Cerpen: Widyawati Dada
Versi Cetak : antologi 24 Sauh
Narator: Widyawati Dada
Ilustrasi musik: Endah Fitriana
Dengan irama yang kian melambat, Tobi menyelesaikan permainan pianonya dengan lembut. Pembawaannya yang tenang tak banyak berbeda dengan dua tahun yang lalu. Ia masih tampak berwibawa dengan sedikit senyum yang diberikannya pada penonton, yang memberi tepuk tangan hangat padanya. Kepala Tobi cuma mengangguk pelan dan cukup sekali.
Langkahnya yang berat meninggalkan panggung pertunjukan solo pianonya. Cuma begitu. Padahal tepuk tangan penonton masih menggema ke seluruh penjuru gedung pertunjukan ini.
Aku menghela napas, masih seperti dulu.Cuma beku.Ia masih sebagai sosok yang dingin, angkuh, dan tanpa senyum! Setiap Tobi mengadakan pertunjukan, aku selalu melihatnya,meski aku tak duduk di deretan paling depan. Semakin hari, semakin mahir ia memainkan jemarinya di atas tuts-tuts piano.
Di media-media digital, wajahnya selalu muncul dengan berita-berita aktual yang membuatkumakin menciut saja.Namanya ditulis di sana-sini dengan semua kelebihan yang dimilikinya.Wartawan-wartawan hampir setiap waktu mengerumuninya, mencari apa saja yang dapat ditulisnya sebagai berita laris di medianya. Begitu pula dengangadis-gadis cantik yang tak pernah lepas dari sisinya.
Aku menghela napas lagi, panjang sekali.Kini Tobi semakin terkenal. Banyak prestasi yang diraihnya. Permainannya sanggup membuat para pendengarnya histeris. Aku semakin kecil sekarang. Dan mungkin aku sekarang cuma satu di antara beribu-ribu penggemarnya!
Gedung pertunjukan bergemuruh.Suara-suara simpang-siur terdengar. Pertunjukan piano Tobi sudah usai. Kaki-kaki mulai meninggalkan gedung. Dan aku harus segera bergegas pula. Aku tak mau menjadi orang terakhir yang meninggalkan gedung ini.
Cepat kuambil krukku yang semula kusandarkan di kursi. Dengan hati-hati, aku berdiri dan mulai melangkah. Lautan manusia masih terlihat di sini, membuat aku agak gentar menghadapinya. Bagaimana aku mungkin cepat-cepat meninggalkan gedung ini, hanya dengan krukku yang tertatih-tatih begini?
Tapi akhirnya dengan perjuangan yang murni dari diriku sendiri, aku berhasil mencapai pintu keluar juga. Beruntung, aku tak menjadi orang terakhir. Dengan perlahan-lahan pula, aku mulai melongok-longokkan kepala mencari Pak Sudin yang setia menungguku sejak enam petang tadi. Sampai akhirnya Pak Sudinlah yang menemukan aku, dan kami segera meluncur untuk pulang.
Dua tahun lalu aku melarikan diri dari muka Tobi.Tidak. Aku tidak ingin ia tahu semuanyaapa yang telah terjadi pada diriku. Aku tak cukup mampu untuk bertemu dengannya.
Waktu yang dua tahun itu kuharapkan bisa mengubah Tobi.Melupakan seoranggadis bernama Michelle dari benaknya. Biarlah aku saja yang selalu mengikuti perkembangan yang dicapainya. Tapi tak kubiarkan dia tahu, seperti apa aku sekarang.
Aku mencintainya.Aku masih mencintainya. Sejak dulu, sejak Tobi belum menjadi bintang seperti sekarang. Sampai sekarang pun aku belum bisa mengikis perasaan cintaku itu. Dan tak seorang pun yang dapat meluluhkan cintaku selain Tobi. Tapi aku juga tahu, tak mungkin aku memiliki Tobi. Sejak dulu.
Hari ini aku kembali pergi untuk menjumpai sosok Tobi di atas panggung. Kali ini Tobi tampil di sebuah café yang cukup terkenal di kota ini. Pianonya putih, jas yang dikenakannyajuga serasi, putih.Celana panjang putih, sepatunya putih. Ah, semua serba putih.
Seperti warna favoritku.Ia juga masih tenang seperti kemarin-kemarin. Tak banyak senyum dan tak banyak cakap. Mulailah ia menekan-nekan tuts-tuts piano di hadapannya.
Wajahnya tanpa ekspresi. Dingin dan beku. Tobi memainkan sebuah lagu. Sempurna. Aku menatapnya, dari meja paling sudut.
Sendiri. Aku merasa begitu dingin. Oh Tuhan, aku ingin mendekapnya! Pipiku basah tibatiba.
Satu per satu kuhapus air yang jatuh dari mataku.Kurasakan.Perih.Tapi aku tak berani berharap, masihkah Tobi ingat padaku. Apakah ia juga merasakanseperti apa yang kurasakan. Aku tak berani berharap.Dan aku sudah tahu jawabannya. Tobi hanya tenggelam dalam permainannya, bukan perasaannya!
Sampai Tobi berlalu dari pianonya, aku masih terpaku.Kenapa aku tak dapat melenyapkan bayang-bayang itu?Aku terlalu mencintainya? Kenapa? Ketika aku melangkah pergi dari batasan pelangi itu, aku sadar, sebagian dari hati ini mesti patah.
Kali ini aku harus pulang dengan kekalahan yang sempurna.Aku menangis.Kenangkenangan itu kembali menyiksaku. Sementara aku tak tahu, akan terus beginikah aku?
Meraih-raih sesuatu yang tak mungkin kudapatkan. Bermimpi pun seharusnya aku tak boleh.
Aku sudah cukup tersiksa dengan semua ini. Empat tahun yang lalu, aku mengenal sosokTobi. Waktu itu, Rara yang mempertemukan kami.Aku cepat tertarik pada Tobi.
Cowok bermata bening dan berwajah innocent itu begitu memesona bagiku. Kami berkenalan. Kami cepat akrab.Pijar-pijar pesona telah menjerat aku. Waktu itu, Tobi belum terkenal. Paling-paling ia hanya mengisi acara di pesta-pesta ulang tahun teman-teman dengan permainan pianonya.
Kemudian waktu terus berlalu.Hari-hari kami penuh dengan canda dan tawa. Aku dan Tobi menjalin kasih. Kami merakit hari-hari berdua. Banyak sekali kenangan yang kami ciptakan bersama. Aku selalu mendukung Tobi dalam berlatih piano. Senang sekali kalau aku menemaninya di pinggir piano saat ia mulai memainkan jemarinya.
Tapi musim bunga itu terenggut setahun kemudian. Saat aku ke rumah Rara, kulihat mobil Tobi ada di halaman rumah Rara. Aku tak heran kalau ia sampai di sini. Tobi memang sahabat dekat Rara. Dengan mengendap-endap aku melangkahkan kakiku ke ruang tamu. “Tapi Ra, aku… aku….” suara Tobi terdengar gemetar, membuat hatiku jadi ciut.
Rara berkata, “Tobi, kamu salah.Seharusnya dari dulu kamu nggak usah memberi harapan pada Michelle. ” Aku tergagap. Michelle? Oh Tuhan, apa pula ini?
Suara Tobi terdengar lagi, meski amat berat dan tak pasti.“Ra, aku kasihan padanya. Aku tak tega melihat matanya bersinar redup, kecewa. Aku kasihan, Ra.”
“Tapi kamu nggak mencintainya ‘kan?!” tuding Rara.
“Yah… aku nggak bisa mencintainya.Aaaah, aku bingung, Ra. Aku bingung!”
Rara menyahut, “Lalu apa artinya kalian selama ini? Kalian pacaran, tapi kamu nggak mencintainya! Kalau saja Michelle mendengar semua ini, aku nggak dapat membayangkan apa yang terjadi. Kamu tahu ‘kan, terbuat dari apa hati Michelle? Ia sahabat terbaikku, Tobi, kamu juga.Tapi aku sekarang kecewa, kamu terpaksa menyakiti hatinya. Aku juga kecewa, kenapa aku mempertemukan kalian dulu.”
Kunang-kunang di mataku semakin banyak. Kepalaku berdenyut-denyut seperti kena hantaman benda yang amat keras. Dadaku naik turun dan napasku sesak.Tidak.Tidak mungkin, jeritku dalam hati.Tobi sekejam itu?Tobi tega. Mengapa iakasihan padaku? Kalau saja aku tahu bahwa Tobi memang tak mempunyai perasaan cintapadaku, rasanya aku masih dapat berdiri tegar sampai sekarang.Tapi sekarang?Setelahsemuanya terjadi, aku menabur benih-benih cinta yang tulus buat dia? Ah betapa menyakitkan.Semuanya palsu.Adalah sandiwara yang telah dipentaskan oleh Tobi selama ini.
Susah payah aku menahan air mataku jatuh di muka Tobi. Aku melangkah masuk dengan ketenangan yang luar biasa. Rara dan Tobi sama-sama tersentak. Wajah mereka pucat pasi melihat aku yang datang. Sementara langkahku mulai agak sempoyongan.
“Tobi, sekarang sandiwaramu telah berakhir. Kamu memang aktor yang paling baik yang pernah kulihat. Best of the best, Tobi!” ujarku lirih.
Katanya, “Michelle, aku….”
“Jangan katakan apa-apa padaku, Tobi.Semuanya sudah berlalu. Jangan lagi ada yang ditutup-tutupi,” pelan sekali suaraku.
Dan kemudian aku pergi meninggalkan tempat itu.Aku menangis. Menyesali apa yang telah terjadi. Aku mencintainya. Aku mencintainya, desahku.
Mataku yang berurai air mata itu yang menyebabkan pandanganku kabur. Dan ternyata berakibat fatal bagi diriku. Mobilku digilas truk. Padahal sejak aku keluar dari rumah Rara, gas kutekan dalam-dalam. Aku sadar kemudian, ketika aku sudah terbaring di rumah sakit dengan kaki yang lumpuh.
Walau begitu, aku masih patut bersyukur pada Tuhan. Cuma satu kakiku yang tak berdaya. Sehingga aku menggunakan kruk, bukan kursi roda. Ternyata aku harus membayar mahal kejadian itu dengan kaki kiriku.
Hari-hari kemudian aku mulai mengubur dalam-dalam semua itu. Setelah kejadian itu, aku sengaja kabur ke rumah Oma di Solo. Tak ada kesempatan lagi bagi Tobi untuk menemukan diriku. Aku tak mau lagi menatap matanya. Setengah tahun lamanya, aku tinggal di rumah Oma. Aku berlatih berjalan dengan menggunakan kruk. Sedangkan waktuku hanya kuhabiskan berjalan-jalan keliling kota Solo. Tiap pagi aku diantar oleh Mas Ujang ke Manahan.Kulatih otot-otot kakiku yangkaku.Siangnya aku boleh melihat-lihat pabrik batik Oma di Palur. Atau melihat toko-toko di Singosaren. Kadangkala aku mengisi acara di radio, sebagai tenaga sukarela, membaca puisi ataupun cerpen atau apa saja yang masih mampu kukerjakan.
Begitulah kegiatanku di Solo selama setengah tahun.Selama itu pula, aku selalu menutupdiriku. Aku tak mau yang lain tahu, ada apa sebenarnya aku. Bahkan pada cowok-cowokdi sekitarku.Aku hanya cukup mengetahui nama-nama mereka saja. Aku tak mau kecewa lagi. Amat sakit.
Setelah benar-benar aku mampu menghadapi realita kembali, aku kembali ke rumah. Mama dan Papa menyambutku dengan hangat. Mereka sama sekali tak menyinggung nama Tobi di depanku.Agaknya mereka cukup mengerti keadaanku. Meskipun begitu, aku pernah mendengar Bik Ipah berbisik pada Mama kalau Tobi pernah bahkan beberapa kali ke rumah mencari aku.
Sejak itu aku menutup telinga tentang Tobi. Tapi tak lama kemudian, media on line, dan TV sering memuat Tobi sebagai berita hangat. Cowok jenius,kata mereka.Kemampuannya luar biasa.Ada bakat ajaib dari diri Tobi.Dan berita-berita yang memabukkan lainnya tentang Tobi.Mau tak mau aku kembali menyimaknya.Ternyata cowok itu sekarang telah menjadi superstar.Sedikitnya aku boleh bangga terhadapTobi.Ia telah mencapai segala-galanya sekarang.
Dan sedikit demi sedikit aku mulai membangun diriku kembali. Di setiap pertunjukan pianonya, aku selalu hadir. Aku selalu mengikuti irama-irama yang diciptakannya dengan amat apik. Perasaanku jadi haru-biru.Tobi sudah berhasil!
Bila malam ini aku kembali duduk di kursi paling sudut di sini, aku ingin mengingat kembali apa yang pernah terjadi antara kami. Dan sekali lagi aku ingin melihat keberhasilan Tobi yang gemilang. Tobi tampil berbeda malam ini.Wajahnya tampak dua kali lebih dingin dari biasanya.Bibirnya yang kaku itu bergerak-gerak.Katanya, “Saya ingin membawakan sebuahlagu yang khusus saya persembahkan bagi seseorang.Gadis itu telah menghilang sejak duatahun yang lalu.Sejak saya telah menyakiti hatinya. Dengan satu ucapan, saya mencintainya….”
Aku terperanjat mendengar kata-kata Tobi.Mataku terbelalak tak percaya. Aku mengusapmataku.Mungkinkah? Lama sekali aku terhanyut oleh suasana yang begitu mencekam bagiku. Suara piano dari permainan Tobi cukup menenggelamkan perasaanku seluruhnya. Tobi? Ah, masihbolehkah aku berharap? Sementara kakiku tinggal satu yang sempurna. Tak mungkin bukan, seorang pianis terkenal berjalan berdampingan dengan gadis yang lumpuh sebelah kakinya, tertatih-tatih dengan kruknya? Lalu darimana datangnya cintamu, Tobi? Dapatkah waktu dua tahun itu menghadirkan cinta di dalam hatimu? Atau karena lagi-lagi rasa iba yang datang dari sisi hatimu?
Usai.Usai sudah lagu yang dimainkan Tobi. Amat syahdu, menyentuh dan meremas batinku. Itulah permainan puncak Tobi malam ini.Ia beranjak dari kursinya. Ia turundari panggung. Aku melihatnya terus, mengikuti setiap langkahnya. Aku juga berdiri.Mencoba melangkah dengan krukku. Aku ingin mengulurkan tangan padanya. Mengucapkan selamat atas kesuksesannya. Dan aku ingin ia tahu bagaimana keadaanku sekarang, agar ia tak lagi berharap untuk berjumpa lagi denganku. Aku ingin berkata padanya, supaya ia melupakanku, menutup lembaran kemarin.
Baru sempat beberapa langkah kujalani, ternyata Tobi sudah hilang dari pandanganku. Gadis-gadis manis sudah lebih dulu mengerumuni Tobi. Mereka mengacung-acungkan notes-notesnya yang tentu saja sebentar lagi ditandatangani oleh Tobi.
Terpana aku. Ah, ya, mungkin Tobi sudah tak mengenalku lagi. Apalagi di antara banyak pengagumnya. Gadis-gadis pula. Akankah ia berpaling bila aku memanggil namanya? Langkahku memutar. Sekali lagi dengan kruk penyangga, aku mencoba menyeruak langkah-langkah orang-orang yang mendekati Tobi. Aku harus pergi.Tobi bukan milikku, ia milik dirinya sendiri. Dan mungkin pula milik gadis-gadis penggemarnya itu.
“Michelle… Michelle…!” Sebuah suara menyergap langkahku.
Aku bergetar.God, itu suara Tobi.Perlahan, aku menoleh ke belakang.Tobi menatapku dengan sinar mata yang tak percaya. Aku menatapnya, sejenak. Mencoba tersenyum tipis, tipis sekali.
Tapi aku tak berpaling lagi.Masih dengan krukku, aku mencoba melangkah meninggalkantempat itu.Tertatih-tatih.Sementara masih kudengar lagi suara Tobi memanggil-manggilaku.Tapi kemudian suara itu hilang, ditelan oleh jeritan-jeritan tertahan dari gadis-gadis yang mengelilingi Tobi.
Tobi, aku masih mencintaimu.Tapi kali ini, aku tak ingin meraihmu lagi. Biarlah semuanya berlalu. Dan di pertunjukan-pertunjukan Tobi berikutnya, aku tak pernah datang lagi.