Rumah

Puisi Aris Rahman Yusuf
Narator Indah Darmastuti
Ilustrasi Musik Endah Fitriana

Ketika terbangun di subuh hening
ricikan air terdengar dari kamar mandi
kaubasuh kepala hingga kaki
saat usai tubuh memancar bening
Gadis kecil menggelar sajadah
berdoa meminta rumah
rumah persembahan
bukti bakti kepada orang tua
Usia masihlah belia
uang tak ada
apalagi harta
Gadis kecil lalu sibuk merangkai kata
ia susun satu per satu batu bata
ditorehkan pada kertas kosong
sebelum berangkat sekolah
kertas diberikan kepada ibu
Rumah kita telah tua, katanya
ibu, di kertas ini ada rumah baru
aku bangun dengan kata
singgahlah di situ, bu
hiasi dan isi perabotannya dengan doa
hingga usia beranjak dewasa

Mojokerto, 29042016

Ambyar

Puisi Budi Setyawan
Narator Abednego Afriadi
Ilustrasi Musik Indah Fitriana

: buat didi kempot

1/
adalah kepergianmu yang gegas
tanpa kata
aba ataupun tanda
menengkarapkan sebuah pagi
ketika kemarau, tak ada hujan
hanya air mata negeri menderas
membasah di hari yang puasa

2/
dari stasiun balapan
kau terus berjalan perlahan
hingga lebih seribu kota
dengan rawan perasaan
patah hati
jatuh di kenyataan berbatu
menjadi luka
angan pecah berkeping
menjadi puing

tetapi terus berulang
harapan cinta selalu menjelma keriuhan
di dalam kepala dan dengan pesta
joget yang menguarkan gema
sambil pelan pelan merelakan
hasrat terjalin kian kecil
dan asmara yang muskil

3/
tak ada pertunjukan yang tak selesai
panggung pun sepi
saat kau diam diam pamit
lengang mengait
serupa benang melilit pada kenang
dan kuyup haru menggenang

tetapi orang orang seperti tak percaya
dan maut pun tak kuasa merenggut suaramu
yang masih akan mengembara
ke jantung pendengaran mereka
menjadi detak yang mengingatkan
berapa banyak surat kangen tak terbalas
ah, betapa murni kesedihan

4/
barangkali kau melanjutkan bernyanyi
sendiri di kejauhan langit
diiringi campursari sunyi

Bekasi, 5 Mei 2020

Adong Dope, Atik Pe Ndang Sinauju I

Puisi Saut Poltak Tambunan
Versi cetak antologi puisi Masih, Meski Bukan yang Dulu. (Penerbit SPT, Selasar Pena Talenta, 2013)
Dinarasikan dalam Bahasa Batak Toba oleh Saut Poltak Tambunan
Ilustrasi musik Newin Siahaan

Aha dope siholsohononmu, Hasian,

dison dope porlak na uli pasurduk rugunna

di hita marlinggom-linggom.

Adong dope ramba meol-eol

nang alang-alang humarasharas diullus alogo,

 manghalingi hita buni marholip-holip.

 Adong dope bunga ros na rara siputihonku,

sisolothononhu di pudi ni sipareonmu.

Adong dope habang nang sarongkap lampu-lampu na bontar

 mamolus metmet di ginjang ni simanjujungta.

 Atik pe – luhutna i ndada sinauju i be.

Aha dope siarsakhononmu, Hasian.

Adong dope langka-langka sirappakhononta,

nang pe bungkuk tanggurung jala mengkat humitir

pasarat-sarat simanjojakta.

Marbulung dope sitaruponmu

na ingkon sisihononhu sian pardompahanmu

– nang pe naung marbontar sap uban,

asa bolas hupasahat husip-husip na di bagas rohangki.

 Ra nunga humurang parbinegeanta,

alai sian mulana pe nunga parbinege hita di hita,

nang so pola  marsipandohan hata.

Aha dope silomosanmu, Hasian,

pos roham, tongtong do rade ahu di ho,

di  lambungmu, atik pe lam atik …!

spt, Jakarta, 14 Feb 2013

Dijahahon sian buku puisi ”Masih, Meski bukan yang dulu” – 26 Juni 2020

Masih, Meski Bukan yang Dulu

Puisi karya Saut Poltak Tambunan
Versi cetak: Antologi Puisi Masih, Meski Bukan Yang Dulu
(Penerbit SPT – Selasar Pena Talenta, 2013)

Dinarasikan oleh Flora Kioen Tanujaya
Ilustrator Musik:  Endah Firiana

Masih, Meski Bukan yang Dulu

Risaukan apa lagi, kekasihku. Masih ada taman ini menjulurkan rindangnya untuk kita berteduh. Masih ada rumpun semak melambai berkerisik ditiup angin, untuk kita sembunyi bercumbu. Masih ada mawar merah yang bisa kusunting untuk kuselipkan di  balik telingamu. Masih ada kupu-kupu putih mungil melintas di atas kepala kita. Masih, meski semua itu bukan yang dulu.

Risaukan apa lagi, kekasihku. Masih ada langkah yang bisa kita ayun bersama, meski sedikit goyah terseret. Masih ada helai rambut yang harus kusibak di keningmu untuk dapat membisikkan suara dari hatiku, meski mulai memutih. Pendengaran kita mungkin mulai berkurang, tetapi kita selalu sudah mendengar sebelum kita mulai saling bicara.

Risaukan apa lagi, kekasihku, aku selalu ada, meski semakin meski…!

mei 2009

Putik Magnolia dan Duka

Puisi Faris Al Faisal
Versi cetak Kedaulatan Rakyat Minggu, 21 April 2019
Narator: Abednego Afriadi
Ilustrasi musik Endah Fitriana

Tak ada kebahagian pagi ini

Putik magnolia diserbuki kumbang

Aku hanya bisa memandang

Duka mengambang di dedaunan

Bau lembab mengalir ke lembah

Meranalah batu-batu kelam

Seseorang telah mengambilnya dariku

Larik sepal kelopak tampak koyak

Denting dawai bunga telah dipetik

Aroma musim gugur melayang lebih cepat

Menjemput bait-bait melankolia

Lada-lada hitam pecah di bola mata

Aku menggerus potongan rindu di usus

Menghancurkan ladang-ladang perburuan

Batang rumput patah dan terbakar

Seseorang yang lain pun datang

Mendekat dan membelai daun telingaku

Setiap orang akan bahagia dengan dukanya

Indramayu, 2019

Tuhan pun Mendengar Jeritan si Bisu

Puisi Memey Silitonga
Narator Komang Somawati
Ilustrasi musik Endah Fitriana

Saat ini ketika kau seperti berada diantara dua tembok besar,
Teriakkan lantang mu tak menggeser kegalauanmu
Jeritan histerismu pun tak menggeser se inci ke khawatiran mu
Bahkan hardikkan mu sepertinya terabaikan
Lantas apa mau mu?
 
Berpaling dan membenci serta menyalahkan semua yang ada?
Menjauh dan menghilang seperti ditelan bumi?
Meratap sampai kering air mata dan habis suara mu?
Pernahkah kau sadari ?
 
Dia sudah tahu persoalan mu, dia sudah melihat kerapuhanmu
Dia duduk disebelah mu dan menyentuh pundak mu, menenangkan
Luapan emosi mu yang tak berkesudahan?
Tak perlulah kau muntahkan dengan menggelegar  karna Tuhan pun mendengar jeritan si Bisu
 
Tak bisa kah engkau bicara lembut dalam sebuah  ketenangan?
Tak bisa kah engkau memohon dengan sukma yang damai?
Tak bisa kah engkau biarkan angin menyampaikan pesan padamu?
Bahwa Tuhan tahu engkau mencari Nya.
 
 

Puncak Becici

Penulis: Muhhamad Nanda Fauzan
Versi cetak Fajar Makassar
Narrator: Abednego Afriadi
Ilustrasi Musik: Endah Fitriana

Apakah kalian harus kembali.

Untuk angin yang  menghantam kulit daun-daun

pinus yang anggun bagai api unggun

dilesap embun Pada pukul tiga pagi.

//

Untuk ranting tempat nuri menari-nari

mewartakan kematian hades,

Menjelma peluh buruh-buruh yang

Menetes lalu menetaskan kecemasan

//

Untuk akar menjalar dan mencengkram serupa

bahasa ibu yang disingkirkan

 dan disungkurkan kamus.

//

Untuk batang-batang yang mengucapkan dan mengecupkan

selamat datang kepada pelancong angkuh

dari negeri serupa doa bandit mesum ;

Jauh tak terengkuh.

//

Mampukah kalian menghapus kata Apakah pada awal puisi ini?

Becici 2018

Pukul tiga dini hari

Puisi Muhammad Nanda Fauzan
Versi cetak Fajar Makassar
Penutur : Abednego Afriadi
Ilustrasi musik Endah Fitriana


Puisi ini pernah memenggal kepala kita, pukul tiga dini hari .
Ia pohon penyangga Langit yang ditebang
Karena kita ingin terbang, menjangkau seluruh
Yang lesap dari pandang.
Puisi ini pernah memanggil langkah kita, pukul tiga
Dini hari. Ia kedua tangan yang kau katupkan saat berdoa
Di pekarangan rumah ibadah, Disapu oleh amin
Para jemaah Juga arwah-arwah.
Puisi ini pernah memanggul tubuh kita, pukul tiga
Dini hari . Ia Peluh para buruh, pelukan yang berubah
menjadi peluru, rasa lapar yang menampar
Kerja dua belas jam sehari.
Pukul tiga dini hari, puisi ini gagal dituliskan.

Lebak 2018

>