Puisi – Kelenjar Nira

DOWNLOAD

Dian Hartati

 

Puisi Dian Hartati

Kelenjar Nira

 

selepas matahari terbit

kami berbondong-bondong menuju

setapak jalan

 

ada segaris cahaya 

kebahagiaan yang mengukir wajah

 

di depan sana

kami memeriksa setiap pokok

rasa senang memeluk diri

 

kaki-kaki menjejak bambu titian

menampung curahan manis bumi

 

inilah bagian dari kisah leluhur

perempuan yang memberikan raga

untuk keluarga

dan bersedia mengorbankan seluruh bagian tubuh

 

setiap pagi dan sore

air mata perempuan itu menjelma berkah

rambut-rambut kuatnya

menjadi ijuk 

guratan lain yang membahagiakan bagian rumah

 

setiap kali kami berdoa

hanya ada sekelebat bayang

kampung-kampung memujanya

sebagai hadiah dari tuhan

 

setapak demi setapak dilewati

tabung-tabung dipenuhi nira

menjadi tuak, aren, bahkan bagian dari sesaji

abu daunnya mempercantik kulit 

anak perempuan yang jerawatan

 

tanah telah menjadi rahim

maka mengalirlah seluruh doa

menjadi pundi-pundi mata uang

hidup dalam riang ruang 

 

sebelum matahari benar-benar tenggelam

kami mengemas alas kembali

menampung kasih sayang setiap hari

 

tak ada hujan

tapi, doa selalu dilarungkan

agar benar-benar damai tanah ini

tak jadi rebutan calon pewaris

begitulah adat leluhur

diawetkan beragam ritual

 

reguk dan reguklah, 

jadikan nira bagian diri

agar genap seluruh wasiat

jadi senandung kasih sayang

 

perempuan itu telah merelakan tubuhnya

menyelamatkan kakak yang selalu diingat

menjaga ibu serta ayah

tak ada lagi air mata

semuanya menjadi ingatan generasi selanjutnya

asal mula kelembutan menjadi gegas waktu

 

mengalir dan mengalirlah

bukan air mata

tetapi, doa perempuan suci

 

sebelum meninggalkan setapak jalan

kami selalu berdamai dalam diri

menjaga setiap rahasia yang tumbuh

di hutan-hutan

 

SudutBumi, 17 Mei 2015

 

Leave a Comment