Arus

Penulis : Latif N. Janah
Penutur : Astuti Parengkuh
Ilustrasi musik: Endah Fitriana

Download di sini.

Kereta berhenti di jalur tiga. Gugup tiba-tiba saja menyerbumu. Saat kakimu menjejak peron Stasiun Balapan, sensasi naik kereta yang selalu kau suka seketika berubah. Dari Lempuyangan, kau bertolak pukul sebelas siang. Yogyakarta-Solo memang dekat, namun kau merasa perjalananmu kali ini teramat singkat melebihi biasa. Perjalanan dengan kereta api lokal ini tak nikmat sama sekali. Ya, kau tak bisa menikmati suasana gerbong khusus pria kereta Prameks layaknya kepulanganmu sebelum-sebelumnya. Kau tak mendengar celoteh anak-anak kecil yang terpaksa duduk di dasar gerbong bersama ayah mereka. Atau, berebut berdiri saat lori makanan ringan tiba-tiba muncul di antara penumpang.
Tiba di Solo, seperti merasakan kembali pelukan ibumu berpuluh tahun yang lalu. Suasana Balapan siang itu begitu kau hafal. Ada banyak orang yang dari wajahnya, seperti enggan mengucapkan kata perpisahan. Barangkali, dari banyak mata yang tertutup kacamata hitam, ada hati yang enggan untuk melepas atau ditinggalkan. Ada banyak tetes air mata yang dipaksa untuk tergenang. Ada kobohongan yang pahit dari setiap kalimat; “Tenanglah, aku akan baik-baik saja. Kita pasti akan bertemu lagi.”
Kendati kau tak ingin pulang, bapakmu telah berkali-kali melancarkan perintah lewat telepon hampir tiga hari berturut-turut. Kau merasa, setahun ini bapakmu memiliki semacam ketakutan yang tak lazim. Bahkan, beberapa kali ia bertanya perihal kabarmu kepada sejumlah teman yang kebetulan sedang pulang ke Solo.
Kau lekas menyusuri lorong di sebelah selatan stasiun menuju pintu keluar. Seketika serombongan sopir taksi dan tukang becak menyambut kedatanganmu seperti biasa. Menawarkan jasa yang terus menerus—meski tahu, beberapa orang sudah menolaknya. Kau harus berebut tempat untuk sekadar berjalan. Kau menolak saat bapakmu menawari untuk menjemput. Bukan karena sekarang ini perasaanmu tengah teraduk, tapi kau kasihan jika membiarkan ia berkendara dengan motornya. Belum lagi, di akhir pekan seperti ini, stasiun menjelma lautan manusia.
Tak ada penyambutan istimewa seperti biasa. Tak ada pula jamuan yang biasa terhidang selepas kakimu melampaui bibir pintu. Seperti tahu, sekarang ini kau memang tak bernafsu menikmati wedang ronde yang selalu diantar Bibi saat kaupulang. Yang kautemui hanya kekosongan.
Sejam lamanya kau merebahkan diri di kamar ukuran sedang. Sementara bapakmu tak terlihat batang hidungnya setelah kau cium punggung tangannya saat kautiba. Padahal hatimu tengah beradu. Menunggu pertanyaan yang mungkin saja akan mengalahkanmu secara telak jika kau jawab dengan sebenarnya.
Memang, sejak kepergian ibumu beberapa tahun silam, seolah bapakmu memikul beban begitu berat. Kau tak menampik jika penghasilannya sebagai pensiunan pegawai negeri sangat pas-pasan untuk menyekolahkanmu di universitas. Terkadang, kau membayangkan, ibumu masih ada di sela-sela hari yang kaulalui. Melihatmu mengenakan toga tanda kebanggaan hingga dapat pekerjaan mapan. Tapi, kau tahu itu hanya harapan. Dan harapan tak selamanya akrab dengan kenyataan.
“Bapak tak ingin gagal.” Selarik kalimat itu seketika berdenyar-denyar dalam pikiranmu. Seperti boomerang yang tiba-tiba lepas kendali menelanjangi keberanianmu sendiri. Kau menerka, bapakmu sudah mengendus perihal kelakuanmu. Kau tahu, semuanya telah terlambat, tapi paling tidak, kau ingin ia tahu pada saat yang tepat. Saat yang baginya pas untuk menanyaimu sendiri. Kau merasa bodoh jika harus mengatakan apa yang terjadi.
***
Barulah ketika kau tengah sendiri di ruang depan, bapakmu tiba-tiba muncul. Dapat kaubaca kegelisahan dalam setiap gerak tubuhnya. Bahkan, sapaan yang biasanya terdengar begitu menenangkan, kini terasa begitu hambar. Isyarat matanya saja, kental akan kekhawatiran.
“Dua hari lalu, orang tua Anandari datang kemari.” Kau tak tahu harus menanggapi bagaimana pernyataan bapakmu itu. Memang, kau telah memutus hubunganmu dengan Anandari sejak setahun yang lalu. Tapi, alih-alih memberitahukan ini kepada bapakmu dan orang tuanya, kau dan ia sepakat untuk menutup rapat mulut kalian dahulu. Kalian tak ingin ada semacam kekecewaan mendalam dari hal itu, kendati pastilah pada saatnya nanti, bapakmu dan orang tuanya juga tak akan mudah menerima.
Anandari. Gadis yang selalu membuat hatimu dulu kian merindu. Seperti halnya bapakmu, ialah orang yang sangat kau sayangi. Kau teringat saat ia berlarian di sepanjang peron Stasiun Purwosari. Ia yang tadinya mengira kau berangkat dari Balapan, harus bekejaran dengan waktu. Ia tak mengindahkan lagi larangan petugas yang berteriak-teriak menghalanginya masuk peron. Namun,kau tahu, kedatangannya saat itu memang hanya untukmu. Untuk melepasmu ke Yogyakarta. Hubungan kalian empat tahun lalu memang sedang ranum-ranumnya. Seperti gejolak cinta Galih dan Ratna.
Bapakmu dan orang tua Anandari pun mengangguk setuju dengan hubungan kalian. Bagaimana tidak, Pak Masdar, ayah Anandari, adalah sahabat bapakmu yang sejak dulu bekerja di kantor yang sama. Saat mengetahui anak-anaknya tengah menjalin asrama, hal itu menjadi semacam kabar suka-cita yang tak ada bandingannya.
Kau tak berani menatap wajah bapakmu. Sesekali hanya melirikkan mata dan jarak pandangmu hanya sampai pada dagunya yang kini dipenuhi rambut memutih. Kau menunggunya bertutur lagi. Barangkali ada sesuatu yang memang harus segera kauketahui.
“Bapak tak ingin kau bermain-main dengan Anandari, Pram.”
Kau masih membisu. Kau tak mampu membayangkan bagaimana reaksi orang tua Anandari. Membuat hati Anandari kecewa itu saja sudah membuatmu jengah pada dirimu sendiri. Jika ditambah dengan rasa kecewa orang tuanya terhadapmu, tentu akan menjadi empedu. Pahit dan sakit.
“Kali ini Bapak benar-benar gagal, Pram. Bapak kecewa padamu.” Kau dengar suaranya bergetar.
Dalam benak, kau berusaha menyusun kalimat yang mungkin saja akan terdengar rumpang. Sebenarnya, kau tak mau jika harus mengatakan ini. Andai bapakmu tahu, sebetulnya, tak ada sedikit pun keinginan untuk membuatnya kecewa. Terlebih, rasanya kau tak punya hak untuk membuatnya terus mengkhawatirkanmu. Caci maki yang tiba-tiba menghujaninya ketika orang tua Anandari datang, kau rasa sudah lebih dari cukup membuat hari-harinya makin pahit.
Tak mengapa jika memang orang tua Anandari menyimpan kebencian terhadapmu, tapi jika itu harus berimbas pada bapakmu, kau memberi beban dua kali lipat di pundaknya. Maka setelah tandas keretek di bibirnya, pernyataan yang ia berikan, membuatmu semakin bungkam.“Ajaklah Bastian ke sini sesekali. Bapak ingin berkenalan dengannya. Dia teman akrabmu, bukan?”Pertanyaan itu menjadi retorika. Kau iyakan dalam hati dengan kegugupan yang tak bisa kau tutupi.
Hubungan yang kau jalin dengan Bastian, bermula saat pertemuan kalian di sebuah pentas teater. Ia seorang fotografer. Tak tahu bagaimana, ia begitu pintar menarik perhatianmu. Seperti saat ketiga kali ia datang ke kosmu di Yogyakarta. Ketika itu ia numpang mandi di tempatmu lantaran kemalaman dan harus segera meliput berita. Kau tak tahu mengapa, tubuhnya yang dililit handuk sebatas pinggang begitu menggoda darah lelakimu. Kau tak bisa menampik, jika kau mencintainya setelah kau rasakan bagaimana aroma tubuhnya, sentuhan tangannya yang acap kali menjelajah setiap inchi tubuhmu. Bahkan, Anandari tak pernah membuatmu sedemikian bergejolak. Itulah mengapa, sekarang kau jarang pulang untuk menengok bapakmu hanya karena tak mau melewatkan kedatangan Bastian demi menuntaskan rindu yang terasa ganjil, namun begitu menggebu.
“Kau mencintai Bastian, kan, Pram?” suara bapakmu kini semakin berat. Terasa bergetar di bilik hatimu. Kau tatap matanya yang kini basah. Bahkan untuk mengatakan “ya” saja, kau tak bisa.(*)

Jogja, 2013-2018
Latif N. Janah lahir di Sragen, 1990. Bersetia menjadi pembaca.

Leave a Comment