Cerita karya Krismariana
Versi cetak majalah Bobo tahun XLIV, 2 Februari 2017.
Narator Nanik Indarti
Ilustrasi musik Endah Fitriana
“Doni, kamu berani, kan, ke rumah Nenek untuk mengantarkan makan malam?” tanya Mama. Mama mengulurkan rantang kepadaku.
“Sendiri?” tanyaku.
Mama mengangguk. “Papa masih rapat di kantor.”
Sebenarnya, aku ingin menggeleng. Namun, kalau bukan aku yang mengantar makan malam Nenek, lalu siapa lagi? Tidak mungkin Mama yang mengantar. Alya, adikku, sedang demam sehingga Mama mesti menungguinya. Padahal, makan malam Nenek harus segera diantar. Biasanya ini tugas Papa.
“Tapi, Ma …” Aku berusaha menolak.
Mama memandangku. Kali ini Mama tak bisa dibantah. “Ayo, Don! Nenek sudah menunggu. Kalau kamu tidak segera berangkat, nanti keburu hujan,” ujar Mama. “Nanti pulangnya biar Papa yang menjemputmu. Tunggu saja di rumah Nenek.”
“Baiklah!” jawabku, lalu kuterima rantang berisi lauk untuk Nenek.
Rumah Nenek tak terlalu jauh dari rumahku. Hanya tinggal lurus ke barat, lalu belok kiri sedikit. Namun, yang membuatku enggan adalah karena kalau ke rumah Nenek, mesti melewati satu rumah putih yang kosong, berpagar tinggi, dan berhalaman luas. Kabarnya, rumah itu angker. Rumah itu mirip rumah hantu yang pernah kulihat di film. Kalau lewat sana siang hari, masih lumayan. Namun, kalau hari sudah gelap begini? Hiii…
Mama pernah bercerita, rumah kosong itu milik seorang dokter, teman Kakek dulu. Dokter itu sudah lama meninggal. Sayangnya, beliau tidak punya anak, jadi tidak ada yang mewarisi rumah tersebut. Akhirnya, rumah itu dibiarkan terbengkalai.
Dengan perasaan tak karuan, aku memakai sandal, lalu keluar halaman. Baru beberapa langkah keluar pagar, aku teringat cerita Randi, teman sebangkuku. Dia bilang pernah melihat sekelebat orang berbaju putih, masuk ke rumah kosong itu. Rasanya mustahil ada yang berani ke sana. Lalu, belakangan ini sering tercium bau wangi dari halaman rumah itu, kata Randi. Dalam hati aku kesal kenapa aku harus lewat rumah kosong itu pada hari gelap begini. Yang kuingat malah cerita seram Randi.
“Kenapa sih, Papa pakai rapat segala?” keluhku. Rasanya aneh pergi sendirian ke rumah Nenek saat petang seperti ini. Selama ini, kalau sudah malam, biasanya aku pegi ke rumah Nenek bersama Papa atau Mama.
Dari jauh, kulihat rumah kosong itu tampak menjulang menyeramkan. Di kiri kanannya tampak beberapa pohon tinggi. Tanganku terasa dingin.
Jalan di depanku kosong dan redup. Sepertinya ada lampu jalan yang mati.
Sekarang, aku berada di ujung timur tembok rumang kosong itu. Merinding rasanya. Aku sangat berharap ada Papa. Aku merasakan angin bertiup agak kencang, membuat ranting pohon meliuk-liuk.
Samar-samar aku teringat lagi kata-kata Randi.
“Sering tercium bau wangi dari rumah itu, lo.”
Astaga, benar kata Randi! Mendadak hidungku mencium bau wangi. Hiyaaa…
Aku berusaha lari secepat kilat. Hosh … hosh!
Seandainya tidak membawa rantang, aku bisa berlari lebih kencang lagi.
Untung, rumah Nenek tidak terlalu jauh lagi. Di ujung jalan, aku belok ke kiri.
Kulihat pintu rumah Nenek terbuka. Aku langsung menghambur masuk.
“Nek …! Nenek …!” Napasku terengah-engah.
“Eh, Doni,” Nenek menyambutku dan menerima rantang yang kuulurkan. “Kamu seperti dikejar hantu.”
“Memang iya, Nek!” Napasku masih tersengal. “Hantunya wangi sekali!”
Astaga! Bau wangi yang tercium dari rumah kosong itu sekarang semakin kuat! Aku langsung memeluk Nenek.
“Wangi bagaimana?” tanya Nenek.
“Pokoknya wangi!” Aku mengeratkan pelukan sambil memejamkan mata.
Pelan-pelan Nenek melepaskan pelukanku, lalu berjalan ke meja tamu. “Baunya seperti ini?”
Di telapak tangan Nenek ada beberapa kuntum bunga yang belum pernah kulihat. Yang kuncup bentuknya lonjong, berujung lancip. Sebagian ada yang mekar. Baunya wangi sekali.
“Ini bunga apa, Nek?”
“Ini bunga cempaka. Wangi, ya?” jawab Nenek.
Rasa takutku mereda. “Kok Nenek punya bunga ini?” tanyaku. Seingatku tak ada tanaman bunga ini di halaman Nenek.
“Iya, tadi dibawakan Om Rahmat. Pohon bunga ini tumbuh di halaman rumah putih, yang tadi kamu lewati. Kebetulan, sekarang sedang berbunga.”
“Om Rahmat siapa?” tanyaku karena belum pernah mendengar nama itu.
“O iya, Nenek lupa belum mengenalkannya kepadamu, ya. Yuk, ikut Nenek ke ruang makan.”
Aku mengikuti Nenek sambil kebingungan.
“Ini, Om Rahmat” kata Nenek sambil menunjuk lelaki kurus berbaju putih. “Dia keponakan Dokter Tejo. Dia akan memperbaikinya dan tinggal di rumah itu.”
“Halo, Doni!” sapa Om Rahmat sambil tersenyum.
“Tadi Nenek sudah bercerita tentang dirimu pada Om Rahmat, Don.” Nenek menjelaskan. “Ayo, beri salam dulu.”
Aku mendekat dan bersalaman dengan Om Rahmat.
Sekarang aku mengerti. Kurasa sosok yang dilihat Randi adalah Om Rahmat. Dan bau wangi yang tercium Randi itu pasti bau bunga cempaka.