oleh Andi Sriwahyudi
Aku melihat perempuan bersuara malam
dan cahaya bulan yang bersedih di sanggulnya
kemarin sore ia berdiam memandangi gunung.
Bersamaku yang bernasib bajingan. Yang sering menangis dari dasar hati.
Di sepanjang tahun.
Pada suatu masa, kami membuat senyum dari lembaran pagi.
Senyum yang indah dan abadi.
Yang akan terus berjalan dari segala bedebah dan sumpah serapah.
Langit dan hening hinggap di celana dalam warna pink J
Surakarta, 17 Agustus 2018