Cerpen – Ketika Harapan Bukan Seperti Mimpi

Yesita Dewi

 

Jam dinding telah menunjukkan pukul 11.00, tapi Silah belum juga beranjak dari pembaringan. Semalam telah banyak rupiah yang telah dia dapat dari kantong-kantong lelaki hidung ‘lorek’ yang menikmati tubuh mulusnya. Ya, Marsilah nama lengkapnya. Asalnya dari desa Watuadas yang sangat kerontang karena terlalu banyak bukit kapur. Sekolah cukup sampai kelas 6 SD, toh sekolah tinggi-tinggi orangtuanya hanya buruh angkut batu kapur yang sangat minim upahnya. Jangan kan untuk biaya sekolah, buat makan sehari-hari saja masih mengandalkan utang warung Mbok Minten. Kakak-kakaknya yang perempuan sudah laku kawin. Kakaknya yang laki-laki, satu-satunya lelaki kakak yang ia punyai, tidak tahu kemana rimbanya. Kabar terakhir Sapto, kakaknya itu, tertangkap orang pasar ketika sedang mencopet seorang pembeli di toko emas. Karena malu, orangtua Silah tidak mau mengunjungi atau bahkan mencari tahu dimana Sapto ditahan. Marsilah atau silah adalah bungsu, dan satu-satunya yang pernah bersekolah paling tinggi di keluarga itu, yaitu kelas 6 SD.

 

Hikayat Silah bisa sampai dikamar kos-nya yang sempit ini tidak lain karena ‘jasa’ Wakidi, anak tetangganya yang menjanjikan dia pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga. Tapi apa mau dikata, belum juga terwujud janji calo pekerja itu buat Silah, Wakidi telah dengan rakusnya merampas keperawanan Silah di losmen murah dekat terminal. Silah hanya bisa menangis. Meratapi. Menyesali. Tanpa sempat meminta pertanggung jawaban Wakidi yang juga telah beristri itu, datanglah seorang perempuan berbadan kekar, bersuara keibuan. Dilihat dari apa yang dikenakan perempuan itu, Silah tahu orang ini sangat kaya. Oh, mungkin ini calon majikanku, begitu pikir Silah. Dengan tanpa melawan Silah ikut dengan sukarela ke rumah perempuan itu, yang meminta dipanggil ‘Mami’.  Perempuan yang dipanggil ‘mami’ itulah yang memaksanya menjadi seperti ini.

Rasa nyeri di perut tiba-tiba membuyarkan lamunan Silah. Sudah satu minggu perutnya terasa sakit dan nyeri.. padahal tidak sedang datang bulan. Dan padahal lagi, datang bulan adalah saat yang paling Silah tunggu untuk menghindar dari melayani tamu.

Dog!dog!dog! suara ketukan yang lebih tepat gedoran pintu kamar membuat Silah terkaget-kaget. Masak tamu kok kasar temen.. bathin Silah. Perlahan pintu dibuka dan sekonyong-konyong tubuh Silah seakan terbang dan tiba-tiba sudah ada dilantai terkapar dengan sukses!

“ Maaf..!! Maaf..!!,” kata laki-laki itu memohon maaf. Silah mendengus kesal,

” Siapa kamu..?” tanyanya dengan judes.  Silah mengamati sosok laki-laki yang berada di depan pintu kamarnya, hm.. cukup atletis. Cambang yang mulai tumbuh menghiasi wajahnya yang kecoklatan. Jaket kulit hitam, celana jeans hitam.. tapi rambutnya yang bergelombang sangat berantakan dan banyak peluh di dahinya. Nafasnya tidak teratur. Silah sedikit gentar, tapi ini kamarnya dan dia punya hak untuk mempertahankan barangnya kalau memang dia garong.

“ Tolong aku..! dik.. tolong aku..,” kata laki-laki itu terlihat panic.

“ Kamu siapa..? dan kenapa minta tolong aku..? bukannya kamu tahu ini tempat apa..?,” jawab Silah. “ Ooo.. kamu ingin aku menolongmu dari impotent..?? atau.. ingin puas tapi gratis..?? hm..maaf ya, mas, bukan sini tempatnya.. sana tuh di bawah jembatan!,” kata Silah ketus.

“ Cipto.. namaku Cipto..maaf..aku benar-benar minta tolong..tutup pintunya..!,” pinta laki-laki yang mengaku bernama Cipto.

Silah pun beranjak menutup pintu bilik yang sudah pating kriyet. Dan Silah menjadi tahu. Cipto, laki-laki itu adalah buronan polisi yang sedang beraksi merampok toko emas di pasar. Cipto memang tidak membawa barang banyak kecuali tubuhnya yang berkeringat mendekati basah. Silah bimbang. Ada kesungguhan dalam mata Cipto bahwa ia memang benar membutuhkan pertolongan.

“ Kamu.. tidak berniat merampok aku juga kan..?,” tanya Silah ragu. Tepatnya takut.

“ Kamu tidak usah takut, aku tidak akan merampok kamu Silah.. kita kan sama-sama cari makan, sama-sama orang kecil, masak saling menyusahkan..nggak usah takut..,” papar Cipto. Entah mengapa Silah merasa tenang dan percaya. Cipto bercerita bahwa dia rampok, bukan jambret. Apa bedanya ? kata Cipto beda ! kalo jambret korbannya siapa saja, tapi kalo rampok orang-orang tertentu, khususnya kelompok Cipto. Mereka mengkhususkan pada toko emas dan rumah-rumah mewah. Kata Cipto, harta mereka itu ada pula bagian untuk harta orang miskin. Masak begitu ? Silah semakin tidak mengerti cerita Cipto. Yang Silah tahu.. Cipto baik. Tidak pernah berbuat kasar padanya.

 

####

 

Sudah satu minggu Cipto tinggal di bilik Silah. Silah resah karena ‘mami’nya selalu menyindir, kalo punya pacar nggak punya duit dan titip tidur melulu kapan bisa kaya..begitu katanya. Dan ini Silah bicarakan dengan Cipto.

“ maaf.. kamu jadi susah karena aku. Ini.. aku ada sedikit uang, ambilah.. anggap saja sewa kamar. Dan kalau kamu mau terima tamu silakan, kamu bilang saja nanti aku akan keluar ke belakang.. tidak apa-apa..sudah..sana..uangnya kamu setorkan mucikarimu.. masih sisa kan..?,” kata Cipto sambil memberikan segepok uang lusuh.

Silah tahu, itu hasil karyanya mengambil barang-barang orang kaya. Sejak Silah rajin menyetor uang pada si mami, tidak ada lagi suara-suara menyebalkan dari bibir tebal si mami. Tanpa terasa Silah dan Cipto sering bertukar cerita tentang keadaan mereka masing-masing. Tanpa mereka sadari tumbuh getar halus diantara mereka. Karena keseharian mereka, semua itu menjadi subur untuk tumbuh. Terkadang Cipto sering mengingatkan Silah untuk menggunakan kondom.

“ Buat apa..? banyak tamu yang tidak mau pake kondom..,” Silah berkilah.

“ Bilang saja kamu tidak mau ‘main’ kalo nggak pake kondom..semua itu baik buat kamu Silah.. kamu bisa terhindar dari penyakit kelamin.. oiya..kamu sering disuntik nggak sama Bu Bidan..?,” tanya Cipto. Silah menggeleng.

“ Aku takut disuntik.. sakit! Dan aku kan tidak sakit.. kenapa mesti ke Bu Bidan..?,” tanya Silah bingung. Perlu waktu lama Cipto menjelaskan segala macam hal pada Silah. Dan sepertinya itu memang keterbatasannya. Terbatas mencerna segala sesuatu. terbatas dalam mencerna, tapi luas dalam hal menerima. Apa saja.

Entah mengapa Cipto merasa nyaman berada di sisi Silah. Meski mereka satu kamar, sekalipun tidak ada kegiatan melepas hasrat diantara mereka berdua. Mungkin mereka ingin, tapi tak tahu kapan. Mereka saling menjaga. Hubungan yang mungkin janggal bagi seorang normal. Tapi tidak bagi mereka. Apa salahnya seorang perampok mencintai seorang pelacur?  Cinta adalah cinta, bukan kasta. Berapapun rentang waktu dan usia membedakan, cinta adalah cinta. Tidak perlu membantah.

 

####

 

Pagi itu Silah mendapat giliran pergi ke pasar. Semua anak buah ‘mami’ memang mendapat giliran pergi ke pasar. Perkara masak dan tetek bengeknya adalah urusan ‘mami’. Ketika sedang asik memilih cabe merah tampar, telinga Silah tiba-tiba terfokus pada obrolan pedagang buah dan penjual cabe dengan saling berteriak karena terpisah barang dagangan yang meluber ke lorong pasar.

“ Mii..!! kamu tau to.. toko Mas-nya Koh Acil..? ternyata yang mbedah itu si Cipto sama gerombolannya itu..!!,” teriak penjual buah.

“ Ooo.. iyo to..? terus piye..? sudah ketangkep semua..?? tapi.. bukannya mereka juga yang sudah menyatroni rumah Direktur Bank Kemplu depan pasar..?,” kata penjual cabe merah tamper.

“ Waahh.. kalo perkara mana saja yang sudah digarong, ya banyak ! mereka itu sudah jadi inceran pulisi lama’o..eh.. ning denger-denger keempat garong itu sudah ketangkep.. tapi kurang si Cipto itu..!!! buronan dia.. mana ada hadiahnya lagi buat yang bisa nangkep Cipto..,” cerocos pedagang buah.

“ Ah ! hadiah opo..??,” jawab penjual cabe sambil mencibir.

“ Lhoo.. ituu.. waa.. kamu ini nontonnya senetron terus, kalo nggak ya inpotenmen.. nonton itu ya.. Buserr.. Patroliii.. Briking nyuuss..,” celoteh pedagang buah.

“ Briking nyus..??? opo meneh kuwiii.???,” jawab penjual cabe merah tampar sedikit bingung.

“ As..embuhh Mii..mii..!!  tak rujak sisan kowee..!!!,” kata pedagang buah geregetan. Silah sudah tidak mendengar lagi apa yang menjadi pembicaraan mereka. Ada imbalan sejumlah uang bagi yang bisa menyerahkan Cipto pada polisi. Silah berkunang-kunang. Uang itu sangat banyak. Bisa buat beli sawah dan kerbau. Tapi, kenapa harus Cipto ? tiba-tiba Silah menyadari perasaan terdalamnya. Ada getar tak tenang muncul. Silah bergegas meninggalkan pasar dengan gundah. Ada rasa takut kehilangan Cipto.

 

 

Siang adalah saat santai bagi seluruh penghuni barak. Kemeriahan adalah malam. Malam ada uang. Siang itu, Silah menghabiskan waktu berdua dengan Cipto di kamar. Kedekatan mereka semakin terasa. Dan..

“ Silah.. kamu mau ikut aku..?,” tanya Cipto,

“ Aku..? kemana..??,” tanya Silah tidak mengerti. Cipto terlihat sungguh-sungguh.

“ Ikut aku pulang ke desaku..,” jawab Cipto sambil memandang wajah Silah yang sebenarnya sangat manis, tapi sangat lugu.

“ Ke desa mu Kang..? kenapa tidak ke desa ku saja..??,” kata Silah.

“ Yah.. terserah kamu.. yang penting kita bisa bareng-bareng terus dan tinggal di sebuah rumah.. bukan di kamar ini..,” kata Cipto. Silah memandang mata hitam milik lelaki yang menjadi buronan polisi ini. Tajam. Dan cambang itu.. sangat laki-laki. Mungkin akan kuat kalau bekerja di sawah.

“ Berarrtii….? ” suara Silah tercekat.

“ Yaa.. kita akan menikah di desa! Aku sudah memutuskan untuk tidak ngrampok lagi..!! kamu sudah membuat aku berpikir lebih sehat.. aku.. ternyata aku..,” belum sempat kalimat itu utuh, Silah sudah menghambur dalam pelukan Cipto.

“ Apapun !.. apapun Kang.. aku mau kamu ajak pergi keluar dari sini..!! aku ingin pulang.., ke desamu.. atau ke desaku.. sama saja.. kita akan selalu berdua.. iya kan Kang..?.. Kang..??,” Silah lepaskan pelukan pada tubuh Cipto karena ia merasa ada sesuatu yang sedang terjadi.

Dan memang benar ! Cipto tidak akan sempat menjawab curahan hati Silah.. mata hitam itu kembali panic, Cipto membeku.., nanar.

” Kang…!! Kang Cipto..menyerah saja kang.. aku rela nunggu kamu keluar dari penjara..Kang! aku rela setiap hari datang mengunjungimu di penjara Kang.. Kang!!! Kang Cipto..!! demi impian kita Kang..keluarlah.. !!,” ratap Silah.

Di luar terlihat banyak orang telah berkerumun didepan rumah ‘Mami’. Suara peringatan dari Polisi bergema berulang-ulang. Cipto memeluk dengan sangaatt.. erat, pada Silah ! setelah itu Cipto menghambur keluar, tapi bukan pintu depan.. melainkan jendela dapur.. Cipto kabur!

Silah tersedu tak percaya. Silah merasa ia akan kehilangan Cipto. Kehilangan mimpi. Dan..

Dorr!! Dorr!!.. suara letusan itu mengagetkan lamunan sedih Silah. Tanpa pikir panjang Silah keluar menyusul menyusuri jalan keluar Cipto. Dia melihat kerumunan orang di pinggir pasar.. Silah takut ! dan benar.. ia melihat apa yang pernah dibayangkan dalam mimpinya. Cipto terkapar bersimbah darah. Dua peluru menembus dada dan perutnya.. Silah meratap pilu. Perlahan Silah rengkuh tubuh yang sangat diinginkannya itu.

“ Si..lahh..,” suara Cipto sangat menderita.

“ Kenapa..?? kenapa tidak menyerah saja.. kenapa ?? seharusnya aku memeluk kamu ketika kamu tidurr.. bukan karena kamu matiii.. Kaannggg..!!!,” ratap Silah sangat pedih. Ia angkat kepala Cipto di pangkuannya. Mata tajam itu sedikit meredup. Cambang itu sudah penuh dengan Lumpur dan darah.

“ S..si..lah.. mma..maafkan..aku..pu..pulanglah ke..desa.. a..aku..,” suara Cipto makin terputus putus.

“ Ya.. iya.. iya kang.. aku akan pulang ke desa.. kita bertemu disana kan..?? iya kan Kang..?? iya kaaann.. Kaangg..Kaangg.Ciptoo.. Kaaannnggg..,” Silah berteriak setelah sadar Cipto tak lagi bisa mendengar. Tak bisa lagi melihat. Tak bisa lagi menasehati tentang kondom. Tak bisa lagi berada disisi Silah. Silah hanya tahu tubuhnya ditarik oleh beberapa petugas untuk menjauh dari jasad Cipto. Silah meronta. Rontaan sebuah mimpi yang takkan teraih. Rontaan hati yang tak tertemani. Rontaan Luka yang tak terobati. Silah..Hidup memang sakit. Hidup memang perih.. pedih..

Saung Solo, 2005

 

( Antologi Cerpen “ Purnama di Trowulan”, terbit November tahun 2010)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Profil Singkat Penulis

 

 

N a m a       : Yessita Dewi

 

Lahir         : Magelang, 28 April 1974

 

Alamat        : Jetis Permai Gang VI / 10, RT 04/ X

Gentan, Pajang, Solo

 

Aktifitas     : Menulis naskah skenario sinetron anak

 

Lembaga       : Bengkel Sastra Pamulang – Tangerang,Banten

 

Pengalaman    : Menulis naskah sandiwara radio, dubber, penyiar radio

 

Tentang saya  : Pernah membuat komik untuk teman ketika SD dan SMP, menulis adalah impian terpendam. Beberapa cerpen ditolak media ^_^,

Leave a Comment