Pintu Dapur Sebelah Timur

Penulis : Budhi Setyawan
Penutur : Angelina Enny
Musik : Ketto SNZ

DOWNLOAD

 

 

Pintu Dapur Sebelah Timur

 

ada dua pintu keluar masuk dapur, di sisi barat dan timur.

pintu barat yang tak mengenal karat, dan pintu timur yang

selalu muda dalam umur. pintu pintu yang menutup dan

membuka, menjadi jalan bagi cahaya dan cuaca.

 

bapak menandai pintu dapur sebelah timur sebagai gerbang,

semacam lorong teramat panjang, untuk memulai tualang

hari, untuk kisah kisahnya sendiri. pintu itu seperti paling

mengerti, menghisap cemas yang kerap lekapi hati.

 

jika pintu itu buku, maka entah sudah berapa jilid buku.

dari catatan pintu saat bapak pergi dan pulang, pada

pagi serta petang. mencatat keasyikan bapak menjadi guru,

sampai musim memberat dan langit merasuk ungu.

 

Jakarta, 7 April 2015

 

 

Di Pekarangan Rumah Ibu

Penulis : Budhi Setyawan
Penutur : Angelina Enny
Musik : Ketto SNZ

DOWNLOAD

 

Di Pekarangan Rumah Ibu

 

kupu kupu menari di udara, namun tak ada bunga di

pekarangan. hanya ada pohon talas, kacang panjang,

dan ketela yang kerap dihinggapi capung berwarna

hijau, merah, dan hitam. capung yang lincah dan tak

mudah ditangkap, yang peka gerakan karena bermata

majemuk, kami pun tak bisa mengejar, cuma mengutuk.

 

agak jauh di timur ada pohon langsat, menjulang dengan

pucuknya rajin menangkap matahari pagi. sebelum

sinar matahari itu menembus celah jendela kamar, lalu

mengangkat pelupuk mata kami, menderaikan mimpi.

dan pohon itu kerap memanggil kami yang kanak, untuk

menaikinya. memetik buahnya yang asam asam manis,

yang getahnya terlukis di baju, dan ibu menggerutu.

 

pada siang, ayam dan entok tiduran di bawah daun talas,

seperti bermalas. bernaung di tempat rindang, berlindung

dari sergapan hari yang meradang. angin diharapkan

hadir, mengulurkan semilir. mengantarkan kisah dari

gunung di kejauhan, menakzimkan hening pada alam.

mengirimkan sepoi surga ke detak dada yang dahaga,

seperti restu yang diberikan ibu dalam jumpa dan doa.

 

Jakarta, 7 April 2015

 

 

Di Depan Sebuah Pendapa

 

Penulis: Budhi Setyawan
Penutur: Angelina Enny
Musik : Ketto SNZ

DOWNLOAD

Di Depan Sebuah Pendapa

 

kutahan kakiku berdiam, di depan rumah

yang menyimpan silsilah, juga repihan resah.

 

masih ada sekecup dingin, dari sisa gerimis

sore itu. ruang makin lengang, hanya

menyuburkan bayang wajah wajah yang

datang dari syair tembang. mengisahkan sawah

ladang, dan juga kali yang mengalirkan kenangan.

 

ke mana lindapnya suara gending jawa. apakah

dibawa angin timur ke pedalaman sepi. sementara

aku belum menandai sehimpunan nada yang

membuhul luka langit hari ini.

 

Jakarta, 7 April 2015

 

Puisi – Masa Kecil

download

Puisi Mario Lawi

Versi cetak Harian 31 Maret 2018

Narator: Angelina Enny

 

 

Masa kecil menghapusmu dari ingatannya,

meratakan bukit-bukit kecil tempat kau bermain,

mencabuti satu demi satu jahitan lontar dari dinding rumahmu,

mengambil batu-batu dari kubur-kubur keluarga besarmu.

 

Ia mengajakmu ke pantai ketika angin barat sedang meninggikan gelombang,

meratakan jejak-jejak kaki kecilmu di pasir,

menggulung ramput laut yang masih tersisa dari tangan kanak-kanakmu,

melubangi dasar perahu terakhir yang pernah membawamu mendekati bagan.

 

Kau ingin menjadi masa kecil yang menghapus sebagian ingatannya,

sedangkan dunia yang teras berputar

merasa kau akan baik-baik saja ketika berada di ruang gelap

yang tak akan pernah lagi terbuka itu.

 

Cerpen – Pria Sinterklas

DOWNLOAD

Angelina Enny

PRIA SINTERKLAS

Jam tujuh malam. Aku melirik layar smartband-ku. Pohon-pohon bergerisik oleh rombongan burung yang mulai bersarang. Di sini matahari lebih lama menampakkan diri, terlalu angkuh untuk bertukar dengan malam. Angin sudah berhenti bertiup sejak tadi, membuat hawa sedikit gerah. Aku membuka sweter yang melapisi tanktop-ku, menyesap kopi dingin pada gelas kertas yang sedari tadi kuabaikan. Aku kembali menatap layar laptop, membaca ulang paragraf terakhir dan mendapati dirimu begitu banyak berserakan di sana.

Sejenak aku mengerjapkan mata dan melihat ke sekeliling. Sebuah artikel di majalah menyebutkan itulah cara untuk mengistirahatkan mata setelah dipaksa melotot menatap layar selama delapan jam kerja. Delapan jam kerja? Bahkan lebih dari itu. Dulu. Sebelum aku memutuskan untuk keluar dari kantor auditor ternama yang sebenarnya hampir memberikanku posisi mentereng di usia muda.

Tetapi hidup tak dapat disangka, aku bertemu denganmu setahun  lalu, saat aku ditugasi kantor untuk mengambil sertifikasi profesi di sini. Sejak itu aku  semakin yakin akan arah hidup, yang selama ini kupikir tinggal dijalani hari  ke hari.  Sekarang, aku berharap dapat bertemu denganmu, menunjukkan tulisanku yang hampir rampung, cerita tentangmu.

“Tentangku? Atau tentang Sinterklas?” katamu tertawa sambil menunjuk kostum merah di sampingmu. Saat itu kita sedang duduk-duduk di taman ini menikmati sisa-sisa matahari yang hangat sebelum kau kembali untuk bekerja. Tubuhmu yang besar menciptakan bayang-bayang yang menimpali rimbun pepohonan.

“Kau pasti kepanasan memakai kostum itu.” Aku meraba kain flanel yang sedikit basah karena keringatmu, tak bisa membayangkan diriku terperangkap di dalamnya dengan jenggot dan kumis palsu bertahan selama berjam-jam untuk tertawa dan tersiram lampu sorot.

“Aku menyukainya,”katamu sambil melahap potongan christmas stollen yang ketiga.

“Menjadi Sinterklas atau christstollen-nya?”tanyaku.

Kau tertawa sambil menatap cuilan roti yang kaupegang. “Dua-duanya. Rotimu enak, dan tanpa sadar aku sudah menghabiskan tiga atau empat ya?”

“Kau tidak bisa menyebutnya rotiku. Karena aku membelinya di Orchard,”jawabku malu. Seumur hidup aku jarang sekali menyentuh dapur, selain jika mama sedang sakit dan aku terpaksa membuatkan makanan instan untuknya. Selebihnya aku selalu makan di kantin kantor atau nongkrong di kafe mahal bersama teman-teman sepulang kerja.

“Ya, karena kamu yang membawanya aku bilang rotimu. Mungkin kapan-kapan kamu bisa bawakan christstollen bikinanmu sendiri,”katamu menggoda.

“Aku tak bisa buat marsepennya.”

“Ah, Non. Kamu kan bisa beli di Cold Storage. Atau bikin sendiri dengan bubuk almon, putih telur, gula dan krim tar-tar seperti memasak karamel.” Itu dia dirimuyang selalu lebih tahu dariku soal masak memasak. Kau seperti melihatku terbenam malu sampai dengan rendah hati menyambung,”Aku tahu itu karena aku suka marsepen. Di rumah Jakarta, simbok malah lebih mahir membuatnya dari aku.”

Di pertemuan pertama kita, kau sudah menceritakan tentang keluargamu yang terlalu sibuk untuk saling bercengkerama sehingga sejak kecil hidupmu hanya berkutat di dapur bersama simbok. Sebab sekolah dengan kurikulum akademis yang ketat membosankanmu. Kau memilih untuk melanjutkan sekolah seni di Lasalle College di negeri Singa, jauh dari keluarga yang barangkali tidak merindukanmu.

“Kau ambil jurusan apa?”tanyaku saat kau membereskan perlengkapan menggambar anak-anak di Museum Filateli. Tahun itu museum mengadakan pameran instalasi The Little Prince yang dibawa langsung dari keluarga sang penulis di Prancis.

“Film. Aku ingin membuat film-film Indonesia yang berbobot tapi juga menghibur, bukan cuma setan-setanan nggak jelas atau drama cinta-cintaan konyol.”

Aku nyengir. Meski waktuku saat itu banyak termakan sebagai budak korporat, tapi aku selalu menyempatkan diri menonton film di bioskop tiap akhir pekan dan entah mengapa aku enggan membayar tiket untuk menonton film Indonesia. Aku menyadari sikapku seperti ini yang membantu mematikan perkembangan film negeri sendiri.

“Seperti The Little Prince,”sambungnya,”film anak-anak yang sarat makna. Dari satu layer anak-anak bisa memaknainya sebagai visual yang menghibur, tapi di layer lebih dalam, orang-orang dewasa dibuat merenung.”

Aku manggut-manggut. Setelah mengelilingi seluruh ruang pameran aku pun menyadari betapa jujurnya Antoine de Saint-Exupery menuangkan kegelisahannya dalam tulisan dan menempatkan tokoh-tokoh yang merepresentasikan karakter-karakter dalam hidup.

Pangeran Kecil mewakili kanak-kanak dalam dirinya yang menolak tua.  Si Mawar adalah istri yang dicintai sekaligus ditinggalkannya. Rubah yang mencinta sebagai seorang sahabat namun tak bisa dimiliki. Raja, Pengusaha, Pedagang yang mewakili berbagai sifat dari masyarakat. Sayangnya si pengarang, yang sekaligus aviator itu hilang tak berjejak. Ia seolah lesap di udara, saat terbang melintasi benua hitam. Runtuhan pesawatnya ditemukan, tetapi jasadnya tidak. Ia misteri sampai kini dan seolah mengamini apa yang dituliskannya: I don’t wish to die, but I’m-gladly-to go to sleep like this.

“Aku ingin menjadi penulis,”kataku mendadak. Kita sedang duduk-duduk di taman ini untuk ketiga kali. Saat itu hampir malam, lampu-lampu taman sudah dinyalakan lengkap dengan rencengan bohlam natal warni-warni. “Seperti Exupery.”

“Wah, kamu bisa jadi penulis skenario filmku.”

Aku menoleh ke arahmu, menangkap binar mata yang gagal disembunyikan bayang-bayang akasia. Bahkan setelah pertemuan ketiga, kita tidak saling bertukar nama dan nomor telepon. Aku terlalu takut untuk memulai sementara alasanmu entah apa. Selama tiga hari bersama aku tidak pernah melihatmu mengeluarkan ponsel, dan kita selalu bersapaan dengan “aku” dan “kamu” (kadang-kadang kau memanggil “non”) seolah kita adalah teman lama yang terdampar di negeri asing berdua.

Kau telanjur kikuk dengan harapanmu. Jemarimu mencuili christstollen dan mengunyahnya pelan-pelan.

Aku mencoba membuka keheningan. “Barangkali aku mau menulis tentang Sinterklas.”

Giliranmu yang menoleh heran. “Bukankah kamu bilang tidak suka pada Sinterklas?”

Aku menunduk,  membayangkan bagaimana aku yang kanak-kanak dulu selalu menunggu malam Natal tiba untuk bisa berkenalan dengan pria baik hati itu. Dari tahun ke tahun ingatanku, aku selalu mendapatkan hadiah yang kuinginkan, yang kutulis di sebuah kertas warna-warni dan digantungkan di ujung ranting pohon natal setinggi yang tubuh kecilku dapat raih. Diam-diam aku selalu berusaha agar di tanggal 24 malam aku dapat terjaga, untuk bisa berjumpa langsung dengan Sinterklas, tapi sepertinya kantuk berkawan akrab dengan anak-anak.

Di malam natal kedelapanku, aku berhasil melihat Sinterklas tanpa ia melihatku tentu saja. Tapi Sinterklas yang kulihat tidak seperti yang kulihat di buku-buku cerita. Ia tidak gemuk dan tua, tidak berkumis dan janggut putih. Ia lampai, berambut dan kumis hitam. Ia memeluk seseorang, berambut pirang panjang, memakai rok sepan berwarna merah yang senada dengan si Sinterklas. Mereka, papaku dan sekretarisnya.

Aku menengadah menahan tangis. Bayangan itu selalu menghantuiku saat-saat Natal tiba.

“Mungkin aku akan belajar menyukainya,”jawabku. Mungkin aku menyukai Sinterklas dalam dirimu, kata hatiku.

Kau tersenyum. “Aku selalu suka Sinterklas. Makanya aku selalu mengambil pekerjaan ini. Sinterklas selalu mampu membuat anak-anak gembira.”

Sinterklas juga membuatku sedih, kataku dalam hati. Aku tidak ingin mengungkapkan pengalaman masa kecilku padamu. Saat kau tanya mengapa aku tidak menyukai pria baik hati itu aku hanya menjawab asal.

“Mungkin karena ia tidak pernah mampir di rumahku.”

Kau terbahak-bahak sampai memuntahkan beberapa manisan buah dalam christmas stollen yang sedang kaumakan. Aku mengangsurkan kopi dalam gelas kertas yang segera kausambut dengan pandangan terima kasih.

“Kamu mesti mengirim undangan tertulis padanya,” katamu menggoda.

“Apakah belum terlambat mengirimkannya sekarang?” tanyaku. Maukah kau menjumpaiku di Jakarta nanti, tanyaku dalam diam.

Kau seperti membaca pikiranku. Entah karena embusan angin malam yang membuatmu gigil atau remang bohlam-bohlam natal itu yang membawa suasana romantis. Kau menggeser dudukmu, merapat ke sebelahku. Perlahan kau mengambil tanganku dan mengusapnya perlahan.

Sejurus terdengar O, Holy Night berkumandang di sela-sela udara.

“Carolling! Yuk, kita ke depan taman.” Kau menggandeng tanganku.

Sekelompok remaja bertopi Sinterklas dengan syahdu menyanyikan lagu-lagu Natal akapela. Suara mereka begitu jernih, membawa perasaan gamang di hati. Ternyata aku begitu merindukan Natal, atau seseorang? Diam-diam aku melirikmu, raut wajah yang begitu membiaskan suasana Natal.

Lima lagu selesai, kau masih menggenggam tanganku.

“Besok malam Natal. Apa kamu mau ikut ke gereja St. Joseph? Dekat sini, kok.”

Sudah lama sekali aku tidak pergi ke gereja, sejak aku kecewa pada Sinterklas dan Natal, tapi pergi bersamamu menggerakkan semangatku untuk merayakan sesuatu.

Aku mengangguk.

“Oke, besok kita ketemu di taman lagi ya. Jam-jam seperti biasa.” Kamu menyunggingkan senyum.

Aku sengaja memilih untuk jalan menuju stasiun MRT agar dapat lebih lama menikmati waktu bersamamu. Kita berjalan dalam diam sepanjang Victoria Street, melalui gedung-gedung putih paska kolonial yang sudah dialihfungsikan menjadi pusat belanja atau pun kafe. Dengan tangan masih saling menggenggam, hatiku perlahan mulai berbicara.

Keesokan harinya, aku terpaksa tidak menepati janji padamu. Panggilan dari Jakarta memaksaku untuk kembali segera. Sinterklas yang merusak kebahagiaan Natalku bertahun-tahun mendadak pergi. Papa terkena serangan jantung. Mama, perempuan yang telah berpisah darinya bertahun-tahun tetap meratap menangisi kepergiannya. Aku mendesah, entah lega atau sesal. Bagaimanapun aku tak bisa lagi menyayanginya.

Aku membawa kenangan itu terus menerus, melewati bulan demi bulan yang basah sampai akhirnya aku memutuskan untuk keluar dari pekerjaanku yang sangat menyita waktu.  Aku membuka toko kue kecil sambil menuangkan kenanganku dalam tulisan–seperti ketetapanku mengikuti Saint-Exupery dulu.

Aku menggigit potongan christmas stollen yang kubikin sendiri di dapurku. Marsepennya terasa menetap di langit-langit lidah, dengan rasa almon yang pekat. Mungkin kau akan menyukainya.

Sepasang muda berlari menaiki tangga batu yang tersusun rapi menuju ke arahku. Dua hari menyambangi taman ini aku menyadari sekarang semakin banyak orang yang menggunakan fasilitas taman untuk lari sore. Semakin banyak peluang untuk menemukanmu di sini. Andaikan, kata hatiku.

Seperti dejavu aku mendengar kembali lantunan O, Holy Night di sela rimbun pepohonan. Namun kali ini tanpa hangat genggamanmu. Aku menuju ke depan taman, duduk di bangku batu yang sama seperti saat bersamamu,  menyimak senandung dari remaja-remaja yang mengindahkan perayaan akhir tahun ini.

Lima lagu usai, dan kau tetap tidak ada. Aku berjalan menyusuri Victoria Street, mencari  binarmu di antara para Sinterklas yang menghibur di depan museum atau pusat perbelanjaan. Tapi sorot gembira itu tak kutemukan. Mereka hanyalah sinar-sinar redup yang terperangkap dalam kostum seorang kakek tua. Aku berjalan kaki pelan-pelan, sengaja mengitari gereja St. Joseph untuk melihat jadwal kebaktian. Besok malam Natal. [ae]

Cerpen – Ngaliman Si Pengrawit

DOWNLOAD

Angelina Enny

NGALIMAN SI PENGRAWIT

 

Ngaliman memacu kakinya lebih cepat lagi. Kepalanya merunduk serendah mungkin. Jauh di bawah pucuk-pucuk pohon teh yang biasa disianginya. Telapaknya tak hirau pada perih cerucup yang diinjaknya. Ia harus lari sepesat mungkin. Untung malam ini bulan terang, pikirnya. Karena itu matanya nyalang mencermati kelak-kelok jalur pemisah kebun. Derap sepatu yang mengejar di belakangnya seperti sepeleton kuda yang mengikuti kirab keraton.

Sesuatu menusuk telapak kirinya. Ia mengaduh tertahan sambil jatuh terduduk. Sepotong beling bekas botol. Sial, katanya dalam hati. Ini pasti kerjaan Patus Ponti, mandor kebun yang sering membawa ciu saat bertugas. Ponti mandor yang kejam dan beringas saat mabuk. Ia bisa menampar petani yang menentangnya bahkan tiba-tiba ngamuk memecahkan botol.  Tidak ada yang berani melaporkan kelakuannya. Risikonya justru bisa balik diadukan. Bulan lalu, seorang pemetik teh perempuan melaporkan tindakan pelecehan yang dilakukan Ponti. Esok harinya si pemetik tidak boleh bekerja lagi dengan alasan selain memetik teh, ia juga dengan sengaja memetik berahi dari pekerja lain.

Ngaliman merebahkan diri ke rerimbunan teh. Ia mencabut pecahan dari telapak kaki sambil menggigit ujung bibirnya. Sejurus kemudian aroma darah kental menguar di udara bercampur dengan embusan angin malam. Ngaliman mencabut beberapa daun di dekatnya,  mencampurkannya dengan saburan tanah lalu menekannya pada luka di kakinya.

Ia memetakan kebun teh itu dalam pikirannya. Seharusnya sekarang ia berada di tanah garapan Edi Wowor. Jika ia belok ke kiri di depan, tidak sampai 500 meter ia akan sampai di jalan raya. Tengah malam seperti ini tidak akan ada tumpangan ke arah kota, maka ia harus masuk ke hutan cemara dan menyusuri lereng Lawu. Mendadak kantuk menyerangnya. Ia menggelengkan kepala beberapa kali untuk mengusir kantuk. Matanya terpejam sebentar. Mungkin pasukan itu sedang kebingungan menentukan prakiraan ke mana Ngaliman berlari. Barangkali tak apa ia mengangut. Toh pasukan itu pasti kecapaian. Mengejar Ngaliman sejak tadi.

Siang tadi, Ngaliman dan beberapa kawannya berkumpul di depan kantor perkebunan. Mereka berteriak menuntut penggantian lebih atas pengusiran lahan. Perkebunan Nusantara ingin memperluas lahan 3000 hektar itu dengan tanah Perhutanan Nusantara sebab letaknya tepat bersebelahan.

Rakyat yang telah turun-temurun setia menggarap lahan, diminta untuk pindah dengan iming-iming penggantian tanah pekerjaan. Tetapi tanah itu puluhan kilometer dari rumah mereka, dan tanah uruk yang berada di lereng gunung tentulah lebih sulit digarap serta memerlukan waktu yang lebih lama supaya agak siap digarap.

Ngaliman bersama beberapa kawannya yang tergabung dalam Barisan Tani memprotes aturan sepihak itu. Setelah asar mereka mendatangi kantor Perkebunan Nusantara dan meminta penggantian lokasi tanah yang lebih dekat. Kepala Perkebunan sudah menyetujui adanya diskusi lanjutan. Tetapi Karsono, seorang petani dari kampung tetangga yang hari itu ikut berorasi di depan Kantor Perkebunan Nusantara terlalu bersemangat berkata-kata. Ia mengambil batu di sekitar kantor dan menimpuki seorang pegawai perkebunan. Terjadilah saling tegang antar kedua pihak.

Ternyata Perkebunan Nusantara sudah menyiapkan bala bantuan berupa beberapa petugas sehingga dalam sekejap para petani yang berorasi langsung  kocar-kacir. Enam orang ditanggap termasuk Karsono, dan saat diinterogasi ia menuding Ngaliman mengajak mereka. Ngaliman yang saat itu langsung pulang ke rumah, dijemput kembali oleh tiga orang petugas.

Petugas itu mendesak, tanpa memberikannya waktu untuk mandi dan berganti baju. Ngaliman hanya sempat menuliskan pesan dengan terburu-buru, yang diselipkannya ke sebuah buku. Ia berharap Marni, anak perempuannya menemukan pesan itu sebab Ngaliman tahu Marni suka dan sering membuka buku bersampul merah itu. Waktu Marni remaja dulu, Ngaliman sering menceritakan isi buku itu. Sementara Marni melihat ilustrasi  di dalamnya. Buku itu bukan buku anak-anak, tapi tidak ada buku lain di rumah mereka untuk mengenyangkan minat Marni pada kata. Sepertinya ia sangat tertarik pada tokoh perempuan di dalam buku itu. Barangkali karena ia tak pernah mengenal ibunya maka ia menganggap buku itulah ibunya.

“Daripada bapak ngurusi tani, mending bapak karawitan lagi,”kata Marni suatu ketika. Tapi sejak kembali dari Digul, ia tak ingin lagi menabuh. Dulu ia adalah pengrawit yang cukup dipandang untuk memeriahkan acara susuhunan. Ia juga sering mengumpulkan beberapa pemuda sekitar untuk diajari gamelan. Tapi entah mengapa, hal itu malah meresahkan Pemerintah Belanda. Ngaliman lantas dibuang ke tanah asing.

Di Tanah Merah, ia mencoba meneruskan cita-citanya. Ngaliman mengajak beberapa kawan untuk membuat gamelan sederhana. Ia mengerahkan akal untuk melewati hari dengan cara menyenangkan. Mereka mengumpulkan rantang-rantang rangsum tak terpakai (biasanya karena rompes) untuk disusun terbalik menjadi bonang. Empat belas rantang untuk laras pelog bernada tujuh dengan suara-suara tengah, sedangkan dua belas rantang untuk laras slendro yang beroktaf tinggi.

Mereka menyusun bilah-bilah bambu yang dilubangi dan diikat kawat untuk dijadikan gambang. Bekas kaleng susu diratakan dan diikat pada kayu-kayu sisa dari pintu-pintu tua menjadi saron. Belanga dipakai sebagai gong dengan tongkat penabuh berbebat gombal dan kendang dibuat dari sisa kulit kelinci hasil buruan. Kekurangan menyebabkan mereka berpikir kreatif. Setiap akhir pekan, para tahanan berkumpul di aula, sekadar menonton atau belajar menjadi pengrawit dari Ngaliman. Hal itu berlangsung bertahun-tahun sampai ia dibebaskan karena dianggap bersikap kooperatif. Hak kebebasan itu membuat ia senang sekaligus sedih. Ia merasa sedih berpisah dari kawan-kawannya di Digul. Juga dari Panglipurlara dan Sembahati-sepasang bonang yang dibuatnya bersama mereka. Maka ia meminta izin membawa Panglipurlara bersamanya. Sementara Sembahati ditinggalkannya di Tanah Merah itu. Supaya teman-temannya tetap terhibur.

Tapi kekecewaan begitu setia mengikutinya. Di satu tahun, Pemerintah Belanda begitu merasa terancam pada kawan-kawan Digul-nya sehingga mengirim mereka ke benua bawah. Mereka melarung samudra bersama Sembahati. Entah sampai kapan karena Ngaliman tak pernah mendengar lagi berita tentang kawan-kawannya itu. Sejak itu Ngaliman berhenti mengajar gamelan, meski ia memiliki murid yang cukup cakap dan setia, salah satunya Nursyamsi yang kelak menjadi anak mantunya. Seolah duka menyerah untuk dihibur. Ngaliman menyimpan rapat-rapat Panglipurlara bersama cerita di dalamnya. Ia memusatkan perhatiannya pada kebun teh, berdiam dalam kekecewaan akan seni, sampai datang ia merasa harus bangkit lagi, meski kali ini ia memperjuangkan hal yang berbeda.

Semoga kamu bisa menemukannya, Ndhuk,  doa Ngaliman. Dalam hatinya ia tidak tahu apakah harapannya kali ini akan berbuah kecewa lagi. Perlahan air matanya mengalir, tidak juga karena sakit yang makin dirasakan di telapak kirinya, tapi untuk semua ingatan yang mendadak bermunculan di malam itu. Momen-momennya sebagai pengrawit, menikmati gending pentatonik yang membelai indra pendengarannya. Senyum para kawan dan murid-muridnya, saat mereka pertama kali berhasil menabuh nada. Sejenak ia mendengarkan semilir angin yang menyuarakan kenong, bonang dan saron. Ia menggelengkan kepalanya lagi, kali ini tidak untuk mengusir kantuk, tapi untuk meyakinkan dirinya bahwa benar itu suara merdu gamelan yang diterbangkan angin di antara harum pucuk-pucuk daun teh siap petik, dan di bawah gemintang yang menemani bulan mengangkasa.

Sebelum ia benar-benar menyerahkan kantuknya, Ngaliman tersenyum. Ia berteriak pada langit.

“Selamanya aku pengrawit!”

Dari kejauhan, titik-titik kuning cahaya senter berbalik arah mendekatinya. [ae]

Cerpen – Jejak Lukisan Palsu

DOWNLOAD

Angelina Enny

JEJAK LUKISAN PALSU

Aku akan menceritakan padamu sebuah hikayat. Dongeng nenek tua. Mungkin juga tidak bisa disebut dongeng karena biasanya dongeng terjadi entah kapan, dan bisa juga sebuah dongeng tidak benar-benar terjadi. Tetapi cerita ini sungguh datang dari mulut seorang perempuan tua dan diceritakan melalui hatinya. Aku tahu itu sebab ketika ia menceritakannya kepadaku, bibir keriputnya bergetar dan dengan mudah aku menangkap goresan duka pada mata tuanya.

Baiklah kuceritakan padamu terlebih dahulu mengapa aku bisa bertemu dengan perempuan tua itu. Aku ditugasi oleh Balai Lelang, sebagai salah seorang kurator pembantu, untuk mengunjungi salah satu galeri besar yang dimiliki oleh seorang kolektor lukisan ternama di negeri ini. Aku diminta menilai apakah benar lukisan-lukisan yang dipamerkan adalah lukisan palsu, seperti tuduhan yang dilontarkan oleh beberapa aktivis seni rupa belakangan ini.

Galeri ini berada di luar kota sehingga aku harus menempuh perjalanan dengan bus antar kota. Gajiku tidak cukup besar untuk menanggung biaya pesawat atau kereta eksekutif, sementara perjalanan ini tidak dibiayai oleh institusi.

Aku harus melakukannya untuk mencari muka, sehingga jika hasil pengamatanku bagus, aku dapat mempertahankan posisiku sebagai kurator pembantu, syukur-syukur bisa naik sebagai kurator tetap. Mempertahankan pekerjaan lebih sulit dari pada mendapatkannya. Sementara modalku hanya kecintaan pada seni rupa, yang seringkali dicemooh oleh beberapa lulusan seni yang merasa lebih pantas mengkuratori dibandingkan aku.

Setelah perjalanan berjam-jam yang hampir membuat bokong dan pahaku kebas, aku berhenti di sebuah terminal. Wangi penganan singkong warna-warni khas kota itu menyeruak dari beberapa kios oleh-oleh. Aku membelinya sedikit untuk mengganjal perut, juga sebagai alasan untuk menanyakan lokasi galeri.

Lima belas menit melanjutkan dengan angkutan kota, aku sampai di depan galeri itu. Dari luar galeri itu tampak seperti rumah besar biasa, dua tingkat dengan desain jawa yang cantik, paduan kayu dan tembok bercat krem. Suasana tampak lengang karena hari ini bukan hari libur. Hanya ada dua turis asing yang kulihat sedang sibuk memotret beberapa lukisan.

Aku menulis buku tamu, berbasa-basi sedikit dengan staf penerima, lalu melangkah masuk, menjajaki satu per satu karya seni di dalamnya. Galeri itu luas, meskipun suasana kuno di dalamnya membuat udara seakan pengap dan beraromakan hantu. Hantu dari seniman-seniman yang hidup abadi.

Lorong-lorong dipisahkan berdasarkan nama seniman. Lukisan-lukisan dari seniman-seniman pra kemerdekaan seperti Raden Saleh, Abdullah, Lee Man Fong, Bonnet sampai karya-karya paska kemerdekaan milik Basuki Abdullah, Sudjojono, Hendra Gunawan, pun karya kontemporer seperti Agus Suwage dan Eko Nugroho. Kuakui bahwa kolektor ini mempelajari jejak sejarah seni rupa dengan matang.

Aku melihat pelan-pelan, mencatat segala detil yang dapat menambah bahan tulisanku nanti, mencari kejanggalan-kejanggalan yang sudah diberitahu oleh atasanku. Setelah semua lukisan sudah kulihat, aku kembali pada sudut galeri yang menarik minatku. Sudut yang memajang lukisan-lukisan paska kemerdekaan.

Lukisan-lukisan ini bergaya impresionis, menelanjangi jiwa sang seniman. Kontras dengan kebanyakan pelukis yang beraliran mooi-indie pada masa itu, jelas terlihat jiwa nasionalis si pelukis dalam gambar-gambar orang pribumi, lelaki dan perempuan yang berlatar khas bumi nusantara, perjuangan rakyat mempertahankan kemerdekaan.

Mataku sampai pada satu lukisan yang berbeda dari yang lain, yang sejak putaran pertama tadi menggelitik keingintahuanku. Lukisan ini tentang perkawinan dan ia salah satu lukisan yang menjadi bahan perbincangan di kalangan elit seni rupa.

Dalam lukisan yang bernuansa hijau itu, sepasang pengantin sedang melangkah keluar rumah. Mempelai pria adalah seorang tua dengan rambut putih dan tangan yang memegang tongkat. Ia memakai pakaian resmi Betawi, dengan jas hitam dan sarung pendek di atas celana kain yang membungkus kulit cokelatnya. Ia juga mengenakan peci dan kaca mata hitam. Agak aneh menurutku jika ia mengenakan kaca mata hitam, apakah untuk menutupi ketuaannya atau karena ia buta. Meski demikian, wajahnya sumringah seperti mendapat mutiara yang telah lama dicarinya.

Di sebelah kanannya mempelai wanita yang didandani dengan kebaya terang dan hiasan beronce emas, wajahnya pualam dengan mata sabit. Usianya masih sangat muda, terpaut jauh dari mempelai pria di sisinya. Senyumnya kanak-kanak yang polos. Masing-masing di sisi mereka dua flower girl berkulit susu gembira membawa keranjang berisi bunga dan koin. Pipi mereka bersemu dadu, melihat sekelompok bocah lelaki berebut koin.

Arakan pengantin itu makin meriah dengan beberapa pria penabuh gendang. Penduduk sekitar  menonton di kejauhan. Dari gambaran itu, aku dapat mengambil kesimpulan bahwa perkawinan ini adalah perkawinan beda adat dan beda usia. Namun lihatlah, betapa itu tidak mengurangi sejumput pun kebahagiaan mereka.

Aku mengagumi kepiawaian pelukisnya–terlepas ini lukisan palsu atau tidak, goresan kasar cat minyak yang menandai batas-batas profil tokoh di dalamnya, serta sapuan halus untuk isiannya. Pemilihan warna yang sedikit namun elegan, memberi kesederhanaan yang  bermutu.

Seseorang menyentuh bahuku. Refleks aku menoleh dan menyalaminya. Ia seorang perempuan tua Cina yang masih memiliki garis-garis kecantikan alami. Perempuan itu memakai blus biru pupus dengan rok sepan berwarna sama. Rambutnya putih seperti kerudung yang menyelimuti kepala.  Bibirnya tipis dengan hiasan gincu merah muda.

“Kau memandang lukisan ini lebih lama dari pada lukisan yang lain,”katanya lirih.

Aku tersipu. Malu pada diriku sendiri, bisa-bisanya aku terpana pada lukisan yang dibilang palsu.

“Lukisan ini karya pelukis yang sama tetapi ia tidak melukis tentang perjuangan rakyat seperti lukisannya yang lain,”kataku menerang-nerangkan.

”Lukisan-lukisan ini adalah realisme yang berdasarkan kejadian.” Aku benar-benar memuji pelukis ini-atau mungkin pemalsunya.

“Ini realisme yang berangkat dari angan-angan,” balasnya sambil menunjuk lukisan pengantin.

Aku tidak tahu apa yang dimaksud “angan-angan” pada kalimat yang diucapkannya. Sebelum aku sempat membuka mulut, kata demi kata meluncur dari mulutnya, mengisi telinga dan pikiranku yang haus penjelasan.

*

Syakieb Ali tergolong pemuda yang beruntung. Ia terlahir dari keluarga Arab yang kaya. Ayahnya berasal dari kota suci yang diberkati, merantau ke nusantara sebagai pedagang kain. Dengan tubuh tinggi tegap seperti ayahnya, Syakieb Ali menjadi pemuda harapan gadis-gadis di kampungnya, sebelah timur pinggir Jakarta.

Ia adalah anak tunggal keluarga Ali yang terkenal sebagai penguasa konveksi. Syakieb Ali mewarisi pabrik milik ayahnya. Dengan kekayaan seperti itu, ia memiliki banyak waktu luang untuk berkawan dengan berbagai macam kalangan, termasuk para pengusaha dan cendekia. Ia senang merenung dan berdiskusi. Keramahan dan kebaikan hatinya memikat orang-orang di sekitarnya.

Di tahun-tahun paska kemerdekaan, Syakieb Ali aktif berorganisasi dengan Seniman Muda Indonesia. Ia belajar di Prabangkara, menyalurkan kegemaran dan minatnya pada seni rupa. Di sana ia bertemu dengan seorang sahabat seniman yang mengajarinya melukis.

Saat negeri kisruh terhadap kudeta nasionalis, Syakieb Ali jatuh cinta kepada Rohana, kemenakan jauh ibunya. Karena Rohana, ia tidak aktif lagi dalam organisasi. Beruntung baginya, karena hal itu ia lolos dari tuduhan propaganda.

Setahun kemudian, Syakieb Ali meminang Rohana. Perkawinan itu menjadi buah bibir di mana-mana, sebab keduanya adalah pasangan rupawan yang sempurna. Tujuh hari penduduk kampung itu dikenyangkan oleh makanan-makanan yang lezat. Mereka tak mungkin melupakan Syakieb Ali yang dermawan, meskipun seminggu sesudahnya ia memboyong istrinya ke pusat kota.

Usahanya semakin maju, karenanya ia membeli rumah yang lebih dekat dengan pasar-pasar pelanggan. Rumah itu adalah rumah besar dengan pintu ganda seperti yang dibuat orang-orang Cina di masa itu.

Tetangganya seorang Cina bernama Babah Tong, pedagang kopi yang terkenal di wilayah itu. Selain memiliki tempat penggilingan kopi, Babah Tong juga memiliki kedai minum di depan rumah tinggalnya. Syakieb Ali sering mampir ke sana.

Babah Tong memiliki empat orang anak laki-laki dan seorang anak perempuan bungsu, yang terpaut jauh umurnya dari kakak-kakak lelakinya. Seperti keluarga Cina kebanyakan, anak-anak lelaki Babah Tong membuka cabang usaha ayahnya satu per satu. Anak perempuan Babah Tong, Mei namanya, masih berumur lima tahun saat Syakieb Ali pindah ke wilayah itu.

Kedua keluarga perantau ini sangat akrab. Mei sering bermain di rumah Syakieb Ali. Ia memanggil Syakieb Ali : abah. Hal ini menyenangkan untuk Syakieb Ali dan Rohana sebab mereka tidak dikaruniai anak, dan Mei sudah mereka anggap sebagai anak mereka sendiri.

Di rumah Syakieb Ali, Mei belajar banyak hal. Ia senang menemani Syakieb Ali melukis di ruang kerjanya, jika lelaki itu tidak sedang meninjau pabrik, atau sekedar mendengarkan Syakieb Ali bercerita tentang usahanya, atau membaca buku-buku koleksi Syakieb Ali. Kelamaan, Mei menjadi lebih sayang pada Syakieb Ali ketimbang pada ayahnya sendiri.

Tahun demi tahun Mei beranjak remaja, Syakieb Ali mulai merasakan rasa lekat yang berbeda. Ia senang menatap Mei lama-lama, khawatir berlebihan jika gadis itu tak sempat datang ke rumahnya, dan cemburu jika Mei bercerita tentang teman laki-laki di sekolahnya.

Suatu siang, ketika Mei sedang menemani di ruang kerjanya, ia berkata kepada Mei :

“Jika kamu dewasa nanti Mei, menikahlah dengan laki-laki yang menyayangimu, yang mau memberikan segalanya kepadamu  selain air mata kesedihan.”

Mei yang sedang membolak-balik buku puisi milik Syakieb Ali mendongak tak mengerti.

“Maksud Abah, aku tidak boleh menangis saat menikah, begitu?” Ia teringat pada Hong Jin, teman laki-laki yang sering menjahilinya. “Aku tidak akan menikah dengan Hong Jin, Abah. Dia jelek.”

Syakieb Ali tersenyum.

“Laki-laki yang sayang padamu Mei.”

Gadis itu masih berumur 12 tahun, kepolosannya masih menggunggung.

“Abah menyayangiku, kan? Bahkan Abah lebih sayang aku ketimbang Babah. Aku menikah saja dengan Abah.”

Syakieb Ali terenyuh mendengar perkataan Mei, ingin ia mengamininya. Mei kembali membolak- balik buku puisi itu.

“Abah, siapakah Ahasveros itu? Mengapa penyair ini begitu merana menggambarkan dirinya seperti dia?”tanya Mei sambil menunjuk buku puisi yang sedang dibacanya. “Dan siapa pula Eros ini?”

Mei membaca keras-keras puisi yang sedang dibacanya :

Aku kira beginilah nanti jadinya :

Kau kawin, beranak dan berbahagia

Sedang aku mengembara serupa Ahasveros

Dikutuk-sumpahi Eros

Aku merangkaki dinding buta

Tak satu juga pintu terbuka.

Jadi baik kita padami unggunan api ini

Karena kau tidak kan apa-apa

Aku terpanggang tinggal rangka

“Ahasveros adalah raja Persia, yang pergi mengembara untuk menemukan jati dirinya. Sendirian. Sedangkan Eros adalah dewi cinta dalam mitologi Yunani,”jawab Syakieb Ali.

“Oh, sedih sekali dia sendirian.”

Mei terdiam sesaat, sejurus kemudian ia mulai bertanya lagi.

“Abah, apakah dewi cinta itu cantik?” Matanya mulai membinarkan puja.

“Tentu saja.”

“Apakah aku akan secantik Ibu Rohana ketika menikah nanti? Atau secantik Mama?,”tanyanya lagi.

“Kamu akan secantik dirimu sendiri,”kata Syakieb Ali dengan penuh sayang.

“Kalau begitu, bisakah Abah menggambarkan aku cantik? Seperti ini,”kata Mei sambil mengerudungkan ke kepalanya taplak meja kuning bersulam bunga bikinan Rohana.

“Tentu, tentu Mei.”

Sejak itu Syakieb Ali mulai melukis Pengantin Mei, seperti yang diminta gadis itu. Ia mengangankan Mei ketika dewasa, seputih pualam dengan bibir tipis yang merekah dengan senyum kanak-kanak yang belum surut. Tanpa ia sadari, Syakieb Ali melukis perkawinannya sendiri. Dirinya yang sudah tua bertongkatkan kayu, dengan senyum bahagia dan mata haru. Memang benar, kata sahabatnya : seni adalah jiwa yang terlihat. Lukisan itu adalah refleksi perasaan dan harapannya.

Akan tetapi harapan bisa saja tinggal harapan, ingin hanya sekedar niatan. Beberapa hari sesudahnya, Syakieb Ali mendapat kabar yang mengejutkan : Mei akan dikawinkan dengan seorang tengkulak kopi dari Jawa. Laki-laki itu berusia 35 dan sedang berjaya usahanya. Babah Tong menganggap pertukaran ini sebagai transaksi bisnis yang sempurna.

Beberapa hari itu Mei dipingit untuk dipersiapkan pindah ke kota tempat calon suaminya. Syakieb Ali merana tanpa bisa berbuat apa-apa. Ia buru-buru menyelesaikan lukisannya untuk diberikan sebagai hadiah perkawinan.

Lukisan itu menjadi hiburan bagi Mei selama bertahun-tahun, mengingatkannya pada seorang abah yang tulus menyayanginya. Ia membubuhkan judul lukisan itu “Pengantin Ali” sebagai kenangan pada ayah angkatnya itu. Dalam hati ia tahu bahwa Syakieb Ali mencintainya, seperti ia pun.

Mei tidak pernah bertemu lagi dengan Syakieb Ali. Setelah perjodohannya dengan si tengkulak kopi, Syakieb Ali kembali ke rumah lamanya di pinggiran Jakarta. Ia berharap bisa meredakan kegundahannya jika tidak melihat lagi sudut-sudut ruangan yang penuh kenangan akan Mei. Tetapi kenangan tidak seperti coretan, yang bisa dihapus jika diinginkan. Kenangan menetap, selama masih ada ruang pada pikiran dan hati.

Setahun setelah kepindahannya, Syakieb Ali meninggal dunia. Ada yang bilang ia terkena penyakit jantung di usianya yang ke-45, tetapi Rohana percaya suaminya meninggal karena perasaan kehilangan yang mendalam. Suaminya mencintai gadis kecil bermata sabit itu lebih dari segalanya.

Enam bulan kemudian, Rohana pun meninggal dunia dengan keadaan serupa. Orang-orang sekitar merasa kasihan, sebagian lagi merasa takut karena menurut desas desus Syakieb Ali ingin istrinya yang cantik itu ikut serta. Karena tidak memiliki anak, sebagian harta Syakieb Ali dialihkan kepada saudara-saudara jauhnya. Rumahnya yang besar digunakan sebagai sanggar seniman-seniman muda. Sampai sekarang jalan di depan rumah itu dinamai Jalan Pengantin Ali, mengingatkan orang-orang pada kemurahan hati Syakieb Ali saat melangsungkan perkawinannya di sana.

*

Aku menutup jurnal catatanku. Catatan ini tidak seperti catatan kuratorial. Mungkin sebaiknya aku beralih profesi sebagai penulis cerpen, pikirku. Aku mengambil gawai yang kugunakan untuk memotret lukisan yang kulihat tadi. Segera aku mendapati foto lukisan itu. Aku membesarkan foto itu dan mengamatinya sekali lagi. Benar, ini lukisan yang diributkan palsu oleh beberapa kolektor. Lukisan ini diyakini oleh pemilik galeri sebagai karya seorang seniman terkenal, sementara kubu lain mengatakan ini lukisan tiruan. Memang gaya melukis dan sapuan kuasnya terlihat sama. Tetapi jika ia lukisan palsu, di mana lukisan aslinya berada?

Aku meneliti bagian bawah lukisan. Judul lukisan dengan tinta hitam yang ditulis dengan terburu-buru. Di bagian pinggir, di antara warna hijau rumput dan kuning pasir tempat anak-anak Betawi mengambil koin, ada goresan samar berwarna cokelat muda. Inisial si pelukis yang mungkin selama ini tidak terbaca oleh orang-orang. SA. [ae]

Cerpen – Percakapan Susu, Santan, dan Minyak Samin dalam Semangkuk Soto

DOWNLOAD

Angelina Enny

PERCAKAPAN SUSU, SANTAN, DAN MINYAK SAMIN DALAM SEMANGKUK SOTO

Sebenarnya siang itu sama seperti siang-siang yang biasa. Angin malas bertiup, matahari terlalu berlebihan memancarkan sinarnya sehingga membuat beberapa orang enggan keluar dari rumah. Tetapi itu tidak terjadi pada orang-orang di seputaran Taman Ismail Marzuki, pusat seni paling tua di kota Jakarta.

Kemarin, banyak orang berkerumun untuk mendemo penyelenggaraan sebuah festival sastra tahunan. Orang-orang itu sepertinya membenci sastra, atau malahan mereka tidak tahu sebenarnya siapa itu sastra, karena mereka tidak mau mengakui ada sastra yang lain selain Dian Sastra, idola mereka. Orang-orang itu hanya mengenal apa yang mereka ingin kenal.

Hari ini, orang-orang itu lebih tertarik melihat pertengkaran dari pada membawa perdebatan, sebab sesungguhnya mereka pun sudah lelah pada isu yang mereka koar-koarkan namun tak kunjung dipedulikan. Saatnya mereka mencari bahan, siapa tahu bisa menambah alasan untuk berteriak di pintu gerbang.

Keributan itu datang dari sebuah kedai soto di dalam lokasi festival. Kedai itu biasa saja. Rumah satu lantai dengan langit-langit pendek, tembok putih kekuningan yang terkikis waktu. Atapnya berwarna cokelat kusam dengan genting copot di sana-sini. Mungkin ia lebih uzur dari pada pohon beringin yang merindang di depannya.

Tetapi siapa yang tidak kenal kelezatan hidangannya, sajian khas Betawi yang mampu menggugah selera orang nomor satu di negeri ini untuk menyambanginya.

Kedai itu menjual hanya beberapa menu saja: soto daging, sate kambing, dan laksa. Tetapi setiap harinya selalu ramai oleh pengunjung. Terlebih lagi hari ini, ketika para pendemo bercampur baur dengan pengunjung yang hendak makan siang. Mereka mendatangi kedai itu karena penasaran pada bisik-bisik yang tersebar.

Seorang gadis duduk di depan meja di tengah ruangan dengan tangan kiri memegang sendok dan tangan kanan memegang garpu. Baginya, kiri lebih pantas untuk digunakan untuk melahap dari pada menusuk. Nama gadis itu Indira. Ia seorang pustakawan yang sedang mampir ke festival sastra untuk mengikuti acara diskusi penulis kesayangannya.

Indira tak menyangka akan mengalami kejadian aneh seperti fiksi yang baru dibacanya. Ia baru saja akan memulai suapan pertama makan siangnya ketika mendadak kuah dalam mangkuk di hadapannya membuat riak-riak kecil. Satu jeritan panik keluar dari bibirnya, menimbulkan rasa ingin tahu pengunjung-pengunjung lain di kedai soto itu.

Sekarang mulutnya menganga, matanya melotot pada mangkuk di depannya. Rambut bob hitamnya terjuntai kaku seakan ikut tergugu. Indira dibekukan oleh udara, sementara orang-orang mulai mengerubung di sekelilingnya seperti lalat yang tergiur pada tahi.

Sebuah suara tegas dan jernih terdengar dari hadapan Indira. Suara itu tidak terlalu keras, namun wibawanya mengusik pendengaran sehingga otomatis orang akan mencari tahu muasalnya.

“Akulah jalan kebenaran dan hidup. Barang siapa meminum aku, tidak akan haus lagi. Rasaku manis dan menyegarkan. Bahkan bayi-bayi memerlukan aku sebagai pengganti ibu.”

Dia adalah susu, membuat gelegak kuah soto dari setengah mangkuk menjadi tiga per empat penuh.

Belum reda gelegak kuah dalam mangkuk, rentetan gelombang kedua datang tiba-tiba. Riaknya kecil-kecil namun tinggi seperti lahar panas gunung berapi. Beberapa cipratannya mengenai wajah Indira, namun gadis itu bergeming.

Suara kecil melengking mengatasi riuh heran gumaman tertahan orang-orang di dalam ruangan.

“Tidak! Aku yang paling murni, terbuat dari nabati. Tubuhku jauh dari kebiadaban hewani. Rasa gurihku dapat menggantikanmu. Aku kaya anti oksidan, untuk melawan tubuh-tubuh polutan.”

Dialah santan, yang diperas dari waktu ke waktu melewati  proses pemurnian.

Suasana makin memanas, kuah soto yang meletup-letup mendadak bergolak membentuk ombak yang sesekali menggetarkan mangkuk. Terdengar suara tertawa yang menghina, berlanjut dengan suara berat dan sengau.

“Sombong sekali kalian! Akulah utusan yang benar. Aku hidup beratus-ratus tahun dalam tubuh kambing dan para nabi membasuh kerongkongan mereka dengan liurku. Rasaku legit yang menggigit. Barang siapa menggunakan minyak lain selain diriku maka masakannya tidak akan pernah diterima oleh lidah mana pun.”

Dia si minyak samin, yang disaring lagi dari lemak mentega paling murni. Ia memiliki wangi khas negeri Timur Tengah.

Suara-suara dalam mangkuk itu semakin tumpang tindih tak termaknai lagi oleh pendengaran. Riak-riak kuah soto menciprat ke sana ke mari, beberapa mengenai blus putih yang dikenakan Indira, membuat noda-noda kecil berwarna kuning. Sementara kedai soto itu mulai padat, kipas angin yang ditempel di beberapa sisi dinding gagal menyejukkan udara yang pengap.

Butiran keringat mulai merambati wajah Indira. Menyadari itu, ia mulai merasa putus asa. Indira tidak tahan melihat keramaian di sekitarnya. Privasinya dengan semangkuk soto hilang sudah. Dibalikkannya mangkuk soto itu hingga kuah berceceran ke mana-mana. Potongan daging, tomat dan kentang berserakan di lantai. Seekor kucing burik yang berjaga di pintu depan mengambil kesempatan itu, menggondol sepotong daging yang terlempar di dekat pintu masuk.

Indira menangis. Seorang pelayan rumah makan datang sambil membawa kain pel dan karbol. Susu, santan, dan minyak samin membaur bersama karbol yang melalap mereka dalam pekat bau antiseptik. Kain pel mulai menggilas mereka semua, cairan yang tertumpah sia-sia. Indira makin terisak.

“Tidak apa-apa Mbak, biar saya yang bersihkan,”kata pelayan rumah makan yang bingung melihat reaksi gadis itu.

Sementara kerumunan mulai bubar, riuh rendah gumam bertebaran.

“Dasar cewek aneh.”

Seseorang terkekeh sambil menyilangkan telunjuk di keningnya.

“Dia gila?”

“Orang-orang kidal memang seperti itu,”kata seseorang.

“Kidal? Memangnya dia pakai tangan kiri?”

“Apa? Gerakan kiri? Harus dibasmi,”kata seseorang yang lain.

“Dia PKI.”

Demikianlah orang-orang itu kembali mendapatkan bahan untuk saling menyalahkan.[ae]

Cerpen – Sambalado Jariang

Angelina Enny

DOWNLOAD 

SAMBALADO JARIANG

Kedai sepi di jam-jam menjelang sore. Karyawan-karyawan kantoran masih menerungku diri di bilik-bilik berpendingin ruangan seolah mereka penghindar matahari. Meski kendaraan tak pernah putus berseliweran di jalan berdebu, supir-supir angkot seperti enggan mengeluarkan kocek lebih banyak lagi untuk mengganjal perut yang biasanya kosong di jam-jam seperti itu. Mereka memilih melobi kantuk mereka dengan segelas kopi sepeda keliling atau menyerah untuk melongo di kursi sambil mengangkat kaki. Hanya kucing-kucing buduk yang tak puas mondar-mandir mengais sisa makanan dari satu kedai ke kedai lain.

Berbeda dengan Ganduik, kucing gemuk belang tiga yang sejak tadi hanya berselonjoran di bawah bangku Kedai Raso. Sisa rendang yang baru ia makan cukup mengenyangkan sampai nanti malam, jadi sekarang waktunya berleyeh-leyehan. Kemala, gadis yang tak pernah lupa memberinya makan sedang mengelap etalase tempat menu-menu dihidangkan. Sesekali terdengar bunyi decit karena ia menggosoknya keras-keras sampai mengilap. Rebusan jariang dalam panci di belakangnya menyekap penciuman dengan aroma khas asam jengkolat. Kedai Raso memang terkenal memasak langsung menu masakan sehingga menjadi atraksi tersendiri jika melihat kedua kokinya: Mak Gaek dan Kemala (nenek dan cucu) berjibaku dengan wajan dan panci. Begitulah konsep makanan siap saji dari mereka, makanan yang disajikan langsung dari atas perkakas masakan. Tak heran semakin malam, akan banyak orang yang mengantre di luar tenda karena sedikitnya bangku yang tersedia tak cukup memenuhi jumlah pengunjung setia.

Tapi siang ini sepi. Dua orang lelaki besar yang membonceng motor menepi. Pemandangan itu nampak aneh karena badan besar mereka berkali lipat menutupi motor bebek yang ditumpangi, terlihat seperti sedang menunggang angin. Mereka berjaket dan kaca mata hitam seolah mereka penghindar matahari yang dihukum paksa berjalan-jalan di terik siang. Kedua lelaki itu adalah si Kembar Preman Senen. Jeki dan Juki namanya. Orang-orang sekitar menyingkatnya menjadi Jek dan Juk, lalu si Kembar mengamininya sampai mereka selalu mengenalkan diri sebagai satu entitas: JekJuk.  JekJuk sangat kompak dalam segala hal. Jika Jek memukul seseorang maka Juk akan menginjaknya, jika Juk mengencingi pohon maka Jek akan memberakinya. Tidak ada orang yang berani berurusan dengan JekJuk karena mereka akan mendapatkan pukulan ganda. Satu hal yang pernah membuat mereka ribut adalah perempuan. Sebenarnya Rina bukan perempuan biasa, ia adalah waria (nama di KTP-nya Rino Karno). Tapi karena ia perempuan yang langka, maka JekJuk berebut ingin memilikinya. Suatu ketika Rina mencium pipi Jek, maka Juk meminta Rina mencium bibirnya. Ketika Rina mencubit gemas pinggang Juk maka Jek meminta dicubit perutnya. Dan ketika Rina meremas paha Jek maka Juk meminta diremas … -nya.

Nenek si Kembar (yang sebenarnya dibenci oleh mereka) selalu bilang kalau dua hal yang tidak boleh dilakukan di dunia ini adalah melawan orang tua dan berzinah dengan sesama pria. Larangan pertama jelas tak bisa mereka lakukan karena kedua orang tua mereka telah tiada. Larangan kedua sangat mereka jaga, namun entah mengapa jika sesuatu terlalu dijaga maka ia akan lepas begitu saja. Begitu juga berahi mereka terhadap Rina, si wanita pria. Saat Rina akhirnya hampir menguasai mereka (Rina berpikir akan menang  banyak mendapat dua burung dan dompet mereka), mendadak pesan neneknya berkumandang di pikiran si Kembar seperti alarm yang lupa dimatikan. Jek dan Juk tak bisa mengusir suara si nenek maka nasib Rinalah yang berakhir serius, baik luka maupun usaha. Ia tak bisa lagi berkeliaran di seputar Senen karena Jek dan Juk berjanji untuk menghabisinya.

Sejak itu si Kembar belum pernah berkelahi lagi, sampai peristiwa yang akan memicu mereka di Kedai Raso.

“Assalamulaikum,”kata Jek.

“Permisi!,”tambah Juk.

Kemala yang sedang menumbuk cabai-cabai merah keriting mengangkat kepalanya. Cabai merah keriting memang lebih gampang ditumbuk karena tak perlu lagi dipotong dan rasanya pun tidak terlalu pedas sehingga tidak akan mengganggu rasa masakan yang dominan.

Si Kembar melirik ke arah panci kukus, menduga-duga masakan apa yang sedang dimasak Kemala. Mereka sudah mendengar popularitas Kedai Raso yang bergaung sampai ke kampung seberang. Kemala yang takut berhadapan dengan mereka, menegarkan hati untuk balas menyapa.

“Makan, Bang?”

“Ya iyalah, emang lu pikir gue mau ngapain ke mari?” kata Juk.

“Tauk luh.” Jek menambahkan.

“Menunya baru ada telor balado sama gulai nangka, Bang.”

“Lah itu ape yang lu masak di panci?”tanya Juk.

“Iye, apaan tuh?” Jek menambahkan.

“Eh, itu sambalado jariang, Bang. Jengkolnya masih direbus.”

Si Kembar berdiskusi sebentar untuk memutuskan mereka akan menunggu masakan itu matang atau tidak. Lalu mereka mendesak Kemala untuk segera menyelesaikan sambal meriang itu. Sepenangkapan otak mereka, sambal itu pastilah sangat hebat sehingga mampu membuat orang yang memakannya demam. Semacam santet yang mematikan, mereka berencana untuk membunuh nenek mereka dengan itu. Mungkin perlu waktu dua tiga hari sampai si nenek yang tinggal di rumah mereka mampus, tapi si Kembar setia menunggu.

Kemala buru-buru menyelesaikan sambaladonya, menumis tumbukan kasar cabai dan bawang itu dengan minyak kelapa, memberinya sedikit garam lalu memasukkan rebusan jengkol. Jengkol yang dipilihnya di pasar adalah jengkol-jengkol bundar dan tua yang tidak terlalu kasat rasanya sehingga enak untuk dimasak dalam tumisan.

Ketika menu siap dihidangkan, si Kembar tak mampu menghalau rasa ngilernya karena memang  sambalado jariang bikinan Kemala harum menggugah rasa. Minyak kelapa mampu mengikat rasa pedas dari bawang dan cabai, mengaburkan rasa pahit jengkol.

“Apa aman dimakan?”tanya Jek.

“Iye, aman kagak?”tambah Juk.

Kemala bingung menghadapi pertanyaan itu. Semua menu memang dimasaknya untuk dimakan. Namun ia mengangguk saja karena tak tahu harus berbuat apa.

Si Kembar yang tak kuasa menahan laparnya, meminta nasi dua piring (nantinya mereka menambah dua piring lagi masing-masing) untuk teman sambalado jariang. Mereka makan dengan lahapnya sampai terlalu lupa untuk meminum teh hangat yang disediakan Kemala dalam gelas-gelas beling.

“Ini enak.” Juk mengacungkan jempol dengan muka merah kepedasan.

“Enak, enak, enak.” Jek bicara sebelum ia sempat menelan kepalan nasi dalam mulutnya. Ia tersedak dengan keras, nasi muncrat kemana-mana sampai mengenai piring kembarannya. Juk yang melihat makan siangnya tercampur dengan liur dan sisa-sisa kunyahan saudaranya menjadi marah. Makanan seenak ini tidak boleh dinodai. Ia mencokok belakang kepala Jek dan membenturkannya ke meja tempat mereka makan. Kembarannya tidak terima diperlakukan seperti itu maka ia pun membalasnya. Akhirnya kedua preman itu baku hantam sampai tiang-tiang bambu penyangga kedai patah berantakan. Darah berceceran di aspal trotoar tempat mereka rusuh berkelahi.

Supir-supir angkot yang sedang ngetem menunggu penumpang memanggil polisi di persimpangan jalan. Dua orang polisi datang membawa pentungan, menghentikan perkelahian kedua preman.  Si Kembar ditangkap dengan alasan meresahkan warga. Penduduk sekitar bernapas lega karena selama ini terlalu takut untuk melaporkan kelakuan mereka.

Malang tak dapat dihindari, Kedai Raso yang tadinya sepi kini ramai oleh penonton pinggir jalan. Tak banyak yang bisa difoto dan dilapor ke sanak kerabat selain cerita yang dibumbui: “Tawuran Antar Warga”, “Polisi Menembak Mati Preman” dengan satu dua gambar ceceran darah di aspal, serakan sambalado jariang, dan kucing gemuk yang tunggang langgang. [ae]

 

 

 

>