Oleh Puitri Hatiningsih
Di teater ini tak ada lagi kursi kursi beludru merah yang lengan kursinya hanya
untuk dua telapak tangan kita yang tergenggam dingin.
Hingga kita tak tahu lagi cerita film yang ditonton.
Dan kita menonton Demi Moore dan Dead Poet Society sampai tiga kali
Dibawah proyektor yang hangat itu,
di balkon itu.
Bayang kita ditelan gelap
diantara suara keripik kentang yang kita remukkan.
Wajah gadis penyobek karcis yang mati rasa seragam rok mini merah di pahanya
pada remang lampu kuning dengan senter ditangannya yang kuku jarinya berkutek merah tebal,.
Tapi di teater ini aku menonton Troy sendiri , dengan memimjam motor petani yang sedang berdiskusi
Di depanku adalah kenangan
dan layar perak di depan yang telah mati dari cerita-cerita film . Michael Douglas, Sharon Stone, Brad Pitt, Tom Cruise telah berhenti.
Layar itu masih berwarna mutiara di kegelapan menatap jejak penonton yang tak ada lagi..
sesekali puisi Afrizal Malna menyapa layar..
Dinding kayu berplitur untuk membeli karcis dengan coretan spidol biru kini sepi , toilet proselen cokelat batu alam disamping penjual kripik kenthang , cokelat dan minuman dingin.. dan kursi panjang mepet jendela kaca rayband tempat aku duduk ketika kau membeli makanan dan tiket masuk di depanku. Malam yang dingin aku suka melihat segaran dari kaca itu dengan titik lampu lampu kekuningan dan restoran Boga yang menyala di pulaunya..
Malam ini tinggal karpet merah tanpa kursi , tempat aku kini harus baca puisi
Jan-2011