Lelaki yang Setiap Sore Memandang Laut

Penulis : Irul S. Budianto
Penutur : Dhipo Alam

DOWNLOAD

 

Lelaki yang Setiap Sore Memandang Laut

Lelaki itu kembali ke bibir pantai. Berdiri dan kemudian memandang laut cukup lama. Tidak peduli dengan ombak sore hari yang datang pergi menerpa kakinya. Pun tidak menghiraukan orang-orang yang berseliweran di dekatnya.
Bagi orang yang baru datang ke pantai dan melihat apa yang sedang dilakukannya mungkin menganggap lelaki itu tengah menikmati keindahan alam yang begitu memesona. Tetapi bagi mereka yang sudah terbiasa berada di pantai, lelaki yang setiap sore memandang laut itu dianggap tengah mengalami gangguan jiwa.
Orang-orang pantai masih ingat, satu tahun yang lalu ada seorang lelaki berusia sekitar dua puluh lima tahun datang ke pantai. Kedatangan lelaki itu semula dianggap seperti kebanyakan orang yang ingin melihat keindahan laut dengan deburan ombaknya yang menakjubkan atau sekedar berjalan-jalan untuk mengisi waktu luang. Tetapi anehnya, setelah itu ia tidak pernah mau meninggalkan pantai yang setiap harinya banyak dikunjungi orang.
Setiap pagi sampai siang lelaki itu terlihat menjumputi kardus bekas atau botol mineral yang banyak ditemui di sepanjang pantai. Tetapi anehnya, ketika menjelang sore hari ia selalu bergegas menuju ke bibir pantai. Berdiri dan memandang laut cukup lama hingga matahari hilang dari penglihatan.
Siapa nama lelaki itu dan dari mana asalnya tidak pernah ada yang tahu. Meski sudah banyak orang yang bertanya soal itu, tetapi hasilnya tetap nihil. Lelaki itu tidak pernah mau buka suara siapa dirinya. Bahkan sering kali menunjukkan raut wajah tidak senang jika disinggung soal itu. Orang-orang pun akhirnya hanya diam dan membiarkan lelaki itu melakukan apa saja selama tidak menganggu ketenangan dan kenyamanan para pengunjung pantai.
Suatu siang lelaki itu terlihat berjalan pelan seperti tidak punya gairah menuju warung Mbok Sumi. Tidak seperti biasanya, setiap datang di warung itu lalu memesan makanan atau minuman dan setelah membayar lalu pergi entah ke mana, tetapi tidak demikian dengan yang dilakukan sekarang. Setelah datang di warung lelaki itu lalu duduk di kursi dengan wajah murung. Seperti sedang memikirkan sesuatu yang menganggu pikirannya.
“Mengapa hari ini kamu kelihatan berbeda dan tidak seperti biasanya?” tanya Mbok Sumi.
Lelaki itu hanya diam. Sesekali menarik napas panjang dan kemudian pandangannya dilemparkan ke hamparan laut yang amat luas.
“Ada apa?”
Lelaki itu sekarang menatap Mbok Sumi, tetapi hanya sekilas. Setelah itu pandangannya kembali tertuju pada hamparan laut.
Mbok Sumi diam, tidak bersuara lagi. Suasana di warung itu pun sekarang menjadi sepi. Kedua orang itu seperti tengah merangkai angannya sendiri-sendiri. Tetapi tidak lama, lelaki itu kemudian membuka suara, “Mbok, aku ingin omong sesuatu.”
Mbok Sumi agak terkejut mendengar perkataan lelaki itu.
“Mungkin tidak lama lagi aku akan meninggalkan pantai ini.”
Mbok Sumi semakin terkejut mendengar perkataan seperti itu. Wanita setengah baya yang sudah puluhan tahun membuka warung di pantai itu sudah hafal betul dengan lelaki yang sekarang berada di hadapannya. Dia tidak pernah berbohong. Apa yang dikatakannya adalah sebuah kebenaran.
Untuk beberapa saat Mbok Sumi hanya diam. Pikirannya berkecamuk sendiri. Tidak paham apa yang dimaksud lelaki itu, sebab selama berada di pantai, baru kali ini dia melontarkan perkataan seperti itu. Perkataan yang dirasakan cukup aneh.
“Mengapa harus meninggalkan tempat ini?” ucap Mbok Sumi kemudian, hatinya tetap digelayuti tanda tanya besar.
“Aku akan pergi dari sini. Entah ke mana, aku sendiri tidak tahu,” ucap lelaki itu berhenti sejenak, pandangannya kembali tertuju pada hamparan laut.
“Tetapi sebelum aku pergi, aku mau minta tolong pada Mbok Sumi.”
Mbok Sumi tidak segera menjawab. Lelaki yang sekarang berada di hadapannya dan selama ini dianggap cukup baik itu hanya ditatap lekat-lekat.
“Aku mau titip uang. Jumlahnya berapa aku sendiri tidak tahu, dan nanti Mbok Sumi bisa hitung sendiri. Suatu saat nanti jika aku kembali lagi ke sini, uang itu bisa untuk menyambung hidupku,” lelaki itu mengambil bungkusan plastik dari saku celananya dan kemudian memberikan kepada Mbok Sumi.
Mbok Sumi seakan tidak percaya dengan apa yang sedang dihadapi. Bungkusan plastik yang sudah berada di tangannya lalu dibuka. Uang yang ada di dalamnya dihitung dengan cermat. “Jumlahnya tujuh juta lebih sepuluh ribu.”
“Aku titip uang itu. Hanya Mbok Sumi satu-satunya orang yang selama ini bisa aku percaya,” setelah berkata demikian lelaki itu kemudian meninggalkan Mbok Sumi, entah ke mana tujuannya.
Mbok Sumi terbengong-bengong sendiri. Tidak tahu apa yang sebenarnya dikehendaki lelaki itu.
*
Hari-hari berikutnya orang-orang di pantai kembali dibuat semakin heran dengan perilaku lelaki itu yang semakin aneh. Jika sebelumnya lelaki itu hanya memandang laut setiap sore hari sampai tenggelamnya matahari, tetapi tidak dengan yang dilakukan sekarang. Lelaki itu kini nyaris tidak kenal waktu lagi dalam memandang laut. Bisa pagi hari, siang, sore atau bahkan tengah malam.
Melihat apa yang dilakukan lelaki itu menjadikan Mbok Sumi tidak habis pikir dan bertanya-tanya sendiri. Apa yang sebenarnya sedang terjadi pada lelaki itu? Tetapi pertanyaan itu hanya berhenti di angan saja, sebab kenyataannya Mbok Sumi tidak pernah mendapatkan jawaban pasti. Sebab, semenjak menitipkan uang, lelaki itu tidak pernah lagi ke warungnya.
*
Suatu sore ketika Mbok Sumi hendak menutup warungnya, tiba-tiba lelaki itu datang menghampiri dengan langkah tergesa-gesa.
“Aku ingin mengatakan sesuatu yang amat penting. Tetapi ini hanya untuk Mbok Sumi, jangan sampai ada orang lain yang tahu,” ucap lelaki itu sambil duduk, suaranya terdengar agak bergetar.
“Tentang apa?”
“Tentang sebuah peristiwa yang selama ini menggelayuti hidupku. Aku setiap hari memandang laut karena dengan cara itu aku bisa menemukan kebahagiaan. Dengan memandang laut, aku kembali mendapatkan senyumnya. Senyum yang tidak bisa tergantikan dengan apapun.”
Mbok Sumi hanya diam. Lelaki yang sekarang berada di dekatnya itu ditatap tanpa kedip.
“Senyum seorang perempuan yang amat berharga bagiku. Dan senyum itu kenyataannya selalu berkelebat di depan mataku.”
“Senyum?”
“Ya, senyum Anna Marichka. Dia bukan perempuan pribumi, tetapi dari Ukraine.”
Mbok Sumi kembali terdiam, semakin tidak mengerti dengan perkataan lelaki itu.
“Senyum Anna Marichka itu selalu muncul setiap kali aku memandang laut,” ucap lelaki itu dan sejenak kemudian matanya menjadi berkaca-kaca.
“Aku merasa salah dan berdosa. Sebagai lelaki, aku tidak bisa melindunginya. Satu tahun yang lalu ketika aku dengannya berada di pesisir ini, tiba-tiba leher Anna Marichka ditodong belati oleh seorang preman yang hendak merampas tasnya. Saat aku akan menolong dan melawan preman itu, tetapi belati itu justru menancap di leher Anna Marichka dan menjadikannya tewas.”
Setelah berkata demikian lelaki itu lalu berjalan gontai menuju bibir pantai. Sesampai di bibir pantai, ia berhenti sejenak sambil memandangi hamparan laut. Tidak lama kemudian kakinya diangkat, berjalan menuju laut. Semakin lama semakin ke tengah sampai akhirnya tidak terlihat lagi.

Temukan kami di sini!

Leave a Comment