Puisi dan Narator: Sigit Rais
Untuk memutar audio, klik tombol di bawah ini:
Untuk mengunduh audio, silakan klik di sini.
Mataku menggeliat
menu-menu berderet di sepanjang jalan bahagia
tak ada jaring laba-laba ketika
aroma menyeruak ke dalam liang hidung yang rindu pulang
oh, kota ini adalah surga bagi sepotong lidahku dan lidahmu
meski kau masih bersikukuh
bahwa selat terenak adalah selat Mbak Lies
aku yakin Selat Tenda biru juga layak dicoba
atau
rujak es krim Manahan yang menyegarkan
bisa jadi ladang berkelahi ketika kau keras kepala
dan berkata, “es buah bunuh diri adalah segalanya”
kita pernah mengeja langkah
susuri terik kota dan menjajal mie ayam ternama di seisi kota
mie ayam trikijo, mie ayam pocong, mie ayam pilist, mie sumatera,
mie gajah mas, bahkan mie ayam upin ipin cedhak kampus UNS
dan kita pernah nekat jauh-jauh ke sudut UMS
sekadar mencari-cari pukcok, si alpukat kocok
yang rupanya sedang tidak buka
kau kesal, sekesal aku ketika tak kau ajak jajan pukis Badran
maka, kubalas kau dengan posting-an dawet Pasar Gedhe
yang diserbu like para follower instagram yang
ngiler sebab gambar
ah, kawan, hari kita semakin tua
belum lagi tumpukan kolesterol
sebab berkali-kali mampir di tengkleng Pak Manto
atau sate Pak Kasdi sepulang bertualang
memupuk kerinduan yang meradang
sementara, kau terus saja merapal keping rasa nasi liwet Wongso Lemu,
gudeg ceker Bu Kasno Margoyudan, sate kere Yu Rebi, dan tahu kupat jalan Gajah Mada
sepotong lidahku menyimpan banyak ingatan
tentang rasa, tentang jiwa
tentang bahagia yang dialirkan Tuhan
melalui masakan-masakan yang merengkuh
serupa cinta dari bunda yang jauh
hari ini, di barat Sriwedari kita menyusun kembali keping sejarah
sambil nyruput segarnya jus Bhayangkara
kita masih menerka-nerka adakah soto seenak soto Gading dan Triwindu
pula jenang, roti semir, dan makanan-makanan lain
yang bergiliran mengumbar goda
lidah kita adalah sejarawan ulung
yang mempertemukan cinta di hari yang
lahir dari rahasia
sungguh, batinku diam-diam merindu
makan berhadapan dengan kamu yang semakin lemu
Surakarta, 2018