Ceplok Piring

Cerita Panjang karya Astuti Parengkuh
Penutur Astuti Parengkuh

Latar Musik
1. No. 2 Remembering Her – Esther Abrami
2. Sleepy Hollow – E’s Jammy Jams
3. Les-ly – Mini Vandals
4. M Fischer – Mini Vandals
5. Fine Dining – TrackTribe

Aku menghela napas panjang. Seperti menahan beban yang teramat besar, setumpuk bebatuan atau apa lah. Atau semacam cengkeraman yang menyelimuti  seluruh tubuh. Beban yang pekat menggumpal di dalam dada, sepekat tanah liat yang dibanjiri oleh hujan yang telah lama tidak turun dan menyisakan bau khas. Bebauan yang hanya dijumpai sekali waktu, saat tanah kerontang merindukan jatuhnya air langit. Desir angin yang menyela datang, berembus seperti membius kesadaran. Atau semacam penasaran, keraguan.

Rasa yang ambigu.

Deretan pot yang berjajar di pinggir aula -bentuk bangunannya mirip  pendapa- yang berisi bunga Ceplok Piring mampu mengalihkanku dari pidato Kepala Desa yang membosankan. Bentuk bunga yang kelopaknya majemuk itu sungguh mampu menjerat mataku. Warnanya putih seputih melati. Selintas bunga ini seperti mawar, namun lebih tipis. Baunya menyiratkan kekhasan yang tak dipunya oleh bunga lain. Mungkin bila dirasakan sepenciuman laksana melati; Jasmine.

Ceplok Piring telah bersekutu dengan angin dan saat ini benar-benar membuatku mabuk.

Sebelum aku benar-benar hanyut dalam buaian angin rindu, yang juga tengah disampaikan oleh wewangian Ceplok Piring yang mampu mengingatkanku sebuah sosok. Satu sosok misteri yang hadir dalam mimpiku. Perkebunan teh di Segara Gunung dan seorang tetua berjenggot yang mendiami sebuah pesanggrahan. Sosok yang tak begitu terlihat jelas wajahnya.

“Kapan  giliran Anda berbicara di depan?”tanya seorang ibu paruh baya mengagetkanku. “Oh, bukannya setelah ini ya?”jawabku gugup.

“Benar, Ibu.”

Kudengar Kepala Desa berbicara menyinggung tentang rencana pengadaan mobil ambulance desa. Hal ini berkenaan dengan perisitiwa beberapa minggu lalu. Saat ada warga yang hendak melahirkan dan keburu melahirkan di rumah tanpa ada pertolongan yang memadai. Ada bidan desa yang bertugas, namun tempat tinggalnya jauh di bawah bukit. Dengan jarak tempuh beberapa ratus meter, mustahil seorang berkendaaran roda dua mampu menembus kabut ataupun gelapnya jalan yang sudah diaspal halus oleh pemerintah daerah sejak beberapa tahun lalu.

Kartini namanya. Perempuan muda usia 21 tahun yang harus meregang nyawa saat mengalami pendarahan di persalinannya yang pertama kali. Dia mengalami hipertensi saat usia kandungannya sudah mendekati bulan kesembilan. Tak dihiraukannya nasihat dokter yang memeriksa di puskesmas beberapa hari sebelumnya. Dokter menyarankan agar Kartini memeriksa kehamilannya mulai rutin, seminggu dua kali menjelang kelahiran. Dokter muda itu juga menyarankan agar  Kartini melahirkan di rumah sakit karena alat-alat medisnya tersedia lebih komplit.

Di kota kabupaten ada sebuah rumah sakit milik pemerintah yang menyediakan dokter spesialis kandungan serta beberapa bidan yang berstatus pegawai negeri.  Selain rumah sakit yang dikelola oleh negara, ada juga dua buah balai pengobatan untuk ibu dan anak. Penuh dengan fasilitas untuk ibu melahirkan kecuali operasi caesar. Untuk operasi caesar biasanya akan ditangani oleh rumah sakit daerah. Sebuah rumah sakit swasta juga berdiri megah.Tentu untuk berobat di sana membutuhkan biaya yang tidak sedikit, relatif memang. Namun, tak akan terjangkau oleh warga yang bermata pencaharian sebagai buruh pemetik cengkeh seperti Kartini dan suaminya.

“Sekarang giliran Ibu Masayu yang akan menyampaikan sambutan dan beberapa program baru di desa ini. Silahkan Ibu,”pembawa acara mempersilakanku untuk mengambil tempat di dekat kepala desa.

Aku mengangguk kepada Kepala Desa yang menyambutku dengan senyum. Dia mempersilakanku berbicara.

“Maafkan saya Bapak-Ibu pengurus temu warga yang saat ini berkumpul di pendapa desa ini. Maaf, saya mungkin akan dinilai lancang karena telah menyodorkan beberapa program baru untuk desa ini. Salah satu program itu adalah pendirian taman baca dengan memanfaatkan saturuang yang kosong di kantor balai desa. Lainnya adalah perintisan sekolah PAUD yang di desa ini juga belum ada. Saya juga akan menyelenggarakan beberapa pelatihan bagi warga yang ingin membuka peluang usaha baru.”

Selintas kusaksikan deretan pot bunga Ceplok Piring yang berjajar di pendapa, seketika itu pula sebuah pikiran menyelinap.Sekelebat ide muncul tiba-tiba. Aku akan membudidayakan tanam bunga Ceplok Piring. Bunga Ceplok Piring relatif mudah ditanam dengan stek ataupun cangkok. Terpengaruh oleh wanginya yang khas, aku ingin membuka peluang usaha penyulingan minyak bunga Ceplok Piring. Beberapa hal yang bisa dimanfaatkan dari selain dari bungaini adalah biji dan daunnya sebagai obat. Meski bunga Ceplok Piring rentan terhadap bahaya ulat yang akan menyerang secara laten- bisa dalam semalam merusak keseluruhan daun-daun –namun aku yakin akan menemukan formula penangkalnya. Aku berjuang, mencari dengan cara searching untuk menemukan obat pembasmi serangan hama ulat. Beberapa teman yang pernah kuliah di farmasi maupun fakultas pertanian menjadi sasaran untuk sharing  tentang hama ulat ini.

Beberapa waktu setelah pertemuan di balai desa, dua orang warga desa menemuiku. Mereka mengatakan menjadi utusan dari Kepala Desa. Dua orang kurir  itu mengaku suruhan pak Kepala Desa.

“Ibu, saya diminta oleh kepada desa untuk sowan kepada ibu. Hhhmm…Begini maksud saya, apakah Ibu benar-benar telah mempertimbangkan masak-masak tentang rencana budidaya bunga Ceplok Piring? Ibu yakin? Bukankah di daerah kita ini pernah menjadi tudingan tak sedap berkaitan dengan budidaya Anthurium yang sehingga bukan hanya manfaat saja yang kita terima, tapi hal negatif pun juga dialamatkan kepada kita?”

Masih bisa kugali ingatan tentang budidaya Anthurium yang pernah berjaya di desa ini. Desa yang disebut sebagai pioner sebelum budidaya itu merambah di kawasan perkotaan.Hal yang kemudian meningkatkan nilai ekonomi pada sebagian besar warga.Anthurium yang akhirnya harganya membumbung tinggi mengalahkan akal sehat.

Budidaya Anthurium yang kemudian menyebar di kawasan kota. Hal yang menyebabkan Mas Hanung menggandrunginya. Dia mulai membuka usaha jual beli bunga Athurium itu. Semula usaha yang demikian pesatnya mampu menghasilkan banyak keuntungan, namun lama-lama dia tekor juga karena mulai berpikir yang tidak logis. Mas Hanung membeli bermacam-macam jenis Anthurium dengan harga yang tidak masuk akal untuk dijual lagi. Saat harga baik tak berpihak kepadanya, maka bunga-bunga itu seakan menjadi pesakitan yang menghuni teras rumah.

“Maksudnya, Pak Kepala Desa menolak rencana saya?”

    “Benar, Bu?”

    “Apa motivasinya?”
    “Kan tadi sudah saya bilang Bu,jika kegagalan bisnis Athurium di masa lalu menjadikan momok bagi Pak Kepala Desa,”

     “Ada alasan lain kah?”tanyaku menjebak.

     “Hmm…saya kira tidak,” jawab laki-laki satunya.

     “Jadi saya harus bagaimana, Pak? Apa yang seharusnya saya lakukan?”

     “Membatalkan rencana budidaya bunga  Ceplok Piring. Ibu bisa mengganti program atau optimalkan yang lain. Mungkin program yang sudah ada dan sedang berjalan di desa ini.”

      Kusuguhkan jahe hangat pada kedua tamuku.

      “Atau budidaya tanaman obat, jahe,misalnya?” tiba-tiba salah seorang tamu menyerukan pendapatnya.

“Psstt…!”tamu satunya tampak menutup mulutnya dengan satu jari, sebagai isyarat temannya agar menghentikan pembicaraan.

“Baiklah, Pak. Saya akan memikirkannya kembali,” jawabku menutup perbincangan di pagi yang cerah. Hujan yang menggerimis menjadi latar yang indah di sepanjang diskusi kami. Hujan yang sering datang di daerah pegunungan ini. Meski keadaaanya tak sama tatkala 10 atau mungkin 20 tahun yang lalu saat aku kecil dan sering bermain di daerah ini, tetap saja hujan merupakan suatu hal yang menjadi teman. Teman anak sekolah, teman petani mengiring langkah pergi ke sawah.

Kuliah di fakultas pertanian, namun menggeluti hobi menulis adalah perpaduan yang unik, demikian komentar Mas Hanung saat pertama kali kami bertemu. Dia lulusan ekonomi dan berlatang belakang yang nyaris sama dengan keluargaku.

Kami pacaran selama beberapa bulan sebelum akhirnya Mas Hanung melamarku.

Dua puluh tahun yang lalu saat aku kecil dan duduk di bangku kelas 3 SD, Ibu memindahkan sekolahku di sini, di rumah Eyang.

Semula aku sudah merasa kerasan tinggal di desa yang berpegunungan ini, namun ibu mengambilku lagi. Ibu rupanya yang tak sanggup berpisah lama denganku. Dua catur wulan tinggal dan bersekolah di desa, membuat badan ibu kurus kering. Katanya, “Biar kamu nakalnya kayak apa, tak sanggup Ibu jauh-jauh dari dirimu.”

Ibu mengenalkanku kepada bahasa cinta yang sederhana lewat puisi-puisi yang ditujukan untuk kami, anak-anaknya. Lewat nyanyian sebelum tidur. Tak jarang jemarinya memainkan siluet di dinding tembok, menyanyikan lagu dolanan anak-anak, lagu yang sama kerap aku dengar dari Eyang.

Ibu yang kemudian mengenalkan dunia bacaan dunia sastra. Hingga aku menyukainya dan berkeras untuk mendalami. Saat aku duduk di SMA, aku perlihatkan karya-karyaku kepada ibu lalu di merasa bangga. Katanya, “Kamu keturunan Eyang yang menyukai suluk-suluk indah,”. Ah,Ibu, ingatanku tajam kepadamu saat ini.

Ibu yang baik, bahkan teramat baik ketika memahami perpisahanku dengan Mas Hanung, lelaki yang menjadi pilihannya untukku. Ibu yang tahu betul, alasanku menikah hanya untuk membahagiakan hati di akhir-akhir hidupnya.

    “Mama melamun?,” suara Aghni, bidadari kecilku mengagetkan.

    “Ah, enggak juga,”jawabku mengelak.

    “Tamunya udah pada pulang?”tanya gadis kecil yang bulan depan genap berumur 9 tahun itu.

    “Sudah, Sayang.”kukecup pipinya yang tembem.

***

Keesokan hari saat kutemui kepala desa di ruangannya. Sungguh, aku tak mengira akan menemui jawaban manis dari apa yang semalam aku prasangkakan kepadanya.

“Jadi benar, yang datang ke rumah saya semalam itu utusan Bapak?”

“Benar. Ada masalah, Ibu Ayu?” Kepala Desa menyunggingkan senyum.

    “Masalah saya dengan Bapak,” suaraku mulai meninggi.

    “Sudah jelas semuanya ‘kan?”

“Saya tidak bisa menghalangi warga yang ingin ikut dengan saya.”

Kutinggalkan ruang kepala desa. Kulangkahkan kaki menuju motorku. Aku harus menyampaikan kepada warga agar tak terpengaruh oleh penolakan dari kepala desa tentang usaha yang mereka jalankan. Pantang untuk mundur, toh, menanam tanaman Ceplok Piring adalah sambilan bagi mereka.

“Ibu akan mencari beberapa referens dari teman yang sedang kuliah di Jepang. Ibu juga akan ke kota, ke tempat teman yang mempunyai bengkel besi. Kita akan memesan mesin penyuling.” kataku membesarkan hati Kinaryo. Benarkah?

“Sudah. Lakukan dulu yang terbaik,”

Kutinggalkan pemuda putus sekolah itu sibuk dengan lahannya. Kukendarai sepeda motor menuruni bukit. Sesaat di sebuah persimpangan arah yang menuju ke sebuah candi, kulihat ada rombongan datang dengan mengendarai beberapa mobil. Aku lajukan sepeda motor menuruni bukit lagi hingga ke sebuah tempat hendak mengambil sudut gambar. Sampailah di sebuah view sesuai yang diinginkan Hisyam, sahabatku yang tengah kuliah di Fukuoka mengirim pesan. Sesekali kamu kirimlah gambar pemandangan Segara Gunung, tempat kamu tinggal sekarang. Mosok yang diposting masakan kamu melulu,hahaha…

Satu pesan yang aku baca pada inboks di Facebook dari Hisyam membuatku menahan tawa. Benar juga dia, bahwa yang sering aku posting di jejaring sosial selama ini adalah gambar masakan atau sesekali foto bidadari kecilku, Aghni. Kadang kurasa jejaring sosial menjadi sarana untuk pamer, unjuk diri, meski sesederhana postingan saat seseorang hanya berpose di depan sebuah rumah makan.

Baru beberapa menit masuk ke dalam rumah, kubaca sebuah pesan masuk.

Masayu,kau mesti siapin bedah buku terbarumu. Sabtu depan ya. Spanduk dan undangan sudah tersebar.”

“Jadi minggu depan ya? Ok, siap.”

Apa yang tengah kuperjuangkan kini nyaris berhasil. Bedah buku di balai budaya yang satu area dengan toko buku menjadi sebuah impianku bersama penerbit.

“Rencanamu berapa jilid yang akan kautulis ?” tanya Lia, editorku beberapa waktu lalu.

    “Satu dulu, cukuplah. Kita mesti mengetahui perkembangan pasar,”kataku yakin.

    “Berani kita bikin tiga jilid sekalian ? Kau, janganlah cuma memikirkan orang-orang di sekitarmu saja. Kaupikirkan juga karirmu. Karir menulismu, Jeng!”katanya mengejar.

    “Satu dulu bedah buku di kota dekat tempat tinggalku. Lalu beberapa booksigning di beberapa toko buku. Mungkin?”

    “Ajuin proposal ke Bos!” Lia, sang manajer editor mengakhiri pembicaraan.

Sebuah buku pengetahuan tentang Yoga berhasil kutulis sejak beberapa bulan lalu ketika aku mulai tinggal di desa ini. Buku yang berdasarkan pada pengalaman pribadi. Lia, teman lama yang bekerja sebagai editor di salah satu penerbitan nasional memintaku untuk diterbitkan di tempat dia bekerja.

“Ayolah, Masayu. Kau pasti bisa menulis lagi,” celotehannya menyemangatiku.

     Malu kiranya mengaku berprofesi sebagai seorang penulis jika karya yang aku hasilkan baru satu judul novel. Itu pun sebuah novel sebuah perjalanan cinta..

“Untuk mengisi kekosongan ide,okelah,”sahutku menyambut tawarannya.

Aku cukup menghibur diri. Ya, aku cukup menghibur diri.

Kepergianku dari kota ke desa ini bukan tanpa alasan. Kutinggalkan hiruk-pikuk segala urusan, bahkan tanpa sempat aku mengabarkan kepada para sanak- saudara dan tetangga. Dunia seolah mengimpit dari segala penjuru. Setelah sidang ketiga di Pengadilan Agama memutuskan talak, maka sesegera itu pula aku mengemasi semua barang di rumah dan segera mengambil keputusan keluar rumah.

Tak ada yang perlu diratapi dengan perpisahan ini, tak juga engkau, Mas Hanung. Bertahun hidup denganmu, bukannya engkau tanpa kekurangan justru kelebihanmu teramat banyak bagiku. Kau terlalu baik, sangat baik. Namun justru kebaikanmu itulah yang membuatmu menjadi manusia yang lemah, setidaknya lemah di mataku. Kau lemah soal wanita, Mas. Saking lemahnya sampai-sampai kau tak bisa menolak ketika cinta datang padamu. Satu cinta baru yang mampu merubah posisiku sebagai satu-satunya perempuan yang paling kaucintai.

“Kau hanya terpengaruh oleh omongan orang. Tidak kau saksikan sendiri,” inilah awal pertengkaran kami. Kupeluk erat Aghni dalam tidurnya yang lelap.

“Aku boleh memilih untuk kita berpisah?”keputusan akhirnya mesti kusampaikan. Aku telah mengantongi bukti-bukti bahwa Mas Hanung telah berselingkuh dengan rekan kerjanya. Dan memilih untuk tinggal di rumah peninggalan Eyang di desa ini bukanlah sebuah pilihan, namun kebahagiaan. Bukankah jika pilihan itu selalu tak berakhir menyenangkan? Aku telah memilih bahagia sebagai jalanku.

Kebahagiaan, kenyamanan, apalah itu,apa pun yang mampu membuat hati senang bukan orang lain yang menentukan, akan tetapi langkah kita, niat kita. Telah kututup satu sejarah hidupku dengan Mas Hanung.

Masyarakat desa ini lebih menarik dari apa pun.

Dusun Pabongan, Kecamatan Ngargoyoso lebih memikat karena kekayaan alamnya. Beberapa ratus meter berjalan ke atas,akan sampai ke situs Candi Sukuh. Lalu, jika mau menuruni bukit dengan jalan yang sudah beraspal halus, akan sampai pada obyek wisata air terjun.

Segara Gunung adalah tempat lain yang tak kalah indahnya. Perkebunan teh terluas di Indonesia yang menyajikan pemandangan unik saat di sana yakni para petani pemetik teh.

Beberapa agenda yang tengah kurencanakan dan sebagian telah berjalan, seperti pemantik semangat. Nyala api yang kian mengantarkanku mencapai cita-cita, hidup kerasan bersama Aghni kecilku di desa ini.

***

   “Selamat ya, sukses acaranya. Semoga best-seller,” kata seorang laki-laki sambil menyalamiku.

“Oh! Tadi Anda yang bertanya ya? Siapa nama Anda? Duh, saya kok mudah lupa,”tanyaku kepada laki-laki itu. Tangannya tak segera melepas genggamannya. Akhirnya kutarik paksa tanganku.

“Alif. Namaku Alif.  Kamu Masayu kan?Aku sudah mendengar namamu santer diucapkan oleh warga desa,”jawab Alif, lelaki berperawakan sedang, tinggi badannya lebih sedepa dariku. Rambutnya dibiarkan liar tumbuh sepundak, sama liarnya dengan kumis yang melintang di atas bibir. Meski demikian, dia cukup rapi dengan setelan kemeja lengan panjang putih dipadu celana panjang hitam dari bahan sintetis.

“Anda tinggal di Ngargoyoso? Kemuning juga? Atau Berjo?”, kekagetanku tak diimbangi olehnya. Alif hanya diam, Sejurus pandangannya dia arahkan ke buku yang tengah kudekap.

“Tinggal di desa itu, sama menariknya dengan melakukan yoga, seperti yang kautulis di buku itu. Aku petualang.Kenalkan istriku, Yanti” kata-kata Alif panjang lebar.

Wanita tinggi langsing yang menghampirinya segera dia perkenalkan kepadaku.

Perbincangan berlanjut di sebuah coffee shop yang penuh nuansa etnik pada hiasan dindingnya. Alif memperkenalkan istrinya, Yanti yang mengelola  kafe dan toko kue ini. Beberapa roti dan kue dibuat sendiri oleh tangan dingin Yanti. Beberapa di antaranya yang dipajang adalah kue titipan. Dengan fasilitas wifi 24 jam serta live music pada jam-jam tertentu menambah semarak dan hidup kafe ini. Kafe yang terletak di salah satu sudut kota itu menyuguhkan berbagai macam minuman, dan aku lebih memilih Vanilla Float.

“Anda seorang ‘guru’ ya?” tanyaku mengagetkan Alif.

    “Hahaha…kamu sangat berlebihan, Masayu,”

    “Telah kubaca segala tentangmu. Ajari aku cara bersyukur, Guru,”candaku kepada Alif.

“Ah, aku hanya seorang penulis biasa,sepertimu. Malah lebih bagus kamu pernah menulis novel,”kata-kata Alif merendah. Dipanggilnya istri tercinta.

 “Nyai, tolong kau bawa naskahku yang berada di atas meja kerja. Mungkin kali ini aku menemukan orang yang tepat,” Alif memandangku.

     “Kau cantik. Mengapa memilih menjadi single mom?”

      Aih, rupanya kau tahu tentangku ya,Alif. Kau tahu dari mana? Penduduk desa? Atau jangan-jangan dari publisher-ku? Aku lihat tadi kalian sedang berbincang akrab saat acara bedah buku.

“Sudah sore. Sebentar lagi petang dan aku khawatir akan kemalaman sampai di desa nanti,”kataku memotong pembicaraan. Kumasukkan sebendel naskah sekumpulan cerita karya Alif. Aku berjanji akan mengirimkan kepada editorku nanti.

“Tidak menginap di kota ini saja?”

Tak kuhiraukan pertanyaan laki-laki itu. Jika menjawab, itu sama saja dengan kebodohan yang hendak aku tampilkan. Mau menginap di mana? Di rumah kami dulu? Bukankah rumah itu telah aku tinggalkan beberapa bulan lalu karena aku lebih memilih tinggal di rumah Eyang.Aih, Alif, pertanyaanmu sesungguhnya sangat menohok.

“Pulang dulu, Nyai. Kapan kalian ke Segara Gunung, kabari aku,”pamitku kepada Yanti, yang kerap dipanggil Nyai oleh Alif. Aku ikut-ikutan memanggilnya Nyai.

Kukendarai Katana-ku dalam kecepatan tinggi. Satu pesan masuk dari pengasuh Aghni mengabarkan jika gadis kecilku, matahariku itu sudah merindukan kedatanganku.

“Dik Aghni nggak mau makan. Katanya mesti menunggu Ibu,”

    Segera kubalas pesan,

   “Tunggu, nggak ada sejam aku sampai di rumah, Mbok,”

   “Bu, ada tamu beberapa warga desa,”

   “Tunggu ya, Mbok,”

Satu jam sudah perjalanan sampai ke rumah. Kudapati Aghni tertidur di sofa depan televisi. Di meja yang terletak di samping sofa masih tergeletak beberapa alat makan.

“Dik Aghni mau makan setelah saya suapi. Tapi dia melarang saya pergi dari sini,” kata Mbok Sri pelan seraya mengelus-elus rambut Aghni.

     “Psssttt…biar aja, Mbok. Sesekali dia boleh bermanja denganmu.”

     “Tamu Ibu beberapa menit lalu baru saja beranjak pergi. Katanya, mereka akan kembali ke sini besok pagi,” Mbok berpamitan pergi ke kamarnya seraya membawa kue pemberianku.

***

Villa ini milik keluarga dengan bentuk bangunan Mediterania, Artdeco yang dikombinasi dengan seni ukir Jawa yang menempel pada dinding berupa angin-angin. Warna Jawa yang sangat kental juga terdapat pada bangunan pendapa mungil yang lebih mirip sebagai gazebo. Sesekali terdengar suara gamelan yang bersumber dari radio yang disetel di kamar si Mbok.

Sesekali pula terdengar jerit tawa Aghni memecah kesunyian siang hari tatkala dia asyik bersendau-gurau dengan teman-teman sebayanya dari desa sebelah. Mereka kebanyakan teman sekolahnya yang dia paksa untuk mau bermain di rumah.

Panggilan SMS mengagetkanku,

    Sudah kau kirim naskah-naskahku, Masayu?”

    Kubaca siapa nama pengirim : Alif.

Haha…aku menertawakan diriku sendiri,saat membaca deretan nama itu. Aku mulai memanggil laki-laki itu dengan sebutan“Gus”. Sebutan “Gus” untuk menghormati dia yang mengaku sebagai putra seorang kyai serta cucu tersayang dari kyai pula.

“Pagi ini akan kukirim, Gus.”

“Oke,tengkyu ya.”

Sekilas aku baca naskah-naskah yang sudah siap untuk aku kirim melalui pos. Ada kumpulan cerita pendek yang semuanya bertema humanisme, sedikit menyentuh surealis. Satu bendel lagi berupa sekumpulan syair. Dari judulnya saja aku sudah merinding untuk memulai membacanya : Suluk Mripat.

“Jangan coba-coba kaubaca sulukku sebelum dirimu benar-benar bersih, kosong,” pesan masuk kembali lagi. Terbaca nama Alif.

Aih, Alif. Kau mulai berlebihan kiranya. Aku yang terbiasa dalam sunyi, sepi bahkan suka mengosongkan jiwa, masih saja kau khawatirkan tentang aku.

 Aku mulai membuka-buka syair yang ditulis dengan bahasa tegas namun sederhana  penuh dengan beberapa kutipan dalil. Lembar pertama, aku belum merasakan apa-apa. Lembar kedua, ketiga, keempat hingga puluhan lembar, tubuhku mulai limbung. Ada titik kesadaran dengan simpul yang terkait terhadap apa yang tengah menimpaku selama ini mulai bereaksi dengan tubuhku. Aku mengalami apa yang disebut dengan keadaan trancedental.

“Naskahmu gila! Edan!” pesan pendek yang kusampaikan kepada Alif.

     Hahaha…”

     Jawabannya cukup pendek, disertai dengan tanda emoticon wajah tertawa.

    “Nggak lucu! Kamu mau menghipnotis orang ya?”

    “Nggaklah! Awas hati-hati dengan hatimu,”

Sumpah! Naskah buku ini lebih mirip sebagai naskah buku motivasi diri,selfmotivation. Lain dengan bahasa yang terdapat dalam cerpen-cerpennya. Aku malah seperti digiring untuk menyerahkan hatiku kepada penulisnya, Alif..

Sebelum aku benar-benar merasa mabuk,maka aku rapikan lagi naskah-naskah itu. Setengah jam lagi kantor pos di kecamatan akan buka. Kubuka ponsel dan mencari-cari nomor editorku.

“Ada temanku yang ingin naskahnya kaubaca. Siapa tahu kalian berminat menerbitkannya,” pesan panjangku kepada Lia.

Lama kutunggu jawaban. Tak ada. Layar putih ponselku hanya menunjukkan gambar foto Aghni. Tak ada pesan masuk.

Matahari kian beranjak saat kusadari sinarnya menembus ruang kerjaku. Jika hari tidak hujan ataupun gerimis sepertinya cahaya mentari merupakan penanda yang bagus untuk menentukan waktu. Sinarnya yang melewati  jendela kamar kemudian jatuh tepat di atas meja kerja, akan menjadi macam sinyal bahwa jam dinding menunjukkan pukul 9 pagi.

Kantor pos di kecamatan pasti sudah buka. Petugas yang biasa berjaga di sana, seseorang yang usianya terpaut dua tahun denganku. Dia cukup hapal siapa-siapa saja penduduk yang kerap datang ke kantornya. Sebagian besar warga desa datang ke kantor pos untuk mengambil wesel atau membayar rekening listrik. Sebagian warga memang masih memercayai weselpos, terutama mereka yang sudah uzur, daripada misal; membuka rekening di bank.

Dan tentunya, aku juga akan memenuhi janji berkunjung ke rumah Kinaryo. Aku mesti melihat perkembangan yang terjadi. Mencari tahu apa yang menjadi penyebab kerusakan tanaman-tanaman itu.

Rumah Kinaryo terletak di salah satu sisi bukit. Tepatnya di depan dan berhadap-hadapan dengan pekuburan desa. Rumah itu berdiri di pinggir jalan menuju arah candi Sukuh. Pernah suatu ketika, Kinaryo aku tanya iseng, apa tidak ngeri setiap hari berpemandangan kuburan? Dengan santai dia menjawab bahwa dia telah berteman dengan para penghuni di sana. Saat aku keheranan, dengan lantang dia menjelaskan.

“Aku sering melihat seekor burung Rajawali yang berumah di pekuburan itu. Sering aku mengintai di balik jendela, malam-malam burung itu menyambar tikus-tikus, atau terkadang ayam untuk dimangsanya.”

“Serius?”

“Iya,benar. Burung Rajawali itu sangat besar dan berwarna hitam. Terkadang suara kepak sayapnya lembut terdengar, ketika malam-malam dia terbang rendah. Mungkin sedang menyambar mangsanya di tanah,” kata Kinaryo lagi.

Setelah menyusuri kebun sayur yang terletak di belakang rumah, Kinaryo lalu menunjukkan kebun tanaman Ceplok Piring yang dia tanam di atas tanah 500 meter persegi. Pucuk-pucuk daun yang mulai tumbuh terlihat layaknya ranting, terpotong. Mungkin seperti menyisakan pemandangan habis dimakan ternak atau barangkali  ada yang telah tega merusaknya.

Letak kebun yang lumayan jauh dari rumah, membuat Kinaryo tidak bisa mendengar,setidaknya jika tanamannya dirusak oleh hewan. Setelah aku amati bahwa daun-daun itu bukan dimakan ulat atau hama sejenisnya, aku semakin yakin jika kerusakan yang terjadi pada tanaman-tanaman itu disebabkan oleh adanya faktor kesengajaan.

Aku mengambil beberapa gambar di tempat. Aku potret menggunakan kamera ponsel. Ada sekelebat pikiran untuk menanyakan hal itu kepada kawanku, si calon profesor penggemar botani yang saat ini sedang mencari ilmu di Jepang.

Benar saja, beberapa foto aku unggah dan kirim kepada temanku, Hisyam.

“Seperti sengaja dirusak,”komentarnya pendek.

    “Bukan karena dimakan ulat atau sejenisnya, Prof?’ tanyaku.

    “Ada sisa-sisa dedauannya nggak? Misal yang jatuh ke tanah?”

“Ada. Sedikit saja,”jawabku.

Rupanya tak hanya kebun Ceplok Piring kepunyaan Kinaryo saja yang rusak, namun tanaman Ceplok Piring yang dimiliki oleh para petani lain juga berantakan. Dari beberapa yang aku lihat di lokasi, semua mempunyai bentuk kerusakan yang nyaris sama dengan kerusakan yang dialami oleh kebun Kinaryo.

“Aku suka, kalian masih sangat bersemangat untuk melanjutkan proyek ini. Coba kita tanam kembali batang-batang pohon yang masih bisa dimanfaatkan. Atau lakukan apa pun buat kalian. Mulai menyetek lagi, mungkin. Jadwal kita akan mundur semuanya, tentu. Namun begitu, sekali lagi, aku amat berterima kasih, kalian masih sanggup bertahan.”

Kujumpai wajah-wajah lesu namun masih mengembangkan senyum di bibir saat aku menyalami mereka satu persatu.

“Ibu,kelihatannya ada yang berusaha merusak tanaman ini,” bisik salah seorang warga,sambil mengiring langkahku meninggalkan mereka.

“Apa indikasi, Bapak?” tanyaku.

“Pasti ada yang iri dengan kegiatan kita,”katanya lagi.

“Saya tidak sepenuhnya setuju dengan pendapat Bapak. Bukankah penduduk di desa ini selalu damai dan aman-aman saja selama ini. Itu salah satu alasan, mengapa saya suka dan kerasan tinggal di sini.”kataku panjang lebar.

“Lihat,Ibu. Tidak semua tanaman habis dimakan ulat. Ada yang seperti ditebas, dirusak oleh tangan-tangan jahat,” si Bapak meyakinkan aku lagi.

“Upst!Okelah kalau begitu, Pak. Saya akan tetap menyelidiki hal ini,”

Kutinggalkan para petani yang masih asyik berdiskusi. Kulajukan kendaraanku menuju rumah setelah kujemput Aghni di sekolahnya. Sebuah pesan masuk, tepat saat aku membuka pintu rumah.

“Sudah kau baca suluk-sulukku. Bagaimana?”

“Tak hanya kubaca tapi kufotokopi,”
            “Berbahaya! Jangan lakukan itu.Bakarlah!”

“Hah?kau yang meminta untuk diterbitkan, sekarang kau minta naskah kopian itu aku bakar. Jangan gila, kau,Alif.”

“Ingin tahu saja bagaimana reaksi penerbit. Aku tetap ingin karya itu dibukukan,”

“Hai, apa kabar Nyai-mu? Kafe masih ramaikah? Aku rindu kotamu,”

“Halah. Aku sering ke desamu kok. Kamu saja yang tak pernah menemuiku.”

“Untuk apa?”

Pesan terakhirku menutup perbincangan.

***

Suasana balai desa amat gaduh. Beberapa warga tampak berdatangan dari penjuru tempat. Ada puluhan petani yang datang dengan masih membawa alat pertanian mereka,cangkul dan sabit. Entah, apa yang tengah berkecamuk dalam pikiran mereka.

“Inilah, inilah orang yang selama ini telah merusak lahan kami,” teriak seorang petani sambil menggandeng pemuda yang berumur 20-an tahun.

Pemuda yang diduga sebagai pelaku perusakan itu hanya diam dan tak bereaksi apa pun,sampai kemudian datang tetua desa, sesepuh desa. Seorang pemuka agama yang cukup disegani. Kepala desa saat itu sedang tidak berada di tempat. Dengan alasan tengah mendatangi rumah kerabatnya yang sedang mempunyai hajat, kepala desa hanya menyampaikan pesan lewat ponsel, segera selesaikan urusan.

Pemuda itu kemudian digelandang masuk ke ruang aula balai desa. Di bangunan yang mirip seperti joglo dia didudukkan di sebuah kursi yang terletak di tengah-tengah ruangan, persis seorang pesakitan.

Beberapa pertanyaan yang diajukan oleh tetua desa dijawab dengan sepata, dua patah kata. Beberapa petani sampai geram, tatkala pemuda itu tidak mengaku apa motif perbuatan yang dilakukannya serta atas suruhan siapa pengrusakan itu dialakukan.

Persoalan menjadi buntu. Hingga hampir satu jam penginterogasian nyaris tak ada hasil yang diharapkan. Pak Tetua mengambil inisiatif untuk segera membubarkan arena‘persidangan’. Para petani yang semula merasa kecewa, kemudian berlalu satu persatu, keluar dari aula setelah dibujuk oleh Pak  Tetua bahwa paling lambat satu hari setelahnya, permasalahan akan segera selesai.

Ceplok Piring masih rimbun mengembang di dalam pot-pot aula balai desa. Seekor kupu-kupu hinggap di sebuah kelopak bunga sambil mengibas-kibaskan sayapnya yang berwarna serupa dengan bunga itu. Ceplok Piring menyebar wewangian dengan tulus, seperti tulusnya wajah Pak Tetua yang masih sabar berhadapan dengan pemuda yang tetap membungkam mulutnya. Dia tak hendak punya niat membuka sesiapa yang menjadi otak pelaku perusakan itu.

“Kamu boleh minum dulu,”kata Pak Tetua kepada si pemuda.

Setelah dinanti beberapa menit, pemuda itu akhirnya membuka suaranya. Dia menunggu saat di mana di tempat itu hanya ada dua orang saja, dia dan Pak Tetua.

“Sebenarnya saya tak ingin berterus terang karena saya telah diambil sumpah untuk tidak mengatakan ini,” kata si Pemuda mulai membuka suara.

“Ya sudah kalau begitu jangan katakan. Simpan semua rahasia itu. Hanya saja, kamu mesti bertanggung jawab atas semua kerusakan yang telah kamu lakukan. Beri ganti rugi kepada para petani itu, syukur-syukur kamu mau melebihkannya. Mereka telah rugi secara lahir dan batin. Kamu telah membuang impian mereka,”kata-kata Pak Tetua panjang lebar.

Pemuda polos itu menundukkan kepala seraya mengusap-usap matanya.

Dengan berjongkok, dia cium kedua lutut Pak Tetua. Kemudian dia peluk laki-laki sepuh itu sambil mendekap erat.

“Maafkan saya, Pak Tetua,”

“Kamu tak berhak meminta maaf kepadaku. Mintalah maaf kepada mereka. Berapa orang yang menjadi korbanmu?”

“Empat kebun telah saya rusak, Pak Tetua,”

“Astaga.Memohonlah ampun kepada Tuhan.”

“Saya dibayar untuk itu.”

“Kamu lakukan sendiri?” pertanyaan Pak Tetua dijawab dengan anggukan.

“Bertobatlah.Lekas, kau datangi para petani itu sebelum mereka menumpahkan kemarahannya lagi. Untung peristiwa yang lebih tragis bisa kita hindari tadi. Coba bayangkan seandainya warga desa mengeroyokmu, memukulimu. Kau bisa jadi bulan-bulanan mereka. Dan itu hal yang tidak baik. Kau menjadi pemicu berubahnya adat-istiadat di sini yang tidak mengenal kepada tindakan kekerasan.”

***

Pagi menyuratkan kegelisahan lewat mendung yang dikirim oleh alam. Tak ada sinar matahari yang masuk menerobos jendela dan jatuh di atas meja kerja seperti biasanya. Sesiapa yang tak luruh yang akhirnya terjebak pada hawa dingin yang meruntuh di antara suara titik-titik air hujan yang bermain orkestra di genteng rumah. Bebunyian yang akrab mampir di telinga dan sering terabaikan. Saat kunikmati sesuara itu, entah, diriku seperti terhipnotis, merasakan kesyahduan yang sangat luar biasa.

Tiba-tiba aku ingat Aghni yang sedang liburan dengan papanya, Mas Hanung. Dia telah meminta ijin untuk membawa anaknya ke pulau Bali dan Lombok bersama keluarga besar mereka.

Aku rindu Aghni. Aku ingin memeluknya,seperti pelukan alam kepada matahari yang menyembunyikannya hanya untuk memberi kesempatan kepada hujan agar mencintai bumi. Sebelum aku benar-benar hanyut, aku teringat sesuatu.

Kuraih ponsel yang tergeletak di atas meja kerja. Sepertinya harus segera kuhubungi Lia, editorku.

“Halo,Lia, gimana dengan naskah Alif?”

“Aku hubungkan kau dengan editor agama ya, Ayu. Tunggu sebentar,”

Kututup ponselku. Tak berapa lama, dering dan getarnya terdengar.

“Salam,Mbak.”

“Salam,Mas? Kang? Atau Dek nih?”

“Mas aja boleh hehe…”

“Bagaimana dengan naskah temanku itu, Mas…”

“Iqbal,Mbak Ayu,”

“Iya,Mas Iqbal. Gimana ?”

“Naskah teman Mbak terlalu berat untuk pangsa pembaca buku kita yang umum.”

Upst! Sudah kuduga jawabanmu akan demikian, mas Editor.

“Lalu?Maksudmu, Mas?”

“Kami tidak bisa menerbitkan. Okelah, dia menulis tentang keindahan. Keindahan layaknya seekor ikan hias. Nah, yang ditulis oleh teman Mbak ini ikan hiasnya saja, tanpa dia bercerita tentang akuarium, benda-benda apa aja yang ada di akuarium tersebut. Begitu analogi saya, Mbak Ayu.”

Kukirim pesan kepada Alif, hasil pembicaraanku dengan editor. Alif langsung membalas pesanku, sementara aku masih mengobrol dengan editor.

“Kau bilang saja, apakah semua keindahan harus dibungkus? Kudu diterjemahkan sedemikian rupa, sehingga akan mengurangi makna keindahan itu sendiri?”

Pesan Alif kubalas,

“Ini tentang pembaca yang tak semua mengerti apa yang kaumaksud,”

“Pertahankan alibiku. Sampaikan kepada editormu,”

“Sudah dan dia menjawab dengan alasan yang tak semua aku mengerti.”

Pembicaraanku dengan editor agama lumayan alot di telepon. Arahan lewat pesan yang disampaikan oleh Alif tak mempan. Dia tidak mampu untuk membuat editor menarik kata-katanya lagi, menolak naskah itu.

Aku termangu.

Kubaca naskah Alif,

         CERMIN

         Mengenal Allah, terlalu muluk.

         Mengenal Diri, itulah suluk.

         “Lihatkah diri sendiri melalui cermin, air yang tenang, dan anak mata orang lain.

         Dari cermin, belajarlah tentang hakikat dan kepalsuan. Siapa yang becermin, sia-

         pa yang di dalam cermin. Dari air yang tenang, belajarlah tentang poros dan

         pusaran. Siapa yang gelombang, siapa yang buih. Dari anak mata orang lain, be-

         lajarlah tentang kedalaman dan kemanusiaan. Siapa yang mencintai, siapa yang

         Dicintai.”

***

Setahun kemudian,

Segara Gunung masih terbentang. Tak sedikit pun yang berkurang dari pemandangan perkebunan teh. Desa Kemuning tetap menggeliat setiap pagi. Pasar ramai seperti biasanya. Kedai makan di dekat terminal kecil yakni terminal desa masih menjual kopi hitam yang enak, dengan beberapa penganan seperti biasa. Tak lupa, buah-buahan juga tersaji seperti jeruk dan sayur-mayur hasil pertanian penduduk.

Obyek wisata candi Cetho lengang,seperti halnya candi Sukuh. Kedua tempat yang masih disakralkan oleh penduduk setempat memang tidak seperti obyek wisata lain. Candi peninggalan Raja Majapahit, Brawijaya V itu hanya dua kilometer dari dusunku. Di gapura candi yang bertrap sembilan dan menghadap gunung lawu itu , surya terbenam selalu tampak indah bisa disaksikan. Ada patung Sabdo Palon yang sering digunakan untuk bersemadi. Beberapa kali saat menjelang senja hari sengaja aku pergi ke sana disertai Aghni. Dia mulai menyukai tempat itu.

Air terjun yang ada di desa Berjo lebih ramai dan diminati oleh kalangan remaja. Jauh ke arah timur, di tempat yang lebih rendah, seorang pengusaha swasta membuka arena out-bond, terbuka untuk khalayak serta dilengkapi dengan kebun Strawberry. Beberapa kali rombongan datang melewati jalan beraspal halus yang melalui desa. Acapkali pula kulihat beberapa pelajar naik ke candi Sukuh.

Dusun Pabongan masih seperti dulu,saat dua tahun lalu aku tinggal di sini. Usaha perekonomian warga membaik dengan penyulingan berbagai minyak dari tanaman bunga yang telah kurintis bersama warga. Tak ada lagi kekhawatiran dari kepala desa. Perbuatannya yang merugikan beberapa warga dia tebus dengan memberikan bibit untuk penanaman kembali.

Lambat laun, warga akhirnya tahu bahwa otak pelaku, biang keladi perbuatan pengrusakan dilakukan oleh kepala desa.Kepala Desa yang mempunyai puluhan hektar kebun teh serta ratusan batang pohon cengkeh merasa keberatan. Rupanya para petani lebih menyukai bercengkerama dengan pohon-pohon Ceplok Piring yang mereka tanam, ketimbang bekerja memetik bunga dan daun cengkeh atau pergi ke gunung memetik daun teh.

Kekhawatiran yang sangat beralasan. Beberapa tahun sebelumnya, para warga lebih sibuk mengurusi bunga-bunga Anthurium daripada pergi ke sawah merawattanaman padi atau menjadi buruh pemetik cengkeh dan teh. Perkebunan teh mengalami perubahan suasana. Ada beberapa komplain dari para juragan yang ditujukan kepada kepala desa, mengapa budidaya tanaman Ceplok Piring diijinkan dan nekat menjadi ‘mainan’ baru penduduk desa yang menggemarinya. Kejadian yang nyaris sama saat booming bunga Anthurium.

Terjadi euforia warga sebelumnya terhadap penjualan tanaman Anthurium yang sangat fenomenal, sampai-sampai menyebar ke seluruh kota kabupaten, bahkan keluar kota. Setiap rumah dipastikan ada yang menanam Anthurium. Ini sangat spektakuler.

Benar-benar dahsyat. Tanaman yang dinamakan Gelombang Cinta itu terbukti membuat gelombang perekonomian naik turun, sesuai kehendak pasar. Harga yang kemudian tidak masuk akal, tidak rasional untuk sebuah tanaman menjadi arena permainan perdagangan. Ini benar-benar dunia yang menyuguhkan sebuah fantasia bagi sesuatu yang menjadi impian sebagian penggemar, pecinta Gelombang Cinta.

Masa satu tahun adalah masa panen atas kreativitas yang telah dilakukan selama ini. Bunga-bunga Ceplok Piring menjad iproduk andalan warga, selain itu dedaunannya juga ada yang berminat untuk dibuat obat tradisional. Sebuah pabrik jamu telah mengikat kerja sama dengan serikat petani.

Pada satu waktu kusempatkan bertandang di rumah Kinaryo. Dia bercerita bahwa burung Rajawali yang berumah di tana hpekuburan, masih suka terbang merendah untuk mencari mangsa saat malam tiba.Kepak sayapnya sering terdengar lirih dan sedikit menakutkan, membuat bulu kuduk berdiri bagi siapa saja yang tidak biasa mendengarnya. Suara malam lainadalah burung elang hitam yang suka hinggap di wuwungan rumah pada saat jam-jam tertentu. Elang hitam yang sering menjadi penunjuk jalan bagi pendaki gunung yang tersesat.

Elang hitam yang begitu dikeramatkan. Elang hitam yang sesekali terbang ke kota dan hinggap di atap rumah. Maka sebagian besar warga yang percaya adanya tahayul akan mengatakan bahwa sebentar lagi akan ada bencana kecil, sebuah kematian.Suara yang dikeluarkan oleh elang hitam adalah semacam kode. Isyarat untuk berhati-hati dalam melakukan aktifitas di hari itu sambil berpikir was-was ; siapa yang akan meninggal dunia dalam waktu dekat.

Elang hitam adalah mitos yang bertumbuh subur di reranah Jawa. Entah mengapa, hewan yang dinyatakan mempunyai kognitif cerdas-layaknya bocah berusia dua  tahun – itu selalu menyisakan cerita-cerita yang melegenda, turun-temurun. Bukan hanya cerita misteri namun keberadaannya yang semakin punah tampaknya lebih penting untuk dibicarakan.

Sebuah novel terlahir di sini. Diantara sepi pegunungan dan kesakralan lingkungan candi. Gapura Candi Cetho,patung Sabdo Palon yang masih tegak berdiri dan tangga menuju candi adalah sebuah ritual yang tak hanya indah untuk dituliskan namun dilakukan.

Segara Gunung adalah pemikat nan elok. Ruh tentang manusia-manusia pemetik teh menjadi eksotika tersendiri. Penduduk yang masih tegak kuat mempertahankan kepercayaan agama hindu dan setia mengagungkan situs candi Cetho merupakan artefak hidup,yang kaya akan kearifan yang tak akan dijumpai di kehidupan perkotaan. Harmoni  yang indah, sesuatu yang adiluhung, kebudayaan yang tak lekang. Cinta kasih,tegur sapa hangat, secangkir kopi hitam dan senyum serta bercandaan penjaga warung sambil menjajakan obat herbal merupakan satu kesatuan.

“Aku bukan editormu untuk novel ini,”kata Lia saat kusodorkan naskahku.

    “Aih, lantas siapa, Buk?”

     “Yang pasti seseorang lah,”

     “Bukan sejenis hantu, kan?”

     “Haha…kau masih suka mengistilahkan itu kepada ‘kekasih gelapmu’ itu ya?”

     “Bukan ‘kekasih gelap’ kali. Secret Admirer aja hahaha….”

      Suara Lia sambil terbahak. Akhirnya kami berdua sama-sama tergelak.

     “Setidaknya, buah perjuangan kita dulu kini bisa dia nikmati. Kita bisa nikmati karya-karya dia. Itu maha karya yang sangat dahsyat.”

      Ya, kami sedang memperbincangkan tentang buku karya Alif. Fantastis! Dalam kurun waktu tidak sampai sebulan,bukunya mengalami cetak ulang sampai 3 kali.

     “Aku lebih suka menyebutnya sebagai buku motivasi daripada buku agama, Lia,”

     “Yup! Kau boleh berkata begitu.”

     “Benar-benar keren.”

          “Iya.”

Ah, Lia. Selalu saja kau bisa menjadi sahabat yang baik. Teman untuk berbagi cerita. Termasuk cerita cintaku yang tersembunyi jauh di lubuk hati.

***

Sebuah email masuk baru saja terbaca,

Dear Masayu,

Selamat ya atas terbitnya novelmu. Aku sekarang jadi tahu mengapa kau dulu bertanya tentang seluk-beluk bunga Ceplok Piring. Sungguh, perjuanganmu mengangkat harkat perekonomian penduduk desa patut kuacungi jempol. Aku terhanyut akan cerita yang kauhadirkan, tentang Candi Cetho, artefak Lingga dan Yoni di candi Sukuh beserta legenda yang mengiringinya ( yang aku pikir di setiap candi Hindu pasti ada tentang itu). Gadis-gadis pemetik teh di Segara Gunung. Tangan-tangan kuat serta kaki-kaki perengkuh dari laki-laki pemetik bunga cengkih.

Akur indu suasana di desamu. Bulan depan aku sudah menyelesaikan studiku. Aku berharap kau mau mengantarkan kami; aku, istri dan anak-anakku bertualang. Tunggu kami ya,

    Salam,

    Sahabatmu: Hisyam

    Fukuoka City.

    Surat elektronik yang langsung aku balas,

Salam,Prof..

Aku tunggu ya. Eh, kami tunggu. Aku dan Aghni putriku semata wayang. Mungkin dia seusia putri keduamu. Aku melihatnya pada foto-foto kalian yang terpampang di  media sosial.

    Salam,

Sahabatmu: Masayu

Baru sekali itu Hisyam mengirim email. Beberapa percakapan dengannya terekam pada sebuah ruang inboks di jejaring sosial. Aku selalu teringat kaca matanya yang berbentuk ala Harry Potter, saat kami duduk di bangku SMP.

Pesawat televisi mengingatkanku kembali kepada sosok Alif. Dia sekarang menerjuni dunia tarik suara, yang tak jauh-jauh dari profesinya dahulu, dakwah yang disampaikan dengan penuh perdamaian. Beberapakali pada beberapa tayangan, aku melihatnya tampil di sebuah orkestra. Musik dan lagu dengan syair beraliran sufi mampu menggelorakan hati. Membangkitkan kenangan akan pertemuan pertama kami, saat launching bukuku tentang yoga yang dia hadiri.

Aku teringat akan istrinya yang bersahaja. Ibu muda lulusan sebuah perguruan tinggi bergengsi di Bandung. Senyumnya yang tulus saat pertama kali aku memeluknya, seperti pembuktian bahwa dia perempuan yang kuat. Hanya perempuan kuatlah yang mampu mengantarkan suaminya sampai di puncak keberhasilan yang dia raih. Akhir-akhir ini tak ada lagi kujumpai mimpi-mimpi malam tentang laki-laki tua berjenggot, penghuni sebuah pesanggrahan di Segara Gunung. Laki-laki yang dulu kerap datang dalam sebuah bayangan. Laki-laki berwajah teduh dengan sorot mata tajam. Dia yang selalu hadir di setiap kejadian setiap kali aku terpuruk. Mimpi-mimpi tentang si Bapak tua boleh pergi. Aku akan menggantinya dengan mimpi yang lain

“Aku membangun sebuah pesantren di sini,” pesan yang terbaca pada ponselku.

Alif! Nama itu! Tumben dia berkirim pesan setelah lama kami tak berhubungan.

    “Wah,hebat!”

    “Kau boleh bertandang ke tempat ini kapan saja. Tanpa ada aku dan Nyai-ku.”

    “Aku sering melewatinya bersama Aghni. Tak jarang kami membunuh waktu hanya dengan duduk atau berdiri mematung, memandang ke sebuah tempat di mana angin bersarang.”

     “Susuh Angin.”

     “Ya,seperti petuah nenekku yang selalu bilang, “Golekono susuhing angin.”

     “Segara Gunung.”

     “Ya, Segara Gunung.”

     “Nyanyikan tentang Rindu dan Cinta,Gus.”

     “Hahaha…Kau mengikutiku?”

 “Hahaha..”

Ponsel aku matikan. Berharap kami tak mengobrol lebih lama lagi. Sangat sulit untuk membuka kenangan, tentang perjalanan yang aku tempuh sendiri tanpa dia mengetahui atau dia sekadar tahu bahwa aku memujanya.

Keesokan hari dengan penuh penasaran,aku membuka akun twitter Alif yang lama tak kusambangi. Dia akan mengadakan konser sekaligus bedah buku karyanya di kota Bandung minggu depan.

Aku harus hadir, batinku. Ya, aku mesti menemuinya. Mungkin, mungkin untuk mengakhiri apa yang selama ini berkecamuk di dalam hati. Suatu rasa antah- berantah yang selalu mengiring langkah. Rasa purba, bukan semacam cinta. Ah, sulit untuk menerjemahkan itu. Sekali lagi, aku mungkin dilanda seperti apa yang tengah dirasa oleh seorang remaja yang memuja kepada idolanya. Secret Admirer adalah satu kata yang mendekati kebenaran.

Kutelepon agen perjalanan untuk memastikan tiket kereta masih tersedia di hari itu. Aku memesan sekaligus untuk pergi dan kepulangan tanpa menginap. Ya, tujuanku adalah jelas ; untuk menemui Aliff.

Sebuah perjalanan untuk menjumpai mimpi ataupun mengakhirinya adalah sebentuk proses untuk mencari kesejatian diri. Aku tak mengelak, bahwa ini bukanlah sebuah akhiran, perpisahan, karena tak pernah ada awalan. Yang sudah terjadi adalah suatu  perjuangan untuk menemui bentuk yang nyata, satu realitas diri.

“Dan hari ini, telah aku kembalikan seluruh apa yang pernah kubawa pergi darimu, Masayu. Segala yang kaubilang sesuatu yang lama tercerabut, serat-serat halus di hatimu. Selama setahun aku yang telah menjadi hantu dalam hari-harimu,mulai kini telah kulepaskan, waktu sekarang juga. Telah kubebaskan kau dalam penjara hatiku. Maka, terbanglah, berlarilah, menepilah pada satu pantai. Kau adalah satu pribadi yang kukuh, kuatlah. “

Suara bariton Alif mengalahkan apa pun yang tengah aku dengar saat ini. Sesuara anak-anak  band yang tengah bermain di panggung, atau teriakan MC yang sedang mengarahkan acara. Suara Alif lebih mirip wejangan dari seorang tetua. Tiba-tiba, bayangan sosok renta, keriput  dan berjenggot, serta bermata tajam penjaga sebuah pesanggrahan di Segara Gunung tengah melintas di alam bawah sadarku. Salah satu tokoh yang senantiasa hadir dalam mimpi-mimpiku jika aku tengah mengalami kesedihan luar biasa.

“Alif, tidak ada yang masih tertinggal, bukan? Tidak ada kan? It is NOTHING. Seperti yang selalu kaukatakan,” ingin aku menghambur dalam pelukannya yang hangat-yang sampai kini tak pernah sekali pun terwujud- dan pasti menyenangkan. Tidak! Aku tidak akan pernah mempunyai keberanian untuk melakukan hal itu. Cukuplah kau menjadi satu misteri dalam hari-hariku, Alif. Sebuah serial, mungkin, untuk jalinan suatu kisah yang absurd. Itu lebih dari cukup.

“Terima kasih,” ucapku pendek.

“Terima kasih untuk apa?” tanya dia sambil mengembangkan senyum seperti biasa.

“Untukmu karena selama ini kau mau menjadi hantu! Hahaha….”

Aku tengah berupaya menutup kisah ini, Alif. Seberapapun aku selama ini tengah berusaha dan tak pernah berhasil, maka aku pikir saat ini adalah momen yang tepat. Bukan hendak aku menyodorkan sebuah skenario ataulah apa. Sebaik apa pun rancangan kisah aku lakukan dengan adegan,jika kehendak tak lagi sama, apa pula yang perlu diusahakan? Aku dengan segenap angan dan cita, kau yang seperti hantu dan selalu membuat rindu.  Kita tak akan pernah sama. Tak akan pernah.

“Kau telah punya hantu yang lain?”Alif, ah, masih saja kau diliputi tanda tanya.

Bukan itu pertanyaan yang aku tunggu darimu, Alif. Bukan semacam itu. Sejak kemarin saat kuputuskan untuk menempuh perjalanan ratusan kilometer hanya untuk menemuimu di tempat ini, aku hanya merindukan satu pertanyaan, “Suamimu mana?” atau macam pertanyaan begini,”datang dengan siapa?”

Lalu aku akan mengenalkan dirinya,seseorang yang akhir-akhir ini menjadi bunga dalam tidurku. Seseorang yang nyata telah hadir. Benarkah? Atau aku hanya kembali berangan-angan, menjalin sebuah cerita fiktif seperti halnya saat dengan ‘hantu’ Alif?

Sumpah, aku ingin menghadirkan Mas Awang ke sini. Semula kupikir dia tidak  akan keberatan jika datang sekadar untuk menemuiku. Katakanlah, menemaniku –daripada sendiri- di acara ini. Bukankah sangat mudah, untuk memenuhi permintaanku yang sederhana ini baginya. Namun, mungkin kesibukanlah yang menjadi kendala. Berapa pun sedikit kilometer jarak yang dia tempuh untuk sampai di tempat ini, jika dia tak berkehendak, apalah dayaku.

Oh ya, Alif, kau mungkin tak mengenal siapa itu Mas Awang. Aku hanya punya satu kalimat untuk dia saat ini. Bukan dua kata yang sering kau dengung-dengungkan,Cinta dan Rindu. Bukan semacam itu. Aku dan Mas Awang, mungkin, ini semacam kemungkinan sebelum kami bertemu dan saling mencocokkan hati masing-masing.Alif, kami hanya punya satu ‘passion’ yang sama.

Aku tak hendak berkata bahwa kini tengah tumbuh kuncup-kuncup bunga di taman hati. Kuncup yang tersemai oleh biji-biji yang telah ditabur oleh alam semesta. Semesta yang kemudian memperkenalkan aku dengan sosok yang bernama Mas Awang..

Harapan boleh tersemai, impian terus saja  menggoda, namun sebuah perjalanan tetap saja alam yang menentukan. Aku membaca sebuah pesan yang dikirim oleh Mas Awang,

“Maaf ya, aku tak bisa menjumpaimu. Istriku minta ditemani.”

Pesan singkat Mas Awang mampu mematahkan hati. Merontokkan tunas-tunas yang sedang bertumbuh. Mungkin semacam tanaman Ceplok Piring yang ditebas secara paksa, seperti kejadian saat para petani mengalami musibah. Pesan singkat itu mengubur dalam-dalam segenap asa. Aku tak hendak memulai sebuah kisah,cerita. Tidak. Ini terlalu naïf. Aku urungkan memulai sebuah perjalanan baru.Tuhan, maafkan aku yang khilaf.

Cukup sebuah akhiran yang indah saja aku lakukan di sini. Di tempat prestisius, sebuah kampus ternama.

Sama seperti pada awal perjumpaan kami dulu, kali ini pun aku memeluk Yanti, istri Alif, dengan sangat kuat. Hanya bedanya, dua tahun lalu aku menjumpai dia disertai oleh dua orang putra yang tampan-tampan. Sekarang perempuan kuat itu aku temui tengah memangku putri kecil mereka dengan perut mengandung bayi delapan bulan.

Dia tak menyangka aku bakal hadir di acara suaminya. Katanya,”Ibu sampai datang ke sini? Sendiri? Ini surprise !Terima kasih, Ibu. Sudah berjumpa dengan Bapak?”

Perempuan itu selalu mengeluarkan bahasa sopan untuk menghormati siapa saja tamunya. Aku tak rikuh dipanggilnya dengan sebutan Ibu. Bukankah itu suatu penghargaan yang tak terkira? Dan dia menyebut suaminya dengan panggilan Bapak. Suatu kesederhanaan yang telah lama hilang.

“Saya sendiri, Nyai.”

Dia tersenyum ikhlas, memperlihatkan deretan giginya yang rapi. Aku peluk lagi perempuan muda itu dengan hangat. Aku hampir meneteskan air mata, mengingat perjuangan mereka hingga mencapai puncak prestasi seperti ini. Coffee Shop dan toko roti yang terletak di satu titik sudut kota milik mereka ditutup. Setahun lalu mereka memutuskan untuk pindah ke Jakarta. Sesekali tulisan Alif aku baca di surat kabar..

“Sebutan apa yang pantas sekiranya untukku?” tanyaku memancing Alif.

“Kekasih itu naïf. Mungkin Kakak. Ya, Kakak.”

Alif seperti membuka terang mataku dari kegelapan yang lama terjadi. Akan kusimpan rapi pesan terakhirnya. Jawaban pesan yang aku kirim saat aku sedang setengah tertidur di dalam kereta yang membawaku kembali ke desa.

Kubuka pesan yang lain, SMS dari Mas Awang yang belum sempat aku balas sebelumnya. Kubalas pesan itu.

“Oh,tidak apa-apa. Seorang editor ‘kan tidak mesti bertemu muka dengan penulisnya.”

Aku menelan ludah. Kuhela napas panjang. Kubayangkan Aghni tengah merindukanku. Aku ingin memeluknya. Memeluk untuk selamanya waktu aku bisa bersamanya.

Kereta api berhenti di stasiun Kroya. Kiranya masih setengah perjalanan lagi jarak akan kutempuh. Semua masih rahasia di depan. Aku hanya ingin satu ;doa keselamatan.

Aku mulai bersemadi. (*)