengar-cengir. “Coba lihat onde-onde hasil karyaku, persis kan?” Aby ternyata membuat onde-onde, sejenis jajan yang bulat seperti bola pingpong, dari pasir basah, kemudian ditaburi pasir kering yang disebutnya kelapa dan gula.

Walah, gitu aja dibanggakan. Karya kalian tuh biasa saja, yang bagus lukisanku ini!” Detarini tak ketinggalan memamerkan kehebatannya.

Suasana mulai memanas. Masing-masing membanggakan karyanya sendiri. Di antara mereka mulai ada yang merasa jengkel, tersinggung dan mati-matian memperjuangkan karyanya. Kardi yang sejak tadi tersudut diusili, tampak bersiap-siap mendekati Aby. Suasana berubah panas.

“Kawan-kawan, saya harap tidak ada yang emosi. Bukankah ini sekedar permainan?” Nuril berusaha menenangkan.

“Tidak! Aby keterlaluan!” seru Kardi keras.

Suasana benar-benar menegangkan. Nuril merasa cemas kalau gara-gara ini persahabatan mereka terancam pecah.

Akan tetapi apa yang tak diinginkan itu tak terjadi ketika dengan tiba-tiba ombak besar bergulung ke tepi, menghempas keras ke pantai, menyapu habis mainan yang mereka pertengkarkan itu!

Mereka kini basah kuyup, tetapi segera terdengar tawa riang menyambut.

“Terima kasih ombak, kau melerai kami!” teriak mereka bersamaan.

Mereka lalu melanjutkan permainan bersama ombak dan laut.

Yogyakarta, 1999/2018

>