Cerpen Yudhi Herwibowo
Kenapa kau, Umirra? Sepertinya kesedihanmu semakin dalam. Kerak air matamu dapat kulihat dengan jelas membelah pipimu. Kau sama sekali tak mendengar kata-kataku untuk menghiburmu? Kau hanya diam dan tak bereaksi apa-apa.
Ini benar-benar membuatku hancur. Kupikir waktu akan menyembuhkan semuanya. Bukankah kau sudah menyadarinya sejak usiamu 5 tahun? Hingga sekarang saat usiamu 17 tahun, seharusnya kau tahu kalau ini semua sudah memang yang sudah digariskan Tuhan padamu.
Umirra kesayanganku, aku sebenarnya bisa memahamimu bila kau bersedih. Sejak kau bayi, aku tahu ada sesuatu yang berbeda denganmu. Tanganmu, dua telapak tangan mungilmu, entah kenapa selau menghantarkan hawa panas yang tak semestinya. Awalnya aku berpikir ini sesuatu yang wajar. Tapi semakin kau besar, hawa panas itu semakin terasa. Telapak tanganmu pun menjadi lebih gelap dari yang seharusnya.
Amirra, mamamulah yang pertama kali merasakan keanehan itu. Namun ia hanya bisa berbisik pelanku, “Tangannya seperti ingin membakar apapun yang disentuhnya.”
Kami kemudian membawamu ke dokter. Tapi sampai beberapa dokter yang memeriksamu, tak ada satu pun yang bisa menyembuhkanmu. Mereka hanya berkata setengah menyerah, ”Mungkin ini sekadar gejala temporer, akan hilang dengan sendirinya.”
Tapi hawa panas itu tak pernah hilang. Kami sendiri awalnya, tak mengatakan apa-apa padamu. Kami merasa kau belum cukup umur untuk mengetahuinya. Tapi saat umurmu 6 tahun, aku melihat kau mulai merasa keherananan saat kupu-kupu yang ada ditanganmu, hancur sayapnya dan jatuh begitu saja menggelepar-gelepar di tanah.
Kau memandangku tak mengerti, “Papa kenapa kupu-kupu ini mati?”
Aku hanya bisa menjawab dengan kebingunganku sendiri. “Mungkin, ia mwmang sedang sakit, Sayang.”
. Aku tahu, sejak itu, kau mulai menyadari ada sesuatu yang aneh di kedua tanganmu.
Aku bisa menebak kalau hidupmu akan berbeda dari gadis-gadis kecil lainnya. Kau nyaris tak memiliki barnag-barang kesayangan. Boneka-boneka yang kubelikan selalu hancur perlahan-lahan, juga mainan-mainan lainnya.
Kau sendiri mulai terganggu dengan tanganmu. Aku menyediakan sarung tangan untukmu. Awalnya sarung tangan biasa, namun itu selalu rusak dua hari kemudian. Lalu aku pun mulai membeli sarung tangan tebal yang biasa dipakai orang-orang di daerah dingin. Setidaknya sarung tangan seperti ini bisa bertahan 1-2 minggu. Aku akan tersenyum senang melihatmu memakainya sambil bergurau, “Lihat, sarung tangan buatan luar memang jauh lebih baik…“
Selain itu, untuk mengurangi hawa panas yang berlebihan, aku juga biasa menyediakan sebaskom air es di dekatmu. Bila kau telah tak tahan dengan hawa panas yang keluar, kau akan memasukkan tanganmu ke situ. Keadaan ini akan selalu jadi bahan gurauan bagiku, terlebih bila kau memakai sarung tangan bermotif panda. “Ayoo, saatnya panda mandi….”
Awalnya kau terlihat gembira. Tawamu masih terdenar menggemaskan. Kau sering menambahinya dengan pertanyaan macam-macam. “Kenapa aku harus melakukan ini, tapi Niken dan Auri tidak?”
Dan aku selalu berhasil mencari jawaban untuk menyenangkanmu. Tapi itu tak lama, hanya setahun berselang, kau sepertinya mulai sadar, kalau kau memang berbeda dari yang lainnya.
Sejak itu kau tak bertanya-tanya lagi.
Aku bahkan melihatmu, enggan menyentuh apa-apa. Bahkan menyentuh diriku. Kau akan lebih banyak berdiam diri dikamarmu. Memandang jendela yang menghantarkan pemandangan indah di kejauhan.
Saat kau berumur 13 tahun, aku pernah mengajakmu menonton film Frozen. Film kartun ini begitu heboh, hampir semua kawan-kawan di kantorku menceritakan kalau anak-anak mereka sudah menonton dan menggilainya begitu rupa.
Seharusnya ada Amirra bersama kita. Tapi sudah sejak 5 tahun yang lalu, mamamu telah pergi meninggalkan kita. Jadi hari itu, hanya ada aku yang duduk di sebelahmu menyaksikan layar lebar di depan sana, sambil minum softdrink dan makan popcorn.
Sebelumnya aku tak terlalu tahu cerita film ini. Tapi saat film berlangsung, perasaaku tiba-tiba terasa begitu bergejolak. Dua kakak-beradik yang menjadi tokoh utama di film ini harus berpisah karena sang kakak memiliki kutukan di dua tangannya. Apa pun yang disentuhnya akan membeku menjadi es.
Aku tiba-tiba merasa salah telah mengajak dirimu menonton film ini. Tapi aku mencoba menghibur diri saat melihat akhir film yang berakhir bahagia.
Saat semua orang mulai keluar bioskop, kau tak juga beranjak. Kau membetulkan sarung tangan tebalmu sambil menunggu penonton terakhir yang keluar.
“Tangan Elsa tak jauh berbeda dengan tanganku, Papa…” ujarnya.
Aku tak langsung menjawab.
“Ya, tak jauh berbeda,“ aku mengulanginya. “Dan kau bisa lihat akhir ceritanya bukan? Semua berakhir indah pada waktunya.”
Kau hanya diam dan mulai bangkit dari kursimu. “Itu hanya film, Papa. Film harus berakhir bahagia untuk menyenangkan siapa pun yang sudah membayar tiket. Apalagi… ini hanya film untuk anak-anak…”
Sebelum kujawab kata-katamu, kau sudah melangkah ke luar. “Lagian… aku tak suka film ini, Papa. Elsa terlalu berlebihan. Seharusnya ia tak begitu. Yang dilakukan kedua tangannya hanya membekukan segala hal. Bukanah tetap ada harapan dari semua yang membeku?”
Kau memandangku sejenak, “Tapi… tidak dengan kedua tangaku. Semua seperti hancur di tanganku. Semua seperti mati. Tentu yang hancur dan yang mati, tak punya harapan apa-apa…..”
Kesedihan memang telah bersemayam di rumah kami yang kecil. Tak pernah lagi ada tawa, tak pernah ada kegembiraan. Sampai bertahun-tahun aku masih mengupayakan kegembiraan. Aku banyak menyetel film-film komedi, dan mengajkmu menonton bersama. Nanti aku akan tertawa keras-keras di scene-scene yang lucu. Tapi jau tak terlalu bereaksi. Lama-lama film pun terasa hambar. Bahkan kawan-kawan kantor yang selalu gembira di kantor, seperti mati gaya bila berada di rumah ini. Banyolan mereka lenyap, tawa mereka pun hilang.
Hampir 4 tahun lewat, aku seperti nyaris menyerah.
Kau seperti mendapatkan duniamu sendiri. Kamarmu yang selalu tertutup. Musik yang kau setel pelan-pelan. Hanya sesekali kau keluar dari kamarmu untuk ke halaman belakang rumah, untuk sekadar mencari sesuatu yang lain. Sedikit, aku bersyukur memiliki halaman belakang rumah yang luas. Halaman yang sebenarnya kurencanakan untuk kubangun saat kau semakin besar.
Dari arah jendela kamarku, aku pernah melihatmu menolong anak burung yang terjatuh dari pohon. Aku tahu, kau tentu ingin segera menolong burung itu, mengembalkan ke sarangnya. Tapi yang terjadi, hanya beberapa saat di tanganmu, burung kecil itu mati. Sayap-sayapnya seperti terbakar.
Aku sedih melihatmu begitu bersedih menatap anak burung itu. Maka aku segera keluar untuk memeluk pundakmu.
“Padahal aku hanya menyentuhnya sebentar saja,” isakmu.
“Sudahlah.”
Kau kemudian menerawang. “Tuhan biasanya menciptakan sesuatu yang bermanfaat? Aku pernah mendengar tentang kisah Kitta Kafadaru yang memiliki keajaiban di tangannya yang selalu bercahaya. Tangan itu dapat menyembuhkan penyakit-penyakit yang diderita manusia hanya dengan menyentuhnya. Tapi kenapa kedua tanganku begitu berbeda?”
Aku hanya bisa memeluknya erat-erat.
Tapi seperti biasa, kau akan melepaskannya. Kali ini dengan sinar mata yang tak bisa kutebak, seakan ada sebuah pikiran yang tiba-tiba menganggu dirimu.
“Papa, apakah mama meninggal karena aku?” tanyamu kemudian.
Aku terkejut. “Tentu saja bukan,” jawabku cepat.
“Sejak aku kecil, mama yang selau memelukku. Dan papa tahu bukan, apa yang terjadi dengan semua hal yang selalu kupeluk? Guling-guling… sarung tangan… dan boneka-boneka… semuanya perlahan-lahan hancur…”
Aku tercekat dengan apa yang dipikirkannya
“Papa… tak usah menyembunyikannya lagi.”
“Aku tentu tak menyembunyikannya. Mamamu memang pergi karena sakit…”
Dan kau tak berkata-kata lagi. Tapi aku tahu, pikirannya menjadi begitu bergejolak. Kini kau bukan lagi gadis kecil sepetrti dulu. Kau telah berusia 17 tahun, dan bisa menyimpulkan segalanya sendiri.
Selang beberapa hari dari hari itu, kutemui kau tengah mencoba memotong tanganmu dengan pisau dapur. Teriakan pendekmu, membuatku tahu, ada sesuatu di dalam kamarmu. Maka aku pun segera mendobrak pintu.
Aku berteriak sambil sambil mengikat tanganmu, agar darah tak terus keluar.
“Anak bodoh! Apa yang kau lakukan?!”
Kau tak menjawab. Kau hanya menangis. Kepalamu terkulai dipelukanku.
“Kalau kau begini, papa juga akan hancur…”
Kau terisak pendek, “Maafkan… aku… Papa…”
Aku segera menggendongmu keluar. Kududukkan dirimu dalam kursi mobil. Lalu kunyalaklan mobil secepat yang kubisa. Sambil menyetir mobil, kepanikan belum juga hilang dari diriku. “Jangan lakukan itu lagi. Berrjanjilah padaku!”
Kau tak berkata apa-apa.
Kau dapat selamat hari itu. Tapi tak bisa kupungkiri, semua menjadi semakin buruk. Ruangan kamarmu, pelan-pelan hancur. Dipan, kursi dan meja belajar, perlahan seperti lapuk dan patah, dinding menghitam seakan ada bara api yang terus menyala, dan 2 AC yang ada di kamarmu kembali tak bisa lagi mengeluarkan hawa dingin.
Kecemasanku memuncak. Hari saat kau akan memotong tangamu adalah hari yang paling menakutkan bagiku. Sejak itu aku mengambil kunci kamarmu dan tidur di ruang tengah, agar sewaktu-waktu dapat tahu apa yang terjadi di kamarmu.
Aku terus mencoba tak menyerah. Aku tak ingin kalah. Tapi kesedihan ini benar-benar telah meruntuhkan sebuah bentuk kegembiraan yang tersisa.
“Papa… semua semakin mengerikan,” ujarmu yang terbaring.
Aku diam. Mencoba memegang tanganmu yang memakai sarung tangan tebal. Tapi kau menepisnya perlahan.
“Apa papa pernah membayangkan, apa yang kurasa di tubuhku?”
Aku terdiam. Itu pertanyaan yang dulu kerap kutanyakan padamu. Dan kau selalu menjawab, “Tak ada apa-apa di tubuhku.” Kini, kau malah balik menanyakannya padaku.
“Apakah kau juga merasakan rasa sakit?” tanyaku.
Kali ini kau mengangguk. Sungguh, aku ingin menangis melihat anggukanmu.
“Semua tak akan menjadi baik, Papa…”
“Selalu akan ada jalan, Sayang…”
“Sampai kapan Papa? Sampai semua hancur? Termasuk… papa?”
Aku tak bisa berkata apa-apa. Ingin sebenarnya kukatakan, tak mengapa semua hancur temasuk diriku, asal kau dapat sembuh dari sakitmu. Tapi kupikir jawaban itu tak tepat kulontarkan kali ini.
Malam ini, malam seperti bergerak lebih pelan. Kesunyian seperti ada di titik paling sempurna. Sesempurna penderitaan yang bisa diberikan Tuhan.
Aku hanya berharap semua bergerak seperti biasa. Tapi esok paginya, aku menemukan kau masih terlelap di pembaringanmu. Matamu terpejam dengan senyuman yang membuatku senang.
“Sayang…” aku menyentuhnya.
Tapi tak ada jawaban. Hanya selimut yang kusentuh tadi, tiba-tiba terjatuh di lantai, seiring dua sarung tangan yang biasa kau pakai.
Aku tercekat. Tubuhku gemetar saat melihat kedua tanganmu ada di dadamu.
Aku terpuruk dalam tangisanku.
***
B I O D A T A
Yudhi Herwibowo. Menulis beberapa novel, salah satunya Halaman Terakhir, sebuah novel tentang Jenderal Polisi Hoegeng (Nourabooks).
CONTACT
Alamat : vila bukit cemara no. 1 Mojosongo, SOLO 57127
No HP : 081 2264 0769
Rekening : an. Yudhi Herwibowo CIMB NIAGA cab. SUTAMI No. 975-01-00313-18-3