Paket Daun Lumbu Untuk Rumpun Melatiku

Penulis : Nashita Zayn
Versi cetak antologi Joglo 8 Shinigami, Taman Budaya Jawa Tengah
Penutur : Noer Atmaja
Ilustrasi musik : Endah Fitriana

“Selamat pagi Rumpun Melati. Hey, kau di sana. Aku titipkan paket untukmu yang dibawa oleh kawanan burung emprit sahabatku. Balas jasa karena aku telah merawat kawannya yang mati kemarin dibidik anak kampung dengan ketapel lambung. Sudah aku coba merawatnya. Lukanya terlalu parah, terlalu banyak darah. Sudah aku bilang padanya. Berhati-hatilah saat mengambil bulir padi. Penjaganya banyak sekali. Mereka berketapel ranting setinggi, berpeluru kerikil dan bermata jeli, sangat-sangat ahli,” gumamku sendiri berharap suara ini terbawa angin dan sampai padanya.
Kuingat kata emprit malang ketika itu, “tidak apa-apa aku mati dalam kewajibanku, mencari makan untuk anak-anakku.”

“Tapi kamu mencuri. Dianggap pencuri padi yang ditanam paman petani,” kataku.

“Aku hanya menjalankan perintah dari Tuhan, untuk mengambil seperduapuluh bagian dari setiap bulir padinya,” jawab Emprit sambil menahan sakit.

“Itu pekerjaan yang sangat beresiko, sangat berbahaya. Mengapa Dia tega menugaskan kamu mengambil bagian itu?” Protes spontan atas ketidaktahuanku yang membuat Emprit tersenyum di tengah ringisannya.
“Itu tugas mulia kami. Masih sama tugasnya seperti saat pertama Dia menciptakan nenek moyangku untuk mengambil zakat dari setiap bulir padi, agar manusia sadar dan peduli adanya bagian zakat setiap bulirnya bagisesama manusia. Ini berat, tapi Dia adil. Aku diberi-Nya sayap, sehingga aku bisa melihat keindahan bumi dari atas sana. Perdagangan yang sangat adil menurut kami.”
Burung emprit sahabatku terbatuk lalu muntah darah. Aku seka dengan lenganku, tapidia melemah.
“Aku akan segera menghadap Rabb-ku, adakah sesuatu yang akan kamu titipkan?”
Aku bisikkan di dekat telinganya. Aku titipkan paket ini. Jarum dan benang warna sari pelangi. Jarumnya dari duri kaktus suci. Benang dari serat pelepah pisang raja sedang bunting, yang selalu berdoa kepada-Nya untuk keselamatan sang jabang jantung pisang.  Pembungkusnya daun Lumbu yang kalis air, diikat pita warna jambu dari kembang Turi. Aku titip untuk Rumpun Melatiku. Tarian cintaku terlalu bersemangat saat menyematkan puja-puja, dan ternyata aku belum pandai menarikannya. Banyak daunnya yang sobek. Ada ranting tergores. Putiknya merana. Sampaikan padanya paket ini, yang di dalamnya  juga aku masukkan daun sirih anti bakteri, sehingga benang dan jarum ini anti infeksi.

Burung emprit sahabatku tersengal-sengal. Matanya menutup, paruhnya mengatup, ia terbatuk-batuk.

“Bagaimana cara kawananku menemukan Rumpun Melatimu?” tanya Emprit sangat pelan.

“Mudah saja. Terbanglah ke taman sari. Carilah Rumpun Melati terelok di sana. Pokok rumpunnya seperti penari. Cabangnya seperti lengan berjemari penari Legong. Bunganya paling indah dan wangi. Sampaikan paket ini padanya, bacakan mantra untuknya. Tolong tirukan suara dengungku. Agar ia tahu bahwa aku yang telah mengirimnya.”

Matahari meninggi, aku tutupi kepala Emprit malang dengan daun lumbu. Ia menghela nafas satu-satu dan didekapnya erat paket titipanku. Seiring dengan hembusan paru-parunya yang paling bungsu, dia pergi menghadap Rabb-nya menuju surga burung-burung. Disaksikan kawanan emprit yang sangat berduka.

Setelah menimbun temannya yang barusan mati dengan kelopak bunga kamboja, paketku dibawa kawanan emprit ke arah utara.

Malam cepat merayap, warnanya  gelap, suasana senyap makin menyergap dan seketika membuatku terkejap. Dalam hati aku banyak berharap semoga paketku kau terima dengan cepat, hatiku menderap rapat. Kunyanyikan kidung malam dengan suara dari gesekan lar sayapku, suaranya merdu dipadu dengan kecipak ikan gabus yang memangsa belalang.

***

Mentari dua puluh derajat miringnya, disana cahaya berpendar nanar.  Tampak siluet biru tua berpadu biru muda. Gunung Merapi berasap dari kejauhan, bergandengan terus dengan gunung Merbabu. Mesranya!

Selamat pagi Rumpun Melati. Sudahkah kau terima paketku yang berbungkus daun lumbu dengan pita merah jambu? Jahitlah lukamu dengan jarum dan benang sari pelangi. Warna hijau untuk jahit daunmu, warna putih untuk jahit bungamu, warna abu
untuk ranting-rantingmu…. Memang sedikit perih, tapi daunmu akan segera rapih. Spaleg rantingmu yang patah.Jepit dengan lidi dan ikat dengan benang, sampai yang patah tersambung, yang tercerabut akan terhubung.

Kumbang ini malu. Aku terbang hilir mudik hilang arah. Jangan diingat penyebab robeknya. Ingat saja benang yang merapihkannya. Aku jamin sepenuh
cinta, cinta kepadamu Rumpun Melatiku, dari sumber cinta karena-Nya sang penciptamu. 

Setelah kau terima paket itu, tolong tuliskan pada selembar daunmu. Bubuhi dengan aroma putik.Lalu titipkan pada angin kemarau utara. Akan kuminta sahabatku laba-laba menangkap pesan pada daunmu dengan jaringnya. Tahukah kau? Aku bersalto sangat cemas.

Pernah kau bilang, kurang subur lagi tanah di sekelilingmu…. Tenang sayang, akan kuminta para cacing tanah berdansa tango agar tanah meremah hara. Kabut pagi tadi, terasa sejukkah di kutikulamu? Hatiku merana lama tak jumpa denganmu. Aku malu temui dirimu.

Hiasi pokokmu dengan renda. Mohon usir semua duka nestapa. Akan kuminta ulat hijau membuatkannya dari daun nangka. Daun nangka tua warna kuning merah. Daun nangka muda warna hijau cerah. Dikombinasi kelopak tua bunga nangka di atas dan di bawah. Kau akan terlihat cantik. Menarilah Legong untukku saja. Tentu akan kudengungkan mantra-mantra mengiringi gerakan jemarimu dibantu semilir sang bayu.

Pasti semerbak bau buana dan lantunan doa agar turun hujan pun membahana. Sehingga akan terhiasi daunmu bak bulir embun, dan berpendarlah cahaya mentari pagi melewati setiap rumpun. Embun laksana intan berlian berwarna pelangi, hiasi seluruh tubuhmu yang harum mewangi. 

***

Selamat siang rumpun melatiku. Mentari sembilan puluh derajat, tepat di atas jidat dengan panas yang menyengat. Angin utara tak jua membawa daun pesanmu. Tadi laba-laba berkata, belum ada pesanmu yang terjala. Hanya dua ekor lalat kurus yang menggelepar tak berdaya.

Waktu berjalan laksana kura-kura. Aku tak sabar. Tapi aku harus sabar dengan gemuruh dada yang makin berkobar. Aku redam dan aku siram dengan air dari daun pohon badam. Aku hinggap di atas pucuk sengon laut yang pucuk daunnya dihiasi warna kuning pucat. Rantingnya yang masih hijau aku cecap, tapi nafsu makanku lenyap terambil oleh Rumpun Melatiku yang sangat kuharap.

Matahari semakin miring ke barat. Warnanya kekuningan dengan warna semburat merah.Belum ada surat dari jejaring laba-laba. Apakah kau lupa dengan alamatku, sayang?

Disini ku nanti. Mata air dengan pohon randu gumbala yang berusia ratusan tahun mengumpulkan milyaran embun. Di kanan dan kirinya tumbuh talas lumbu juga di sebelah batu tumbuh pohon sirih yang berumpun seperti mahkota ratu. Di seberangnya tumbuh rumpun bambu kuning yang rebungnya manis sama seperti nektarmu.

Jangan pergi Rumpun Melatiku. Jangan menyerah. Tolong jadikan cintaku sebagai penyemangatmu walau kau rasakan lemah.Pelajari lagi agar cinta itu segera membuncah. Tetaplah berdoa kepada Sang Penguasa, agar hujan membawa rindu yang pergi.

 Wahai cintaku. Kudoa agar kau mau memaafkan keliruku. Ataukah kau lupa padaku, kumbang yang menarikan tarian cinta dengan semangat membara? Sudah aku teriakkan namaku berkali-kali kepadamu: Tonggeret! Tapi kau diam ikuti, tetap memendam setinggi. Wahai Rumpun Melatiku, akan aku kirimkan lagi paket daun lumbu  satu-satu. Sampai kaupun tahu. Hari esok pasti lebih baik tanpa terpekik.”’

……..

Air matanya menggenang di pelupuk. Nyaris jatuh mencari teduh setelah membaca tulisan Priya sampai akhir. Tak mudah akhiri semua dengan berlari, andai Tuhan beri kekuatan untuk berlari.

“Untaian kata-katamu terlalu merayuku,” katanya parau.

“Lalu bagaimana, Amara? Maukah kau memberiku kesempatan lagi?” desak Priya yang lebih suka memanggil gadis itu, Rumpun Melati. Bening mata yang berkaca-kaca, tak mudah mengartikannya. Amara masih terpana datar. Inginnya Priya mendekap Amara erat.

Priya semakin optimis. Hanya butuh waktu sebentar untuk mengembalikan kepercayaan Amara. Tinggal sedikit lagi. Priya akan tunjukkan kalau ia pantas menjadi sang juara menyisihkan kompetitor lain. Amara tak boleh meragukannya lagi. Karena cintanya memang tak biasa. Cinta yang bertanggungjawab. Seindah puisi-puisi cinta yang terlahir setiap detik dalam getar suar asmara bumi. Setelah bertahun-tahun lamanya tidakkah ini cukup bukti?

Meskipun Tuhan selalu campur tangan, Priya merasa penentu pilihan. Hal hidup bersambung Amara, itu semua karenaperannya. Silau materi wanita, Priya pastikan semua bisa ia persembahkan jika Amara minta. Setiap orang butuh pendewasaan. Tentunya tak ada alasan pengingkaran. Doa yang tak lepas menderas. Caci yang tak lagi memaki. Priya harapusahanya meruntuhkan dinding setinggi milik Amara.  Pujaan hati yang berhati lembut, penyabar, sederhana, bahkan sangat pemaaf. Dialah Rumpun Melati yang sanggup mewangikan keindahannya.

“Ampuni aku?” pinta Priya sambil tersenyum lebar.

Amara menggeleng dengan rekah senyum tipisnya.

“Kenapa?” Priya masih berusaha setegar Tonggeret, pemilik banyak paket daun lumbu yang akan terus berjuang sampai mati.

“Maaf, karena kau psikopat…,” jawab Amara kemudian berlalu pergi.

>