Tuhan pun Mendengar Jeritan si Bisu

Puisi Memey Silitonga
Narator Komang Somawati
Ilustrasi musik Endah Fitriana

Saat ini ketika kau seperti berada diantara dua tembok besar,
Teriakkan lantang mu tak menggeser kegalauanmu
Jeritan histerismu pun tak menggeser se inci ke khawatiran mu
Bahkan hardikkan mu sepertinya terabaikan
Lantas apa mau mu?
 
Berpaling dan membenci serta menyalahkan semua yang ada?
Menjauh dan menghilang seperti ditelan bumi?
Meratap sampai kering air mata dan habis suara mu?
Pernahkah kau sadari ?
 
Dia sudah tahu persoalan mu, dia sudah melihat kerapuhanmu
Dia duduk disebelah mu dan menyentuh pundak mu, menenangkan
Luapan emosi mu yang tak berkesudahan?
Tak perlulah kau muntahkan dengan menggelegar  karna Tuhan pun mendengar jeritan si Bisu
 
Tak bisa kah engkau bicara lembut dalam sebuah  ketenangan?
Tak bisa kah engkau memohon dengan sukma yang damai?
Tak bisa kah engkau biarkan angin menyampaikan pesan padamu?
Bahwa Tuhan tahu engkau mencari Nya.
 
 

Batas Waktu

Penulis : Memey Silitonga
Penutur : Komang Somawati
Ilustrasi musik : Endah Fitriana
Batas Waktu
Kita tahu hidup adalah pertandingan dengan batas waktu
Kita tahu akhir dari pertandingan kehidupan adalah kematian
Tetapi kita tak pernah siap dengan kematian
Seakan waktu masih panjang untuk kematian itu.
Ada yang tahu tentang batas itu telah dekat
Kita marah dan mengutuk si Tuan Sok Tahu
Setiap malam dalam renungan terlintas kata dari Tuan Sok Tahu
Sesegera  kita mengusir dari renungan.
Ada tidak nya si Tuan Sok Tahu itu Kematian pasti tiba
Tahu tidak tahu nya kita sudah pasti tahu kita akan Mati
Perdebatan terus bergulir, keramaian belum berakhir
Kematian terlupakan, dan disaat dia terlupakan
Seketika itu pula dia datang.
Memey Silitonga 2019
>