DOWNLOAD
Oleh : Abednego Afriadi
Ketika hujan jatuh diri dari singgasananya, ketika bulan enggan memendarkan cahaya, dan ketika bumi bergeliat kegerahan itulah, nyanyian dari mulut beribu-ribu perempuan bersiul syahdu.
Ketika orang-orang alpa, ketika nyawa tak lagi suci, ketika bunga hutang tak lagi memaksa orang berhitung, ketika semua mata meronta-ronta, ketika syahwat berkobar menyalak liar, ketika tubuh-tubuh bergetar sakau itulah, beberapa pasang manusia bersayap meniupkan gelembung embun kata-kata. Lantas, ribuan cahaya akan menghampirinya.
Gadis itu berdiri menatapku. Telunjukjarinya memendarkan cahaya. Belum genap tujuhbelas tahun umurnya. Tak ada sepundakku tingginya. Lingkar matanya menghitam. Panjang rambutnya dibiarkan tergerai tapi berantakan. Mengapa gadis seusianya keluar malam-malam begini? Apalagi cuaca tahun ini datang selaksa pencuri.
“Oom?” Ia bertanya dengan nada ketus. Suaranya kecil, tapi lafalnya tajam. Kemudian ditunjukkannya telunjuk tangan kanannya kepadaku.
“Mau cahaya?”
“Untukapa?”
“Dunia butuh keajaiban,” jawabnya.
“Berapa kaujual cahaya itu?”
“Aku tak ingin dibayar dengan uang, Oom.”
“Sudah makan?”
“Saya tidak lapar, Oom. Sejak lahir aku tak pernah merasakan lapar, tak pernah merasakan apapun. Termasuk dingin dan panas.”
“Siapa ibumu?”
“Perjalanan.”
“Jangan bercanda, siapa ayahmu?”
“Zaman. Zaman yang membesarkanku, dan memberiku setitik cahaya di telunjuk tanganku ini.”
“Apa kamu gadis mesias?” Dia menggeleng.
“Siapa namamu?”
“Aku tak punya nama.”
“Lalu aku harus memanggilmu siapa?”
Dia hanya tersenyum tanpa merasa bersalah dengan sikapnya kepadaku. Tak selayaknya dia seperti itu di hadapan pria seusia pamannya. Aku memaksa diri untuk acuh padanya dan melanjutkan perjalanan menuju stasiun kota. Lima belasmenit lagi kereta tiba. Tapi dia membuntutiku, bahkan setengah berlari ketika langkah ini aku percepat. Sampai sendalnya rusak, sampai ia membuang sandal itu, dan bertelanjang kaki, aku menghentikan langkah sebelum memasuki peron karena tiket sudah aku beli jauh hari sebelumnya.
Kereta datang terlambat. Kata petugas seraya memeriksa tiket, mengalami kerusakan di stasiun sebelumnya dan diperkirakan akan tiba satu jam lagi. Aku kewarung kopi, memesan kopi hitam dengan sedikit gula. Menghisap sebatang rokok. Tak lama kemudian gadis itu menghampiriku dengan kaki telanjang.
“Kamu tak kedinginan?”
“Aku tak bisa merasakan dingin, panas, asin, asam, pahit, manis. Aku tak tahu itu. Ada yang bilang, api itu panas, tapi bagiku tidak. Ada pula yang bilang, es itu dingin, aku tak merasakan apapun ketika menggenggamnya.”
“Kamu mau kopi? Susu?” Dia menggeleng.
“Mengapa kau membuntutiku terus?”
“Oom, perlu cahaya.”
“Cahaya apa?”
“Seluruh dunia sedang membutuhkan cahaya.”
“Kan masih ada cahaya lampu, matahari, lampu rumah, motor.”
“Seluruh dunia akan menjadi gelap. Tak lama lagi.”
“Kamu meramal bencana, Nak?”
Dia menggeleng.
“Oom, maukan aku beri cahaya? Kali ini tidak usah dibayar.”
“Bagaimana caranya?”
Gadis itu meraih tangan kananku. Diciumnya tanganku berulang-ulang. Tangan kirinya menopang tanganku, sedang tangan kanannya mengusapnya perlahan. Dan cahayaitumuncul di tanganku.
“Mengapa kau memberikan cahaya ini untukku? Bukankah engkau sendiri membutuhkannya suatu saat ketika dunia dalam masa kegelapan?”
“Saat dunia gelap, saya sudah tidak di dunia ini.”
“Lalu?”
“Lalu aku pergi ke tempat asalku?”
“Di mana?”
Ia hanya tersenyum lalu pergi meninggalkanku.
Dan kereta pun tiba. Kali ini dengan dua lokomotif. Sepertinya satu lokomotif di belakangnya mengalami kerusakan. Aku menuju pintu gerbong begitu kereta berhenti. Tepat sekali dugaanku, tersisa satu kursi untukku. Seluruh penumpang masih terlelap. Mungkin letih menunggu kereta berangkat sejak mengalami kemacetan.
Putaran roda baja yang menggilas rel kian berderu. Dari balik jendela cahaya-cahaya lampu berseliweran, lalu menjauh-menjauh-menjauh. Hanya gelap yang diterobos oleh lampu loko yang berpendar terang. Ketika moncong lokomotif hendak membelah jembatan, tiba-tiba kereta berhenti. Lampu-lampu mati seketika. Orang-orang berteriak.
Aku berusaha tenang, lalu menyalakan layar telepon genggam. Beberapa anak terdengar menangis ketakutan. Ibu-ibu berusaha menidurkan dengan nyanyian nina bobo. Sedangkan beberapa lelaki menggumamkan cacimaki. Aku tengok dari jendela gerbong, gugusan bintang nampak abyor. Tak lama kemudian putih pekat mendung serupa gerbang yang sombong menutup langit yang bercacah cahaya.
Hujan pun turun tergesa. Semua menutup jendela meski kian pengap saja udara. Mereka lebih khawatir terciprat tempias air. Listrik batre layar hand phoneku habis. Aku buka telunjuk tangan kananku. Keluar cahaya. Berpendar terang. Semakin terang. Terang. Terang. Terang. Beberapa menutup matanya lantaran silau. Namun, tak lama kemudian orang-orang merebut tanganku. Ada yang membuka seluruh uang di dompet hanya untuk cahaya di jemariku. Ada pula yang menodongkan pistol. Tapi belum sempat menarik pelatuknya, seorang pemuda mengibaskan sebilah celurit ke telapak tangan kananku. Arrrggg…Ia berlari seraya membawa tanganku. Membawa cahaya.
Tak lama serombongan anak-anak berjubah putih berjalan menuju ke kereta yang terhenti. Telunjuk mereka memendarkan cahaya, dan memberikannya kepada penumpang satu persatu. Entahlah dari mana mereka berasal?
“Pada masanya, dunia menjadi gelap, pada masa itulah orang-orang berebut cahaya. Padahal cahaya itu tak kan menyala abadi jika diperbutkan,” kata salah seorang gadis yang mirip dengan gadis yang bertemu denganku sebelum kereta ini berangkat. “Aku mati karena cahayaku direnggut, dan aku lahir kembali untuk membagikan cahaya ini kepada kalian.”
Tangan kananku diberinya setitik cahaya. Dan tak kurasakan lagi rasa sakit itu. Meski tangan kananku sekarang tanpa telapak, dan jemari.
Sukoharjo, Februari 2012