Cerpen – Sambalado Jariang

Angelina Enny

DOWNLOAD 

SAMBALADO JARIANG

Kedai sepi di jam-jam menjelang sore. Karyawan-karyawan kantoran masih menerungku diri di bilik-bilik berpendingin ruangan seolah mereka penghindar matahari. Meski kendaraan tak pernah putus berseliweran di jalan berdebu, supir-supir angkot seperti enggan mengeluarkan kocek lebih banyak lagi untuk mengganjal perut yang biasanya kosong di jam-jam seperti itu. Mereka memilih melobi kantuk mereka dengan segelas kopi sepeda keliling atau menyerah untuk melongo di kursi sambil mengangkat kaki. Hanya kucing-kucing buduk yang tak puas mondar-mandir mengais sisa makanan dari satu kedai ke kedai lain.

Berbeda dengan Ganduik, kucing gemuk belang tiga yang sejak tadi hanya berselonjoran di bawah bangku Kedai Raso. Sisa rendang yang baru ia makan cukup mengenyangkan sampai nanti malam, jadi sekarang waktunya berleyeh-leyehan. Kemala, gadis yang tak pernah lupa memberinya makan sedang mengelap etalase tempat menu-menu dihidangkan. Sesekali terdengar bunyi decit karena ia menggosoknya keras-keras sampai mengilap. Rebusan jariang dalam panci di belakangnya menyekap penciuman dengan aroma khas asam jengkolat. Kedai Raso memang terkenal memasak langsung menu masakan sehingga menjadi atraksi tersendiri jika melihat kedua kokinya: Mak Gaek dan Kemala (nenek dan cucu) berjibaku dengan wajan dan panci. Begitulah konsep makanan siap saji dari mereka, makanan yang disajikan langsung dari atas perkakas masakan. Tak heran semakin malam, akan banyak orang yang mengantre di luar tenda karena sedikitnya bangku yang tersedia tak cukup memenuhi jumlah pengunjung setia.

Tapi siang ini sepi. Dua orang lelaki besar yang membonceng motor menepi. Pemandangan itu nampak aneh karena badan besar mereka berkali lipat menutupi motor bebek yang ditumpangi, terlihat seperti sedang menunggang angin. Mereka berjaket dan kaca mata hitam seolah mereka penghindar matahari yang dihukum paksa berjalan-jalan di terik siang. Kedua lelaki itu adalah si Kembar Preman Senen. Jeki dan Juki namanya. Orang-orang sekitar menyingkatnya menjadi Jek dan Juk, lalu si Kembar mengamininya sampai mereka selalu mengenalkan diri sebagai satu entitas: JekJuk.  JekJuk sangat kompak dalam segala hal. Jika Jek memukul seseorang maka Juk akan menginjaknya, jika Juk mengencingi pohon maka Jek akan memberakinya. Tidak ada orang yang berani berurusan dengan JekJuk karena mereka akan mendapatkan pukulan ganda. Satu hal yang pernah membuat mereka ribut adalah perempuan. Sebenarnya Rina bukan perempuan biasa, ia adalah waria (nama di KTP-nya Rino Karno). Tapi karena ia perempuan yang langka, maka JekJuk berebut ingin memilikinya. Suatu ketika Rina mencium pipi Jek, maka Juk meminta Rina mencium bibirnya. Ketika Rina mencubit gemas pinggang Juk maka Jek meminta dicubit perutnya. Dan ketika Rina meremas paha Jek maka Juk meminta diremas … -nya.

Nenek si Kembar (yang sebenarnya dibenci oleh mereka) selalu bilang kalau dua hal yang tidak boleh dilakukan di dunia ini adalah melawan orang tua dan berzinah dengan sesama pria. Larangan pertama jelas tak bisa mereka lakukan karena kedua orang tua mereka telah tiada. Larangan kedua sangat mereka jaga, namun entah mengapa jika sesuatu terlalu dijaga maka ia akan lepas begitu saja. Begitu juga berahi mereka terhadap Rina, si wanita pria. Saat Rina akhirnya hampir menguasai mereka (Rina berpikir akan menang  banyak mendapat dua burung dan dompet mereka), mendadak pesan neneknya berkumandang di pikiran si Kembar seperti alarm yang lupa dimatikan. Jek dan Juk tak bisa mengusir suara si nenek maka nasib Rinalah yang berakhir serius, baik luka maupun usaha. Ia tak bisa lagi berkeliaran di seputar Senen karena Jek dan Juk berjanji untuk menghabisinya.

Sejak itu si Kembar belum pernah berkelahi lagi, sampai peristiwa yang akan memicu mereka di Kedai Raso.

“Assalamulaikum,”kata Jek.

“Permisi!,”tambah Juk.

Kemala yang sedang menumbuk cabai-cabai merah keriting mengangkat kepalanya. Cabai merah keriting memang lebih gampang ditumbuk karena tak perlu lagi dipotong dan rasanya pun tidak terlalu pedas sehingga tidak akan mengganggu rasa masakan yang dominan.

Si Kembar melirik ke arah panci kukus, menduga-duga masakan apa yang sedang dimasak Kemala. Mereka sudah mendengar popularitas Kedai Raso yang bergaung sampai ke kampung seberang. Kemala yang takut berhadapan dengan mereka, menegarkan hati untuk balas menyapa.

“Makan, Bang?”

“Ya iyalah, emang lu pikir gue mau ngapain ke mari?” kata Juk.

“Tauk luh.” Jek menambahkan.

“Menunya baru ada telor balado sama gulai nangka, Bang.”

“Lah itu ape yang lu masak di panci?”tanya Juk.

“Iye, apaan tuh?” Jek menambahkan.

“Eh, itu sambalado jariang, Bang. Jengkolnya masih direbus.”

Si Kembar berdiskusi sebentar untuk memutuskan mereka akan menunggu masakan itu matang atau tidak. Lalu mereka mendesak Kemala untuk segera menyelesaikan sambal meriang itu. Sepenangkapan otak mereka, sambal itu pastilah sangat hebat sehingga mampu membuat orang yang memakannya demam. Semacam santet yang mematikan, mereka berencana untuk membunuh nenek mereka dengan itu. Mungkin perlu waktu dua tiga hari sampai si nenek yang tinggal di rumah mereka mampus, tapi si Kembar setia menunggu.

Kemala buru-buru menyelesaikan sambaladonya, menumis tumbukan kasar cabai dan bawang itu dengan minyak kelapa, memberinya sedikit garam lalu memasukkan rebusan jengkol. Jengkol yang dipilihnya di pasar adalah jengkol-jengkol bundar dan tua yang tidak terlalu kasat rasanya sehingga enak untuk dimasak dalam tumisan.

Ketika menu siap dihidangkan, si Kembar tak mampu menghalau rasa ngilernya karena memang  sambalado jariang bikinan Kemala harum menggugah rasa. Minyak kelapa mampu mengikat rasa pedas dari bawang dan cabai, mengaburkan rasa pahit jengkol.

“Apa aman dimakan?”tanya Jek.

“Iye, aman kagak?”tambah Juk.

Kemala bingung menghadapi pertanyaan itu. Semua menu memang dimasaknya untuk dimakan. Namun ia mengangguk saja karena tak tahu harus berbuat apa.

Si Kembar yang tak kuasa menahan laparnya, meminta nasi dua piring (nantinya mereka menambah dua piring lagi masing-masing) untuk teman sambalado jariang. Mereka makan dengan lahapnya sampai terlalu lupa untuk meminum teh hangat yang disediakan Kemala dalam gelas-gelas beling.

“Ini enak.” Juk mengacungkan jempol dengan muka merah kepedasan.

“Enak, enak, enak.” Jek bicara sebelum ia sempat menelan kepalan nasi dalam mulutnya. Ia tersedak dengan keras, nasi muncrat kemana-mana sampai mengenai piring kembarannya. Juk yang melihat makan siangnya tercampur dengan liur dan sisa-sisa kunyahan saudaranya menjadi marah. Makanan seenak ini tidak boleh dinodai. Ia mencokok belakang kepala Jek dan membenturkannya ke meja tempat mereka makan. Kembarannya tidak terima diperlakukan seperti itu maka ia pun membalasnya. Akhirnya kedua preman itu baku hantam sampai tiang-tiang bambu penyangga kedai patah berantakan. Darah berceceran di aspal trotoar tempat mereka rusuh berkelahi.

Supir-supir angkot yang sedang ngetem menunggu penumpang memanggil polisi di persimpangan jalan. Dua orang polisi datang membawa pentungan, menghentikan perkelahian kedua preman.  Si Kembar ditangkap dengan alasan meresahkan warga. Penduduk sekitar bernapas lega karena selama ini terlalu takut untuk melaporkan kelakuan mereka.

Malang tak dapat dihindari, Kedai Raso yang tadinya sepi kini ramai oleh penonton pinggir jalan. Tak banyak yang bisa difoto dan dilapor ke sanak kerabat selain cerita yang dibumbui: “Tawuran Antar Warga”, “Polisi Menembak Mati Preman” dengan satu dua gambar ceceran darah di aspal, serakan sambalado jariang, dan kucing gemuk yang tunggang langgang. [ae]

 

 

 

Leave a Comment