Melepas (Karya Aprilia Ciptaning Maharani)
Kita membayangkan masa-masa yang lugu; seragam sekolah
yang sengaja dikeluarkan, berlari menuju persinggahan
demi meloloskan diri dari batin yang geram—karena bosan
mendengarkan. Lantas memandang aliran air
dan merasakan angin yang meniup anak-anak rambut
di kepala.
Kau membuatku ingat—biasanya juga begitu—kembali,
seolah selama ini aku betulan amnesia.
Lagu-lagu mengobati. Telingaku mendengar suara yang disekap
di ruang hampa, lembut juga menggetarkan.
Gambar demi gambar yang kita ambil secara serampangan
pada mesin pencari nomor satu di jagat raya, mengikis
dendam yang barangkali pernah bercokol.
Kau tidak dapat membayar kejadian yang terlanjur lewat—
begitu pun aku. Kita hanyalah saksi dari puing-puing
masa lalu. Namun, kata pernah setidaknya sempat hadir.
Kesedihan menjelma lembaran yang berisi kata-kata, aku sedih
membacai tulisan yang kau tuliskan—sedangkan kau tidak.
Ternyata waktu begitu angkuh, masa-masa indah hanya dapat
kita kenang. Ia tak peduli terhadap dada yang ditakdirkan
untuk mudah rapuh.
Kita sedang menjereng masa silam. Kau menatanya lebih bagus
dariku, tentu saja. Sekali waktu, kita memang tak kuasa untuk
mengelak, kenyataan menegaskan secara pasti, bukan hanya
lamunan imajinasi: seperti pembayanganku selama ini dengan
menghadirkan roti bakar dan segelas susu segar.
Kau memungut kembali remah roti yang dulu pernah kausebar
di jalanan (aku juga). Keberangkatan memapah tanpa beban,
ringan seperti balon yang melayang-layang di udara. Tetapi
siapa yang menyangka bahwa kepulangan
nyatanya tak selalu menjanjikan keadaan yang sama.
Pada akhirnya kita hanya dapat dan/atau akan lepas—melepas
dengan pasrah.
18 Juni 2018