Indah Darmastuti
Setumpuk buku, secangkir kopi luwak, alunan sonata Bach, mestinya itu paduan sempurna untuk menikmati waktu saat sendirian duduk di dekat jendela ketika hari hujan. Tetapi nyatanya tidak. Aroma kopi luwak yang dibawa kepulan uap dari cangkir justru membuatku melayang pada sepasang mata cokelat gelap. Setumpuk buku itu justru menyesatkan aku dalam sekumpulan huruf lalu mengempasku pada gelombang rambutmu yang legam. Dan sonata Bach itu, melodinya menuntunku pada suatu ketika saat aku mulai belajar bahagia darimu.
Sekali lagi silau kilat perak membuat langit retak. Seperti lampu blitz menembus kelabu kaca jendela kamarku. Lalu gelegar guruh itu mengguncang rinduku akan kamu. Senyummu pudar. Senyum terakhir yang kulihat bersama derai air mata lalu tumpah ruah hanyut terbawa air hujan pada sore terakhir saat berhasil menemuimu dan itu terakhir aku memelukmu.
Sudah tiga kali musim hujan berlalu sejak peristiwa itu. Terkadang aku tak mampu memaafkan diriku karena telah demikian dalam melukai hatimu. Tak memaafkan kebodohan dan bebalnya aku mengimbangi ritme hidupmu yang sarat kegelisahan. Kamu selalu menggelisahkan banyak hal. Bahkan yang orang lain tak perhatikan pun, kamu menggelisahkannya seolah itu persoalanmu yang paling krusial. Alasan yang kukatakan pada sore itu jelas tak masuk di akal cerdasmu.
“Kamu terlalu sibuk dengan pembangunan penampungan air di desa itu, Marisa. Sementara aku sedang membutuhkan perhatian!” aku berkilah.
“Oh, tanpa kamu sadari, atau kamu sengaja, sebenarnya kamu telah membeberkan betapa egoisnya kamu Troy! Aku tahu kamu baru saja kehilangan ibu yang telah sekian tahun mengasuhmu. Tetapi kamu kan sudah dewasa. Sudah mahasiswa. Bagaimana mungkin kamu berpikir kekanak-kanakan?”
“Tetapi kematian ibu sangat mendadak, Marisa. Dan aku terguncang karenanya.”
“Kata siapa kita tak sedih ditinggal orang yang kita sayangi? Kata siapa kita tak terpukul atau terguncang di saat kita masih membutuhkan keberadaannya?” aku melengos.
“Akan sampai kapan kamu terus bersedih oleh sesuatu yang semestinya kau pelajari sungguh-sungguh, yaitu kehilangan? Sebuah kehilangan harus dihadapi dengan realistis. Bukan dengan melarikan diri, lalu mencari penawar yang… oh… apakah tercukupinya materi dari keluargamu itu telah membuatmu kehilangan daya kritis, Troy? Lalu kamu merasa berhak mendapatkan semua yang kamu inginkan termasuk…kau sungguh melukai hatiku, Troy!”
“Percayalah, Marisa. Aku mencintaimu. Hanya kamu yang kucintai.”
“Itu juga yang kamu katakan pada Teta, kan?” aku diam kala itu. Tak sanggup membela diri meski yang kamu tuduhkan itu tak benar. Sekali pun aku tak pernah katakan cinta pada Teta. Tetapi Teta yang datang padaku, menawarkan sesuatu yang kala itu sedang sangat kubutuhkan. Perhatian dan keberadaan. Dan… dan jujur saja, aku memang menyambutnya.
“Troy, mari kita berpikir waras. Kita adalah sepasang kekasih yang dibesarkan oleh keluarga kecukupan. Lalu kita berencana suatu hari nanti membangun keluarga dan melimpahi anak-anak kita dengan cinta kasih. Apa salahnya, kalau kita saat ini menyisihkan dulu cinta itu untuk orang-orang yang tengah dilanda paceklik di sana! di Gunung Kidul.” Katamu sambil menuding selatan dan mata coklatmu lantang menantang aku.
“Tetapi hampir seluruh waktumu tersita di sana, Marisa.”
“Rupanya kamu ingin setiap detik aku ada di sisimu? Rupanya kamu ingin aku menjadi mahasiswa manja yang tak peka? Coba bayangkan, Troy! Kita di sini yang melimpah air saja merasakan betapa panas dan tak menyenangkan hari-hari kita. Kemarau ini terlalu panjang. Dan apa yang terjadi di desa yang letaknya hanya beberapa kilometer dari kita? dari kampus kita? dari gerak kaum intelektual? Mana bisa kita yang disebut kaum intelektual tetapi nyatanya tidak intelek menghadapi kesulitan masyarakat di sekiranya? Aku curiga, harta keluargamu yang segunung itu telah mematikan rasa solidaritasmu, Troy!” aku tetap santai menanggapi gelegarmu sore panas itu. Sebab aku yakin kamu mencintaiku sepenuh hati, kamu masih tetap menjadi kekasihku. Aku yakin persoalan itu akan klar sebab kamu adalah manusia logika dan bisa diajak kompromi. Tinggal bagaimana aku selesaikan persoalan Teta. Lagi pula aku mahasiswa berprospek cerah. Perempuan mana pun akan mengalah hanya persoalan seperti itu, demi tetap menempati hatiku.
“Bahkan selama dua minggu ini kau tak menemui aku, Marisa! Aku curiga kamu sedang terlibat asmara dengan Jalu!” aku keluarkan serangan balik padanya.
“Oww… aku baru tahu kalau kau sedang dilanda cemburu! Jadi mana yang benar? Kamu masih terguncang oleh kematian ibumu atau aku yang sedang sibuk bersama kawan-kawan merencanakan membangun tempat penampuangan air atau karena di sana ada seseorang yang kamu anggap saingan untuk mendapatkan cintaku? Sehingga kamu membalasku dengan bermesraan bersama perempuan lain?” aku ingin mencari aman dan menjawab: ketiga-tiganya. Tetapi aku malah menusuk matamu dengan pandanganku yang bagimu itu sangat meremehkan.
“Tetapi apapun jawabanmu, semua itu hanya alasan yang mengada-ada. Menutupi perbuatanmu yang fatal.” Tandas kamu katakan itu. Tetapi aku yakin suatu hari kamu menyesal telah melabrakku hanya persoalan yang sebenarnya bisa kita selesaikan.
Tetapi aku keliru. Kamu bukan perempuan seperti yang kubayangkan. Usai pertengkaran itu, aku jarang melihatmu di kampus. Hingga akhirnya aku merontokkan gengsiku, lalu menemui Ery kawan kostmu yang renyah itu untuk mengetahui kabar tentang kamu. Dia hanya menjawab: “tidak pulang. Dia di Gunung Kidul sedang mensosialisasikan rencananya.”
“Oh, begitu? Dapat dana dari mana dia dan kawan-kawannya?”
“Lho, mestinya kamu yang lebih tahu. Bahkan aku heran, bagaimana mungkin kamu bertanya padaku di mana Marisa. Ada apa?” oh, menyesal sekali aku bertanya padanya. Sebab ternyata kamu tak menceritakan pertengkaran kita padanya atau siapa pun. Bahkan mungkin kamu sudah tak memikirkannya lagi. Aku sedih bukan main. Tiba-tiba aku disergap sepi.
Saat melangkah mengiris pelataran kampus, aku tahu banyak mata gadis menatapku. siapa yang tak kenal Troy? Mahasiswa HI yang ganteng dan masa depan cerah. Tetapi yang kurasakan saat itu, untuk pertama kalinya aku terpelanting. Tertolak dan sia-sia. Rinduku padamu makin membiru. Lalu hari-hari itu, aku lebih pendiam. Mencari buku-buku lalu tenggelam di dalamnya seperti yang selalu kamu lakukan. Bahkan buku-buku, novel-novelmu yang masih tertinggal di kost-ku, kutimang-timang berulang. Kubaca lagi dan lagi, sampai rasanya aku tertular menggilai buku-buku seperti kamu.
Lalu berhari aku mencari kesempatan bertemu kamu, tetapi gagal. Bahkan aku kirim pesan yang berisi memberi iming-iming padamu dan kesediaanku mencari atau bahkan menyumbang dana agar hatimu luluh, namun nihil. Kamu benar-benar tak terbeli.
Siang kerontang aku menunggu bagai patung batu. Mengharap kamu bersedia menjawab teleponku lalu bersedia menemui aku. Tak ada.
Oh, Marisa. Tahukah kamu, kalau makianmu sore itu nyatanya telah merubah hidupku. Bagaimana mungkin aku tega mengkhianatimu, bermesraan dengan Teta di kala kau sedang memerjuangkan kehidupan masyarakat miskin di selatan sana. Tetapi sumpah, aku tak bermaksud menduakan cintamu. Aku hanya… hanya… membiarkan diriku dibuai kehangatan dan perhatian Teta. Meski aku tahu, itu akan membuat Teta lebih agresif karena merasa ia memiliki ruang dan jalan untuk mewujudkan cintanya padaku. Siapa tak tahu, bahkan kamu juga tahu kalau cewek itu naksir aku sejak dulu. Sekali lagi aku menyesalkan bagaimana mungkin aku membiarkan Teta masuk ke kamar kostku dan membiarkan ia memelukku, mencium dan aku membalasnya tepat saat kamu datang membawa setumpuk kertas dalam map. Wajahmu berkilat oleh keringat. Mampus! Kamu langsung kabur.
Karenamu, aku belajar kesabaran. Sabar menunggu penampuangan air itu selesai dibangun, lalu kamu akan menemui aku menyelesaikan persoalan kita dan kita baikan. Tetapi itu tak pernah terjadi. Hingga akhirnya aku berhasil menemuimu di Kampus dengan membawa Koran yang mememuat berita tentang pembangunan penampungan air itu.
“Marisa! Lihat apa yang kubawa!” kamu menolehku.
“Selamat yah.. kerjamu sudah selesai. Aku baca beritanya di Koran ini. Ada fotomu di sini.” Kamu tak melihat sedikit pun pada Koran itu. Jujur aku baru sadar, kamu tampak kurus dan kulitmu bertambah gelap.
“Kamu sudah membacanya?” kamu menggeleng. Susah payah aku membuat senatural mungkin, dan kutunjukkan itikat baikku padamu, tetapi kamu membeku.
“Kapan peresmiannya?”
“Peresmian apa?”
“Penampungan air itu?” kamu tersenyum kecut.
“Kamu mau menyediakan diri untuk memotong pitanya?” aku tertampar oleh kalimatmu. Harusnya aku tahu kalau kamu bukan manusia pengejar popularitas. Meski teman-teman kampus menganggapmu pejuang kemanusiaan, kamu tetap Marisa yang sederhana dan bebas.
Aku sudah mulai kehilangan akal untuk merebut kembali hatimu. Dari mengirim pesan mesra sampai mengirim kue kesukaanmu. Tetapi sekali lagi, mestinya aku tahu kalau kamu bukan perempuan penerima suap apalagi hanya kue. Maka siang itu aku melarikan mobil ke Gunung Kidul. Tentu saja aku tahu lokasi proyekmu, karena pernah mengantarmu ke sana pada awal kamu dan kawan-kawan melakukan observasi.
Mendung menggantung pada siang jelang sore itu. Aku yakin, itu adalah detik-detik mendebarkan bagi masyarakat Gunung Kidul. Pasti di setiap rumah sudah menjejer ember dan segala benda yang bisa digunakan untuk menampung air hujan di teritisan. Aku yakin tempat penampungan air itu sangat membantu. Karena dari Koran itu aku tahu rencanamu bukan berhenti di pembangunan saja. Tetapi akan mengupayakan agar desa itu dirambah aliran air. Entah bagaimana, kamu dan kawan-kawan masih memikirkannya.
Benar, pada tikungan terakhir, titik-titik hujan jatuh pada kaca mobilku. Makin deras, makin deras… dan benar dugaanku: ada pesta hujan pertama di tempatmu dan kawan-kawan bermarkas. Beberapa penduduk laki-laki, perempuan, anak-anak, remaja sedang bersorak-sorak di tepi tegal tak jauh dari bangunan penampungan air. Mereka sudah kuyup. Aku mau turun dari mobil. Tetapi ragu apakah aku akan turut pesta itu lalu turut berhujan-hujan sementara aku tak membawa pakaian ganti?
Peduli amat! Demi kudapatkan kembali hatimu, Marisa, aku meloncat turun dari mobil lalu bergabung dengan kalian. Peserta pesta itu kaget, terlebih kamu. Di tengah hujan pertama itu kamu menatapku tak percaya.
“Kamu, ke sini? mau apa? Tak ada pemotongan pita untuk meresmikan penampungan air itu.” Aku tak menyangka kalau ternyata kamu masih belum puas menikamku. Aku menggeleng.
“Aku rindu kamu, Marisa.” Kamu menatapku. Kulihat matamu merah sembab. Kamu menangis entah baru saja atau sejak tadi. Tetapi aku tak tahu demi apa tangismu? Apakah demi hujan ini atau demi aku? Atau menangis bahagia karena sorak penduduk yang kini telah menganggapmu saudara bahkan dewa. Sebab hujan langsung datang begitu pekerjaan selesai.
Yang pasti saat itu aku menarik tanganmu, aku memelukmu dalam kuyup dan kubisikkan kalimat yang entah dari mana kudapat.
“Aku berharap air hujan ini menghapus jejak-jejak luka hati kita, Marisa.” kamu tak menjawab hanya membalas pelukanku. Tetapi sungguh tak sangka kalau hujan pertama sore itu benar-benar menghapus semua jejak-jejak kita. Semuanya, tanpa sisa.
Sejak saat itulah, kepadamu aku selalu belajar berbahagia, hingga saat ini. Dan jika hujan tiba, aku selalu teringat padamu. Dan kulantunkan lagu rindu untukmu. Entahlah, apakah kamu tahu kalau saat ini aku masih seperti yang dulu. Mencintaimu, mengangumimu. Kabar terakhir kudengar kamu mendapat beasiswa ke Eropa. Tetapi aku masih berharap buku-buku dan novel-novelmu yang masih tertinggal padaku, akan menjadi jejak untukku mengimbangi kepak sayapmu, lalu kita terbang bersama. Masih adakah kesempatan kedua untukku? bersamamu mengatasi kemarau dan hujan yang telah mendewasakan kita.
Di luar hujan sudah menjadi gerimis tipis. Kuraih buku-buku dan novelmu, kutimang dan kutelakkan di dadaku. Kopi luwak sudah mendingin, alunan sonata Bach nyaris berakhir tergantikan lagu rindu yang mengalun dari hatiku. Lagu rindu untukmu, Marisa! []