Cerpen – Pria Sinterklas

Spread the love

DOWNLOAD

Angelina Enny

PRIA SINTERKLAS

Jam tujuh malam. Aku melirik layar smartband-ku. Pohon-pohon bergerisik oleh rombongan burung yang mulai bersarang. Di sini matahari lebih lama menampakkan diri, terlalu angkuh untuk bertukar dengan malam. Angin sudah berhenti bertiup sejak tadi, membuat hawa sedikit gerah. Aku membuka sweter yang melapisi tanktop-ku, menyesap kopi dingin pada gelas kertas yang sedari tadi kuabaikan. Aku kembali menatap layar laptop, membaca ulang paragraf terakhir dan mendapati dirimu begitu banyak berserakan di sana.

Sejenak aku mengerjapkan mata dan melihat ke sekeliling. Sebuah artikel di majalah menyebutkan itulah cara untuk mengistirahatkan mata setelah dipaksa melotot menatap layar selama delapan jam kerja. Delapan jam kerja? Bahkan lebih dari itu. Dulu. Sebelum aku memutuskan untuk keluar dari kantor auditor ternama yang sebenarnya hampir memberikanku posisi mentereng di usia muda.

Tetapi hidup tak dapat disangka, aku bertemu denganmu setahun  lalu, saat aku ditugasi kantor untuk mengambil sertifikasi profesi di sini. Sejak itu aku  semakin yakin akan arah hidup, yang selama ini kupikir tinggal dijalani hari  ke hari.  Sekarang, aku berharap dapat bertemu denganmu, menunjukkan tulisanku yang hampir rampung, cerita tentangmu.

“Tentangku? Atau tentang Sinterklas?” katamu tertawa sambil menunjuk kostum merah di sampingmu. Saat itu kita sedang duduk-duduk di taman ini menikmati sisa-sisa matahari yang hangat sebelum kau kembali untuk bekerja. Tubuhmu yang besar menciptakan bayang-bayang yang menimpali rimbun pepohonan.

“Kau pasti kepanasan memakai kostum itu.” Aku meraba kain flanel yang sedikit basah karena keringatmu, tak bisa membayangkan diriku terperangkap di dalamnya dengan jenggot dan kumis palsu bertahan selama berjam-jam untuk tertawa dan tersiram lampu sorot.

“Aku menyukainya,”katamu sambil melahap potongan christmas stollen yang ketiga.

“Menjadi Sinterklas atau christstollen-nya?”tanyaku.

Kau tertawa sambil menatap cuilan roti yang kaupegang. “Dua-duanya. Rotimu enak, dan tanpa sadar aku sudah menghabiskan tiga atau empat ya?”

“Kau tidak bisa menyebutnya rotiku. Karena aku membelinya di Orchard,”jawabku malu. Seumur hidup aku jarang sekali menyentuh dapur, selain jika mama sedang sakit dan aku terpaksa membuatkan makanan instan untuknya. Selebihnya aku selalu makan di kantin kantor atau nongkrong di kafe mahal bersama teman-teman sepulang kerja.

“Ya, karena kamu yang membawanya aku bilang rotimu. Mungkin kapan-kapan kamu bisa bawakan christstollen bikinanmu sendiri,”katamu menggoda.

“Aku tak bisa buat marsepennya.”

“Ah, Non. Kamu kan bisa beli di Cold Storage. Atau bikin sendiri dengan bubuk almon, putih telur, gula dan krim tar-tar seperti memasak karamel.” Itu dia dirimuyang selalu lebih tahu dariku soal masak memasak. Kau seperti melihatku terbenam malu sampai dengan rendah hati menyambung,”Aku tahu itu karena aku suka marsepen. Di rumah Jakarta, simbok malah lebih mahir membuatnya dari aku.”

Di pertemuan pertama kita, kau sudah menceritakan tentang keluargamu yang terlalu sibuk untuk saling bercengkerama sehingga sejak kecil hidupmu hanya berkutat di dapur bersama simbok. Sebab sekolah dengan kurikulum akademis yang ketat membosankanmu. Kau memilih untuk melanjutkan sekolah seni di Lasalle College di negeri Singa, jauh dari keluarga yang barangkali tidak merindukanmu.

“Kau ambil jurusan apa?”tanyaku saat kau membereskan perlengkapan menggambar anak-anak di Museum Filateli. Tahun itu museum mengadakan pameran instalasi The Little Prince yang dibawa langsung dari keluarga sang penulis di Prancis.

“Film. Aku ingin membuat film-film Indonesia yang berbobot tapi juga menghibur, bukan cuma setan-setanan nggak jelas atau drama cinta-cintaan konyol.”

Aku nyengir. Meski waktuku saat itu banyak termakan sebagai budak korporat, tapi aku selalu menyempatkan diri menonton film di bioskop tiap akhir pekan dan entah mengapa aku enggan membayar tiket untuk menonton film Indonesia. Aku menyadari sikapku seperti ini yang membantu mematikan perkembangan film negeri sendiri.

“Seperti The Little Prince,”sambungnya,”film anak-anak yang sarat makna. Dari satu layer anak-anak bisa memaknainya sebagai visual yang menghibur, tapi di layer lebih dalam, orang-orang dewasa dibuat merenung.”

Aku manggut-manggut. Setelah mengelilingi seluruh ruang pameran aku pun menyadari betapa jujurnya Antoine de Saint-Exupery menuangkan kegelisahannya dalam tulisan dan menempatkan tokoh-tokoh yang merepresentasikan karakter-karakter dalam hidup.

Pangeran Kecil mewakili kanak-kanak dalam dirinya yang menolak tua.  Si Mawar adalah istri yang dicintai sekaligus ditinggalkannya. Rubah yang mencinta sebagai seorang sahabat namun tak bisa dimiliki. Raja, Pengusaha, Pedagang yang mewakili berbagai sifat dari masyarakat. Sayangnya si pengarang, yang sekaligus aviator itu hilang tak berjejak. Ia seolah lesap di udara, saat terbang melintasi benua hitam. Runtuhan pesawatnya ditemukan, tetapi jasadnya tidak. Ia misteri sampai kini dan seolah mengamini apa yang dituliskannya: I don’t wish to die, but I’m-gladly-to go to sleep like this.

“Aku ingin menjadi penulis,”kataku mendadak. Kita sedang duduk-duduk di taman ini untuk ketiga kali. Saat itu hampir malam, lampu-lampu taman sudah dinyalakan lengkap dengan rencengan bohlam natal warni-warni. “Seperti Exupery.”

“Wah, kamu bisa jadi penulis skenario filmku.”

Aku menoleh ke arahmu, menangkap binar mata yang gagal disembunyikan bayang-bayang akasia. Bahkan setelah pertemuan ketiga, kita tidak saling bertukar nama dan nomor telepon. Aku terlalu takut untuk memulai sementara alasanmu entah apa. Selama tiga hari bersama aku tidak pernah melihatmu mengeluarkan ponsel, dan kita selalu bersapaan dengan “aku” dan “kamu” (kadang-kadang kau memanggil “non”) seolah kita adalah teman lama yang terdampar di negeri asing berdua.

Kau telanjur kikuk dengan harapanmu. Jemarimu mencuili christstollen dan mengunyahnya pelan-pelan.

Aku mencoba membuka keheningan. “Barangkali aku mau menulis tentang Sinterklas.”

Giliranmu yang menoleh heran. “Bukankah kamu bilang tidak suka pada Sinterklas?”

Aku menunduk,  membayangkan bagaimana aku yang kanak-kanak dulu selalu menunggu malam Natal tiba untuk bisa berkenalan dengan pria baik hati itu. Dari tahun ke tahun ingatanku, aku selalu mendapatkan hadiah yang kuinginkan, yang kutulis di sebuah kertas warna-warni dan digantungkan di ujung ranting pohon natal setinggi yang tubuh kecilku dapat raih. Diam-diam aku selalu berusaha agar di tanggal 24 malam aku dapat terjaga, untuk bisa berjumpa langsung dengan Sinterklas, tapi sepertinya kantuk berkawan akrab dengan anak-anak.

Di malam natal kedelapanku, aku berhasil melihat Sinterklas tanpa ia melihatku tentu saja. Tapi Sinterklas yang kulihat tidak seperti yang kulihat di buku-buku cerita. Ia tidak gemuk dan tua, tidak berkumis dan janggut putih. Ia lampai, berambut dan kumis hitam. Ia memeluk seseorang, berambut pirang panjang, memakai rok sepan berwarna merah yang senada dengan si Sinterklas. Mereka, papaku dan sekretarisnya.

Aku menengadah menahan tangis. Bayangan itu selalu menghantuiku saat-saat Natal tiba.

“Mungkin aku akan belajar menyukainya,”jawabku. Mungkin aku menyukai Sinterklas dalam dirimu, kata hatiku.

Kau tersenyum. “Aku selalu suka Sinterklas. Makanya aku selalu mengambil pekerjaan ini. Sinterklas selalu mampu membuat anak-anak gembira.”

Sinterklas juga membuatku sedih, kataku dalam hati. Aku tidak ingin mengungkapkan pengalaman masa kecilku padamu. Saat kau tanya mengapa aku tidak menyukai pria baik hati itu aku hanya menjawab asal.

“Mungkin karena ia tidak pernah mampir di rumahku.”

Kau terbahak-bahak sampai memuntahkan beberapa manisan buah dalam christmas stollen yang sedang kaumakan. Aku mengangsurkan kopi dalam gelas kertas yang segera kausambut dengan pandangan terima kasih.

“Kamu mesti mengirim undangan tertulis padanya,” katamu menggoda.

“Apakah belum terlambat mengirimkannya sekarang?” tanyaku. Maukah kau menjumpaiku di Jakarta nanti, tanyaku dalam diam.

Kau seperti membaca pikiranku. Entah karena embusan angin malam yang membuatmu gigil atau remang bohlam-bohlam natal itu yang membawa suasana romantis. Kau menggeser dudukmu, merapat ke sebelahku. Perlahan kau mengambil tanganku dan mengusapnya perlahan.

Sejurus terdengar O, Holy Night berkumandang di sela-sela udara.

“Carolling! Yuk, kita ke depan taman.” Kau menggandeng tanganku.

Sekelompok remaja bertopi Sinterklas dengan syahdu menyanyikan lagu-lagu Natal akapela. Suara mereka begitu jernih, membawa perasaan gamang di hati. Ternyata aku begitu merindukan Natal, atau seseorang? Diam-diam aku melirikmu, raut wajah yang begitu membiaskan suasana Natal.

Lima lagu selesai, kau masih menggenggam tanganku.

“Besok malam Natal. Apa kamu mau ikut ke gereja St. Joseph? Dekat sini, kok.”

Sudah lama sekali aku tidak pergi ke gereja, sejak aku kecewa pada Sinterklas dan Natal, tapi pergi bersamamu menggerakkan semangatku untuk merayakan sesuatu.

Aku mengangguk.

“Oke, besok kita ketemu di taman lagi ya. Jam-jam seperti biasa.” Kamu menyunggingkan senyum.

Aku sengaja memilih untuk jalan menuju stasiun MRT agar dapat lebih lama menikmati waktu bersamamu. Kita berjalan dalam diam sepanjang Victoria Street, melalui gedung-gedung putih paska kolonial yang sudah dialihfungsikan menjadi pusat belanja atau pun kafe. Dengan tangan masih saling menggenggam, hatiku perlahan mulai berbicara.

Keesokan harinya, aku terpaksa tidak menepati janji padamu. Panggilan dari Jakarta memaksaku untuk kembali segera. Sinterklas yang merusak kebahagiaan Natalku bertahun-tahun mendadak pergi. Papa terkena serangan jantung. Mama, perempuan yang telah berpisah darinya bertahun-tahun tetap meratap menangisi kepergiannya. Aku mendesah, entah lega atau sesal. Bagaimanapun aku tak bisa lagi menyayanginya.

Aku membawa kenangan itu terus menerus, melewati bulan demi bulan yang basah sampai akhirnya aku memutuskan untuk keluar dari pekerjaanku yang sangat menyita waktu.  Aku membuka toko kue kecil sambil menuangkan kenanganku dalam tulisan–seperti ketetapanku mengikuti Saint-Exupery dulu.

Aku menggigit potongan christmas stollen yang kubikin sendiri di dapurku. Marsepennya terasa menetap di langit-langit lidah, dengan rasa almon yang pekat. Mungkin kau akan menyukainya.

Sepasang muda berlari menaiki tangga batu yang tersusun rapi menuju ke arahku. Dua hari menyambangi taman ini aku menyadari sekarang semakin banyak orang yang menggunakan fasilitas taman untuk lari sore. Semakin banyak peluang untuk menemukanmu di sini. Andaikan, kata hatiku.

Seperti dejavu aku mendengar kembali lantunan O, Holy Night di sela rimbun pepohonan. Namun kali ini tanpa hangat genggamanmu. Aku menuju ke depan taman, duduk di bangku batu yang sama seperti saat bersamamu,  menyimak senandung dari remaja-remaja yang mengindahkan perayaan akhir tahun ini.

Lima lagu usai, dan kau tetap tidak ada. Aku berjalan menyusuri Victoria Street, mencari  binarmu di antara para Sinterklas yang menghibur di depan museum atau pusat perbelanjaan. Tapi sorot gembira itu tak kutemukan. Mereka hanyalah sinar-sinar redup yang terperangkap dalam kostum seorang kakek tua. Aku berjalan kaki pelan-pelan, sengaja mengitari gereja St. Joseph untuk melihat jadwal kebaktian. Besok malam Natal. [ae]

Temukan kami di sini!

Leave a Comment