DOWNLOAD
Indah Darmastuti
Hari ini atau lebih tepat tiga hari terhitung mulai hari ini, aku mengambil cuti. Dan kebiasaan mengambil cuti pada saat Eva, putri semata wayangku menghadapi test di sekolah sudah berlangsung sejak ia masuk kelas satu SD, ketika suamiku masih tinggal berkumpul di rumah ini. Sekarang Eva belajar di bangku kelas tiga, tetapi suamiku tak lagi di sini.
Kusiapkan semua keperluan Eva, bukan untuk memanjakannya, tetapi aku ingin menunjukkan perhatian dan mengertikan dia bahwa aku adalah ibu yang bisa diandalkan. Sanggup melindungi serta memberi yang terbaik meski papanya tidak ada di sini. Demi Eva. Demi masa depannya, aku akan bertaruh apa pun.
Aku memang sibuk, pekerjaan kantor menyitaku waktuku. Tetapi, seberapa pun sisa waktuku, aku akan berikan sebagian besar kepada Eva. Di hari libur, aku mengajaknya piknik kecil, kadang hanya berdua, kadang bersama satu atau dua orang kawannya, kadang bersama keluarga-keluarga kawanku.
Ke Panti Asuhan juga alternativ bermain yang menjadi prioritasku. Agar Eva tahu, banyak anak-anak seusianya atau bahkan lebih kecil darinya yang tak berayah-tak beribu. Aku kenal dekat dengan Clara perempuan berdarah campuran Indonesia-Belanda yang mengelola Panti Asuhan itu. Kami bertemu di sebuah Seminar tentang Psikologi Anak, dua tahun lalu. atas persetujuannya, aku sering menitipkan Eva sepulang sekolah.
Ternyata rasa empati Eva terasah di tempat itu. Di bawah pengawasan Clara, Eva bermain dan berinteraksi dengan kawan-kawan yang kurang beruntung. Lalu ia menjadi tahu bagaimana kita harus berbagi, saling menyayangi dan memerhatikan. Mula-mula Eva kurang suka saat kutinggal di sana, tapi lama-lama ia menikmati juga.
Bahkan, jika pada suatu kesempatan kuajak ia ke swalayan, maka, ia akan mengambil beberapa potong cokelat, atau permen tambahan. Jika kuajak ia ke toko buku, ia akan mengambil pensil atau pengapus atau apa saja yang menarik perhatiannya untuk ia berikan pada kawan-kawan Pantinya. Mula-mula ia akan berikan pada empat orang, lalu ia akan beikan pada empat orang pada saat yang lain. Begitu seterusnya. Menurut Clara, teman-teman di Panti itu sangat menyayangi Eva dan selalu senang tanpa iri saat satu kawan mendapat sesuatu dari Eva, karena mereka tahu, pada gilirannya, mereka akan mendapatkan juga. Sehingga aku memutuskan, pada ulangtahunnya ke sembilan, kami mereyakannya di Panti Asuhan.
Yang menjadikanku semakin tenang, Eva tak lagi menanyakan tentang papanya. Bahkan suatu hari, ia pulang dari Panti dengan senyum ceria dan matanya bersinar terang seperti matahari pukul sepuluh. Hari-harinya kembali ceria. Semangat belajarnya luar biasa. Dan kebiasaan melipat tangan untuk berdoa sebelum makan dan sebelum tidur, kembali ia lakukan tanpa kuminta. Sebelumnya aku harus selalu mengingatkan bahwa ia perlu berdoa, bersyukur dan menyediakan ruang hening bagi dirirnya.
Perkembangan dan perubahan demi perubahan itu membuatku merasa berarti menjadi seorang ibu. Dan Eva adalah penghiburan serta harta terbesar. Aku telah berjanji pada diriku sendiri, sebisa mungkin tidak membuatnya kecewa, setelah aku menanamkan kecewa terbesar dalam hidupnya.
Yah! Aku mengecewakannya karena telah membuatnya hidup tanpa papa. Keluarga dan kawan-kawanku menganggap aku terlalu terbawa emosi ketika menyilakan suamiku memilih dan menikahi wanita lain. Aku menggugat cerai. Hatiku mendidih manakala mengetahui, ternyata suamiku selingkuh dengan salah satu pelanggan salon mobilnya.
Bisa jadi keberadaanku di kantor seharian, dan keberadaannya di salon mobil membuat segala sesuatunya sangat mungkin. Tak akan ada yang curiga jika perempuan itu datang dengan mobilnya. Tetapi sepandai ia menyimpan bangkai, hidungku sanggup menangkap juga.
Kupergoki mereka ketika tanpa rencana aku mampir ke salon mobilnya sepulang menyelesaikan tugas lapangan di kantor. Mereka tengah bercumbu. Perempuan itu, kurasa usianya sedikit jauh di atasnya. Matang dan tenang. bahkan tetap bersikap sopan manakala suamiku gugup oleh kedatanganku secara tiba-tiba.
Bibirku tak sanggup berkata-kata, bahkan untuk mengusir perempuan itu. Sehingga kutinggalkan mereka berdua dengan segudang luka yang rasanya akan terus menganga. Dan sesampai kami bertemu di rumah, aku tahu suamiku dipenuhi rasa bersalah. Sikapnya menunjukkan ia ingin bicara. Tetapi aku tak pernah memberi kesemptan. Kuhabiskan waktu bersama Eva dan ketika Eva tidur, aku menyetrika baju-baju, menata rak buku dan menyiapkan menu untuk esok, atau apa saja yang membuat aku sangat sibuk. Ketika suamiku mendekat aku berjingkat. Hingga ia sadar aku tak mau bicara.
Pada pagi ke tiga kutemukan sepucuk surat di dalam tas kantorku. Berisi permintaan maaf dan penjelasan-penjelasan klise yang menambah emosiku makin memuncak. Satu-satunya kesempatan bicara yang aku berikan adalah ketika aku memutuskan menggugat cerai.
Kekerasan hatiku membuahkan hasil. Suamiku akhirnya keluar dari rumah ini. Kami bercerai empat bulan kemudian. Dan rumah ini, rumah pemberian orang tuaku, sehingga aku berhak atasnya. Aku tak tahu ke mana suamiku akhirnya tinggal. Yang kutahu, mulai saat itu aku menjadi orang tua tinggal bagi Eva.
Aku sadar, tentu ada rasa kehilangan dalam diri Eva. Itulah alasanku mengapa aku mati-matian mencarikan sesuatu yang bisa menutup rasa kehilangan itu.
***
Eva-ku yang cantik. Ia masih di kamarnya. Saat kulihat, ia sedang berkaca, menyisir pelan rambutnya.
“Ayo… sudah cantik. Sarapan dulu Nona manis!”
“Tunggu sebentar mama…”
“Nanti terlambat.”
“Mama……” panggilnya ketika aku beranjak keluar. Aku mengurungkan langkah dan kembali masuk ke kamarnya. Ia masih berdiri di depan cermin.
Baju seragamnya rapi dan licin. Rambut lurusnya tampak sehat dan tebal. Dari pantulan cermin bisa kulihat sepasang mata kejoranya. Bibir berbelah indah. Jujur aku mengakui, peranti-peranti wajah itu milik Yuda, papanya.
“Kenapa sayang?” kami bersitatap melalui cermin.
“Ini hari pertama Eva menghadapi test. Tapi mama belum menanyai apa-apa tentang hadiah yang akan kuminta seandainya aku menjadi juara.”
“Ah… kau tahu mama tak akan pernah lupa itu. tetapi baiklah, katakan hadiah apa yang kauingin jika juara.”
“Baiklah, aku percaya mama. Tetapi, eemmm…” ia tampak berpikir sejenak.
“Baju? Tas? Sepatu? Arloji?” kataku seperti tukang loak. Tetapi Eva menggeleng. “Kalau begitu apa dong?”
“Mama janji mau menepati?”
“Apa yang tidak mama berikan untukmu putriku yang manis?”
“Terimakasih. Mari kita sarapan. Hadiahnya akan Eva katakan besok saja.”
“Lho? Nggak jadi?” ia tersenyum seraya mencuim pipiku. Ada rasa haru yang tak terkatakan. Meremas hatiku dan melemparkan aku pada perasaan ketakutan kehilangan Nona kecilku. Ketika ia melepas pelukan, masih kurasa halus kulitnya, wangi nafasnya.
Ketika aku masih kanak-kanak, sudah menjadi tradisi keluarga jika kami, yaitu Mbak Nia, Mas Ibnu dan aku, jika menjabat ranking tiga besar di sekolah, kami akan ditanyai oleh ayah dan ibu, hadian apa yang kami inginkan. Terus terang itu peristiwa menyenangkan dan bagi orang tua kami, itu cara ampuh untuk memacu semangat belajar kami dan yang penting, kami merasa sangat dihargai dan dicintai.
Itu juga yang aku lakukan pada Eva. Hasilnya tak mengecewakan. Eva adalah deretan murid terdepan di pelajaran. Hanya saja, ia sedikit mundur ketika masa-masa pertama papanya pergi dari rumah ini. Tetapi sekarang, Eva sudah menjadi Eva yang dulu.
***
Hari ini adalah hari penerimaan hasil test siswa-siswi SD. Sedari pagi aku dan Eva sudah sibuk. Tetapi ceria betul anak itu. semangatnya menyambut hari ini membuatku bertanya-tanya, seyakin itukah ia akan menjadi juara. Karena banyak hal yang terjadi di dalam hidupku, jika aku merasa begitu yakin, atau aku merasa semua dapat kuraih sesui harapan, justru yang terjadi adalah sebaliknya. Dan aku sedikit, khawatir, jika itu pun terjadi pada Eva. Ngeri membayangkan Eva akan kecewa. Sehingga aku berjanji, apabila Eva gagal menjadi juara, aku akan menanyainya, hadiah apa yang ia minta.
“Sudah siap, Nona?”
“Iya, mama.” Jawabnya mantap dan pasti. Seolah dunia ini ada di genggamnya.
Dan ia benar. Keyakinannya benar. Saat pejabat-pejabat ranking dibacakan oleh wali kelasnya, ada nama Eva Mulia disebut. Hatiku mekar, tiba-tiba pada tunggungku serasa tumbuh sayap yang akan membawaku terbang.
Ingin kutunjukkan bahwa aku, perempuan, meski seorang diri tanpa suami, tetap sanggup membawa anaknya menjadi bintang. Eva mendapat ranking pertama. Tangan-tangan terulur menjabatku. Mengucapkan selamat dan puji-pujian itu seolah tak henti-henti untuk Eva. Aku begitu bangga.
Sepulang dari penerimaan rapor, di dalam mobil aku berkata-kata pada Eva.
“Mama bangga sekali padamu sayang. Kau adalah bintang. Kau adalah pemenang. Hadiah apa yang kau inginkan? Mama sudah tak sabar memberikan.”
“Kita ke Panti Asuhan, mama. Sekarang! Eva akan mengatakan permintaan Eva di sana. Di hadapan kawan-kawan.”
“Ke Panti Asuhan tanpa membawa apa-apa? Pada saat kita merayakan peristiwa besar ini? ah… jangan sekarang Eva. Kita mesti persiapkan!”
“Tidak mama. Eva mau sekarang. Tak perlu ada persiapan. Mama harus turuti maunya Eva.”
“Ah… baiklah. Kau persisi mama. Jika menginginkan sesuatu selalu keras memperjuangkannya.”
“Ya. Tentu saja.” Ia tertawa.
Si halaman Panti asuhan itu sepi. Barangkali Clara dan pengasuh-pengasuh lain masih ada di sekolah keperluan mengambil hasil test anak-anak. Sekali lagi aku merasa Eva salah pilih waktu.
Mobil kuparkir dekat pohon sawo. Di sebelah kanan taman bermain.
Ternyata aku salah. Clara ada di tempat itu. ia keluar menyambutku. Tanpa basa-basi aku langsung teriak, bahwa aku gembira hari ini. Eva menjadi juara. Dan kuceritakan bahwa hadiah permintaannya akan dikatakan di sini, di saksikan kawan-kawan.”
Sehingga aku tak kaget ketika masuk ke ruang kecil yang biasa kami sebut aula, ada kawan-kawan Eva di sana. Sekali lagi aku menyesal tak membawa apa-apa.
“Halo semuanya..” sapaku pada mereka.
“Mereka yang berjumlah sekitar limabelas membalas salamku. Satu-satu mereka dating menyalamiku dan Eva. Bahkan mereka mencium pipi Eva sambil mengucap selamat. Ketika mereka sudah kembali di tempat duduk, aku berdiri di hadapan mereka.
“Nah, anak-anakku tersayang. Mama berterimakasih atas sambutan kalian yang menyenangkan. Tetapi.. rupanya kita belum bisa bikin pesta untuk persahabatan kalian saat ini. mungkin nanti.” Mereka tesenyum-senyum.
“Dan mama sangat kagum pada persahabatan kalian, pesan mama teruslah hidup rukun, setiap masalah pasti bisa dipecahkan.” Kulihat Clara menyipit matanya dan tersenyum bangga.
Sekarang giliran Eva mengatakan permintaannya. Ia berdiri mendekatku setelah mencium pipi Clara.
“Mamaku yang baik, terimaksih mama sudah mendidik dan membesarkan Eva. Mencukupi semua pebutuhan Eva. Dan menolong Eva sehingga hari ini Eva menjadi juara. Hadian yang dimita Eva…” dadaku berdebar… mungkinkah ia akan meminta satu atau dua anak itu untuk dijadikan saudara?
“Mama…” Eva terbata. Aku mendekat.
“Eva ingin papa kembali ke rumah kita. Hari ini!” aku tergugu. Permintaan yang mustahil. Kalaupun aku menurutinya, aku tak tahu di mana Yuda tinggal. Serentak ruangan hening. Air mata Eva sudah bersimbah di pipi.
“Hanya itu mama.” Serak sekali suaranya.
“Eva, dengan menyesal, sepertinya mama tak bisa turuti.”
“Kenapa? Kenapa tak bisa? Mama ingkar janji!” aku tersudut.
“Mama tak tahu di mana papa tinggal, sayang!”
“Aku di sini, Aryani.” Aku kaget bukan kepalang mendengar suara seorang pria yang tiba-tiba ada di belakangku.
“Yuda?” kami bersitatap. Mata itu begitu tenang dan teduh menatap.
“Aku di sini untuk kalian.” Semua bertepuk tangan dan Eva bergegas menarik tanganku dan menarik tangan Yuda.
“Setiap persoalan, pasti bisa diselesaikan, begitu kamu berkata di hadapan anak-anak tadi.” Clara mendekati kami. Aku luruh, kekerasan hatiku lantak di hadapan anak-anak.
Dari Clara aku tahu, ternyata Yuda sering datang menemui Eva baik di sekolah maupun di Panti. Yuda tak pernah lelah berjuang untuk mendapatkan dan memberikan kebahagiaan putrinya, Eva. Dan Clara menganggap itu baik, sehingga ia membantu laki-laki yang kini masih menggenggam tanganku.
“Masih ada hari esok, beri aku kesempatan,” katanya. []