Angelina Enny
NGALIMAN SI PENGRAWIT
Ngaliman memacu kakinya lebih cepat lagi. Kepalanya merunduk serendah mungkin. Jauh di bawah pucuk-pucuk pohon teh yang biasa disianginya. Telapaknya tak hirau pada perih cerucup yang diinjaknya. Ia harus lari sepesat mungkin. Untung malam ini bulan terang, pikirnya. Karena itu matanya nyalang mencermati kelak-kelok jalur pemisah kebun. Derap sepatu yang mengejar di belakangnya seperti sepeleton kuda yang mengikuti kirab keraton.
Sesuatu menusuk telapak kirinya. Ia mengaduh tertahan sambil jatuh terduduk. Sepotong beling bekas botol. Sial, katanya dalam hati. Ini pasti kerjaan Patus Ponti, mandor kebun yang sering membawa ciu saat bertugas. Ponti mandor yang kejam dan beringas saat mabuk. Ia bisa menampar petani yang menentangnya bahkan tiba-tiba ngamuk memecahkan botol. Tidak ada yang berani melaporkan kelakuannya. Risikonya justru bisa balik diadukan. Bulan lalu, seorang pemetik teh perempuan melaporkan tindakan pelecehan yang dilakukan Ponti. Esok harinya si pemetik tidak boleh bekerja lagi dengan alasan selain memetik teh, ia juga dengan sengaja memetik berahi dari pekerja lain.
Ngaliman merebahkan diri ke rerimbunan teh. Ia mencabut pecahan dari telapak kaki sambil menggigit ujung bibirnya. Sejurus kemudian aroma darah kental menguar di udara bercampur dengan embusan angin malam. Ngaliman mencabut beberapa daun di dekatnya, mencampurkannya dengan saburan tanah lalu menekannya pada luka di kakinya.
Ia memetakan kebun teh itu dalam pikirannya. Seharusnya sekarang ia berada di tanah garapan Edi Wowor. Jika ia belok ke kiri di depan, tidak sampai 500 meter ia akan sampai di jalan raya. Tengah malam seperti ini tidak akan ada tumpangan ke arah kota, maka ia harus masuk ke hutan cemara dan menyusuri lereng Lawu. Mendadak kantuk menyerangnya. Ia menggelengkan kepala beberapa kali untuk mengusir kantuk. Matanya terpejam sebentar. Mungkin pasukan itu sedang kebingungan menentukan prakiraan ke mana Ngaliman berlari. Barangkali tak apa ia mengangut. Toh pasukan itu pasti kecapaian. Mengejar Ngaliman sejak tadi.
Siang tadi, Ngaliman dan beberapa kawannya berkumpul di depan kantor perkebunan. Mereka berteriak menuntut penggantian lebih atas pengusiran lahan. Perkebunan Nusantara ingin memperluas lahan 3000 hektar itu dengan tanah Perhutanan Nusantara sebab letaknya tepat bersebelahan.
Rakyat yang telah turun-temurun setia menggarap lahan, diminta untuk pindah dengan iming-iming penggantian tanah pekerjaan. Tetapi tanah itu puluhan kilometer dari rumah mereka, dan tanah uruk yang berada di lereng gunung tentulah lebih sulit digarap serta memerlukan waktu yang lebih lama supaya agak siap digarap.
Ngaliman bersama beberapa kawannya yang tergabung dalam Barisan Tani memprotes aturan sepihak itu. Setelah asar mereka mendatangi kantor Perkebunan Nusantara dan meminta penggantian lokasi tanah yang lebih dekat. Kepala Perkebunan sudah menyetujui adanya diskusi lanjutan. Tetapi Karsono, seorang petani dari kampung tetangga yang hari itu ikut berorasi di depan Kantor Perkebunan Nusantara terlalu bersemangat berkata-kata. Ia mengambil batu di sekitar kantor dan menimpuki seorang pegawai perkebunan. Terjadilah saling tegang antar kedua pihak.
Ternyata Perkebunan Nusantara sudah menyiapkan bala bantuan berupa beberapa petugas sehingga dalam sekejap para petani yang berorasi langsung kocar-kacir. Enam orang ditanggap termasuk Karsono, dan saat diinterogasi ia menuding Ngaliman mengajak mereka. Ngaliman yang saat itu langsung pulang ke rumah, dijemput kembali oleh tiga orang petugas.
Petugas itu mendesak, tanpa memberikannya waktu untuk mandi dan berganti baju. Ngaliman hanya sempat menuliskan pesan dengan terburu-buru, yang diselipkannya ke sebuah buku. Ia berharap Marni, anak perempuannya menemukan pesan itu sebab Ngaliman tahu Marni suka dan sering membuka buku bersampul merah itu. Waktu Marni remaja dulu, Ngaliman sering menceritakan isi buku itu. Sementara Marni melihat ilustrasi di dalamnya. Buku itu bukan buku anak-anak, tapi tidak ada buku lain di rumah mereka untuk mengenyangkan minat Marni pada kata. Sepertinya ia sangat tertarik pada tokoh perempuan di dalam buku itu. Barangkali karena ia tak pernah mengenal ibunya maka ia menganggap buku itulah ibunya.
“Daripada bapak ngurusi tani, mending bapak karawitan lagi,”kata Marni suatu ketika. Tapi sejak kembali dari Digul, ia tak ingin lagi menabuh. Dulu ia adalah pengrawit yang cukup dipandang untuk memeriahkan acara susuhunan. Ia juga sering mengumpulkan beberapa pemuda sekitar untuk diajari gamelan. Tapi entah mengapa, hal itu malah meresahkan Pemerintah Belanda. Ngaliman lantas dibuang ke tanah asing.
Di Tanah Merah, ia mencoba meneruskan cita-citanya. Ngaliman mengajak beberapa kawan untuk membuat gamelan sederhana. Ia mengerahkan akal untuk melewati hari dengan cara menyenangkan. Mereka mengumpulkan rantang-rantang rangsum tak terpakai (biasanya karena rompes) untuk disusun terbalik menjadi bonang. Empat belas rantang untuk laras pelog bernada tujuh dengan suara-suara tengah, sedangkan dua belas rantang untuk laras slendro yang beroktaf tinggi.
Mereka menyusun bilah-bilah bambu yang dilubangi dan diikat kawat untuk dijadikan gambang. Bekas kaleng susu diratakan dan diikat pada kayu-kayu sisa dari pintu-pintu tua menjadi saron. Belanga dipakai sebagai gong dengan tongkat penabuh berbebat gombal dan kendang dibuat dari sisa kulit kelinci hasil buruan. Kekurangan menyebabkan mereka berpikir kreatif. Setiap akhir pekan, para tahanan berkumpul di aula, sekadar menonton atau belajar menjadi pengrawit dari Ngaliman. Hal itu berlangsung bertahun-tahun sampai ia dibebaskan karena dianggap bersikap kooperatif. Hak kebebasan itu membuat ia senang sekaligus sedih. Ia merasa sedih berpisah dari kawan-kawannya di Digul. Juga dari Panglipurlara dan Sembahati-sepasang bonang yang dibuatnya bersama mereka. Maka ia meminta izin membawa Panglipurlara bersamanya. Sementara Sembahati ditinggalkannya di Tanah Merah itu. Supaya teman-temannya tetap terhibur.
Tapi kekecewaan begitu setia mengikutinya. Di satu tahun, Pemerintah Belanda begitu merasa terancam pada kawan-kawan Digul-nya sehingga mengirim mereka ke benua bawah. Mereka melarung samudra bersama Sembahati. Entah sampai kapan karena Ngaliman tak pernah mendengar lagi berita tentang kawan-kawannya itu. Sejak itu Ngaliman berhenti mengajar gamelan, meski ia memiliki murid yang cukup cakap dan setia, salah satunya Nursyamsi yang kelak menjadi anak mantunya. Seolah duka menyerah untuk dihibur. Ngaliman menyimpan rapat-rapat Panglipurlara bersama cerita di dalamnya. Ia memusatkan perhatiannya pada kebun teh, berdiam dalam kekecewaan akan seni, sampai datang ia merasa harus bangkit lagi, meski kali ini ia memperjuangkan hal yang berbeda.
Semoga kamu bisa menemukannya, Ndhuk, doa Ngaliman. Dalam hatinya ia tidak tahu apakah harapannya kali ini akan berbuah kecewa lagi. Perlahan air matanya mengalir, tidak juga karena sakit yang makin dirasakan di telapak kirinya, tapi untuk semua ingatan yang mendadak bermunculan di malam itu. Momen-momennya sebagai pengrawit, menikmati gending pentatonik yang membelai indra pendengarannya. Senyum para kawan dan murid-muridnya, saat mereka pertama kali berhasil menabuh nada. Sejenak ia mendengarkan semilir angin yang menyuarakan kenong, bonang dan saron. Ia menggelengkan kepalanya lagi, kali ini tidak untuk mengusir kantuk, tapi untuk meyakinkan dirinya bahwa benar itu suara merdu gamelan yang diterbangkan angin di antara harum pucuk-pucuk daun teh siap petik, dan di bawah gemintang yang menemani bulan mengangkasa.
Sebelum ia benar-benar menyerahkan kantuknya, Ngaliman tersenyum. Ia berteriak pada langit.
“Selamanya aku pengrawit!”
Dari kejauhan, titik-titik kuning cahaya senter berbalik arah mendekatinya. [ae]