Dalam Pelukan Badai

Spread the love

Cerpen: Tita Tjindarbumi

Versi Cetak: Antologi 8 bahasa Cinta

Narrator: Tita Tjindarbumi

 

Download di sini

Luka tergambar jelas di mata perempuan renta itu. Kerut di wajahnya tak bisa berbohong betapa sarat beban hidupnya. Aku masih ingat dan selalu ingat masa tuanya selalu ingin berbicara betapa hidup ini selalu melulu penuh luka. Luka yang tercecer di sepanjang perjalan hidupnya.

Pergi dari rumah karena tak mendapat restu dari orangtua adalah derita yang menguras airmata tak berkesudahan. Menyintai lelaki yang tak disetujui orangtua dengan alasan yang tak jelas, membuat perempuan itu harus memilih menjadi terasing dan harus belajar dengan susah payah menjadi bagian dari keluarga yang tak dikenalnya.

Sungguh, cinta membuat hidup perempuan itu berubah drastis. Kehidupan mewah anak pejabat harus secepatnya dilupakan, jika tidak ingin berkubang lebih lama dalam dunia mimpi. Kebiasaan memakai baju bagus dan naik turun mobil harus dienyahkan dari benak. Dunianya sekarang seperti jungkir balik. Perempuan itu kini bukan  lagi anak pejabat, ia kini istri seorang lelaki biasa, lelaki  yang lebih banyak menghabiskan waktunya  di  jalan mencari uang demi kehidupan barunya sebagai kepala keluarga. Meski terkadang pulang dengan tangan hampa.

Cinta adalah satu-satunya milik perempuan itu. Ia di usia yang masih muda harus menerima hidup apa adanya. Tak bisa lagi ia menikmati kehidupan yang selalu diwarnai dengan limpahan harta. Kini menjadi seorang istri ia harus belajar menerima keadaan. Untunglah ia mendapat keindahan yang tak ia rasakan di istana bapaknya yang pejabat. Di rumah barunya, keluarga barunya, ia cukup dilimpahi perhatian dan kasih sayang. Di keluarga barunya ia belajar hidup yang sebenarnya.

Suatu malam aku terbangun karena isak tertahan perempuan itu. Dari balik guling yang menutupi wajahku, kulihat matanya tak hanya berkaca-kaca seperti biasanya. Kini air di kedua telaga itu telah merembes perlahan ke pipinya yang tirus. Aku ingin memeluknya, ingin bertanya mengapa   ia menangis. Meski pikiranku sibuk menduga- duga apa penyebab perempuan itu menangis, tetap saja aku tak mampu melakukan itu. Aku tak ingin membuatnya semakin sedih. Sudah tentu ia tak akan menangis dengan wajah sekeruh itu jika hatinya tidak terluka. Lalu mengapa? Aku selalu saja bertanya dalam hati, mengapa dan mengapa tanpa berani bertanya padanya. Rasa takut ini sudah bersemayam sejak aku mengalami bagaimana rasa ketakutan itu menghantui pikiran dan sepanjang bayangku. Lelaki itu selalu saja keukeuh dengan pendirian dan prinsip- prinsipnya.   Sikap   yang  sama sekali  tak  bisa kupahami. Lelaki itu pemarah, membuatku bertanya sebegitu besarkah cinta perempuan itu sehingga ia mampu menerjang hal-hal yang menurutku menakutkan?

Sulit rasanya menerima kenyataan hidup bersama orang yang tidak romantis, jarang bicara, punya prinsip- prinsip yang menurutku kaku, dan menerapkan aturan main dalam keluarga yang (maaf) menurutku sama sekali tidak manusiawi. Kami misalnya, tidak boleh keluar rumah selain pergi sekolah. Kami harus membantu pekerjaan rumah dan membuang impian bermain dengan teman-teman sebaya yang kesehariannya bermain. Kami harus tahu diri.

Sungguh aku tak paham tentang istilah tahu diri.

Perempuan itu, ibuku, dalam penglihatanku selalu saja siap dengan berkarung-karung kesabaran setiap kali menghadapi kemarahan lelaki itu, bapakku, yang kemarahannya bisa datang dengan tiba-tiba. Sampai aku dapat menghitung hanya berapa kali bapak tersenyum dalam seminggu. Tetapi, ibuku, selalu saja membuatku ternganga. Ia selalu menyiapkan senyum setiap kali menghadapi kami, anak-anaknya yang tak bisa berbuat apa-apa ketika ia berada di tengah amukan badai kemarahan Bapak.

Sampai suatu ketika aku ingin sekali mengetahui apa yang membuat bapakku menjadi pemarah. Ketika kanak- kanak aku hanya mengenal dua hal tentang manusia, jika ia lebih banyak diam dan suka berkata keras, kusebut pemarah. Dan bila ia banyak bicara dan bibirnya selalu tersenyum, maka ia kuanggap orang yang baik hati.

Aku memang belum pernah melihat tangan Bapak mendarat di pipi ibuku. Sebab, ibuku tak pantas mendapat perlakukan semacam itu. Ibuku seharusnya dilimpahi kasih sayang atas kesabaran dan pengabdiannya pada Bapak dan keluarga. Tetapi ibuku selalu saja membuatku gemas dan tanpa sadar kuremas semua benda yang berada di genggaman tanganku, setiap kali melihat kesabaran ibuku yang tak pernah berubah.

Aku kesal melihat sikapnya yang nrimo. Tak banyak bicara apalagi membantah. Mungkin itu pula yang membuat ibuku disayang Nenek dan tante-tanteku. Kadang aku tak paham mengapa ibuku bisa bersikap baik pada orang yang pernah menyiksaku. Orang yang nyaris saja membuatku kehilangan masa depan. Untunglah, aku masih bisa mengendalikan diri dan terus melangkah menuju masa depan. Mungkin, kesabaran ibukulah yang menjadi cermin dalam menghadapi kejamnya hidup.

“Ibu jangan diam saja jika diperlakukan tidak adil oleh Bapak,” ujarku dengan suara lirih. Tak sanggup rasanya memberi tekanan pada kalimatku. Apalagi ketika melihat raut wajah ibuku yang datar tanpa ekspresi. Hanya matanya saja yang beriak.

Ya, Allah, jangan biarkan aku mengeluarkan kata-kata yang akan membuat airmatanya luruh. Aku tak mau menjadi anak durhaka…

“Maaf, Bu, maksud saya Ibu bicara pada Bapak, jangan diam saja. Ibu tidak salah. Ibu harus tunjukkan pada Bapak bahwa Ibu punya pendapat. Bapak harus dengar keinginan Ibu, bukan hanya Ibu saja yang mendengar dan harus menelan semua ucapan dan perintah Bapak. Itu tidak adil, Bu!”

Telah menjadi anak durhakakah aku? Berbicara pada perempuan yang telah mengandung dan melahirkanku dengan taruhan nyawa tanpa titik koma? Jika sikapku ini bisa membuatku masuk neraka, baiklah, aku rela! Lebih baik aku masuk neraka daripada membiarkan Bapak menjajah ibuku tanpa perlawanan! Aku tidak rela!!

Kami sama-sama terdiam. Aku tak berani menatap mata Ibu, tepatnya tak sanggup. Aku akan merasa bersalah jika telah membuat ibuku menangis. Dan airmatanya semakin membuat amarahku berkobar di dada. Mengapa ada lelaki yang tak punya hati? Mengapa ia selalu menyalahkan ibuku untuk semua kesialan yang menimpanya? Bahkan bapakku selalu menganggap semua kegagalannya dalam usaha dikarenakan ia telah salah pilih perempuan. Sungguh menjijikan sikap bapakku.

“Sudahlah, Rea…Kamu tidak tahu apa-apa. Sebaiknya kamu konsentrasi saja ke kuliahmu,” begitu selalu yang Ibu ucapkan setiap kali aku protes.

Bahkan yang juga membuat darahku mendidih adalah ketika Tante Fe datang ke rumah. Tante Fe, kakak Bapak, yang menampungku selama kuliah di luar pulau. Dengan pongahnya ia berkata, ”Kalau bukan karena adikku, saya tidak mau minum pakai gelas ini,” ujarnya setelah mencium gelas yang dipegangnya. Gelas model lama warisan Nenek.

Aku menatap Ibu yang hanya diam sambil menundukan kepala. Oh…Betapa sombongnya perempuan itu. Ia telah menghina ibuku. Ia mencium gelas seakan gelas itu bau dan menjijikkan. Dan lagi-lagi ibuku tak melawan. Ia menerima semua hinaan dengan pasrah.

“Mengapa Ibu diam saja? Gelas itu memang jelek, tapi bersih dan tidak bau. Terlalu sekali Tante Fe menghina kita!” aku mengepalkan tanganku. Rasanya ingin menonjok mulut perempuan sombong itu.

“Jangan terpancing emosimu, Rea. Bukankah selama tinggal bersamanya, kamu sudah mengenal dengan baik tantemu itu,” ujar Ibu seraya menarik lenganku. Perlahan ia membuka kepalan tanganku dengan tangannya yang ringkih dan kasar.

“Jika ia menghinaku atau bahkan mencaci maki, aku terima, Ibu. Tetapi jangan menghina Ibu,” kataku masih dengan suara tinggi.

“Ibu tahu kamu menderita tinggal bersama mereka. Tetapi Ibu lihat kamu sudah bisa menerima keadaan itu. Begitulah kalau kita menumpang, harus tahu diri. Kita jangan melawan kekerasan dengan sikap yang keras juga, Rea. Untuk itulah kita harus belajar sabar dan ikhlas menerima semua keadaan,“ kata Ibu dengan senyum yang terasa getir.

“Jika saja bukan karena demi mengejar mimpi- mimpiku, lebih aku pulang seterusnya tak usah meneruskan kuliah!”

Lagi-lagi aku hanya senyum tipis.

“Kamu tidak boleh kalah dengan keadaan,“ ujarnya lirih sambil menarikku ke dalam pelukannya. Meski tubuh Ibu terasa semakin menipis, tetapi aku masih tetap merasakan pelukan hangatnya, tak beda seperti pelukannya di masa kecilku.

“Sampai kapan pun aku tak akan pernah bisa mengalahkan kesabaran Ibu,” kataku pelan, malu rasanya bicara pada Ibu dengan nada menggebu-gebu. Seperti sedang orasi saja.

“Jangan pernah menyerah pada keadaan. Teruskanlah langkahmu, jangan berhenti sebelum sampai di titik yang kau inginkan. “

Betapa hangat belaian ibuku. Kalimat demi kalimatnya seperti amunisi yang harus aku jadikan bekal untuk mengarungi hidup yang keras ini.

“Bersabar dan selalu bersyukur atas semua yang diberikan Allah pada kita, baik berupa kebahagiaan ataupun penderitaan. Itulah hakikat keiklasan.”

Sejak itu aku lebih banyak diam dan mengamati  semua perilaku ibuku yang awalnya bagiku sangat tidak masuk akal. Menikah dengan lelaki yang dicintai lalu disia- sia. Bekerja keras demi menghidupi keluarga, tetapi tetap tak dihargai. Terlebih ketika bapakku diam-diam menikah lagi dan menghabiskan harta warisan dengan perempuan sundal itu.

Aku benci laki-laki. Bahkan sampai tak percaya pada kata cinta dari laki-laki mana pun. Dendamku pada bapakku tak membuat ibuku bahagia karena dibela. Ia malah menegurku dengan kalimatnya yang halus tetapi menohok.

“Kita tidak boleh memendam dendam, apalagi pada orangtua. Seburuk apapun ia tetap bapakmu,” ujar Ibu saat dengan tegas kuperlihatkan kebencian pada bapakku yang kala itu sedang sakit keras. Ibuku, bak peri tetap senyum saat merawat bapakku yang sudah tak berguna dan bikin repot semua orang.

Aku tercenung melihat bagaimana tangan rapuh Ibu mengompres kening Bapak yang sedang demam tinggi. Di mana Ibu belajar untuk semua hal yang aku tak bisa itu? Bagaimana Ibu bisa menyintai Bapak dengan tulus di atas semua derita yang ia rasakan sepanjang perkawinan  mereka? Jika bukan karena kami anak-anaknya, lalu untuk siapa?

Lalu ketika bapakku meninggal, aku melihat ibuku menangis. Aku tak berani menduga-duga, airmata kepedihan karena berpisah dengan lelaki yang dicintainya? Atau menangis karena telah selesai penderitaannya?

Ah, aku tak mau menjadi durhaka karena dugaan gila yang tak seharusnya ada di kepalaku.

Tanah itu masih basah. Luapan tangis masih tersisa raungnya. Langit mendadak menghitam di ujung senja yang menyaksikan bisuku dalam gugu. Aku tahu, tangis darah pun tak akan bisa mengubah keputusan Allah ketika memanggilnya. Tak ada cerita sakit di tubuhnya, kecuali sakit derita sepanjang perkawinannya. Luka Ibu adalah luka yang membekas di dadaku. Luka karena cinta yang tak pernah kutemukan obatnya.

Aku tahu Ibu, kau tak akan suka bila aku terus menutup diri untuk semua urusan cinta. Maaf, Ibu belum ada satu pun lelaki yang bisa meyakinkanku bahwa cinta itu indah. Bahwa cinta mereka sehangat cintamu padaku. Maafkan Ibu, aku butuh dekap pelukmu untuk meyakinkan bahwa dalam derita cinta tetap indah.

Oh, Ibu, andai aku bisa sepertimu…. []

 

Temukan kami di sini!

Leave a Comment