Cerpen Nisa’Ul’Afifah
Beberapa niniak mamak berseteru kecil di pojok rumah gadang. Malam itu dingin menyelinap tanpa permisi ke sela kaki. Papan kayu menjadi penjalar gigil telapak. Empat datuak berbusana hitam menyantap lompong sagudi meja. Di hadapan mereka, jendela sibuk mengikuti denyut angin.
“Datuak ingin kau ambil hati datuak yang lain,” ujar datuak Bahar pada Bakri.
“Ndak mengerti ambo datuak, maksudnya bagaimana?”
“Datuak di sini hendak mengajukan kau jadi pemuka adat, banyak keuntungannya. Jangan sampai urang rantau yang baru datang yang ambil posisi. Ndak suka ambo”
“Apa yang harus ambo lakukan, datuak?”
“Barajalah talempong. Zaman sudah agak berubah, adat mulai dinomorduakan”
“Ondeh, awak labiah sanang disuruah baburu sajo, datuak[1]” keluh Bakri.
Bakri bingung, agaknya syarat menjadi datuak bukanlah seperti itu. Yang ia tahu, datuak haruslah berlaku bijaksana, menjadi panutan bagi kemenakan, paham adat dan keputusannya sangat dipertimbangkan. Bakri berpikir panjang, apakah talempong masih menjadi simbol adat atau kebesaran raja minang.
“Cubolah caliak urang batalempong pacik[2]”
“Mengapa ndak pakai talempong goyang saja?”
“Halah kau ini, banyak ndak mengertinya ya”
Sontak terdengar suara talempong bergema. Nadanya indah dan berani. Nampak penyanyi mengiringi talempong itu. Mereka bergandengan dalam penyajian hiburan kali ini. Anehnya, yang dapat mendengarkan talempong itu hanya Bakri, sebab datuak-datuak ini tak mengajukan komentar apapun. Ia bingung.
*******
Suasana sore ini cerah, layaknya sumringah para anjing yang siap menyantap kelompok babi. Bakri mengelus badan anjingnya. Ia edarkan pandang pada sekitar, ditemukanlah Zuhri, karib di pematang sawah dulu. Zuhri tak berubah, masih selalu mengalungkan suliang di lehernya.
“Sudah lama tak bersua, Zuh”
“Hoiii, Bakri calon datuak. Aman-aman saja kan kau?” tanya Zuhri.
“Darimana kau tahu awak hendak jadi datuak?”
“Datuak Bahar bilang ingin awak mengajarkan kau talempong pacik”
“Awak cukup bingung, Zuh. Talempong pacik dan talempok goyang itu perbedaannya apa. Toh, talempong goyang lebih diminati daripada talempong pacik”
“Apa kau tak merasa talempong goyang memiliki banyak nada. Cara memainkannya saja sudah berbeda. Talempok Pacik digenggam di satu tangan, tangan lainnya memegang pemukul. Sedangkan talemponggoyang tidak perlu kita pegang talempong-nya kan?”
“Awak lah tau soal itu, Zuh. Yang awak herankan mereka berdua kan jelas sama-sama musik tradisional. Mengapa datuak minta awak hanya belajar talempong pacik sajo”
“Ondeh mandeh. Ndak usah lah kau jadi datuak kalo ndak tahu apa-apa. Urang minang zaman kini banyak yang ndak tahu”
“Musik talempong goyang itu kan musik hibrid bagi masyarakat Minangkabau”
“Apo tu hibrid” tanya Bakri sambil melihat beberapa kedatangan yang ingin berburu juga.
“Perkawinan silang dua budaya yang berbeda. Intinya budaya talempong awak sudah dikawinkan lagi dengan budaya Eropa dan Amerika”
“Waaah canggih juga itu, Zuh. Apa tidak ada yang kontra dengan hal ini?”
“Ya dulunya tetap ada, tapi kini kayaknya sudah bisa menerima”
Obrolan terputus, pemburu lainnya sudah berteriak pinteh lah diateh[3]. Mereka berlarian. Anjing-anjing lahap memakan babi hasil terkaman. Suasana riuh oleh teriakan para pemburu dan penonton di lapangan. Berburu ialah hobi para pria Minangkabau. Tujuannya tak lain ialah memberikan makan para anjing yang berjasa banyak bagi mereka.
Di tengah riuh kegiatan berburu, Bakri mendengar suara talempong lagi. Ia berkeliling lapangan mencari sumber suara. Tidak ada. Ia kembangkan kupingnya yang kumal, tetap susah mencari nada talempong melaui angin. Ia tadahkan wajahnya ke langit. Langit tak acuh sebab terhirup dalam balut mesra awan gemawan. Bakri jadi tak punya hasrat berburu. Ia kesal. Ini kali kedua ia mendengar suara talempong tanpa wujud.
Maka Bakri lekas membawa anjingnya pulang. Meninggalak riuh lapangan. Ia ingin istirahat saja. Itu tentu hanya bisa ia lakukan setelah ia menuruti omongan istrinya. Sebab menyentuh anjing dan babi, ia musti menyucikan tubuhnya dengan tanah. Begitu istrinya bicara tiap ia pulang dari kegiatan berburu.
“Uda, apo uda lupa besok awak harus ke bukit melihat nikahan kemenakan”
“Iyo uda ingat, siapkan sajo amplop untuknyo”
Di pernikahan kemenakannya itulah, saluang menjadi primadona. Banyak juga pemuka adat yang hadir hari itu. Mempelai dan anak daro bertukar senyum tanpa putus-putus. Pemain talempong goyang bersiap memainkan aksinya bersama penyanyi cantik dengan suntiag kecilnya.
“Penyanyi itu menyanyikan lagu pop” gumam Bakri. Ia mulai mengerti ucapan Zuhri. Benar saja, talempong goyang memiliki banyak nada. Pasti musik pop telah berperan menjadi babak baru dalam hibridasi talempong goyang, bisa dibilang para pemain talempong goyang telah mengambil musik pop sebagai acuan estetika musiknya.
“Teori untuk belajar talempong sajo baru awak paham. Alangkah cueknyo awak pada budaya sendiri” Bakri merunduk lalu menatap rendang yang ada di piringnya. Ia malu. Suara talempong kembali terdengar oleh Bakri, padahal talempong goyang telah dihentikan. Suaranya terdengar makin jelas sampai memekakkan telinga Bakri. Ia menutup rapat telinga dengan kedua telapaknya. Istrinya menatap Bakri dengan kebingungan yang sangat. Bakri mengerang, telinganya sakit, seperti diburu volume tinggi yang berusaha memecahkan genderang kecil itu. Ia harus bertemu salah satu niniak mamak untuk meminta solusi. Demikian ia membatin.
Bersama istrinya, Bakri bergegas ke rumah gadang kaum mereka, mencari siapa saja niniak mamak yang bisa diminta petitih dan petitah. Nahas, rumah kosong. Suara talempong masih saja memekakkan telinganya, badan Bakri semakin lemas. Ia terduduk lunglai di pelataran rumah. Ia lepaskan satu tangan yang sebelumnya membungkam telinga. Darah segar mengucur dari lubang telinga.
******
Dalam tidurnya, Bakri memimpikan dirinya lihai bermain talempong pacik. Ia memakai taluak balango, pertanda sedang tampil di muka umum. Lengannya luwes, telinganya bersinergi dengan musik-musik pengiring talempong pacik. Semua penonton menunjukkan mata khusyuk. Di antara mereka ada sang istri yang tak henti-henti mengurai senyum. Namun, ada satu datuak yang menatapnya tajam. Bakri takut.
Sedangkan permainan talempong paciknya tidak dapat dihentikan. Para penonton mulai menatap heran pada Bakri. Acara usai, tapi tangan Bakri tak dapat dilepaskan dari talempong pacik. Ia sangat lelah. Datuak yang tajam pandangannya masih di sana. Tapi tatapannya agak reda. Bakri bermaksud mendekatinya. Namun kakinya kelu.
*******
Bakri terdiam, ia menatap talempong yang ada di pojok rumah gadang. Ia sentuh benda kuningan itu. Ia raba, ia elus lalu ia coba ketuk untuk mendengar suara yang dihasilkan. Hati dan pikirannya masih terus bertanya, mengapa ia terus berhalusinasi tentang talempong. Kesadaran yang tak mungkin ia hindari adalah ketidaktahuannya tentang budaya sendiri. Budaya Minangkabau.
“Bakri, kamarilah duduak disiko, ado ubi abuih[4]”
“Iyo datuak”
“Baa kok tamanuang bana tu[5]”
“Ndak papa datuak, awak hanya heran sajo. Mengapa kok sering terpikir tentang talempong itu. Awak juga ingin mengundurkan diri jadi datuak”
Datuak Bahri tersenyum, mengelus punggung Bakri. Datuak santap ubi rebus dan teh panas. Bakri heran, entah apa arti senyum datuak ini. Kemudian datuak memegang telinga Bakri pelan-pelan. Bakri makin bingung.
[1] Alamak, saya lebih senang disuruh berburu saja
[2]Cobalah lihat orang dengan telempong pacik
[3] Sudah dihambat diatas
[4] Kesinilah, duduk disini, ada ubi rebus
[5] Kenapa kok termenung sekali