Cerpen – Percakapan Susu, Santan, dan Minyak Samin dalam Semangkuk Soto

DOWNLOAD

Angelina Enny

PERCAKAPAN SUSU, SANTAN, DAN MINYAK SAMIN DALAM SEMANGKUK SOTO

Sebenarnya siang itu sama seperti siang-siang yang biasa. Angin malas bertiup, matahari terlalu berlebihan memancarkan sinarnya sehingga membuat beberapa orang enggan keluar dari rumah. Tetapi itu tidak terjadi pada orang-orang di seputaran Taman Ismail Marzuki, pusat seni paling tua di kota Jakarta.

Kemarin, banyak orang berkerumun untuk mendemo penyelenggaraan sebuah festival sastra tahunan. Orang-orang itu sepertinya membenci sastra, atau malahan mereka tidak tahu sebenarnya siapa itu sastra, karena mereka tidak mau mengakui ada sastra yang lain selain Dian Sastra, idola mereka. Orang-orang itu hanya mengenal apa yang mereka ingin kenal.

Hari ini, orang-orang itu lebih tertarik melihat pertengkaran dari pada membawa perdebatan, sebab sesungguhnya mereka pun sudah lelah pada isu yang mereka koar-koarkan namun tak kunjung dipedulikan. Saatnya mereka mencari bahan, siapa tahu bisa menambah alasan untuk berteriak di pintu gerbang.

Keributan itu datang dari sebuah kedai soto di dalam lokasi festival. Kedai itu biasa saja. Rumah satu lantai dengan langit-langit pendek, tembok putih kekuningan yang terkikis waktu. Atapnya berwarna cokelat kusam dengan genting copot di sana-sini. Mungkin ia lebih uzur dari pada pohon beringin yang merindang di depannya.

Tetapi siapa yang tidak kenal kelezatan hidangannya, sajian khas Betawi yang mampu menggugah selera orang nomor satu di negeri ini untuk menyambanginya.

Kedai itu menjual hanya beberapa menu saja: soto daging, sate kambing, dan laksa. Tetapi setiap harinya selalu ramai oleh pengunjung. Terlebih lagi hari ini, ketika para pendemo bercampur baur dengan pengunjung yang hendak makan siang. Mereka mendatangi kedai itu karena penasaran pada bisik-bisik yang tersebar.

Seorang gadis duduk di depan meja di tengah ruangan dengan tangan kiri memegang sendok dan tangan kanan memegang garpu. Baginya, kiri lebih pantas untuk digunakan untuk melahap dari pada menusuk. Nama gadis itu Indira. Ia seorang pustakawan yang sedang mampir ke festival sastra untuk mengikuti acara diskusi penulis kesayangannya.

Indira tak menyangka akan mengalami kejadian aneh seperti fiksi yang baru dibacanya. Ia baru saja akan memulai suapan pertama makan siangnya ketika mendadak kuah dalam mangkuk di hadapannya membuat riak-riak kecil. Satu jeritan panik keluar dari bibirnya, menimbulkan rasa ingin tahu pengunjung-pengunjung lain di kedai soto itu.

Sekarang mulutnya menganga, matanya melotot pada mangkuk di depannya. Rambut bob hitamnya terjuntai kaku seakan ikut tergugu. Indira dibekukan oleh udara, sementara orang-orang mulai mengerubung di sekelilingnya seperti lalat yang tergiur pada tahi.

Sebuah suara tegas dan jernih terdengar dari hadapan Indira. Suara itu tidak terlalu keras, namun wibawanya mengusik pendengaran sehingga otomatis orang akan mencari tahu muasalnya.

“Akulah jalan kebenaran dan hidup. Barang siapa meminum aku, tidak akan haus lagi. Rasaku manis dan menyegarkan. Bahkan bayi-bayi memerlukan aku sebagai pengganti ibu.”

Dia adalah susu, membuat gelegak kuah soto dari setengah mangkuk menjadi tiga per empat penuh.

Belum reda gelegak kuah dalam mangkuk, rentetan gelombang kedua datang tiba-tiba. Riaknya kecil-kecil namun tinggi seperti lahar panas gunung berapi. Beberapa cipratannya mengenai wajah Indira, namun gadis itu bergeming.

Suara kecil melengking mengatasi riuh heran gumaman tertahan orang-orang di dalam ruangan.

“Tidak! Aku yang paling murni, terbuat dari nabati. Tubuhku jauh dari kebiadaban hewani. Rasa gurihku dapat menggantikanmu. Aku kaya anti oksidan, untuk melawan tubuh-tubuh polutan.”

Dialah santan, yang diperas dari waktu ke waktu melewati  proses pemurnian.

Suasana makin memanas, kuah soto yang meletup-letup mendadak bergolak membentuk ombak yang sesekali menggetarkan mangkuk. Terdengar suara tertawa yang menghina, berlanjut dengan suara berat dan sengau.

“Sombong sekali kalian! Akulah utusan yang benar. Aku hidup beratus-ratus tahun dalam tubuh kambing dan para nabi membasuh kerongkongan mereka dengan liurku. Rasaku legit yang menggigit. Barang siapa menggunakan minyak lain selain diriku maka masakannya tidak akan pernah diterima oleh lidah mana pun.”

Dia si minyak samin, yang disaring lagi dari lemak mentega paling murni. Ia memiliki wangi khas negeri Timur Tengah.

Suara-suara dalam mangkuk itu semakin tumpang tindih tak termaknai lagi oleh pendengaran. Riak-riak kuah soto menciprat ke sana ke mari, beberapa mengenai blus putih yang dikenakan Indira, membuat noda-noda kecil berwarna kuning. Sementara kedai soto itu mulai padat, kipas angin yang ditempel di beberapa sisi dinding gagal menyejukkan udara yang pengap.

Butiran keringat mulai merambati wajah Indira. Menyadari itu, ia mulai merasa putus asa. Indira tidak tahan melihat keramaian di sekitarnya. Privasinya dengan semangkuk soto hilang sudah. Dibalikkannya mangkuk soto itu hingga kuah berceceran ke mana-mana. Potongan daging, tomat dan kentang berserakan di lantai. Seekor kucing burik yang berjaga di pintu depan mengambil kesempatan itu, menggondol sepotong daging yang terlempar di dekat pintu masuk.

Indira menangis. Seorang pelayan rumah makan datang sambil membawa kain pel dan karbol. Susu, santan, dan minyak samin membaur bersama karbol yang melalap mereka dalam pekat bau antiseptik. Kain pel mulai menggilas mereka semua, cairan yang tertumpah sia-sia. Indira makin terisak.

“Tidak apa-apa Mbak, biar saya yang bersihkan,”kata pelayan rumah makan yang bingung melihat reaksi gadis itu.

Sementara kerumunan mulai bubar, riuh rendah gumam bertebaran.

“Dasar cewek aneh.”

Seseorang terkekeh sambil menyilangkan telunjuk di keningnya.

“Dia gila?”

“Orang-orang kidal memang seperti itu,”kata seseorang.

“Kidal? Memangnya dia pakai tangan kiri?”

“Apa? Gerakan kiri? Harus dibasmi,”kata seseorang yang lain.

“Dia PKI.”

Demikianlah orang-orang itu kembali mendapatkan bahan untuk saling menyalahkan.[ae]

Leave a Comment