Carita Karya Varla R. Dhewiyanty
Dimuat di Medium, 27 Maret 2024
Narator Aryani Wahyu
Kredit Musik:
1_The Voyage by Audionautix is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 license. https://creativecommons.org/licenses/by/4.0/ (Artist: http://audionautix.com/)2. Sugarbee – Chris Haugen3. Peacefully – E’s Jammy Jams
Kau bertanya padaku, bagaimana rasanya hidup bersisian dengan makhluk agung semacam lautan? Kau tahu tubuhnya memenuhi hampir seluruh planet yang kita huni. Ia mengisi setiap ceruk, setiap relung yang dihuni oleh ikan-ikan kecil; kepiting yang merangkak perlahan di dasarnya; rahasia yang tersembunyi pada setiap jengkal kedalamannya; bangkai-bangkai kapal tenggelam yang ia rengkuh erat dalam pelukan, selamanya….
Bagaimana rasanya jadi pemanis? Sesuatu yang memperindah, membingkai hal lain yang menjadi pusat perhatian sebenarnya. Sebab itulah dirimu, katamu.
Butir-butir pasir yang menyusun tubuhku bergeser perlahan, bagai seorang teman yang sedang menghela napas, mencari jeda sebelum mengungkapkan sesuatu….
***
Sejak kau sudah mulai bisa mengingat, kau tahu kakakmu adalah segalanya bagi dunia yang mengelilingi kalian. Tak hanya dikaruniai wajah cantik, kakakmu luar biasa cerdas: juara olimpiade biologi, ketua klub debat, nilai-nilai yang tak pernah di bawah delapan puluh, kemampuan bicara yang tak perlu diragukan. Kakakmu bisa memikat siapapun. Dari kepala sekolah, dewan juri lomba, teman-temannya, hingga ayah ibumu sendiri. Dua orang yang selalu kauharapkan agar menoleh padamu, meski sekali saja.
Pernah suatu kali kau berharap kakakmu sangat jahat. Tolonglah Tuhan, paling tidak berilah ia sedikit saja kekurangan, pintamu. Tetapi, tidak. Kakakmu luar biasa sempurna. Ia telaten mengajarimu belajar malam demi malam. Ia mengobati lukamu ketika kau terjatuh. Walau ia telah melakukan semua itu, kau tetap saja menatapnya dengan penuh kebencian. Hal yang sebenarnya lucu. Kau membencinya justru karena tak ada satu pun dari dirinya yang patut kaubenci.
Seperti aku, kau adalah bayang-bayang. Sesuatu yang memperindah, melengkapi: pemanis. Sebab ketika orang-orang melihat kakakmu, mereka akan mengagumi kesempurnaannya. Betapa cerdas dan cantiknya ia, dari keluarga baik-baik, dikaruniai seorang adik yang tak kalah cantiknya pula! Lihat? Bahkan kecantikanmu hanya pelengkap baginya. Kecantikanmu tak pernah berdiri sendiri. Lagi pun, hanya itu yang kaupunya, pikirmu. Kau tidak pintar, nilai-nilaimu payah, kau gagap dalam bicara, dan tatapan matamu selalu dipenuhi oleh rasa iri.
Kau meraih segenggam tubuhku dan menjatuhkan butiran-butiranku kembali ke atas bumi….
Kau tahu? aku juga sering kali berpikir. Betapa pun indahnya warna butiran-butiranku, betapa pun panjangnya tubuhku ini terbentang, atau seindah apapun susunan batuan yang menghiasi tepian tubuhku bagai perhiasan, apalah aku tanpa lautan yang terbentang di sisiku?
Lautan selalu menjadi pusat perhatian. Kadang-kadang warnanya tidak biru… juga tidak hijau dengan berbagai gradasi: turquoise, mint, cobalt, teal, aquamarine…. Orang-orang menanti berenang di kedalamannya atau berlayar di atasnya. Sedangkan aku? Aku hanya tempat mereka menunggu giliran berlayar atau menyaksikan betapa indahnya lautan. Sama seperti dirimu, aku pun hanya pelengkap. Kau tak tahu bagaimana kesalnya aku ketika mereka seenaknya membuang-buang sampah ke atas tubuhku. Sialan!
Jadi, aku bisa memahami perasaanmu ketika suatu kali kauputuskan melakukan itu. Azure, tentu nama itu sangat akrab di telingamu, sebab kau sering melafalkannya pada setiap malam yang berlalu. Azure, Azure, Azure, nama itu terucap seiring debar jantung yang mengetuk-ngetuk dari balik dadamu.
Sayangnya, ia mencintai kakakmu. Tentu saja, siapa lagi yang akan orang-orang cintai kalau bukan dia? Kau ingat tidak? sewaktu kecil ia sering mengusap rambutmu penuh sayang. “Lucu sekali adik Olivia inii,” katanya gemas. Waktu itu ia hanya pemuda manis sahabat kakakmu. Namun, kini tidak lagi. Pemuda itu telah menjelma seorang pria tampan nan gagah, dengan pipi yang dihiasi titik-titik gelap bekas bercukur. Kau sering kali membayangkan… bagaimana rasanya menyentuh wajah itu?
Kau ingat juga, tidak? Suatu kali ia hampir kelepasan mengusap kepalamu seperti dulu, tapi gerak tangannya terhenti di udara. Kau dan dirinya sadar kalau segalanya tak sama lagi. Kau bukan lagi gadis kecil nan lucu yang pernah membuatnya gemas. Kau kini seorang perempuan dewasa yang cantik.
Walau orang-orang bilang tetap lebih cantik kakakmu.
Tetap saja, hatimu dipenuhi tanya. Mengapa Azure tak berani memperlakukanmu dengan akrab seperti waktu kalian muda jika memang ia tak punya perasaan apa-apa padamu? Kau sadar, di hati Azure sesungguhnya kau hampir mampu menyaingi kakakmu. Dadamu membuncah bahagia. Akhirnya! ada juga seseorang yang bisa melihatmu sebagai dirimu sendiri.
Ketika suatu hari kakakmu memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di seberang lautan, kaujadikan itu kesempatan. Bagai nelayan jahat yang mencoba memasang bom di laut untuk membunuh ikan-ikan, kauletakkan sesuatu yang bisa meledakkan hubungan Azure dan kakakmu. Mulanya dengan hal-hal kecil, pesan-pesan menanyakan kabar, berlanjut pada pura-pura ban mobilmu bocor lalu minta bantuannya, kemudian ajakan untuk makan di luar sambil membicarakan kakakmu.
Kau berhasil, Azure akhirnya jatuh hati padamu. Namun kau menolak disebut perempuan perebut kekasih orang. Tentu saja, istilah itu terdengar seksis dan tidak adil, bukan? Bagaimanapun, diperlukan dua pihak agar sebuah perselingkuhan bisa terjadi.
Sayang, kebahagiaanmu harus terputus ketika kakakmu pulang setelah menyelesaikan pendidikannya. Sejak kakakmu kembali, Azure mulai mengabaikanmu. Ia meminta agar kalian melupakan semua yang telah terjadi sebelumnya, terlebih ia dan kakakmu akan segera menikah.
Kau hancur sehancur-hancurnya, tak punya lagi kekuatan untuk bersaing dengan kakakmu. Kau akhirnya berusaha merasa cukup dengan kebahagiaan singkat yang sempat Azure berikan padamu dan mulai belajar menerima takdir. Padahal, selama tiga tahun kepergian kakakmu, kau bukan lagi pantai seperti aku. Kau adalah lautan, sang makhluk agung pemeran utama dalam setiap kisah yang tertulis di bumi.
Maka kau mengikhlaskan bersatunya mereka dalam ikatan pernikahan. Peranmu tentu sudah bisa ditebak, pendamping pengantin wanita. Rasanya sakit bukan ketika kau harus berhadapan langsung dengan Azure pada upacara pernikahan kakakmu? Kau pun terpaksa melihat tatapan penuh cinta lelaki itu kala menyingkap kerudung tipis yang menutupi wajah kakakmu. Tatapan yang bukan ditujukan padamu.
***
Saat ini sudah tiga tahun berlalu sejak pernikahan mereka. Dini hari tadi kau mendatangiku sendirian dengan langkah-langkah kakimu yang lemah. Kita duduk bersama semalaman dan berbicara dari hati ke hati. Dapat kurasakan duka dan keputusasaan mengalir dari permukaan kulitmu menuju butiran-butiran pasir yang menyusun tubuhku. Kau dan aku berbagi cerita tentang bagaimana rasanya selalu jadi yang kedua. Bagaimana rasanya tak pernah benar-benar dicintai seutuhnya….
Kali ini kau telah bertekad. Saat biru gelap langit berubah menjadi jingga terang, saat pagi tiba, kau akan melepaskan bayangan Azure dan kakakmu sepenuhnya. Tiket telah terpesan. Besok kau akan meninggalkan negara ini menuju suatu daratan luas yang sama sekali asing bagimu, tempat di mana kau akan sulit menemukan lautan. Walaupun untuk itu kau harus menyeberanginya sekali lagi.
Namun ada yang satu hal yang belum kuberitahukan padamu. Terkadang pada saat seseorang telah lelah mengarungi lautan, telah lelah menghabiskan berhari-hari terapung di atasnya dalam keadaan jenuh dan kehausan, ia akan kembali merindukan daratan. Ia akan berharap melihat pantai dari kejauhan. Pantai dengan butiran pasir yang akan menjadi tempatnya berlabuh.
Aku baru saja akan memberitahu hal itu ketika kusadari ada sesosok laki-laki yang hadir di belakangmu. Lelaki itu Azure. Ia menyusulmu datang ke tempat ini. Kau menoleh padanya dan mata-mata kalian pun saling bertatapan….
Kini, apa yang akan kaulakukan?Kuberi tahu saja, seseorang juga tak akan selamanya ingin terus berlabuh.[]