Puitri Hati Ningsih
Perempuan tanpa darah di tiap bulannya
Bulan-bulan hampa
Merah berputar di jalanan buntu
Badai terperangkap
Embun berguguran di sekujur tubuhnya.
Bila sabit bulan terlihat mengalis langit.
Ia tak kenal bulan
Tahun-tahun tanpa tanggal merah.
hanya malam
Tapak dara rindu merah
Tak istirahat bersujud, tak ada penghalang merah
Ia tak menghapus darah di jarinya yang tergores pisau dapur
Ia timang alirnya hingga mendung tersingkir dari angkasa
Hingga merah mengalir sampai rambutnya
Sampai badai mereda
Merenda garis pelangi tanpa warna merah
Bebaskan mimpi buruk dari tubuh plastiknya
Leleh oleh kata-kata sendiri
Lelah mencari satu kelopaknya.
Lelah mencari hari magentanya
11 Maret 2012