Museum Terminal

Spread the love

Penulis: Ruly R
Versi cetak: Bangka Pos, 24 Juni 2018
Penutur: Indah Darmastuti

DOWNLOAD

Akhirnya aku sampai ke kota ini. Mataku memandang ke sekitar. Tak ada yang asing, pemandangan dan suasananya hampir sama dengan terminal yang ada di kotaku. Ah, bukankah setiap terminal selalu mirip adanya. Aku datang ke sini karena pesan nenek, dia memintaku untuk ke terminal kota ini. Sudah cukup lama pesan itu disampaikan—tepat sehari sebelum nenek menempuh perjalanan ke alam baka, meninggalkan dunia yang fana ini. Tapi baru kali ini aku punya kesempatan ke kota ini setelah mengambil waktu sebentar dari rutinitas pekerjaan.
“Ada yang bisa saya bantu, Mbak?” tanya seorang lelaki. Aku menyapukan pandangan pada lelaki itu, dari ujung kaki hingga kepalanya. Lelaki itu menyimpul senyum tipis. Pakaiannya necis dan rapi. Tanya lelaki itu berbaur dengan teriakan kondektur, lengkingan pedagang asongan, dan juga suara para porter terminal.
“Mau jalan-jalan, ya? Atau ke museum terminal ini?” Lelaki itu melemparkan pertanyaan padaku.
Museum? Bukankah tempat ini hanya terminal biasa, seperti terminal pada umumnya? tanyaku dalam batin. Pertanyaan-pertanyaan hinggap di dalam kepalaku, tak bisa kutumpahkan lewat suara. Ketika aku mendengar kata museum, bayangan masa kecilku hadir. Waktu aku SMP, aku pernah pergi ke museum. Di sana aku melihat tulang dan fosil manusia purba, ada juga berbagai replika tempat-tempat bersejarah di Indonesia, dan hal-hal yang lain yang kutulis di buku catatanku untuk tugas sekolah. Seingatku itulah kunjungan terakhirku ke museum. Selepas masa SMP aku tidak pernah lagi menginjakan kaki ke museum hingga saat ini, saat usiaku hampir dua puluh enam. Aku ingat waktu itu wisata yang menyenangkan, di sana aku menukar keceriaan dengan temanku sembari mendapat pengetahuan dan hal yang belum pernah ku ketahui semasa itu. Museum bukan sekadar menawarkan pengetahuan tapi juga menjadi objek wisata yang menarik, bagiku. Tapi sekarang tempat wisata yang sering ku kunjungi hanya pantai. Itu karena biasanya aku piknik dengan keluargaku menggunakan mobil pribadi. Ya, keluargaku tergolong orang berada. Aku pergi ke kota ini juga disarankan mengendarai mobil pribadi oleh ibu, tapi aku menolaknya karena aku ingin naik bus, sudah lama aku tak merasakan suasana dalam bus. Lengkingan pedagang asongan, atau suara pengamen yang ada dalam bus, aku sangat rindu semuanya. Ah, rindu, aku jadi teringat nenek, beliau kerap sekali mengajakku kemana-mana naik bus. Kata nenek naik bus lebih mengasyikan daripada kendaraan pribadi. Aku ingat mata nenek selalu berkaca ketika naik bus. Ketika ku tanyakan hal itu padanya, dia hanya menjawab naik bus selalu membawanya pada kenangan masa mudanya. Entah kenangan apa yang dimaksud nenek, aku sendiri tidak tahu.
“Mbak,” suara lembut lelaki itu mengaburkan lamunku.
“Ya, ya.” Aku tergeragap menjawab.
“Bagaimana? Kalau mau saya antar keliling museum, bayarnya terserah Mbak saja.”
Kupikir menarik untuk sejenak mencobanya. Aku mungkin salah jika mengatakan sejenak, toh di sini, di kota ini, aku tak punya tujuan. Nenek hanya berpesan kepadaku bahwa aku harus ke kota ini. Tanpa memberi maksud apapun. Aku menganggukan kepala, mengiyakan tawaran lelaki itu. Aku melangkahkan kaki, mengikutinya. MUSEUM WARINGIN HARJO, begitulah bordir tulisan yang ada di baju lelaki itu.
Teriakan kondektur bergumul dengan wajah-wajah orang yang ada di sekitar terminal itu. Ada penumpang yang menunggu kedatangan bus, ada juga pemuda yang menenteng gitar yang penuh stiker.
Aku terus melangkahkan kaki, mengikuti lelaki itu sampai akhirnya memasuki pintu museum. Kupikir museum ini sama dengan museum yang kukunjungi saat aku SMP dulu, tapi dugaanku salah. Di sini banyak miniatur bus dan kendaraan umum lainnya. Ada miniatur becak, angkot, dan miniatur terminal ini.
Sebagai tour guide lelaki itu menjelaskan dengan bahasa yang halus dan mudah kumengerti. Pastinya dia sudah terbiasa dengan tugasnya yang begitu. Aku dengan mudah bisa menangkap apa yang dikatakannya dan bahagia bisa mendapat pengetahuan baru. Sebenarnya aku sendiri tidak terlalu tahu untuk apa pengetahuan ini, tapi paling tidak dengan aku belajar seperti ini, aku bisa sedikit mengerti kenapa nenek begitu menyukai bus atau kendaraan umum.
Aku berbasa-basi dengan lelaki itu menanyakan kenapa dia menjadi tour guide—tidak memilih pekerjaan lain, dan mau mengantarku mengelilingi museum, padahal tour guide biasanya memilih mengantarkan rombongan bukan perorangan seperti ini. Aku berani menanyakan itu semua karena kupikir lelaki ini baik, aku meyakini itu dari cara bicaranya yang sopan saat mendampingiku keliling museum.
“Sekarang orang yang tertarik mengunjungi museum sedikit, Mbak. Kalau nunggu rombongan ya lama, adanya cuma waktu libur sekolah,” jawab lelaki itu sembari tersenyum. Senyum yang kupikir khas, hanya milik lelaki itu.
Kami memasuki ruangan kecil, di ruang itu ada sebuah patung seorang lelaki yang mencuri perhatianku, tapi tour guide mengajakku untuk keliling dahulu. Di sini berbeda dengan ruang yang kukunjungi sebelumnya. Tidak ada miniatur bus atau replika kendaraan umum, yang ada justru benda-benda yang terkesan sebagai benda pribadi. Lelaki itu menjelaskan semua benda di situ peninggalan pendiri terminal ini, yang sosoknya diwujudkan dalam patung. Ya, patung yang tadi menarik perhatianku.
Tibalah kami di depan patung itu. Aku hanya bisa tertegun, kuamati benar-benar dan saksama, bagian mata, hidung, dan mulut patung lelaki itu, sangat mirip dengan ibu, juga mirip denganku. Apalagi setelah kubaca nama yang tertera di bawah patung itu. Dadaku sesak.
Tour guide itu menjelaskan kalau patung itu memang dibuat sebagai wujud apresiasi warga kota ini atas jasa beliau mendirikan terminal ini. Si tour guide juga menceritakan padaku bahwa ada kisah hidup yang nelangsa dari lelaki itu.
“Nelangsa?” tanyaku spontan.
Lelaki itu mengiyakan, lalu bertanya padaku, apa aku ingin tahu kisahnya. Aku mengangguk pelan lantas lelaki itu menceritakannya
***
Sebelum terminal ini berdiri, di sini bukanlah kota, hanya sebuah desa kecil yang para warganya senang sekali untuk merantau. Tempat ini juga bukan terminal, hanya peristirahatan bus atau kendaraan umum yang melintasi desa ini. Tapi semua berubah saat ada orang kaya yang membeli tanah di kawasan ini. Mulanya si tuan itu ingin menjadikan kawasan ini sebagai pusat pertokoan saja, tapi karena saran dari seorang pemuda yang tak lain wujudnya diabadikan dalam patung itu, si orang kaya itu akhirnya membuat terminal ini. Pemuda itu beranggapan bahwa membangun pertokoan akan percuma jika tidak didirikan sebuah pusat transportasi yang berguna sebagai mobilitas warga.
Kebetulan pemuda itu seorang arsitek yang berasal dari keluarga miskin. Bahkan pemuda itu juga menjadi pengawas langsung dari pembangunan terminal itu.
Orang kaya hanya datang setiap akhir pekan dan konon tidak ada yang tahu pasti dimana rumahnya. Setiap kali berkunjungan, dia melihat proses pembangunan itu. Selain itu, setiap kali dia datang juga selalu mengajak keluarganya. Salah satu anaknya seorang putri yang cantik. Kabarnya si lelaki—arsitek itu tertarik hati pada perempuan anak puteri tersebut, begitu juga sebaliknya. Sampai pembangunan terminal selesai bara cinta terus mereka jaga. Tapi harapan mereka bak membentur sebuah karang kokoh, orang kaya itu tak merestui hubungan mereka.
Terminal selesai dibangun. Acara slametan diadakan sebagai wujud syukur atas berdirinya terminal itu, sekaligus sebagai peresmiannya. Satu bus sengaja disewa orang kaya untuk mengantar rombongan keluarga kembali ke rumahnya. Puteri cantik itu juga ikut serta dalam rombongan bus, dan sampai sekarang bus yang disewa itu tidak pernah kembali lagi ke terminal ini, dan sejak itu keberadaan orang kaya dan keluarga tidak diketahui rimbanya.
Arsitek itu selalu menanti kedatangan bus, terlebih kedatangan perempuan yang dicintainya. Lelaki itu berusaha sekuat tenaga untuk menekan jalannya waktu. Tapi bukankah itu sia-sia? Penantian lelaki itu begitu panjang. Sepanjang nelangsa yang dia rasa bahkan hingga maut menjumpainya.
Begitulah yang dikisahkan tour guide itu. Tubuhku hanya kaku setelah mendengar cerita itu.
Perjalanan mengelilingi museum telah usai. Aku memberi si tour guide uang tip yang kurasa pantas dia dapatkan sebelum aku meninggalkan museum ini.
Aku masuk bus yang kuinginkan dan mencari bangku yang kosong. Dadaku bergemuruh. Mataku bergetar, yang aku yakin sama dengan bergetarnya mata nenek ketika dia bercerita tentang bus.

Temukan kami di sini!

Leave a Comment