DOWNLOAD
Astuti Parengkuh
Dua orang yang bukan lagi bisa dikatakan sebagai remaja tengah memadu kasih. Mereka asyik-masyuk berbincang dengan malu-malu di sebuah sudut kota. Tempat itu berbatasan dengan taman hiburan rakyat. Semacam warung namun berlabel ‘kafetaria’ agar tampak lebih mentereng.
Marni nama si perempuan. Biar tampak keren, dia menambahkan Familia. Itu lebih terdengar seperti nama penyanyi dangdut. Orang sering memanggilnya dengan ‘Lia’ atau ‘Arni’ saja. Dia seorang perempuan yang menginjak usia tiga puluh tahun dan belum kawin.
Laki-laki yang menjadi pacar Marni bernama Sofyan. Dia tinggal ratusan kilometer dari kediaman Marni saat ini. Penyair berbakat yang usianya terpaut beberapa tahun. Sofyan pemuda putus sekolah. Dia hanya mampu mengecap bangku sekolah hingga kelas dua SMA. Selanjutnya hidupnya diabdikannya di sanggar seni. Apa saja dilakoninya dari menjadi seniman tari hingga membaca puisi.
Pertemuan antara keduanya terjadi begitu saja saat Sofyan dan beberapa anggota komunitas sastranya menjadi tamu dan menggelar pembacaan puisi di gedung kesenian. Gedung itu terletak satu arena dengan taman hiburan rakyat yang bersebelahan dengan kafe tempat Marni bekerja, Taman Sriwedari. Selain mengais rejeki di kafe, Marni tak pernah menolak jika datang job dadakan sebagai penyanyi dangdut, ketika taman hiburan mengadakan pertunjukan.
Terpesona oleh ketampanan Sofyan yang usianya 5 tahun di bawahnya, Marni pernah mencoba memasuki gedung pertunjukan saat laki-laki muda itu membaca puisi karya WS. Rendra, “Rick Dari Corona”
“…………………….
-Di sini, bodoh!
Kau selalu tak mendengarkan aku, Ricky!
Kau selalu menciptakan kekusutan.
Sepatu tak pernah kauletakkan pada raknya.
Selalu kaupakai dasi yang kacau warnanya.
Berapa kali pula kau kuperingatkan.
kalau tidur jangan mendengkur.
Itu barbar.
Dan, Ricky!
Kau harus belajar makan sup yang lebih sopan!
………….”*
Marni terkagum atas performa yang dibawakan Sofyan saat berimprovisasi dengan puisi tersebut. Sekonyong-konyong jiwanya ikut tercerabut di antara barisan syair dan lakon yang ada di dalamnya. Hhhmm….akulah Betsy, batinnya. Siang hari aku pelayan warung, malam hari aku penyanyi dangdut. Namun, aku tidak benci laki-laki seperti Betsy. Aku sangat mendambakan seorang laki-laki , seperti pada umumnya yang dicitakan oleh setiap perempuan.
Tapi apalah dayaku. Setiap laki-laki yang datang lalu menyatakan cinta dan hendak melamarku, semua mengalami nasib yang sama. Mereka mati sebelum aku dan kekasihku itu naik ke pelaminan. Gejolak hati Marni membara, seiring ingatannya yang tajam akan masa lalu.
Aku kering. Seperti hutan gersang nihil pepohonan. Guyuran hujan dua kali setahun tak menggembirakanku. Yang ada adalah musibah. Di mana air bah membinasakan semua yang ada. Pupus harapanku.
Ya, itu benar. Setiap laki-laki yang mendekatinya lalu menyatakan cinta dan hendak melamar Marni, pasti bernasib apes. Lihatlah si Udin! Laki-laki buruh sebuah pabrik tekstil itu telah siap dengan seperangkat maskawin yang dibawanya. Hasil tabungan dari dia bekerja siang dan malam sebagai teknisi mesin, dikumpulkannya menjadi seuntai kalung emas seberat lima gram serta sepasang cincin kawin.
Marni juga dibelikannya sebuah gelang emas, berbentuk ular seperti permintaan gadis itu. Meski tidak begitu besar, namun gelang itu mempunyai makna tersendiri. Benda itu sebagai kenangan saat keduanya pergi ke kebun binatang. Ketika sampai di kandang ular, Marni mempunyai permintaan kepada Udin, jika kelak dia meminangnya, dia akan meminta sebuah gelang emas bermotif ular.
Namun, tak ayal lagi. Nasib tidak bisa diterka, ajal tidak dapat dikira. Pada sebuah malam, dua hari menjelang pernikahan, Udin yang pada saat itu masih bekerja lembur mengalami kecelakaan kerja. Tubuhnya tersengat listrik di pabrik dan dia tewas di tempat.
Marni limbung seketika. Ratusan surat undangan yang telah disebar, serta bahan-bahan masakan yang sudat dibeli semua menjadi saksi bisu akan kepedihan hatinya. Simbok dan bapaknya yang tinggal di desa, sebuah kabupaten, 50 km selatan kota raya ini, telah mempersiapkan acara mantu itu dengan seksama. SMS dari Udin untuk terakhir kalinya, yang mengabari bahwa dia telah mempersiapkan maskawin,dia simpan. Hingga pada suatu ketika dia hapus kenangan buruk itu setelah menemukan laki-laki pengganti Udin.
Pria itu bernama Loyang. Dia seorang pengusaha perkakas rumah tangga. Industri rumah yang telah turun-temurun dari kedua orang tuanya berkembang pesat. Dia membutuhkan seorang istri yang pintar lagi piawai mengatur keuangan dan manajemen perusahaannya yang semakin maju. Pilihan itu jatuh kepada Marni yang dinilainya mampu. Dia melihat Marni yang ‘prigel’, perempuan yang ‘cathas’ bila berbicara. Meski pendidikannya hanya sampai bangku SMK, namun pengetahuannya di bidang akuntasi tidak diragukan.
Loyang ingin mengangkat derajat Marni. Gadis desa yang lama tinggal di kota itu diyakininya bisa membahagikan hidup laki-laki itu. Loyang sudah membayangkan, anak-anak yang akan lahir dari rahim Marni nanti adalah anak-anak yang berjiwa seni, namun juga piawai dalam berdagang. Bagi Loyang, Marni perempuan sempurna, sejak pertemuannya yang pertama saat mengorder beberapa perkakas di kafe, di mana Marni bekerja.
Apa yang didamba laki-laki itu terhadap Marni ternyata hanya impian belaka. Loyang mengalami kecelakaan saat menyetor dagangan ke luar kota. Kejadian itu tepat dua hari menjelang akad nikah. Kali ini, Marni tak lagi bisa meratap. Dia bahkan sampai dilarikan ke rumah sakit karena pingsan dan tidak segera sadar.
Orang tua Marni pergi ke beberapa dukun, menanyakan kesialan yang dialami putrinya. Beberapa ‘orang tua’ yang ditemui mereka mengatakan bahwa, barangkali Marni mempunyai ‘bahu laweyan’, berupa tahi lalat atau tanda lahir lainnya yang ada di pundak perempuan itu. Itu tidak bagus! Perempuan yang mempunyai ‘bahu laweyan’ akan membawa keburukan dalam hidupnya. Laki-laki yang akan menjadikannya istri, pasti mati mengalami musibah.
Marni tidak percaya begitu saja apa yang dikatakan oleh simboknya tatkala menjenguk anak itu di kota. Simbok yang tidak tahu sama sekali tentang budaya Jawa, juga tidak mengira kalau ‘toh’ atau tanda lahir yang ada di pundak Marni mengandung unsur magis.
Marni sudah tahu, bahwa ada sesuatu yang lain di bahunya. Dulu dia tidak berpikir yang aneh-aneh, sampai ketika simboknya pulang, dia becermin. Dilihatnya lagi tanda lahir itu dengan seksama dan dia percaya jika itu yang membawa kesialan. Lalu dia datangi laki-laki yang membuka lapak tatto di dekat taman hiburan. Dirinya minta ditatto, tepat pada ‘tanda lahir’ itu.
Sekuntum mawar merah menghias pundak Marni.
Dua bulan semenjak hubungannya dengan laki-laki ketiga, Sofyan, Marni semakin mantap bahwa dia akan segera naik ke pelaminan. Laki-laki yang tinggal lebih dari seratus kilo meter dari kotanya itu minggu lalu telah menyatakan pinangannya. Dua minggu sebelumnya Sofyan telah beranjangsana kepada keluarga Marni di desa. Rupanya, bukan hanya kebaikan hati gadis itu yang membuatnya terpikat, namun keramahan kedua orang tua Marnilah yang membuatnya nyaman. Tak hanya itu. Sofyan yang doyan makan, lidahnya juga tak begitu asing dengan makanan yang disajikan keluarga itu.
“Oh, ini to yang namanya oseng-oseng, Pak?” tanya Sofyan kepada ayah Marni, asli kelahiran Wonogiri.
“Betul, Nak. Mungkin di Wonosobo tempat Nak Sofyan disebut tumis Lombok,” kata ayah Marni.
“Silakan dicicipi tempe gorengnya juga,” kata Simbok kemudian.
Sofyan melirik Marni sambil berbisik, “Kenapa tempenya enggak pakai kemul?”
Marni menjawab dengan suara lirih, “Besok aku masakin tempe yang berselimut. Jangan khawatir.”
Setelah kedatangan Sofyan ke desa Marni, maka sekarang giliran gadis itu bersilaturahmi ke rumah lelaki idamannya.
. “Kau bawakan aku besengek ya? masakan seperti yang aku makan saat ke desamu dulu,” pinta Sofyan kepada kekasih hatinya.
“Mas, aku masih di Solo. Tak mungkin pulang dulu hanya untuk mencarikan besengek untukmu,” jawab Marni dengan manja.
“Bisa kaubawakan untukku makanan itu, besok saat kau ke mari?”
Sejenak Marni berpikir, tak mungkin dia pulang ke Wonogiri dalam seminggu ini karena dia telah terlanjur memenuhi undangan menyanyi di sebuah perhelatan.
Dia teringat, ada sebuah tempat yang akan menggiringnya untuk menemukan makanan itu. Tempat itu adalah sebuah pasar yang terletak di lingkungan stasiun tua. Stasiun kota yang sekarang fungsinya hanya sebagai lalu lintas kereta dari desanya menuju kota yang dia diami. Selain kereta yang tidak setiap hari ada, stasiun itu juga difungsikan sebagai stasiun kereta tamasya. Kereta reguler yang beroperasi di hari Minggu saja dan melayani rute dalam kota. Kereta uap peninggalan zaman Belanda yang disulap menjadi kereta wisata..
Keesokan harinya, Marni pergi ke stasiun tua dengan mengendarai sepeda. Sengaja dia tidak bermotor. Dia akan berfoto di depan stasiun dan foto itu akan diupload-nya di facebook, supaya Sofyan yakin bahwa dia telah berusaha keras demi mendapatkan besengek, makanan baru yang menjadi kesukaan laki-laki itu.
“Aku tak menemukan seorang pedagang pun di siang hari ini. Mereka telah pulang atau berkeliling kampung. Lewat seorang tukang parkir, aku disuruh kembali tiga hari lagi. Akan aku lingkari kalenderku nanti, seperti aku memberi penanda pada saat menstruasi!” bunyi SMS itu teramat panjang hingga perlu dua kali pengiriman.
“Maaf, merepotkanmu,” kata Sofyan.
“Tak apa, demi kamu.”
Marni sudah menghitung waktu. Jika dia dari terminal menuju kota kekasihnya itu memerlukan waktu 4-5 jam, tentu makanan pesanan yang dibawa tak akan basi.
Tiga hari kemudian, tibalah dia di stasiun tua. Dia membeli beberapa makanan pesanan Sofyan, seperti yang dimaui kekasihnya itu.
“Aku juga telah siapkan hidangan lezat untukmu di sini, Mi ongklok dan tempe kemul. Kamu menginap ya?Nanti bisa tidur di kamar Emak” kata Sofyan.
Kedatangan Marni disambut dengan gembira oleh emak dan bapak. Emak yang selalu dibanggakan dalam setiap cerita Sofyan. Namun apalah daya, perempuan paruh baya itu akhirnya menemukan sebuah tato mawar di bahu gadis itu. Tak pelak, emak langsung berbisik-bisik kepada Sofyan saat anak dan inang itu sedang di dapur.
“Emak tidak suka punya mantu bertatto, Sof…”, kata Emak lirih.
“Marni sudah bercerita panjang, Emak. Tidak ada yang mesti dikhawatirkan,”
“Gambar itu bisa dihilangkan, bukan?” kata Emak lagi setelah mendengar cerita Sofyan. Emak gusar. Dia tak percaya tahayul.
Maklum saja, emak berasal dari lingkungan pesantren yang jauh dari tahayul dan klenik. Keluarga besar emak tinggal di Kalibeber, kecamatan Mojotengah. Di sana berdiri sebuah pesantren yang telah ada sejak ratusan tahun sebelumnya. Mbah Kyai Muntaha, merupakan cikal bakal pendiri pesantren As-Syarriiyaah adalah pengikut Pangeran Diponegoro.
“Tenang, Mak. Nanti kalau Marni pulang ke Solo, aku sekalian ajak dia ke tukang tato untuk menghilangkan mawar merah itu,” jawab Sofyan menenangkan biyungnya.
Seperti yang dijanjikannya kepada emak, Sofyan benar-benar membawa Marni ke tukang tato untuk menghilangkan gambar mawar merah tersebut. Dua hari menjelang pernikahan, dan dia telah menyiapkan segala uba rampe lamaran serta maskawin yang telah dia persiapkan sebulan sebelumnya.
“Aku akan pulang dulu ke Wonosobo. Dua hari lagi aku dan keluargaku akan datang ke rumahmu,” kata Sofyan kepada calon pengantinnya.
“Tidak! Mas tidak boleh balik ke desa. Mas harus tetap tinggal di sini, sampai hari pernikahan kita!” teriak Marni seperti kesetanan.
“Haiiii!! Ada apa gerangan, Marniku sayang? Kenapa kamu begitu tegang?” suara lembut Sofyan memerihkan hati Marni.
“Kamu tahu, bukan? Aku pernah kehilangan, bahkan dua kali kejadian. Maka, aku tak mau kehilangan kamu lagi, Mas!” isak tangis Marni memenuhi seisi kamar tamu orang tuanya.
“Nak Sofyan bisa tinggal di rumah Budhe,” Simbok menyela.
Perkataan halus dari seorang perempuan paruh baya itu mengisyaratkan satu keharusan yang tidak mungkin dia tolak. Sofyan mengangguk pelan, tanda setuju.
Sejurus kemudian dia ke luar rumah untuk menelepon keluarganya yang tinggal di Wonosobo. Tak sampai lima belas menit dia sudah masuk lagi dan berbicara dengan bapak. Bapak manggut-manggut.
“Iya, Bu. Saya akan tinggal di rumah Budhe sampai hari pernikahan nanti. Segala sesuatu yang telah saya persiapkan, akan dibawa oleh salah satu keluarga dua hari lagi,” kalimatnya panjang.
***
Subuh yang mempesona seperti gairah seorang perawan desa yang membawa klenthing, sejenis periuk khusus tempat air kini hanya bisa ditemui pada lukisan-lukisan yang berbicara tentang humaniora serta pohon-pohon nan hijau. Subuh yang hening tiba-tiba saja riuh oleh hiruk-pikuk suara orang-orang yang menjerit dan mengaduh kesakitan.
Setelah terdengar bunyi dentuman teramat keras, maka orang-orang yang masih terlelap ke luar rumah. Rumah Budhe kebakaran. Dan itu disebabkan oleh tabung gas elpiji 3kg yang meledak. Semua penghuni dikabarkan terluka parah. Tak terkecuali Sofyan. Marni hampir jatuh pingsan, sampai kemudian datang kabar bahwa nyawa Sofyan masih bisa diselamatkan.
Warga desa telah beralih menggunakan tabung gas dibanding kayu bakar. Tak ada reranting yang bisa dijumput dari batang-batang pohon besar. Hutan desa telah berubah menjadi bangunan beton, berganti rupa perumahan dan pabrik-pabrik.
Bergegas dia mengantar Sofyan ke rumah sakit. Dipandanginya pemuda itu dengan mata nanar.
“Kamu harus hidup, Mas! Harus hidup!” bisiknya dengan suara parau.
Sofyan yang tengah memperjuangkan rasa sakit yang teramat parah karena luka bakar itu berusaha untuk tersenyum di hadapan kekasihnya.
“Kamu ingat puisi yang aku baca saat pertemuan kita, Marni?” kata laki-laki itu terbata-bata.
“Tahu. Tahu banget, Mas. “Rick Dari Corona”, bukan?”
“Iya! Betul sekali!”.
“Maukah kau berjanji untuk membacakan lagi untukku nanti?” kata Marni setengah berbisik.
“Pasti, itu pasti, sayang. Kita akan membaca berdua. Aku telah mempersiapkannya semalam untukmu,” kata laki-laki itu sambil mengeluarkan secarik kertas dari saku celananya yang basah karena siraman air.
Rupanya dia telah kehabisan cairan. Untung mobil ambulans segera sampai di ruang UGD. Pertolongan pertama segera diberikan.
Sementara Marni membuka kertas yang diberikan oleh calon suaminya.
“……
Rick dari Corona telah di sini.
Ya. Ya.
Betsy, engkau di mana?
-Ricky, sayang, aku di sini.
Ya. Ya.
Engkau hitam.
Engkau bukan Betsy.
Engkau macan Negro dari Harlem.
Pegang pinggulku.
Rasakan betapa lunak dan penuhnya.
Namaku Betsy. Ya. Ya.
Gadisku selalu menjawab dengan sabar.
Segala pertanyaanku yang bodoh dan sangsi…..”* []
*) Kutipan puisi ‘RICK DARI CORONA’ diambil dari kumpulan puisi ‘BLUES untuk BONIE’, RENDRA, 1976,Pustaka Jaya cetakan ke-2, Jakarta.
***