Ambyar

Puisi Budi Setyawan
Narator Abednego Afriadi
Ilustrasi Musik Indah Fitriana

: buat didi kempot

1/
adalah kepergianmu yang gegas
tanpa kata
aba ataupun tanda
menengkarapkan sebuah pagi
ketika kemarau, tak ada hujan
hanya air mata negeri menderas
membasah di hari yang puasa

2/
dari stasiun balapan
kau terus berjalan perlahan
hingga lebih seribu kota
dengan rawan perasaan
patah hati
jatuh di kenyataan berbatu
menjadi luka
angan pecah berkeping
menjadi puing

tetapi terus berulang
harapan cinta selalu menjelma keriuhan
di dalam kepala dan dengan pesta
joget yang menguarkan gema
sambil pelan pelan merelakan
hasrat terjalin kian kecil
dan asmara yang muskil

3/
tak ada pertunjukan yang tak selesai
panggung pun sepi
saat kau diam diam pamit
lengang mengait
serupa benang melilit pada kenang
dan kuyup haru menggenang

tetapi orang orang seperti tak percaya
dan maut pun tak kuasa merenggut suaramu
yang masih akan mengembara
ke jantung pendengaran mereka
menjadi detak yang mengingatkan
berapa banyak surat kangen tak terbalas
ah, betapa murni kesedihan

4/
barangkali kau melanjutkan bernyanyi
sendiri di kejauhan langit
diiringi campursari sunyi

Bekasi, 5 Mei 2020

Pintu Dapur Sebelah Timur

Penulis : Budhi Setyawan
Penutur : Angelina Enny
Musik : Ketto SNZ

DOWNLOAD

 

 

Pintu Dapur Sebelah Timur

 

ada dua pintu keluar masuk dapur, di sisi barat dan timur.

pintu barat yang tak mengenal karat, dan pintu timur yang

selalu muda dalam umur. pintu pintu yang menutup dan

membuka, menjadi jalan bagi cahaya dan cuaca.

 

bapak menandai pintu dapur sebelah timur sebagai gerbang,

semacam lorong teramat panjang, untuk memulai tualang

hari, untuk kisah kisahnya sendiri. pintu itu seperti paling

mengerti, menghisap cemas yang kerap lekapi hati.

 

jika pintu itu buku, maka entah sudah berapa jilid buku.

dari catatan pintu saat bapak pergi dan pulang, pada

pagi serta petang. mencatat keasyikan bapak menjadi guru,

sampai musim memberat dan langit merasuk ungu.

 

Jakarta, 7 April 2015

 

 

Di Pekarangan Rumah Ibu

Penulis : Budhi Setyawan
Penutur : Angelina Enny
Musik : Ketto SNZ

DOWNLOAD

 

Di Pekarangan Rumah Ibu

 

kupu kupu menari di udara, namun tak ada bunga di

pekarangan. hanya ada pohon talas, kacang panjang,

dan ketela yang kerap dihinggapi capung berwarna

hijau, merah, dan hitam. capung yang lincah dan tak

mudah ditangkap, yang peka gerakan karena bermata

majemuk, kami pun tak bisa mengejar, cuma mengutuk.

 

agak jauh di timur ada pohon langsat, menjulang dengan

pucuknya rajin menangkap matahari pagi. sebelum

sinar matahari itu menembus celah jendela kamar, lalu

mengangkat pelupuk mata kami, menderaikan mimpi.

dan pohon itu kerap memanggil kami yang kanak, untuk

menaikinya. memetik buahnya yang asam asam manis,

yang getahnya terlukis di baju, dan ibu menggerutu.

 

pada siang, ayam dan entok tiduran di bawah daun talas,

seperti bermalas. bernaung di tempat rindang, berlindung

dari sergapan hari yang meradang. angin diharapkan

hadir, mengulurkan semilir. mengantarkan kisah dari

gunung di kejauhan, menakzimkan hening pada alam.

mengirimkan sepoi surga ke detak dada yang dahaga,

seperti restu yang diberikan ibu dalam jumpa dan doa.

 

Jakarta, 7 April 2015

 

 

Di Depan Sebuah Pendapa

 

Penulis: Budhi Setyawan
Penutur: Angelina Enny
Musik : Ketto SNZ

DOWNLOAD

Di Depan Sebuah Pendapa

 

kutahan kakiku berdiam, di depan rumah

yang menyimpan silsilah, juga repihan resah.

 

masih ada sekecup dingin, dari sisa gerimis

sore itu. ruang makin lengang, hanya

menyuburkan bayang wajah wajah yang

datang dari syair tembang. mengisahkan sawah

ladang, dan juga kali yang mengalirkan kenangan.

 

ke mana lindapnya suara gending jawa. apakah

dibawa angin timur ke pedalaman sepi. sementara

aku belum menandai sehimpunan nada yang

membuhul luka langit hari ini.

 

Jakarta, 7 April 2015

 

>