Cerpen – Perempuan Penabuh Gender

DOWNLOAD

 

Cerpen Impian Nopitasari

verrsi cetak: Antologi Tabuh Tak Tabu

 

Hapsari

Aku masih menatap gambar perempuan di lembaran majalah yang kubaca. Kutebak dia dipotret tanpa izin kalau melihat dari ekspresinya. Perempuan bersanggul dan berkebaya hitam, tatapan matanya tegas, membuat yang melihatnya merasa segan.

“Simbah cantik ya, bu?” kataku sambi meraba wajah simbah di kertas.

“Dan galak. Hahaha,”

“Galak? Kok bisa?”

“Tanyakan sama bapakmu, atau semua pengrawit yang pernah main bareng bapakmu, pasti semua pernah minimal punya pengalaman dipukul dengan tabuh gender,” jelas ibuku.

Aku semakin ingin tahu tentang simbah putri. Entahlah aku tidak paham dengan orangtuaku yang memisahkanku dengaan kehidupan seniman, dengan kehidupan pengrawit, seperti sengaja dijauhkan olehku. Ibu memilih berpisah dengan bapak, aku ikut ibu. Bapak masih setia menemani simbah nggender kemana-mana.

“Jadi seniman itu berat,” selalu itu yang dikatakan oleh ibu. Ibu sendiri sebenarnya dulu adalah seorang sinden. Sinden yang selalu mengiringi pentas dalang-dalang terkenal, bersama bapak yang pemain rebab, dan tentu saja bersama simbah, penggender perempuan tertua dalam rombongan itu.

“Kurang bakti apa aku sama bapakmu? Ternyata masih juga aku dikecewakan,” kalau ibu sudah begitu aku tidak berani bertanya-tanya lagi soal bapak, soal simbah, soal kenapa aku tidak boleh bersinggungan dengan dunia mereka. Aku tidak ingin melihat ibu menangis.

Walau begitu aku tetap saja penasaran. Aku sering melihat video simbah di youtube, memainkan gender dengan rangin, meresap di hati, tanpa cacat. Begitupun dengan rebab yang dimainkan bapak, selalu membuat hatiku ngilu, belum kalau ibu sudah mulai nyinden. Seperti hari ini, ketika aku ketahuan ibu mengunduh dan melihat video mereka. Terlalu terlambat diriku untuk menyembunyikan apa yang baru saja kulakukan, tidak ada yang bisa kulakukan selain pasrah.

Ibu melihatku sebentar dan pergi lagi, tidak berapa lama dia kembali lagi ke kamarku. Membawa majalah yang berisi liputan tentang simbah. Tentu saja ini reaksi yang di luar dugaanku, ibu tidak marah, ia malah memberiku majalah yang belum pernah aku lihat sebelumnya.

“Jadi sebenarnya, simbahmu itu…,”

***

Harsiwi

“Isih kelingan bali ta?” tegur bapak bahkan sebelum aku melewati pintu rumah. Pulang? Aku pun masih bingung dengan teguran bapak itu. Apa aku masih ingat pulang?

Pulang? Sejak kapan aku menganggap masuk ke rumah ini sama artinya dengan pulang? Di sini aku tidak pernah merasakan “pulang”. Aku ke sini hanya menyampaikan pesan dari paklik dan bulik, orang yang selama ini kuminta jatah makannya, kudengar nasihatnya. Untuk apa pulang kalau tidak pernah dianggap.

“Eh ana Siwi. Ngapa Wi?”

MbakyuHarsiti. Seperti biasa, dia selalu menyebalkan. Memang begitu tabiat si anak emas.

“Dudu urusanmu,” jawabku ketus, memang bukan urusannya.

Dia pun kembali ke aktivitasnya semula. Setiap hari seperti itu, menabuh gender. Aku selalu sebal ketika dia sudah melakukan itu. Kenapa bapak dan ibu lebih memperhatikan Mbakyu Harsiti.

“Bu, aku pengin main gender kaya Mbakyu Harsiti,” ujarku begitu saja, aku ingin main gender seperti Mbakyu Harsiti. Ibumenyambutujarankudenganpandanganheran.

“Kowe? Nggender? Ora salah? Lha wong yen ana wayangan wae kowe turu kok,” sudah kuduga, pasti ibu meragukanku karena melihatku selalu tidur ketika ada pentas wayang semalam suntuk. Anak yang tukang tidur ingin main gender? Jangan mimpi.

“Beri aku kesempatan untuk membuktikannya, Bu, aku pasti bisa,”.Entahlah, diragukan oleh ibu membuatku semakin tertantang.

Bapak ikut bicara “Ya sudah, kamu minta ajar mbakyumu ya,”

Mbakyu Harsiti memperlihatkan wajah tidak setuju.Aku paham, aku tidak akan meminta ajar darinya. Aku hanya ingin mengamatinya setiap hari. Aku bilang ke bapak dan ibu, setiap hari aku akan melihat Mbakyu Harsiti latihan dan ikut bapak ibu pentas. Mereka setuju.

Memang benar, selama berhari-hari aku hanya memperhatikan Mbakyu Harsiti. Aku teringat dengan kisah Palguna-Palgunadi yang kemarin dipentaskan. Rasanya aku seperti Ekalaya yang belajar sendiri, tanpa harus diajari langsung oleh Resi Drona, dan aku bisa membuktikannya ketika Mbakyu Harsiti memberikan tabuh gender padaku.

Bapak, ibu, dan Mbakyu Harsiti terbengong ketika kedua tangan kanan dan kiriku dengan luwes menabuh gender, memainkan gendingcucur bawuk, gending patalon sebelum acara wayang kulit dimulai.

“Ah kalau cuma nggenderi cucur bawuk semua juga bisa, coba nggenderi grimingan wayang atau ada-ada? Baru aku akui kemampuanmu,” Bapak masih meragukanku.

Jadi walau sudah bisa nggender, aku belum dipercaya untuk mengiringi pementasan wayang. Hingga suatu saat ketika ada pementasan, mbakyu yang biasanya nggenderi mendadak sakit perut dan tidak ada yang menggantikannya menabuh gender. Aku memintanya mundur dan mohon diri menggantikannya.Dia tentusajatidak percaya.Pengrawit lainnya pun memandangku dengan tatapan khawatir.Aku balas menatap mereka dengan tatapan penuh percaya diri.

Malam itu puncaknya, aku diakui untuk bisa mengiringi pementasan wayang, ketika aku bisa mengiringi gending kabor, gending pembuka setiap adegan dalam lakon pementasan wayang.

***

Hastuinanti

“Oh jadi simbah dulu pertama main gender karena jengkel merasa dibedakan gitu ya, Bu?” dia bertanya dengan sorot mata penuh ingin tahu. Gadis kecilku yang sekarang sudah dewasa.

“Ya, begitulah, ia memang perempuan keras kepala,” kataku.

Aku pikir keras kepala itu menurun ke cucu perempuannya ini. Sudah tak kurang usahaku menjauhkan dia dari dunia pengrawit, toh pada akhirnya dia penasaran juga. Dia akan mencari dan terus mencari. Pada akhirnya aku menyerah, membiarkan dia mengetahui asal-usulnya.

“Kenapa simbah ngotot ingin menjadi penggender, Bu? Bukankah masih banyak instrumen gamelan yang bisa beliau mainkan?”

Semua orang yang belum mengetahui dunia karawitan pasti bertanya seperti itu. Aku pun menjelaskan pada putriku bahwa menjadi penggender adalah sarana pengakuan simbah putri terhadap keluarga yang tidak terlalu memperhatikannya. Mbah Putri tinggal dengan paklik dan buliknya, yang walaupun seniman, tidak pernah mengajarinya memainkan alat musik gamelan. Simbah putri sering tertidur jika diajak paklik dan buliknya main di pementasan wayang, hingga hari itu ketika dia pulang ke rumah dan ingin bilang main gender.

Tentu saja gender bukan instrumen gamelan yang bisa dimainkan semua pengrawit. Seorang penabuh gender pastilah bisa memainkan instrumen gamelan lainnya, tapi belum tentu yang lain bisa menabuh gender. Penabuh gender harus selalu siap di depan gendernya sampai pertunjukan wayang tancep kayon atau usai. Ia harus bisa menahan hajat ke belakang.

“Memang tidak bisa ditinggal sebentar, Bu?” tanyanya menyela.

“Kalau Pak Dalang lagi sulukan, bagaimana?” aku bertanya balik. Tentu saja semakin membuatnya bingung.

Kalau kata temanku seorang penggender lelaki, dia lebih memilih menggunakan sarung ketika tidak pentas di keraton, agar kalau ingin buang air kecil bisa ia wadahi di dalam botol kosong yang ia siapkan sebelumnya.Dia buang ke kolong panggung. Bisa dipastikan paginya yang bertugas membongkar panggung akan misuh-misuh. Hapsari tertawa terpingkal-pingkal mendengar ceritaku.

“Seperti halnya kendang yang dijuluki pamurba irama atau pemimpin irama, gender itu pamangku gending, Ndhuk.Penggender harus hafal vokal, balungan gending. Bisa juga dikatakan sebagai “pasangan” dalang. Dengan keistimewaan yang dimiliki oleh gender atau penabuhnya, kau pasti paham kenapa simbah putri memilih menjadi penggender. Gender itu istimewa.Menjadi penggender, apalagi perempuan, tentu menjadi kebanggan tersendiri bagi simbahmu,”

Ia masih memandang gambar perempuan sepuh itu. Perempuan yang sangat dicintai oleh seorang Hapsoro, pemain rebab yang tak kalah moncer dari penabuh gender sepuh itu. Pemain rebab yang kutinggalkan karena ia lebih memilih mengabdi kepada ibunya.

“Kalau rebab sendiri julukannya apa, Bu? Bapak pemain rebab, kan?”

Aku tidak langsung menjawab pertanyaannya, semacam ada ngilu yang tiba-tiba terasa lagi.

“Rebab itu pamangku lagu, Ndhuk. Bisa dikatakan ia adalah pasangan sinden,” tenggorokanku tercekat ketika mengatakan itu. Ya, dulu, tidak hanya pasangan dalam karawitan, kami memang benar-benar pernah menjadi suami-istri, seperti rebab dan sinden”.

Aku melihat butiran bening jatuh dari mata Hapsari, maafkan kami, Ndhuk.

***

Harsiwi

Sejak aku bisa mengiringi gending kabor saat itu, aku semakin dipercaya untuk mengiringi pementasan wayang. Bahkan genderanku lebih bagus daripada genderannya Mbakyu Harsiti. Banyak yang bilang ini karena aku ketiban pulung, semacam karomah kalau untuk para wali. Sampai suatu saat ada seorang dalang yang ingin memperistriku, dan aku menerimanya.

Aku semakin sering mengikuti suamiku pentas. Kepopuleran kami memang sudah banyak yang memperbincangkan. Kami benar-benar menjadi sosok idola.Tidak hanya terbatas julukan dalam karawitan kalau gender itu pasangannya dalang.Kami memang benar-benar menjadi pasangan yang sesungguhnya. Hingga anak-anak kami lahir dan beranjak besar, aku masih setia menabuh gender dalam setiap pementasannya.

Tapi ternyata kesetiaanku tidak cukup untuk membuatnya bertahan denganku. Ia memilih pergi dengan seorang sinden kesayangannya. Orang boleh bilang hal seperti ini biasa dalam dunia seni tradisi. Tapi aku, Harsiwi, memilih menolaknya. Jika memang ia sudah tidak setia, aku pun memilih pergi. Tidak ada cerita lagi penggender Harsiwi mengiringi sang dalang suaminya.

Dari tujuh anakku, hanya satu yang setia menemaniku ke mana-mana. Ia adalah Hapsoro, paling suka bermain rebab. Gesekan rebabnya yang menyayat hati berhasil memikat hati sinden yang sedang moncer saat itu, Hastuinanti. Aku merestui pernikahan mereka, asalkan Hapsoro tetap menemaniku.

Aku tidak suka ketika banyak dalang menggoda Hastuinanti, semacam teringat masa laluku sendiri. Aku tidak ingin pentas kalau Hastuinanti yang menjadi sinden. Hal ini sering membuat ribut rumah tangga mereka. Aku memberi pilihan pada Hapsoro, memilih ibunya atau memilih istri yang sewaktu-waktu bisa meninggalkannya. Hapsoro tidak bisa menentukan pilihan. Hastuinanti yang memilih pergi, dengan anak perempuannya yang waktu itu masih bayi, cucuku sendiri.

Hastuinanti, sebenarnya dia adalah perempuan yang baik. Tapi memintanya pulang, sungguh bukan sikap seorang Harsiwi.

***

Hapsari

Aku tidak bisa menyalahkan semuanya. Barangkali memang begini lakon yang harus  kami alami. Seperti gender yang hanya bisa ditabuh orang tertentu, begitu juga dengan hati. Tidak semua bisa meluluhkan hati simbah putri, bahkan dengan gesekan rebab bapak dan lengkingan suara ibu. Mereka tidak bisa menjadi tabuh bagi gendernya simbah. Mereka tidak bisa, tapi aku ingin mencoba. Mungkin aku yang akan menjadi penabuh gender bagi hatinya simbah, menyajikan gending-gending indah di sisa hidupnya. Semoga saja.

***

 

Leave a Comment