Oleh : Henry S. Batubara
Belum-belum Mama sudah menjejaliku dengan puluhan, bahkan lusinan nasihat yang membuatku jadi pusing tujuh keliling.
”Pacaran itu harus ingat norma-norma. Rambu-rambu! Jangan asal terobos. Bisa mati kau nanti!”
Entah apa yang membuat bawel Mama kumat sore itu. Padahal aku bukannya pulang telat. Malah lebih awal, karena biasanya aku tiba di rumah sehabis bimbel jam 19. Sementara sekarang, jarum jam masih di posisi enam saat si Mbok bukain gerbang!
Pada kesempatan lain, Mama yang dipanggil Nyonya Pranajaya itu pernah bilang begini: “Pacaran itu harus sehat, Nak,” suaranya lebih lembut. ”No, maksud Mama bukan sehat dulu baru bisa pacaran,” kata Mama sambil menggelengkan kepala. Padahal aku juga paham kok maksudnya. Masa seumuranku yang sudah SMA ini gak konek sih dengan kalimat ‘sederhana’ itu?
Kadang-kadang kalau gokilku lagi angot, aku akan menimpali Mama yang overreaktif itu. Tapi kali ini aku apatis saja. Soalnya pernah aku nanggepin, Mama malah makin betah nyablak berjam-jam. Kalau disuruh milih sih mendingan aku di-setrap dalam kamar deh seharian ketimbang dengerin nyanyian Mama yang makin fals itu.
Di atas aku sebutkan lusinan ya? Kok yang aku sampaikan cuma dua? Mungkin kamu bertanya-tanya. Memang masih banyak sih, tapi itulah yang paling aku ingat saat ini. Karena itulah yang paling unik plus nyebelin.
Nyokapmu cerewet juga nggak? Kalau kamu pada menggeleng, aku iri. Bisa aku bayangkan, hidupmu pasti aman sentosa. Rumahmu penuh kedamaian. Sementara rumahku? Huh, Mama tiap hari mencekoki dengan petuah-petuah tak bertuah itu.
Sekarang kau pasti bertanya, apa latar belakang Mama bersikap over protektif seperti itu? Jujur, aku juga bingung. Nggak tahu. Apa teman-temannya searisan di Dharma Wanita itu sering mengeluh soal anak-anaknya yang, misalnya pulang kencan hingga subuh-subuh?
Lalu, apakah aku sudah punya pacar? Ah, kamu kok tembak langsung gitu sih? Aku jadi tersipu, lho. Wajahku yang berlesung pipi ini jadi merona merah dadu.
Arya namanya! Ganteng pasti. Pilihan Kania, aku menunjuk-nunjuk dadaku. Kami baru jadian seminggu kemarin, setelah sebulan dia pedekate. Lama kan prosesnya? Ssst, rahasia ya, padahal begitu panah asmara dia bidikkan ke jantung hatiku, dalam hati aku sudah mau, lho. Siapa sih yang menolak pebasket idola cewek-cewek sekolahku itu? Tahu nggak, masih di kamar ganti saja, para penonton–yang cewek pasti- sudah pada histeris meneriakkan namanya. Berisik sekali. Belum lagi saat mendribel bola, apalagi saat berhasil memasukkan bola ke keranjang. Wuih, kerennya! Itu juga yang jadi motivasiku masuk anggota cheerleader. Biar selalu ada momen buat ketemuan. Walau kata Niken keringatnya agak menyengat—sialan—bagiku wanginya lelaki banget. Seperti bau parfum beraroma rempah-rempah. Jantan.
Jadi, untunglah dia tetap sabar menunggu hingga limit waktu yang kuberikan. Padahal sainganku banyak juga lho. Ada Mira si ketua OSIS, Nurul si ketua rohis, bahkan Nadia si anak pejabat itu. Boleh dong aku sekarang menepuk dada. Akulah sang pemenang itu. I’m the winner.
Jadi kami baru resmi satu minggu ini. Tapi kenapa Mama seperti sudah tahu sih? Kalau tahu, dari siapa? Tentu bukan aku! Bukan tipeku suka curhat soal ‘tambatan hati’ ke nyokap. Kalau curhat soal duit ya sering. Dari temanku? Nggak ada tipe ember di kelasku, apalagi Niken sohibku itu. Jauh panggang dari api deh.
Naluri seorang ibu? Mungkin. Ah, kita anggap saja itu jawabannya ya. Agar kita tidak saling curiga. Hehehe.
Nah, setelah pacaran dengan Arya, bagaimanakah dia memerlakukan aku? Mungkin karena baru seminggu, aku belum bisa bikin penilaian ya. Bisa jadi Arya masih ‘sungkan’. Sejujurnya, aku ingin Arya mencontoh gaya pacaran Bimo dengan Niken. Mesraaa banget.
Niken itu teman sebangkuku. Eh, lebih tepatnya teman semeja ya. Kan kami duduknya di kursi. Jadi meja kami yang satu. Dia sudah setahun berhubungan dengan Bimo. Sejak awal masuk SMA. Awet ya. Mereka selalu terlihat bersama tiap ada acara. Selalu bergandengan tangan, kadang-kadang berangkulan mesra. Dan Niken, nyaris saban Senin selalu cerita tentang malam Minggu yang dilewatkannya bersama kekasihnya itu. Sehingga lama-lama aku mengkhayalkan, kapaaan ya aku punya pacar?!
Akhir-akhir ini, detak jantungku bagai dipacu jika mendengar cerita Niken. Seru aku pikir. Mengasyikkan, sekaligus mendebarkan. Bagaimana tidak? Mereka sudah biasa pulang kencan hingga lewat tengah malam, ternyata. Bahkan pernah hingga jam dua subuh!
“Emang kalian dari mana?” tanyaku penasaran. ”Bokap-nyokap nggak marah?”
Niken cekikikan. Menggeleng. ”Kebetulan mereka lagi di luar kota. Sepupuku merid di Medan. Tapi sebetulnya nyokap sih nggak terlalu strick soal gituan. Gue dan mbak Sita sih dikasih kebebasan, Kan.” Dia memang memanggilku dengan ‘Kan’. Sementara dia kupanggil ‘Ken’. Kan-Ken. Kompak kan?.
Aku nggak tahu mau berkata apa. Orangtua Niken mungkin menganut pola hidup ala Barat sana. Penuh kebebasan. Tapi, bagaimana jika bebas sebebas-bebasnya? Kebablasan? Ih, aku jadi merinding.
* * *
Kini, hampir satu bulan lamanya kami berpacaran. Ada yang lebih seru! Bukan, bukan tentang Niken dan Bimo. Ini tentang Mama. Ya, kembali ke nyokapku yang bawel itu.
Arya sudah aku kenalkan ke bokap-nyokap, persis setelah sepuluh hari kami jadian. Kebetulan hari itu ultah pernikahan mereka. Kami makan di luar. Arya tentu dong aku bawa. Masa kalah sama… Astaga! Dina, adikku yang baru kelas 3 SMP itu, ternyata udah punya pacar juga! Rio namanya. Langsung aku bersyukur karena sudah punya Arya. Kalau tidak, bisa-bisa tubuhku menciut mendengar nada-nada minor nan sumbang dari adikku yang berlidah tajam itu.
Papa sih positif aja responnya. Malah klop, karena Papa juga suka basket. Jadilah mereka bicara tentang Malone, Magic Johnson, Bryan Linch yang menikah dengan petenis Belgia Kim Clijsters, hingga para pebasket top sekarang. Mama? Dia hanya curi-curi pandang melirik Arya dan Rio berganti-ganti. Ada apa denganmu, Ma? Hihihi..
Sejak dikenalkan, berkuntum-kuntum bunga nasihat disetor ke kami. Tapi porsiku selalu lebih banyak dibanding Dina. Entah kenapa! Coba kalau yang disetor bunga deposito, kan asyik!
“Seperti yang selalu Mama sampaikan, berpacaranlah secara sehat. Mama-Papa tidak melarangmu kan jalan dengan Arya? Silakan. Tapi tetaplah bersandar pada rambu-rambu yang kami keluarkan. Patuhi. Ingat, banyak kejadian, demi alasan setia kawan anak teman Mama minum miras hingga mabuk-mabukan! Ada yang saking cinta mati, rela menyerahkan kesuciannya!” tandas Mama lalu menarik napas sebentar. “ Kania, jangan sampai ini terjadi padamu, ya?!” jerit mama setengah histeris.
Aku terpelongo. Mama kumat lagi ih.
”Kau kami fokuskan sekarang, karena jika kau ‘lulus’ di ujian ini, beban kami lebih ringan untuk mendidik Dina. Setidaknya kau jadi panutannya. Jika yang baik yang kau tunjukkan, pasti itu yang dia tiru.”
Sewot banget aku mendengarnya. Apa-apaan Mama, cerita miras dan keperawanan segala. Tentu saja aku akan menjaganya sehati-hati mungkin, Ma. (Tapi, dengan catatan kali ya…nggak ah, becanda)
Itu janjiku. Tapi realitanya?
Arya, benar-benar atlet yang sportif. Tidak egois. Sangat care. Tapi, dia kok dingin-dingin saja ya. Dia jarang menunjukkan kemesraannya padaku di depan teman-teman. Jangankan di luar, di dalam kelas saja baru sekali, itu juga karena aku yang minta. Habis, Niken manas-manasin sih. Masa dia bilang Arya itu belum sah jadi milikku jika dia belum ngeliat Arya mengecupku?! Edan sih aku pikir.
Problemnya, aku juga pengen. Sudah tiga minggu, kok Arya belum pernah nge-kiss aku? Pipi saja juga belum pernah bahkan!
Akhirnya Arya mengecup pipiku dengan malu-malu. Cuma sekejap! Hanya sekilas bibirnya menyentuh pipiku. Tapi itu sudah membuat parasnya merah semerah-merahnya. Ah, aku jadi menyesal menuruti permintaan nakal Niken itu. Karena rasanya biasa-biasa saja ternyata. Kasihan Arya-ku itu.
Malam minggu keempat, kami makan di luar. Ini, aku juga yang mengusulkan. Seperti biasa, dia agak berat menyanggupi. Aku nyaris marah. “Masa di rumah mulu?” protesku.
“Aku yang nraktir deh, kagak usah takut,” kataku, tapi ini dalam hati lho karena untuk urusan duit Arya bukan tipe yang hitung-hitungan.
Habis makan di foodcourt sebuah mal yang terbilang dekat rumah, aku mengusulkan untuk nonton. Oya, kami juga belum pernah nonton bareng. Padahal banyak film bagus sudah beredar. Dari kelas Oscar hingga yang non festival. Terlebih, kami satu selera untuk kriteria film yang masuk daftar wajib ditonton.
Tapi,”Udah kemalaman, Nia,” katanya sambil melirik jam tangannya.
“Baru juga pukul sembilan,” keluhku, ”kelar paling jam setengah dua belas. Belum lewat midnight!”
“Kita tadi pamit hanya untuk makan, kan?” Arya menatapku lekat-lekat.
Aku tertunduk. Arya benar. Sedetik kemudian aku mendongak. ”Kan bisa kita telpon, bilang ada film bagus yang sayang untuk dilewatkan. Pasti diijinin.” Sayup-sayup terdengar suara Maria Oentoe memanggil penonton untuk masuk. Aku makin geregetan.
Tapi Arya bergeming. Kami pun akhirnya pulang. Aku diam sepanjang jalan. Jam 22, kami sudah di rumah. Mama senang sekali menyambut di pintu. Setengah jam kemudian Arya pamit. Aku tidak dikecupnya! Hanya tanganku yang sempat dia genggam. Meski ada kehangatan, aku sudah terlanjur mati rasa. Uh, pacarannya payah, umpatku dalam hati.
Dan menurutku ini juga tidak sehat! Tidak ada romantisnya! Tampaknya aku harus buat perhitungan. Lusa aku harus konsultasi sama mentorku. Siapa lagi kalau bukan Niken. Tekadku sudah bulat. Sebulan pacaran kok datar-datar saja sih? Putus sajalah, cari yang lain lagi!
Tapi Niken tidak masuk pada hari yang aku tunggu. Demikian juga besoknya. Ada apa dengan dia? SMS-ku tidak dibalas. Malah tidak sent. Ponselnya tidak aktif! Aku penasaran. Sakitkah dia? Bimo? Dia juga setali tiga uang ternyata.
Tiga hari kemudian aku baru tahu jawabnya. Mau tahu sumbernya? Mamaku sendiri. Jawabannya membuat aku pucat seputih kapas. Kakiku lemas serasa tak sanggup napak. Niken dan Bimo menikah dini di Bali. Dinikahkan tepatnya, di rumah paman Bimo. Mereka terlanjur lepas kontrol, melompat terlalu jauh.
Langsung kuurungkan niatku mendepak Arya. Seharusnya aku bersyukur punya pacar seperti dia, yang bertanggung jawab. Aku juga jadi bersyukur punya ibu bawel seperti Mama.
Teman, aku tidak perlu iri lagi sama kamu yang nyokapnya nggak cerewet. Ah, setelah tragedi yang menyayat hati itu menimpa Niken dan Bimo, barulah aku rasakan indah dan nikmatnya pacaran bersama Arya. Pacaran yang sehat itu bermanfaat ternyata. Sangat. Dan maunya Mama akan tetap aku junjung tinggi. Tinggi sekali. Tanpa catatan lagi. (teruntuk: Jennifer Togatorop, Gabriella & Audry Batubara)
___________________
*dimuat di Gadis no. 12 (29 april- 9 mei 2011)
Bio data:
Nama : Raya Henri Batubara.
Pekerjaan : dokter bedah
Nama pena : Henry S. Batubara
ALamat : Jl Taruna No. 58 Rt 002, Rw 04, Pondokbambu, Jakarta 13430
Kepenulisan di Femina group: Cinta sang Klepto (Gadis no 9/2010), Konspirasi (Femina 16/ 2010), Kartu Valentin untuk Tari (Gadis 4/2011)