(Puisi seruni Unie)
1.
Pernah ku taruh rasa benci pada seperangkat gamelan itu, ibu. Lantaran selalu mengalun suaramu, menyembah kelangenan. Bonang, siter, kenong pula kendhang adalah saksi pongah. Saat kehadiranmu melengkapi kegenitan para wiyogo yang tak kenal lelah.
Dulu, di jauh remajaku. Segala cibir kuterima, semenjak sinden kau pilih sebagai jalan cerita.
Pernah ku simpan dendam itu, ibu. Di saku rok abu-abu. Dan memusuhimu diam-diam, setiap pulang tanggapan. Lalu mengharap segala terhenti. Menyetop amarah bapak juga desir angin sengak.
Masa itu, aku baru 17. Saat ego trengginas
Sedang usiamu 40, dengan emosi belum teduh
Sementara waktu berdenyut semena-mena
Tak menyisakan bahagia apalagi mesra di antara kita
Gamelan terus dibunyikan, mengiringi pertengkaran demi pertengkaran
2.
Sepurane, ibu. Sekarang aku tahu, nggerongmu serupa wasilah. Agar anak-anakmu tumbuh mamah. Tak melolong lapar, meski langkahmu sendiri sempoyongan. Menahan tatapan caci, melawan sindiran keji
Sepurane, ibu. Bila sempat ku durhagai titi laras bawamu ( Solo, 29 Juli 2018)