Puisi – Pasar Pedérro

Pasar Pedérro

Puisi Mario Lawi

versi cetak: Harian Kompas 31 Maret 2018

Narator: Indah Darmastuti

download

 

Para dewa menyalakan api untuk membersihkan

Bulu-bulu para pecundang. Tak perlu mereka dipukul

Ke tiang atau batu agar tanda lebih jelas tampak bagi

Para pencari. Dari bilur dan lebam, para dewa

Tahu bukan tarung penebusan yang menyelamatkan

Desa dari bencana, bukan percik darah yang tersayat

Taji besi atau sembilu yang membasuh salah,

Melainkan lolong sekarat seekor anjing. Tak mereka

Nikmati sukacita ini sebagai pesta dan hari raya.

 

Sesosok dewa menurunkan jasad si kurik yang

Digantung di batang kesambi. Ini satu dari hari-hari

Ibu kehidupan berkeliling dan memerah air susunya

Bagi tumbuh kembang sorgum dan kacang hijau,

Bagi melimpahnya nira lontar musim kemarau.

Diamatinya bilur di tubuh si kurik, diusapnya

Darah yang membasahi tangannya ke batang lontar

Dekat perapian. “Bertumbuhlah, pemanggul sari-sari

Sukacita yang mengepulkan asap di dapur para

Perempuan. Berkembanglah, mayang, pelepah, daun

Yang menajamkan pisau musim panas para lelaki.”

 

Dilihatnya si jago merah dielu-elukan di arena.

Telah telanjang tubuh si kurik di tengah lidah api.

Dua dewa penjudi mengitari arena menentukan taji

Mana yang paling baik bagi liur mereka. Telah

Disisihkan bagian milik kedua dewa. Waktu bergeser

Ke arah hitam dan lima dewa yang mengitari perapian

Mesti mulai menentukan berapa banyak persembahan

Yang haras mereka terima di atas rakit yang akan

Dilarangkan ke barat dua purnama setelah ini.

 

2018

 

Leave a Comment