Aku harus Lebih Kuat dari Negara Ini (Meminjam Istilah M. Jhoni Yulianto)

Sebuah Cerpen Refleksi Kemerdekaan RI oleh:
Agatha Febriani
Narator: Noer Atmadja

Kibaran Merah Putih membelah angkasa biru pagi itu. Tiang pancangnya berkilauan ditempa terik matahari pagi. Sementara angin yang sepoi-sepoi merambati pepohonan sekali-sekali menerbangkan dedaunan kering ke atas trotoar.

“Majuuu… Jalan!”, seru seseorang dari tengah lapangan.

“Prak… Prak… Prak…”, suara yang terdengar setelahnya. Serempak.

“Bunda, apa itu?”, tanya Nur sembari mencengkeram erat pergelangan tanganku.

Sudah kuduga pertanyaan semacam itu pasti akan segera meluncur dari bibir kecilnya.

“Itu suara Paskibra yang sedang berlatih untuk upacara 17 Agustus…”, terangku

mengawali.

“Paskibra…?”, lirihnya.

“YA… Pasukan Pengibar Bendera. Setiap tahun, siswa-siswi terbaik dari berbagai daerah berkumpul di sini. Mereka itu ialah para pelajar yang telah berhasil melewati tahapan demi tahapan tes. Nantinya mereka-lah yang akan bertugas untuk mengibarkan bendera pada upacara kenegaraan bersama Bapak Presiden…”, terangku selanjutnya.

“Bersama Pak Presiden?”, sahutnya cepat. Raut mukanya bersinar penuh harap. “Nur juga ingin seperti mereka…”, sambungnya bersemangat.

Kupelankan langkahku demi melihat keseriusan di wajahnya. “Tentu. Kau pasti bisa seperti mereka. Syaratnya, Nur harus terus rajin belajar dan tidak boleh mudah menyerah.”, kataku menasihatinya.

Nur tersenyum lebar sambil mengangguk mantap.

Halaman sekolah menengah pertama itu telah dipenuhi kerumunan orang saat kami tiba. Tak heran, sekolah negeri memang masih menjadi favorit bagi sebagian besar masyarakat kita.

Aku sedang membantu Nur untuk meniti tangga di tengah kerumunan itu ketika seorang petugas keamanan sekolah menghampiri kami.

“Selamat pagi, Bu. Ada yang bisa kami bantu?”, tanyanya ramah. “Saya ingin mendaftarkan putri saya sekolah, Pak…”, jawabku lugas.

Pria itu tak langsung menjawab. Sudut matanya diam-diam memperhatikan Nur yang tengah berdiri di sampingku.

“Ehm… Ehm… Saya tanyakan kepada guru yang bertugas dahulu, Bu. Silakan duduk di sini!”, katanya kemudian sambil menunjuk ke arah bangku di samping pintu masuk. Sepertinya bangku itu sengaja disediakan untuk siswa-siswi yang sedang menunggu jemputan.

Selang 15 menit, seorang berseragam dan beratribut lengkap menghampiri kami berdua. Usianya sekitar 40 tahun. Berperawakan sedang dan berpenampilan sangat rapi.

“Selamat pagi, Bu. Mari ngobrol di ruangan saya saja…”, sapa perempuan itu ramah sambil membimbing kami ke ruangan yang dimaksudnya.

Kugandeng Nur mengikuti langkahnya yang besar-besar. Tak tega aku melihat upayanya mengimbangi langkah-langkahku dan perempuan itu. Untungnya kami segera sampai di depan sebuah ruangan. Perempuan itu berhenti dan mempersilakan kami masuk.

“Jadi… putri Ibu ini yang akan bersekolah di tempat kami?”, sambar perempuan itu begitu melihat aku dan Nur telah duduk di depannya.

“Iya, Bu.”, jawabku singkat. Pikiranku masih menerka-nerka siapa sebenarnya perempuan ini. Guru biasa-kah, wakil kepala sekolah-kah, atau justru kepala sekolah…

“Mohon maaf, Ibu. Perlu kami sampaikan kepada Ibu bahwa sekolah kami hanya bisa menerima anak-anak yang sehat secara jasmani dan rohani…”, lanjutnya perlahan takut menyinggung perasaanku.

“Anak saya sehat secara jasmani dan rohani, Bu. Dia tidak sakit.”, ralatku cepat.

Kulihat perempuan itu sedikit terkesima mendengar jawabanku.

“Dia hanya tidak bisa melihat.”, tegasku selanjutnya.

“Baik. Tetapi sekolah kami belum siap menerima anak-anak berkebutuhan khusus seperti anak Ibu.”, katanya lebih berhati-hati. “Kami belum memiliki tenaga pengajar yang bisa mendampingi kebutuhan anak Ibu.”, lanjutnya.

“Apa masalahnya hanya karena tidak ada guru pendamping, Bu? Kalau masalah ini, selaku orangtua, kami akan berupaya semaksimal mungkin… termasuk jika harus membayar lebih…”, jawabku. Kupelankan volume suaraku agar Nur tidak bisa mendengar dengan jelas perkataanku barusan. Aku tidak mau ia dibebani rasa bersalah.

“Masalahnya tidak semudah itu, Bu. Kami juga tidak memiliki sarana belajar- mengajar yang sesuai dengan kebutuhan anak Ibu.”, terangnya lagi. “Sebagai sebuah lembaga pendidikan, kami pasti akan merasa sangat bersalah apabila tidak bisa memberikan pelayanan yang terbaik bagi anak-anak didik kami.”, katanya merajuk.

Aku terdiam. Kulirik Nur yang tampak sudah mulai merasa tidak nyaman dalam posisi duduknya.

“Baiklah jika demikian. Saya mohon pamit, Bu.”, putusku mengakhiri.

Perempuan itu tampak lega menjabat tanganku. Diulurkannya juga tangannya

kepada Nur.

“Saya rasa SLB adalah pilihan terbaik, Bu.”, pungkasnya.

Hatiku meradang.

Tidak seperti sekolah pertama yang kami kunjungi hari itu, suasana pendaftaran siswa baru di sekolah kedua belum begitu terasa. Suasana meriah justru datang dari kerumunan orang di tengah lapangan yang sedang mempersiapkan lomba 17 Agustus.

Aku memberanikan diri untuk bertanya kepada salah seorang dari mereka, “Permisi, Pak. Mohon maaf mengganggu sebentar.”.

“Ya, Bu… Bagaimana?”, sahutnya sembari meletakkan sisi kain spanduk yang sedang dipegangnya. “Tempat pendaftaran siswa baru di mana ya, Pak?”, tanyaku sesingkat mungkin. Kemudian ia langsung memberikan petunjuk kepadaku.

Tak sulit menemukan ruang pendaftaran yang diarahkan. Beberapa orangtua calon murid tampak sibuk mengisi formulir dan merapikan berkas. Aku mendekati meja panjang di tengah ruangan.

“Selamat siang, Pak… Apa boleh saya mengisi formulir pendaftaran?”, tanyaku pada salah satu petugas.

“Silakan mengisi daftar hadir dulu, Bu…”, sahutnya sambil menyodorkan lembaran kertas di atas meja.

Aku segera mencermati dan mengisinya. Dengan was-was, kuperhatikan petugas itu.

Ekspresi wajahnya terlihat datar, bahkan ketika kedua matanya menangkap bayangan Nur. “Apakah formulirnya bisa langsung saya isi, Pak?”, tanyaku meyakinkan. “Silakan…”, jawabnya datar.

Sedikit lega, aku menggandeng Nur menepi. Mencari tempat yang lebih luang dan nyaman untuk melengkapi berkas.

Mataku langsung terpaku saat membaca rincian biaya yang tertera di atas lembar pertama. Bayangan suami dan anak bungsu-ku melintas tiba-tiba. Pikiranku berpacu cepat…

Menerawang kemana-mana…

“Ini anaknya, Bu?”, celetuk seseorang di depanku. Entah sejak kapan ia berdiri di

situ.

“Iya, Bu…”, jawabku mengambang. Fokus pikiranku beralih kepadanya. Betapa tidak, nada bicaranya yang keras dan gaya berdandannya yang mentereng itu pasti menyita fokus banyak orang.

“Apa mau mendaftar di sini juga?”, tanyanya tak sabar.

Seingatku, aku hanya menganggukkan kepala waktu itu. Tepatnya, sebelum kegaduhan demi kegaduhan itu terjadi. Yang aku ingat, aku harus segera membawa Nur menyingkir. Berpuluh-puluh pasang mata seolah ingin menelanjangi kami berdua… Dan ucapan demi ucapan menyakitkan itu… Tak akan kubiarkan Nur mendengarnya.

Matahari sudah beranjak ke tengah. Barisan Paskibra sepertinya telah selesai menjalani sesi latihan pagi. Lapangan itu kembali sepi. Kuajak Nur duduk sebentar. Berteduh di bawah pohon tua yang agak menjorok ke jalan. Aku masih bisa melihat angkot yang mendekat dari situ, pikirku.

“Bunda, apa itu arti merdeka?”, tanya Nur mengagetkanku.

Aku tak mau segera menjawab pertanyaannya itu. Aku berusaha menerka apa yang ada di dalam pikirannya. Lalu sayup-sayup kudengar syair lagu “Sekali Merdeka, Tetap Merdeka” yang dialunkan dari sebuah bangunan tua di seberang jalan.

“Merdeka itu berarti terlepas dari belenggu penjajahan.”, sahutku memberanikan diri. “Dahulu, para pejuang bangsa ini bertaruh nyawa dan berkorban jiwa-raga untuk melawan para penjajah yang ingin menguasai bangsa kita.”, terangku melanjutkan.

Nur menghela nafas kemudian bertanya, “Apa para penjajah itu sekarang sudah pergi semua, Bunda?”

“Tentu saja sudah. Karena itulah, kita disebut sebagai bangsa yang merdeka.”,

kataku mantap.

“Tapi…”, sahutnya terbata. “Nur ingat cerita ibu guru di SLB. Katanya, banyak anak seusia Nur yang tidak bisa bersekolah karena dihalang-halangi oleh kaum penjajah.”, lanjutnya.

Dadaku bergetar mendengar ucapannya. Mulutku terkatup rapat.

“Lalu… kalau sekarang Nur tidak bisa sekolah… berarti para penjajah itu masih ada

kan, Bunda?”, tanyanya sambil terus berfikir.

Mataku memanas, air mata-ku menetes perlahan.

“Jadi… apakah kita sudah merdeka, Bunda?”, tanyanya ringan.

Kugigit bibirku keras-keras agar Nur tak sempat mendengar isaknya. “Aku harus lebih kuat dari negara ini!”, teriakku dalam hati.

Bogor, 11 Agustus 2021

Leave a Comment