Puncak Becici

Penulis: Muhhamad Nanda Fauzan
Versi cetak Fajar Makassar
Narrator: Abednego Afriadi
Ilustrasi Musik: Endah Fitriana

Apakah kalian harus kembali.

Untuk angin yang  menghantam kulit daun-daun

pinus yang anggun bagai api unggun

dilesap embun Pada pukul tiga pagi.

//

Untuk ranting tempat nuri menari-nari

mewartakan kematian hades,

Menjelma peluh buruh-buruh yang

Menetes lalu menetaskan kecemasan

//

Untuk akar menjalar dan mencengkram serupa

bahasa ibu yang disingkirkan

 dan disungkurkan kamus.

//

Untuk batang-batang yang mengucapkan dan mengecupkan

selamat datang kepada pelancong angkuh

dari negeri serupa doa bandit mesum ;

Jauh tak terengkuh.

//

Mampukah kalian menghapus kata Apakah pada awal puisi ini?

Becici 2018

Pukul tiga dini hari

Puisi Muhammad Nanda Fauzan
Versi cetak Fajar Makassar
Penutur : Abednego Afriadi
Ilustrasi musik Endah Fitriana


Puisi ini pernah memenggal kepala kita, pukul tiga dini hari .
Ia pohon penyangga Langit yang ditebang
Karena kita ingin terbang, menjangkau seluruh
Yang lesap dari pandang.
Puisi ini pernah memanggil langkah kita, pukul tiga
Dini hari. Ia kedua tangan yang kau katupkan saat berdoa
Di pekarangan rumah ibadah, Disapu oleh amin
Para jemaah Juga arwah-arwah.
Puisi ini pernah memanggul tubuh kita, pukul tiga
Dini hari . Ia Peluh para buruh, pelukan yang berubah
menjadi peluru, rasa lapar yang menampar
Kerja dua belas jam sehari.
Pukul tiga dini hari, puisi ini gagal dituliskan.

Lebak 2018

>