- untuk ibuku, Ai Supriati –
pernah kudengar dari wanita tua
ihwal secuil kisah tentang keraguan
yang ditumbukkan pada bebatuan di pinggir sungai
oh, betapa air matapun menderas di kilat matanya
kalimat mereka serupa belati terhunus di hati
namun engkau menelannya dengan perlahan
“hanya Tuhan yang berhak membalas”, katamu
dan jauh setelah itu,
ketika belahan jiwamu diambil kembali
mereka masih saja menggedor pintu rumahmu
meminta paksa semua yang kau miliki
“hanya Tuhan yang berhak membalas”, jawabmu masih sama
daun gugur satu-satu
menangisi angin yang selalu merampas waktu
sementara kau tetap setia dan tabah
menganyam pilu.
2010
*termuat dalam buku Surat Menjelang Lepas Lajang, 2011