Cerita anak karya Yuniar Khairani
pemenang 2 Eye Level Award 2014
Narator Yessita Dewi
Kredit musik
1. Sizzr by Schwartzy
2. Finding by Nat Keefe
Marya ingin sekali memiliki sepatu yang bisa membawanya bertemu dengan Ibu. Dulu Ibu pernah berkata, kalau jalan menuju surga harus dilalui dengan sepatu yang baik. Sudah lama sekali rasanya Marya tak bertemu Ibu, karena itu Marya menginginkan sepasang sepatu yang bisa membawanya ke surga untuk bertemu Ibu.
“Ayah tak pernah mendengar ada sepatu semacam itu,” ujar Ayah muram sambil menaruh mi goreng yang sedikit gosong ke piring Marya. Sudah seminggu ini Ayah memasak untuk Marya karena Ibu tak bisa melakukannya lagi.
“Tapi Ibu bilang sepatu itu ada,” ucap Marya, sambil menyuapkan mi gorengnya. Mi goreng buatan Ayah terlalu lunak, juga keasinan. Marya menelannya cepat-cepat. Dadanya mendadak sesak. “Aku rindu masakan Ibu,” lanjutnya lirih.
Ayah hanya terdiam, tak berkata apa-apa.
***
Marya terus berpikir mengenai sepatu itu. Sepatu seperti apa yang bisa membuatnya berjalan menuju
surga dan bertemu dengan Ibu?
“Mungkin sepatu itu harus mahal,” ucap teman sebangku Marya saat jam istirahat. “Aku tak tahu,” ujar Marya.
“Mungkin sepatu itu harus mewah,” kata teman Marya lagi. Marya menggeleng. “Aku tak tahu.”
“Mungkin sepatu itu haruslah satu-satunya sepatu yang dibuat di dunia?” Ia bertanya. Marya menerawang jauh. “Aku tak tahu,” suaranya pelan.
Teman sebangkunya menghela nafas. “Kalau kau saja tak tahu, apalagi aku?”
Tapi Marya memang benar-benar tak tahu. Seandainya saja dulu ia sempat bertanya pada Ibu.
Seminggu ini memang terasa berat bagi Marya. Kehilangan Ibu yang meninggal karena sakit, dan tak bisa banyak mengobrol dengan Ayah karena Ayah terlalu sedih. Sebenarnya ia ingin bertanya banyak tentang sepatu itu, tapi wajah Ayah yang sering muram membuat Marya mengurungkan niatnya.
Membongkar uang tabungannya, Marya pergi ke toko sepatu. Diperhatikannya sepatu-sepatu yang berjejer di rak dengan seksama.
“Pak, mana sepatu yang bisa membawa seseorang ke surga?” tanya Marya pada penjual sepatu.
Penjual sepatu menggelengkan kepala tanda tak yakin. “Bapak tak tahu, Nak. Tapi di rak sebelah sana ada sepatu bergambar kupu-kupu. Mungkin sayapnya bisa membawa seseorang ke surga.” Lalu diambilnya sepatu bergambar kupu-kupu itu dan diulurkannya pada Marya.
Marya mencoba sepatu itu. Sepatu itu terlalu besar untuknya. Ia sendiri juga tak yakin apakah sepatu itu bisa membawa pemakainya ke surga. Tapi dari semua sepatu di toko ini, sepatu biru bergambar kupu-kupu ini adalah pilihan yang paling baik.
Selama berhari-hari, Marya memakai sepatu itu. Karena longgar dan tak nyaman, Marya menyelipkan gumpalan kapas di ujung sepatunya. Tapi setelah semua yang dilakukannya, jalan ke surga tak juga nampak di hadapannya. Semua yang dilakukannya, sama saja seperti hari-hari yang lain. Jalan yang
dilaluinya, sama saja seperti seperti hari-hari yang lain. Yang berbeda hanyalah hati Marya yang sedih karena merindukan Ibu, dan Ayah yang tak lagi banyak bicara, juga karena merindukan Ibu.
“Mungkin kalau aku berjalan lebih jauh, maka aku akan menemukan jalan menuju surga,” pikir Marya. Lalu ia mulai memilih jalan memutar saat pulang dari sekolah.
Jalan yang dilewatinya adalah jalan yang tak pernah terpikir untuk dilewatinya sebelumnya. Ia melintasi padang rumput yang luas. Langit di atasnya berwarna biru cemerlang. Marya dapat merasakan matahari yang terik di punggungnya.
Seperti sedang bermimpi ia melangkah setapak demi setapak. Pandangan matanya berkeliling, mencari jalan menuju surga. Tetapi jalan yang dicarinya tak kunjung ditemukannya. Jarum-jarum rumput liar menusuk rok dan juga sepatu kupu-kupunya. Marya menunduk dan mencabutnya satu persatu. Dulu Ibu yang selalu mencabut jarum-jarum rumput liar jika ia bermain di lapangan kecil di belakang rumah, tapi Marya tahu kalau ia tak mencabutnya sendiri kini, Ibu tak bisa melakukan lagi untuknya.
Sayup-sayup didengarnya suara teriakan seorang anak laki-laki yang diseling suara kecipak air. Marya mencari asal suara, dan ditemukannya seorang anak laki-laki sebaya dengannya berdiri dengan wajah kesal di tengah sungai kecil. Separuh badannya basah kuyup.
Anak lelaki itu menatap kaget ke arah Marya. Tak terbayang olehnya bisa bertemu dengan seseorang di tempat seperti ini. Dipandanginya Marya dari ujung rambutnya yang dikucir tinggi ekor kuda sampai ujung kakinya yang bersepatu kupu-kupu biru muda. Sesaat kemudian bibirnya mencebil.
“Apa yang kau lakukan disini!” ujarnya ketus. Marya mengerutkan kening. Itu bahkan bukan pertanyaan.
Tanpa menjawab, Marya bertanya, “Kenapa bajumu basah?”
Anak itu mendengus. Dagunya menunjuk aliran sungai kecil yang cukup deras. “Sungai ini membawa sebelah sepatuku pergi. Sepatu baruku…” lalu ia berjalan ke tepi sambil menunduk. Wajahnya menyesal.
Marya melihat kaki kiri anak itu yang tak bersepatu, sementara sepatu di kaki kanannya basah kuyup. Dilihatnya sekilas nama Beni Dikto di dada kanan seragam anak itu. Lalu Marya berkata, “Kurasa kau harus cepat-cepat pulang untuk berganti pakaian kering, Beni.”
Anak lelaki itu terbelalak sesaat, sebelum menyembur tawa. Lagi-lagi mulutnya separuh meremehkan. “Aku bukan Beni,” katanya sambil menjentik nama di seragamnya. “Ini seragam bekas. Aku belum sempat melepas namanya. Namaku Satria, Anak Sok Tahu.”
Wajah Marya memerah karena disebut Anak Sok Tahu. Ia malu, tapi juga kesal pada dirinya sendiri.
Satria melepas sepatu kanannya dan mengucurkan air dari sepatunya ke tanah. “Gagal sudah aku menjual sepatuku.”
“Kenapa kau harus menjualnya?” Marya keheranan.
“Tidak bisa kukatakan,” ucap Satria acuh sambil menjauhi Marya.
“Tunggu!” Marya tiba-tiba teringat sesuatu. “Apa kau pernah melihat jalan menuju surga di dekat tempat ini?”
Satria menoleh dan menatapnya. “Kau bercanda? Untuk apa kau mencari jalan ke surga?”
Marya berkata pelan. “Ibuku baru saja meninggal minggu lalu, dan aku sudah sangat merindukannya.”
Satria terus menatapnya, tak berkata apa-apa tetapi seolah menimbang sesuatu sebelum akhirnya berkata. “Ayo, Anak Sok Tahu. Ikutlah denganku.”
“Namaku Marya. Mar-ya!” protes Marya dengan nada tak suka. Tapi ia tetap melangkah di belakang
Satria.
“Terserah apa katamu,” sahut Satria tak peduli.
Mereka berdua naik ke sebuah bukit kecil. Satria duduk di rumput dengan santai dan menunjuk
sebuah batu besar untuk diduduki Marya.
Beberapa rumah berjajar di bawah bukit. Rumah-rumah itu kecil dan berdinding anyaman bambu.
Tak seperti rumah yang ditinggali Marya.
“Kau lihat rumah yang berada paling sudut itu?” tunjuk Satria pada Marya. “Aku tinggal di sana.
Bersama ibu dan Kiani, kakakku,” kata Satria.
“Beruntung kau memiliki Ibu,” Marya tersenyum kecil.
“Ya. Tapi kami sedang bersedih sekarang karena Kiani sakit.” Satria mencabut sehelai rumput dan mengunyah batangnya. Wajahnya mendongak memandangi cabang-cabang pohon jauh di atasnya, sebelum kembali berkata pada Marya. “Kemarin ada orang kaya membelikanku sepatu. Tadi pagi saat memakainya ke sekolah, aku tiba-tiba berpikir untuk menjualnya saja dan membelikan Kiani sepasang sepatu karena sepatunya yang lama sudah kekecilan.”
“Tapi sebelah sepatumu telah hanyut di sungai.”
“Ya,” angguk Satria. “Kalau saja aku bisa memberi sepatu pada Kiani, agar kakakku ingin sembuh dan memakainya ke sekolah lagi seperti dulu.”
Marya memandangi rumput-rumput di dekat kakinya, juga sepatu biru bergambar kupu-kupu yang dipakainya. Seolah ada yang mendorongnya, Marya melepaskan sepatu itu, dan mengangsurkannya pada Satria.
“Sepatu ini terlalu besar untukku,” Marya menarik kapas pada kedua ujung sepatunya, “Bawalah pulang, dan berikan saja pada kakakmu.”
Satria dengan takjub menerima pemberian Marya dan menangkupkannya ke dada dengan hati-hati seolah memeluk sebongkah besar emas. Anak laki-laki itu memandang Marya, teman baru yang beberapa waktu lalu sempat dicebilnya, dengan tatapan penuh terimakasih.
“Maafkan aku, karena tak bisa membalas kebaikanmu dengan menunjukkan jalan menuju surga padamu,” Satria berkata. Marya mengangguk. Sesungguhnya Marya mulai merelakan jalan menuju surga itu menghilang karena memberikan sepatu itu pada kakak Satria.
Marya tersenyum kecil melihat Satria melompat dan menuruni bukit kecil itu menuju rumahnya. Hati Marya melapang ketika dilihatnya Satria mengetuk pintu dan masuk ke dalam.
***
“Ayah rasa maksud Ibu tentang sepatu yang baik untuk menuju surga adalah, semua orang harus melangkah ke tempat-tempat baik, bertemu setiap orang untuk melakukan kebaikan,” ujar Ayah saat makan malam.
Marya tercenung.
“Ibumu selalu mengajarkan kebaikan, dan melakukannya sepenuh hati. Ayah merasa, kita ditinggalkan lebih dahulu untuk meneruskan kebaikan yang telah dilakukannya.”
Marya mendongak menatap Ayah. Ia merasa wajah Ayah tak lagi muram. Ayah bahkan tersenyum, dan senyum itu membuat hati Marya hangat.
Malam ini sup ayam buatan Ayah hanya sedikit terlalu banyak lada.
***
Beberapa hari kemudian Marya teringat pada Satria. Sepulang sekolah ia berlari melintasi padang
rumput, menuju bukit kecil tempat mereka terakhir kali bertemu.
Satria berdiri disana. Wajahnya mendongak memandangi cabang-cabang pohon jauh di atasnya, sebelum menoleh karena mendengar langkah Marya.
Marya tersenyum. Satria membalas senyumnya.
“Setiap hari aku menunggumu,” ujar Satria. Meski ia terus tersenyum, air menggenang di pelupuk matanya. “Aku ingin memberitahumu, kalau Kiani kakakku sangat menyukai sepatumu. Ia memakainya saat itu juga, dan tak lagi melepaskannya hingga pagi.”
Senyum Marya mengembang, “Benarkah?”
Satria mengangguk. “Sakitnya juga hilang saat pagi datang. Sepatu kupu-kupu itu menunjukkan pada Kiani jalan menuju surga. Kurasa ia telah berteman dengan ibumu sekarang.”
Setetes air mata jatuh di pipi kanan Marya, juga setetes lagi di pipi kirinya. Satria meraih tangannya, dan mereka berdua tersenyum sambil mendongak memandang cabang-cabang pohon jauh di atas, memandang langit.