Cerpen – Sarpakuda

Indah Darmastuti

 

Seiris bulan itu seperti menambal langit yang bolong. Atau sebenarnya tersesat mencari irisan penggenapannya. Tak akan ketemu, karena seiris yang lain itu telah jatuh di pangkuan perempuan yang tengah menyudut di taman.

Setiap malam terpanggang bintang. Makin hari, tubuhnya makin tirus. Dia tahu, bahwa dirinya akan sampai pada malam-malam seperti itu. Tetapi ia tak sangka akan menjadi demikian bersemak dalam pikirannya. Semakin rimbun, menyabang meranting.

Kini yang terjadi bukan seperti yang telah dirancangkan ayahandanya berikut pembantu-pembantunya yang tak kalah bededah. Yang terus mendedahkan kalimat-kalimat khianat pada hatinya, pada keperempuanannya.

Ia berbaring di balai-balai bambu nan keras yang dijalin suaminya. Lelaki yang dikelabuhinya, dulu, berbulan yang lalu. Rambutnya tergerai, air matanya berurai. Kunang-kunang merubungi sehingga ia seperti mandi sepihan bintang-bintang yang pecah karena bertabrakan dengan hasratnya. Kain parang rusak sedikit menyingkap, mengungkap sepotong kaki langsat yang telah membawanya ke sini, ke desa Perdikan Mangir. Menjadi tandak yang tanak oleh mimpi-mimpi ayahanda.

Bukan, bukan karena desa ini, tetapi lelaki yang menjadi tratag pemayung warganya. Apa sulitnya menari? Menandak melentur tubuh memanjakan mata di hadapan para panglima dan punggawa dan tetua desa pada malam-malam terayakan kunang-kunang? Tak sulit. Tetapi menjadi tandak yang bukan hanya memikat tetapi membakar habis seluruh-luruhnya dengan api berahi. Duh, betapa salah ayahanda menilai lelaki itu, yang akan demikian mudah lehernya dikalungi selendang penari dengan benang emas pada ujung-ujungnya, lalu diseret di hadapan ayahanda untuk dipungkasi keberaniannya.

Tidak. Karena bagi Sang Sulung ia bukan hanya pemberani, tetapi juga memikat hati. Dia bukan hanya jago perang di medan laga, tetapi berlapang cinta, membuat perempuan akan tenang menyandar. Buktinya, hati perempuan penyamar, telik sandi Mataram itu pun terpikat.

“Jangan sampai kau jatuh cinta padanya, Pambayun, putri sulungku yang jaya. Dia lelaki kasta rendah yang tak pantas untukmu bermadah.” Pesan Panembahan Senapati, ayahanda ketika melepas pergi putrinya bersama Pangeran Purbaya, tumenggung Mandaraka yang berbusana waranggana.

Pambayun sadar, selendangnya  harus menjadi mata tombak haus darah yang menjemput korban. Meninggalkan Sungai Gajahwong menuju ke sana, ke desa Mangir di dekat Sungai Progo berarus deras, tempat Wanabaya mengatur strategi, taktik perang dengan formasi Ronggeng Jaya Manggilingan yang menghancurkan formasi Supit Urang.

Perempuan penari jalanan samaran dari Mataram itu telah berhasil menembus bukan hanya benteng pertahanan Perdikan Mangir, tetapi juga benteng hati Wanabaya, panglima perang nan muda dan penuh pertihungan. Tetapi sekali itu perhitungan meleset terselip di sudut mata tandak, di lengkung senyum Pambayun.

Arus-arus sungai yang mendindingi mereka sudah tahu, ujung selendang Pambayun bukan menjadi mata tombak seperti yang diharapkan, tetapi menjadi utas pelangi yang mengikat hati keduanya. Si Tandak dan Panglima. Di pinggir sungai Progo manarikan karonsih, gerak tangan yang sanggup mengiris bulan hingga potongan itu kini bersemayam di dalam rahim Pambayun. Sepotong yang lainnya masih tertinggal di langit, menjadi penanda pada Mataram, bahwa putri tumbal telah gagal membendung perasaan yang lahir kembar. Membesar di hatinya dan hati sang panglima.

Kini ia jatuh lelah, memikirkan apa kata sang ayah. Bahwa cucunya akan ia terima dari orang yang berbahaya bagi kekuasaannya. Ia tidak ingin pulang, tetapi negeri menunggu pengabdiannya. Negeri? Benarkah negeri Mataram yang menginginkan pengabdiannya? Atau sebenarnya ia telah menjadi pewujud petaka bagi Mataram, yang telah menyebabkan negeri menjadi pengkhianat kemanusiaan. Tetapi adakah rumus cinta untuk mengurai persoalan kekuasaan?

Angin semakin menyingkap kain parang rusak ketika serangga malam makin nyaring berdendang. Sebujur tubuh itu sudah menjadi persinggahan bagi kunang-kunang jalang. menggodai janin yang berlindung di bawah jantung Pambayun.

Di luar ribut-ribut. Wanabaya tak mau lagi bertemu dengannya. Tidak! Persoalan cinta itu sudah bukan lagi milik mereka berdua. Tetapi milik negari. Ingin sekali ia bersekutu dengan janin yang bersemayam di dalam tubuhnya, untuk merobohkan dinding yang memenjarakannya. Tak seorang pun mata-mata Mataram bisa masuk, tetapi tak juga ia ditemui tetua desa apalagi Wanabaya. Dia menjadi buangan kini, di tanah baru yang amat ia cintai.

Di Mataram, telik sandi gugup melaporkan. Pambayun tak ada. Pambayun tak tampak di Mangiran.

“Di keputren?”

“Tidak ada sinuwun.”

“Pambayun bisa diandalkan. Tak mungkin dia gagal melelehkan hati laki-laki batu pegunungan seribu itu. Pasti Wanabaya telah sembunyikan sulungku.”

“Dihabisi?”

“Oleh Wanabaya?”

“Ampun, sinuwun. Barangkali tetua desa yang merasa dikhianati.”

“Siapkan pasukan! Obrak-obrik desa kurang ajar itu.”

“Sinuwun, jika akhirnya hanya seperti ini? mengapa perlu kita kirim Pambayun menjadi tandak? Bukankah kita ingin mempermalukan Wanabaya dan mendatangkan laki-laki batu itu ke sini? Ke singgasana batu merapi yang akan menghacurkan keras kepalanya.” Juru Martani mencoba berdiplomasi laik Sengkuni.

“Kalau begitu, peras sulungku, untuk menuntun pembangkang itu lekas sowan pantasnya menantu. Siapkan penyambutan. Wanabaya bukan ingusan.”

Janin di jantung Pambayun masih berujud gumpalan hidup, menyentuh aliran pada setiap pipa-pipa darah ibunya. Dia bukan janin biasa, ia penerus Ki Ageng Pemanahan, diwujudkan oleh darah pahlawan -senapati Wanabaya.

“Kamas Wanabaya, aku sudah sampaikan padamu, aku mau tinggal di desa ini. menjadi perempuan biasa. Mendampingimu dengan cinta. Dan akan kulahirkan anakku di sini.”

“Kamu pikir, ayahandamu akan membiarkan itu? selamanya ia akan mengirim pasukan untuk mengganggu desa ini. Kamu pikir kami tak tahu polah Mataram? Sudah punya banyak kambing, tetap akan direbutnya pula satu kambing yang ada di desa ini.” Seorang tetua mencerca. Pambayun tenang mendengarnya.

“Saya akan buktikan. Jika desa ini harus menghadapi Mataram, maka saya pun akan ada di dalam barisan untuk memperkuat perdikan Mangir. Di dalam tubuh saya ada cucu, ada buyut Mataram dan Pahlawan Mangir. Saya tak akan gegabah terhadap cikal itu. Mataram juga tak akan sembrono terhadap penerusnya.”

“Dasar perempuan! Jika ayahandamu berpikir begitu, mengapa dia merendahkanmu menjadi perempuan murah telik sandi? Itu pertanda rendah juga nafsu Mataram!” Pambayun naik pitam, tetapi ditahannya agar darah campuran yang mengalir di janinnya tak bergolak, bermusuhan.

“Mataram salah.” Pambayun duduk merunduk. “Dulu dia katakan kalau Wanabaya adalah lelaki kasar berkasta rendah, senapati tua yang haus darah. Ternyata keliru.” Pambayun meraba perutnya. “Saya telah jatuh cinta sejak melihat bahwa laki-laki yang dimaksud sangat jauh berbeda dengan gambaran Mataram. Senapati kalian sangat lembut dan halus pembawaan. Muda dan pemberani. Saya telah jatuh cinta. Seharusnya sejak tiga purnama lalu, saya harus pulang ke Mataram, tetapi tidak. Saya memilih di sini, saya cinta desa ini.”

Balairung perdikan berubah sendu. Wanabaya berdiri mendekati perempuan tandak yang telah merebut hatinya, yang beberapa saat telah ia singkiri. Sang Telik sandi yang memikat hati, digamit tangannya lalu menggenggam.

“Kusambut permintaanmu. Aku akan datang ke Mataram. Sowan sebagai menantu.”

Helaan nafas para tetua menenangkan janinnya. Hanya sebentar sebab kengerian ibunya terkirim segera lewat tetesan darah dalam dirinya. Ibunya tahu, seperti apa Mataram. Apa yang sedang dipikirkan Mataram. Rasanya ia mau mati saja.

Tetapi tidak!! Aku harus selalu dekat dengan suamiku. Aku tak boleh pisah darinya. Jika Mataram menghancurkan Wanabaya, maka hancur pula aku.

Tak ada hari yang paling mendebarkan selain hari itu. Musuh dan juga Sang Menantu Mataram berserta rombongan sudah meninggalkan lajur sungai Progo, menjemput sungai Gajah Wong lantas meretas maju ke jantung Mataram.

Penyambutan tak biasa. Seperangkat gamelan tak komplet. Pasukan yang berwajah waspada. Jejalanan yang ragu. Pambayun menggandeng erat tangan suaminya. Merapal doa yang paling lirih.

“Sedetik pun, jangan tinggalkan aku. Jangan lepaskan genggamku.” Wanabaya mengeratkan rangkulannya. Tombak erat pula di genggamnya. Dia tahu, sewaktu-waktu prajuritnya pasti akan siaga dengan formasi Ronggeng Jaya Manggilingan. Tetapi baru saja Wanabaya selesai berpikir, di sana, di ujung rombongan ada keributan.

Bukan main! Ternyata ada pertempuran. Prajurit Mataram tengah berhadapan dengan Prajurit Mangir. Suara jerit perempuan di kejauhan bersaingan dengan tombak berdesing dan pedang beradu. Benar! Prajurit Mangir sudah sigap. Siaga dengan formasi andalannya. Tetapi Mataram yang telah mempelajari taktik perang dan pola pertahanan Mangir segera membentuk formasi Sarpa Kuda, si Ular melilit mengamuk dan mendesak mengunci sasaran.      

Sekejab di pintu masuk Mataram telah terjadi pertempuran. Punggawa-punggawa Mataram kaget, siapa yang membuat perubahan rencana ini? semestinya Mataram membunuh Wanabaya bukan dengan pertempuran tetapi seorang diri ia harus mati di tangan Panembahan Senapati.

Tidak! Wanabaya tak akan mati dengan cara memalukan seperti itu. Ia maju bertempur merapatkan diri dengan prajurit-prajurit Mangir yang segera membentuk formasi andalan. Jeritan Pambayun tak dihiraukan. Ia lepaskan tangan kekasihnya, mengambil tombak dan mengamuk. Sedu sedan Ki Ageng Pemanahan memerintahkan selamatkan Pambayun cucu tercinta.

“Selamatkan buyutku, buyut berdarah pahlawan.”

Tangis rintih Pambayun ketika sampai di hadapan eyang pendiri Mataram. Biarkan aku turut mati bersama suamiku. Ia meronta. Kembali lari ke luar balai agung menjemput kekasihnya. Tepat ketika sampai pintu, Wanabaya sudah terdesak di dekat singgasana.

“Kamas Wanabaya!!’ jerit Pambayun berurai airmata. Ia segera melangkah dan berlari mendekat, merangkul melindungi tubuh kekasihnya.

“Licin sekali ia!” teriak punggawa yang bertugas mengalangi lari Pambayun. “Dia putri bangsawan, tak sembarangan aku harus merenggutnya.” Belanya ketika ia dimaki atas kegagalan mengadang pelarian Pambayun. Yang telah memeluk erat kekasihnya sehingga itu justru menyulitkan Wanabaya untuk menangkis serangan musuh. Prajurit Mataram masih terus mendesak dan prajurit Mangir sebagian sudah memenuhi ruang singgasana.

“Bertahanlah!” ucap Mangir pada pelukan terakhir kekasihnya. Tepat tombak di genggamnya gagal menahan serangan tombak musuh yang mengenai tepat ulu hati.

Wanabaya roboh di dekat singgasana, kepalanya membentur batu merapi diiring jerit tangis pilu Pambayun sang Kekasih Hati. Darahnya mengalir, bercampur air mata Pambayun mengalir ke Imogiri. []

 

* Formasi taktik perang Mataram. Konon formasi ini yang digunakan untuk menaklukkan Desa Perdikan Mangir yang menggunakan formasi Ronggeng Jaya Manggilingan.

 

ditulis oleh Indah Darmastuti

————————————————————————————————————————————————————————————————————-

DOWNLOAD

Leave a Comment