Cerpen – Jejak Lukisan Palsu

DOWNLOAD

Angelina Enny

JEJAK LUKISAN PALSU

Aku akan menceritakan padamu sebuah hikayat. Dongeng nenek tua. Mungkin juga tidak bisa disebut dongeng karena biasanya dongeng terjadi entah kapan, dan bisa juga sebuah dongeng tidak benar-benar terjadi. Tetapi cerita ini sungguh datang dari mulut seorang perempuan tua dan diceritakan melalui hatinya. Aku tahu itu sebab ketika ia menceritakannya kepadaku, bibir keriputnya bergetar dan dengan mudah aku menangkap goresan duka pada mata tuanya.

Baiklah kuceritakan padamu terlebih dahulu mengapa aku bisa bertemu dengan perempuan tua itu. Aku ditugasi oleh Balai Lelang, sebagai salah seorang kurator pembantu, untuk mengunjungi salah satu galeri besar yang dimiliki oleh seorang kolektor lukisan ternama di negeri ini. Aku diminta menilai apakah benar lukisan-lukisan yang dipamerkan adalah lukisan palsu, seperti tuduhan yang dilontarkan oleh beberapa aktivis seni rupa belakangan ini.

Galeri ini berada di luar kota sehingga aku harus menempuh perjalanan dengan bus antar kota. Gajiku tidak cukup besar untuk menanggung biaya pesawat atau kereta eksekutif, sementara perjalanan ini tidak dibiayai oleh institusi.

Aku harus melakukannya untuk mencari muka, sehingga jika hasil pengamatanku bagus, aku dapat mempertahankan posisiku sebagai kurator pembantu, syukur-syukur bisa naik sebagai kurator tetap. Mempertahankan pekerjaan lebih sulit dari pada mendapatkannya. Sementara modalku hanya kecintaan pada seni rupa, yang seringkali dicemooh oleh beberapa lulusan seni yang merasa lebih pantas mengkuratori dibandingkan aku.

Setelah perjalanan berjam-jam yang hampir membuat bokong dan pahaku kebas, aku berhenti di sebuah terminal. Wangi penganan singkong warna-warni khas kota itu menyeruak dari beberapa kios oleh-oleh. Aku membelinya sedikit untuk mengganjal perut, juga sebagai alasan untuk menanyakan lokasi galeri.

Lima belas menit melanjutkan dengan angkutan kota, aku sampai di depan galeri itu. Dari luar galeri itu tampak seperti rumah besar biasa, dua tingkat dengan desain jawa yang cantik, paduan kayu dan tembok bercat krem. Suasana tampak lengang karena hari ini bukan hari libur. Hanya ada dua turis asing yang kulihat sedang sibuk memotret beberapa lukisan.

Aku menulis buku tamu, berbasa-basi sedikit dengan staf penerima, lalu melangkah masuk, menjajaki satu per satu karya seni di dalamnya. Galeri itu luas, meskipun suasana kuno di dalamnya membuat udara seakan pengap dan beraromakan hantu. Hantu dari seniman-seniman yang hidup abadi.

Lorong-lorong dipisahkan berdasarkan nama seniman. Lukisan-lukisan dari seniman-seniman pra kemerdekaan seperti Raden Saleh, Abdullah, Lee Man Fong, Bonnet sampai karya-karya paska kemerdekaan milik Basuki Abdullah, Sudjojono, Hendra Gunawan, pun karya kontemporer seperti Agus Suwage dan Eko Nugroho. Kuakui bahwa kolektor ini mempelajari jejak sejarah seni rupa dengan matang.

Aku melihat pelan-pelan, mencatat segala detil yang dapat menambah bahan tulisanku nanti, mencari kejanggalan-kejanggalan yang sudah diberitahu oleh atasanku. Setelah semua lukisan sudah kulihat, aku kembali pada sudut galeri yang menarik minatku. Sudut yang memajang lukisan-lukisan paska kemerdekaan.

Lukisan-lukisan ini bergaya impresionis, menelanjangi jiwa sang seniman. Kontras dengan kebanyakan pelukis yang beraliran mooi-indie pada masa itu, jelas terlihat jiwa nasionalis si pelukis dalam gambar-gambar orang pribumi, lelaki dan perempuan yang berlatar khas bumi nusantara, perjuangan rakyat mempertahankan kemerdekaan.

Mataku sampai pada satu lukisan yang berbeda dari yang lain, yang sejak putaran pertama tadi menggelitik keingintahuanku. Lukisan ini tentang perkawinan dan ia salah satu lukisan yang menjadi bahan perbincangan di kalangan elit seni rupa.

Dalam lukisan yang bernuansa hijau itu, sepasang pengantin sedang melangkah keluar rumah. Mempelai pria adalah seorang tua dengan rambut putih dan tangan yang memegang tongkat. Ia memakai pakaian resmi Betawi, dengan jas hitam dan sarung pendek di atas celana kain yang membungkus kulit cokelatnya. Ia juga mengenakan peci dan kaca mata hitam. Agak aneh menurutku jika ia mengenakan kaca mata hitam, apakah untuk menutupi ketuaannya atau karena ia buta. Meski demikian, wajahnya sumringah seperti mendapat mutiara yang telah lama dicarinya.

Di sebelah kanannya mempelai wanita yang didandani dengan kebaya terang dan hiasan beronce emas, wajahnya pualam dengan mata sabit. Usianya masih sangat muda, terpaut jauh dari mempelai pria di sisinya. Senyumnya kanak-kanak yang polos. Masing-masing di sisi mereka dua flower girl berkulit susu gembira membawa keranjang berisi bunga dan koin. Pipi mereka bersemu dadu, melihat sekelompok bocah lelaki berebut koin.

Arakan pengantin itu makin meriah dengan beberapa pria penabuh gendang. Penduduk sekitar  menonton di kejauhan. Dari gambaran itu, aku dapat mengambil kesimpulan bahwa perkawinan ini adalah perkawinan beda adat dan beda usia. Namun lihatlah, betapa itu tidak mengurangi sejumput pun kebahagiaan mereka.

Aku mengagumi kepiawaian pelukisnya–terlepas ini lukisan palsu atau tidak, goresan kasar cat minyak yang menandai batas-batas profil tokoh di dalamnya, serta sapuan halus untuk isiannya. Pemilihan warna yang sedikit namun elegan, memberi kesederhanaan yang  bermutu.

Seseorang menyentuh bahuku. Refleks aku menoleh dan menyalaminya. Ia seorang perempuan tua Cina yang masih memiliki garis-garis kecantikan alami. Perempuan itu memakai blus biru pupus dengan rok sepan berwarna sama. Rambutnya putih seperti kerudung yang menyelimuti kepala.  Bibirnya tipis dengan hiasan gincu merah muda.

“Kau memandang lukisan ini lebih lama dari pada lukisan yang lain,”katanya lirih.

Aku tersipu. Malu pada diriku sendiri, bisa-bisanya aku terpana pada lukisan yang dibilang palsu.

“Lukisan ini karya pelukis yang sama tetapi ia tidak melukis tentang perjuangan rakyat seperti lukisannya yang lain,”kataku menerang-nerangkan.

”Lukisan-lukisan ini adalah realisme yang berdasarkan kejadian.” Aku benar-benar memuji pelukis ini-atau mungkin pemalsunya.

“Ini realisme yang berangkat dari angan-angan,” balasnya sambil menunjuk lukisan pengantin.

Aku tidak tahu apa yang dimaksud “angan-angan” pada kalimat yang diucapkannya. Sebelum aku sempat membuka mulut, kata demi kata meluncur dari mulutnya, mengisi telinga dan pikiranku yang haus penjelasan.

*

Syakieb Ali tergolong pemuda yang beruntung. Ia terlahir dari keluarga Arab yang kaya. Ayahnya berasal dari kota suci yang diberkati, merantau ke nusantara sebagai pedagang kain. Dengan tubuh tinggi tegap seperti ayahnya, Syakieb Ali menjadi pemuda harapan gadis-gadis di kampungnya, sebelah timur pinggir Jakarta.

Ia adalah anak tunggal keluarga Ali yang terkenal sebagai penguasa konveksi. Syakieb Ali mewarisi pabrik milik ayahnya. Dengan kekayaan seperti itu, ia memiliki banyak waktu luang untuk berkawan dengan berbagai macam kalangan, termasuk para pengusaha dan cendekia. Ia senang merenung dan berdiskusi. Keramahan dan kebaikan hatinya memikat orang-orang di sekitarnya.

Di tahun-tahun paska kemerdekaan, Syakieb Ali aktif berorganisasi dengan Seniman Muda Indonesia. Ia belajar di Prabangkara, menyalurkan kegemaran dan minatnya pada seni rupa. Di sana ia bertemu dengan seorang sahabat seniman yang mengajarinya melukis.

Saat negeri kisruh terhadap kudeta nasionalis, Syakieb Ali jatuh cinta kepada Rohana, kemenakan jauh ibunya. Karena Rohana, ia tidak aktif lagi dalam organisasi. Beruntung baginya, karena hal itu ia lolos dari tuduhan propaganda.

Setahun kemudian, Syakieb Ali meminang Rohana. Perkawinan itu menjadi buah bibir di mana-mana, sebab keduanya adalah pasangan rupawan yang sempurna. Tujuh hari penduduk kampung itu dikenyangkan oleh makanan-makanan yang lezat. Mereka tak mungkin melupakan Syakieb Ali yang dermawan, meskipun seminggu sesudahnya ia memboyong istrinya ke pusat kota.

Usahanya semakin maju, karenanya ia membeli rumah yang lebih dekat dengan pasar-pasar pelanggan. Rumah itu adalah rumah besar dengan pintu ganda seperti yang dibuat orang-orang Cina di masa itu.

Tetangganya seorang Cina bernama Babah Tong, pedagang kopi yang terkenal di wilayah itu. Selain memiliki tempat penggilingan kopi, Babah Tong juga memiliki kedai minum di depan rumah tinggalnya. Syakieb Ali sering mampir ke sana.

Babah Tong memiliki empat orang anak laki-laki dan seorang anak perempuan bungsu, yang terpaut jauh umurnya dari kakak-kakak lelakinya. Seperti keluarga Cina kebanyakan, anak-anak lelaki Babah Tong membuka cabang usaha ayahnya satu per satu. Anak perempuan Babah Tong, Mei namanya, masih berumur lima tahun saat Syakieb Ali pindah ke wilayah itu.

Kedua keluarga perantau ini sangat akrab. Mei sering bermain di rumah Syakieb Ali. Ia memanggil Syakieb Ali : abah. Hal ini menyenangkan untuk Syakieb Ali dan Rohana sebab mereka tidak dikaruniai anak, dan Mei sudah mereka anggap sebagai anak mereka sendiri.

Di rumah Syakieb Ali, Mei belajar banyak hal. Ia senang menemani Syakieb Ali melukis di ruang kerjanya, jika lelaki itu tidak sedang meninjau pabrik, atau sekedar mendengarkan Syakieb Ali bercerita tentang usahanya, atau membaca buku-buku koleksi Syakieb Ali. Kelamaan, Mei menjadi lebih sayang pada Syakieb Ali ketimbang pada ayahnya sendiri.

Tahun demi tahun Mei beranjak remaja, Syakieb Ali mulai merasakan rasa lekat yang berbeda. Ia senang menatap Mei lama-lama, khawatir berlebihan jika gadis itu tak sempat datang ke rumahnya, dan cemburu jika Mei bercerita tentang teman laki-laki di sekolahnya.

Suatu siang, ketika Mei sedang menemani di ruang kerjanya, ia berkata kepada Mei :

“Jika kamu dewasa nanti Mei, menikahlah dengan laki-laki yang menyayangimu, yang mau memberikan segalanya kepadamu  selain air mata kesedihan.”

Mei yang sedang membolak-balik buku puisi milik Syakieb Ali mendongak tak mengerti.

“Maksud Abah, aku tidak boleh menangis saat menikah, begitu?” Ia teringat pada Hong Jin, teman laki-laki yang sering menjahilinya. “Aku tidak akan menikah dengan Hong Jin, Abah. Dia jelek.”

Syakieb Ali tersenyum.

“Laki-laki yang sayang padamu Mei.”

Gadis itu masih berumur 12 tahun, kepolosannya masih menggunggung.

“Abah menyayangiku, kan? Bahkan Abah lebih sayang aku ketimbang Babah. Aku menikah saja dengan Abah.”

Syakieb Ali terenyuh mendengar perkataan Mei, ingin ia mengamininya. Mei kembali membolak- balik buku puisi itu.

“Abah, siapakah Ahasveros itu? Mengapa penyair ini begitu merana menggambarkan dirinya seperti dia?”tanya Mei sambil menunjuk buku puisi yang sedang dibacanya. “Dan siapa pula Eros ini?”

Mei membaca keras-keras puisi yang sedang dibacanya :

Aku kira beginilah nanti jadinya :

Kau kawin, beranak dan berbahagia

Sedang aku mengembara serupa Ahasveros

Dikutuk-sumpahi Eros

Aku merangkaki dinding buta

Tak satu juga pintu terbuka.

Jadi baik kita padami unggunan api ini

Karena kau tidak kan apa-apa

Aku terpanggang tinggal rangka

“Ahasveros adalah raja Persia, yang pergi mengembara untuk menemukan jati dirinya. Sendirian. Sedangkan Eros adalah dewi cinta dalam mitologi Yunani,”jawab Syakieb Ali.

“Oh, sedih sekali dia sendirian.”

Mei terdiam sesaat, sejurus kemudian ia mulai bertanya lagi.

“Abah, apakah dewi cinta itu cantik?” Matanya mulai membinarkan puja.

“Tentu saja.”

“Apakah aku akan secantik Ibu Rohana ketika menikah nanti? Atau secantik Mama?,”tanyanya lagi.

“Kamu akan secantik dirimu sendiri,”kata Syakieb Ali dengan penuh sayang.

“Kalau begitu, bisakah Abah menggambarkan aku cantik? Seperti ini,”kata Mei sambil mengerudungkan ke kepalanya taplak meja kuning bersulam bunga bikinan Rohana.

“Tentu, tentu Mei.”

Sejak itu Syakieb Ali mulai melukis Pengantin Mei, seperti yang diminta gadis itu. Ia mengangankan Mei ketika dewasa, seputih pualam dengan bibir tipis yang merekah dengan senyum kanak-kanak yang belum surut. Tanpa ia sadari, Syakieb Ali melukis perkawinannya sendiri. Dirinya yang sudah tua bertongkatkan kayu, dengan senyum bahagia dan mata haru. Memang benar, kata sahabatnya : seni adalah jiwa yang terlihat. Lukisan itu adalah refleksi perasaan dan harapannya.

Akan tetapi harapan bisa saja tinggal harapan, ingin hanya sekedar niatan. Beberapa hari sesudahnya, Syakieb Ali mendapat kabar yang mengejutkan : Mei akan dikawinkan dengan seorang tengkulak kopi dari Jawa. Laki-laki itu berusia 35 dan sedang berjaya usahanya. Babah Tong menganggap pertukaran ini sebagai transaksi bisnis yang sempurna.

Beberapa hari itu Mei dipingit untuk dipersiapkan pindah ke kota tempat calon suaminya. Syakieb Ali merana tanpa bisa berbuat apa-apa. Ia buru-buru menyelesaikan lukisannya untuk diberikan sebagai hadiah perkawinan.

Lukisan itu menjadi hiburan bagi Mei selama bertahun-tahun, mengingatkannya pada seorang abah yang tulus menyayanginya. Ia membubuhkan judul lukisan itu “Pengantin Ali” sebagai kenangan pada ayah angkatnya itu. Dalam hati ia tahu bahwa Syakieb Ali mencintainya, seperti ia pun.

Mei tidak pernah bertemu lagi dengan Syakieb Ali. Setelah perjodohannya dengan si tengkulak kopi, Syakieb Ali kembali ke rumah lamanya di pinggiran Jakarta. Ia berharap bisa meredakan kegundahannya jika tidak melihat lagi sudut-sudut ruangan yang penuh kenangan akan Mei. Tetapi kenangan tidak seperti coretan, yang bisa dihapus jika diinginkan. Kenangan menetap, selama masih ada ruang pada pikiran dan hati.

Setahun setelah kepindahannya, Syakieb Ali meninggal dunia. Ada yang bilang ia terkena penyakit jantung di usianya yang ke-45, tetapi Rohana percaya suaminya meninggal karena perasaan kehilangan yang mendalam. Suaminya mencintai gadis kecil bermata sabit itu lebih dari segalanya.

Enam bulan kemudian, Rohana pun meninggal dunia dengan keadaan serupa. Orang-orang sekitar merasa kasihan, sebagian lagi merasa takut karena menurut desas desus Syakieb Ali ingin istrinya yang cantik itu ikut serta. Karena tidak memiliki anak, sebagian harta Syakieb Ali dialihkan kepada saudara-saudara jauhnya. Rumahnya yang besar digunakan sebagai sanggar seniman-seniman muda. Sampai sekarang jalan di depan rumah itu dinamai Jalan Pengantin Ali, mengingatkan orang-orang pada kemurahan hati Syakieb Ali saat melangsungkan perkawinannya di sana.

*

Aku menutup jurnal catatanku. Catatan ini tidak seperti catatan kuratorial. Mungkin sebaiknya aku beralih profesi sebagai penulis cerpen, pikirku. Aku mengambil gawai yang kugunakan untuk memotret lukisan yang kulihat tadi. Segera aku mendapati foto lukisan itu. Aku membesarkan foto itu dan mengamatinya sekali lagi. Benar, ini lukisan yang diributkan palsu oleh beberapa kolektor. Lukisan ini diyakini oleh pemilik galeri sebagai karya seorang seniman terkenal, sementara kubu lain mengatakan ini lukisan tiruan. Memang gaya melukis dan sapuan kuasnya terlihat sama. Tetapi jika ia lukisan palsu, di mana lukisan aslinya berada?

Aku meneliti bagian bawah lukisan. Judul lukisan dengan tinta hitam yang ditulis dengan terburu-buru. Di bagian pinggir, di antara warna hijau rumput dan kuning pasir tempat anak-anak Betawi mengambil koin, ada goresan samar berwarna cokelat muda. Inisial si pelukis yang mungkin selama ini tidak terbaca oleh orang-orang. SA. [ae]

Leave a Comment