Gumading Peksi Kundur

Penulis: Sanie B. Kuncoro
Penutur: Astuti Parengkuh
Ilustrasi musik: Liston P. Siregar

DOWNLOAD

 

 

 

Laki-laki itu datang padamu di suatu sore yang bercahaya. Musim kemarau ketika itu, terik kulminasi matahari masih tersisa di sekitarmu. Debu tipis melekat pada reranting dan dedaunan. Saat angin menghampiri, akan kau dengar gemerisik dedaunan yang seolah membisikkan dahaganya kepadamu. Tak hendak kau abaikan bisikan itu, namun kunjungan seorang tamu di beranda rumah tentulah harus dipedulikan terlebih dahulu. Siraman air untuk mereka haruslah menunggu.

Kau letakkan canting dan meredupkan nyala api pada wajan berisi malam cair. Tanpa meneliti ulang, gerak tanganmu telah mengatur nyala sumbu kompor itu pada ukuran yang tepat. Redup yang pas untuk menghangatkan malam dengan titik api yang aman, sekedar untuk menjaganya tetap berupa lelehan tanpa akan membakar apalagi menghanguskan.

Berkepul samar malam cair warna jelaga itu saat kau beranjak. Aromanya melekatimu, menguar kentara serupa jejak pada setiap gerakmu. Kau seka peluh di dahi dengan punggung tangan sesaat sebelum langkahmu menjejak ambang pintu terbuka, menyambut sang tamu. Bergerak lembut tanganmu mempersilahkannya duduk.

Monggo pinarak.”(1)

Mengangguk laki-laki paruh baya itu membalas salammu. Jalinan rotan pada kursi tua peninggalan orangtuamu, berderak lirih saat menerima beban tubuh sang tamu.

“Kudengar kau pembatik yang mumpuni,” begitu tamu itu mengawali niat kedatangannya. Pujian awal yang tidak membuatmu tersanjung apalagi tersipu. Perjalanan waktu telah membawamu melewati hal-hal semacam itu, tidak membuatmu terbiasa melainkan justru memberimu kemampuan mendeteksi sebagai basa-basi atau umpan tekak.

“Kabar tentang mumpuninya pembatik, acapkali menyesatkan,” katamu santun.

“Memahami batik sebagai karya, tidak serupa mengenakannya. Apa yang tampak hanyalah tampilan, yang justru kerap menjadi ukuran keindahan, sementara makna rohani yang tersirat pada coraknya justru terabaikan.”

“Kuinginkan keduanya. Elok tampilan dan indah rohaninya. Karena itulah aku datang padamu. Wujudkanlah dua keutamaan itu bagiku, maka akan kutahu apakah pilihanku padamu ini karena tersesat atau kaweruh ing panuju.” (2)

Lurus mata laki-laki itu padamu. Tidak demi menelusurimu, melainkan itulah gerak sebuah niat yang tak tergoyahkan. Seketika kau tahu bahwa kau telah terpilih untuk mewujudkan sesuatu. Seringkali langkah awal tetamu baru adalah langkah yang gamang. Beberapa di antaranya berbalik langkah membawa niat yang urung. Sebagian yang lain teryakinkan oleh wastra yang tersimpan di almarimu. Kali ini kau dapati pilihan yang tak goyah kepadamu.

Namun bukan rasa kemenangan yang mengendap di dalammu, melainkan beban yang samar. Akankah ternyatakan nanti bahwa reputasi mumpunimu bukan kabar angin belaka?

Bukan hal mudah mewujudkan keinginan. Tidak selalu tepat melakukan penafsiran dari hasrat tersirat. Perbedaan rasa keindahan selalu bisa terjadi. Ada yang bersimpang jalan untuk kemudian saling menghindar tanpa beban satu sama lain. Beberapa di antaranya memilih untuk menjadikan rasa keindahan pribadi sebagai sesuatu yang sama mutlaknya bagi orang lain. Kini, akankah karya wastramu sanggup menafsir dan memenuhi hasrat keindahan laki-laki itu dengan jitu?

“Wastra apakah yang dikehendaki?” pelan kau bertanya, melangkah awal pada penelusuran sebuah keinginan. Diperlukan kehati-hatian mengungkap pertanyaan demi menjadikannya tidak sebagai penyelidikan yang nyinyir.

“Kukasihi seorang perempuan, baginya ingin kuberikan tanda mata yang akan mengikat hatinya kepadaku.”

“Nuwun sewu, apakah berupa batik sarimbit (3) yang akan dipakai berdua?”

“Tidak,” menjawab laki-laki itu tanpa menggeleng. “Busana sarimbitku dengan yang lain.” Datar suaranya, bernada sangat biasa. Menandakan makna tersirat yang gamblang. Siapa pun mampu menafsirkan dengan persis isyarat itu.

“Kuinginkan sutera terbaik berkualitas utama, dengan serat terlembut yang pernah ada. Harga tidak masalah, berapa pun itu akan kubayar tunai, lunas kapan pun kehendakmu.”

“Maka wujudkanlah dengan sempurna wastra tanda mata itu. Temukanlah corak batik nan elok serta bermakna rohani terindah, yang niscaya sanggup mengikat hati kekasih kepadaku, tanpa hendak berpaling.”

Demikianlah laki-laki itu menitipkan hasrat pemujaannya kepadamu. Diakhirinya kunjungan sembari menaruh harapan seutuh bulan purbani kepadamu untuk mewujudkannya.

Kau bergeming dalam duduk. Tampak tenang serupa permukaan dataran air. Sementara di dalammu ada yang melepuh diam-diam. Itulah hatimu. Sebentuk hati lembut, yang seharusnya terjaga justru diguyur air mendidih pada pada suatu ketika. Didih air itu menggenangimu, melepuhkan hingga serabut saraf tersembunyi di benakmu.

Terjaga utuh dalam ingatanmu yang satu itu.

“Tak kupunya lagi kesetiaan yang utuh kepadamu,” kata suamimu pada suatu hari, “ada padaku seorang perempuan lain, yang kepadanyalah hendaknya kau berbagi hati dan keberadaanku.”

Mendidih darahmu seketika. Meluap didihan itu mengguyur hatimu lengkap dengan uap panas yang melepuhkan.

“Tak hendak aku berbagi,” begitu katamu dengan nada lurus seturut keteguhan hatimu.

“Kalau begitu, aku akan menceraikanmu,” gumam suamimu serupa ancaman.

“Kuterima talakmu,” kau mengangguk tanpa rasa gentar.

Benar kau tak gentar. Serupa burung-burung yang tak pernah kawatir pada hari esok, demikian kau jalani perceraianmu tanpa rasa gamang. Tapi luka itu tak bisa kau ingkari. Bukan karena rapuh hatimu melepuh, melainkan oleh kenyataan bahwa dirimu telah ditinggalkan. Bahwa janji yang seharusnya teguh telah diingkari.

Kini, kau menerima amanah untuk membuat wastra yang akan menjadi ‘perayu’ perempuan lain. Tanda mata yang akan menandai gerak awal terbaginya sebuah kesetiaan…..

Lama kau merenung di beranda. Mengabaikan reranting dan dedaunan yang bergemerisik mengabarkan dahaganya. Tak kau pedulikan pula semburat matahari sore yang telah meredup dan membuat rumahmu remang tanpa cahaya.

*

Entah berapa hari kemudian¾yang kau lalui dengan perasaan gamang yang menggelisahkan¾kau temukan sebuah pilihan pola batik yang sekiranya tepat untuk tanda mata yang diinginkan laki-laki itu.

Pagi masih muda ketika itu, embun belum mengering dari dedaunan di kebun saat sebuah sarang burung tergeletak di pelataran. Kau letakkan sapu lidi, demi memungut sarang itu dan menduga-duga asal mulanya. Barangkali berasal dari pohon belimbing yang ada di dekatmu. Sarang dari jalinan reranting dan daun kering itu kosong, tak ada telur sebutir pun tertinggal. Sarang yang telah ditinggalkan.

Kau tak hendak membuang sarang itu. Kau membersihkannya dari debu dan sampah yang tak perlu, meletakkannya pada sebuah dahan dengan beberapa tangkai bulir padi. Kau berpikir barangkali burung-burung itu akan memerlukan kembali sarang darimana mereka berasal dan gabah itu akan menjadi santapan yang melegakan, sepulang mereka dari perjalanan yang melelahkan.

Demikianlah sarang itu mengilhami sebuah corak batik. Teguh pilihanmu, tanpa gamang meski setitik cecek (4). Adalah pola buketan untuk mewujudkan rancanganmu. Setiap buketan terdiri dari seekor burung dengan sayap berlapis. Sebagai klowongan, yaitu ragam hias utama, kau tampakkan detil setiap helai sayap burung-burung itu. Seolah gerak melayang ujung sayap itu berkepak terbang. Sebagai ragam hias latar pola, terpilihlah ceplok bunga seruni yang kau posisikan serupa taman. Sengaja tak kau pilih jenis unggas, entah kupu-kupu atau capung sebagai latar hias, karena kau ingin sosok burung itu menjadi yang utama. Kau tata pola buketan itu dalam satu jajaran, seolah burung-burung itu berbaris menuju pada satu arah.

Gabah sinawur (5) untuk isen-isen (6), pengisi bidang kosong latar pola utama. Tangkai-tangkai padi itu seolah menjadi rangkaian gabah yang saling menyambung. Setiap tangkainya menampakkan bulir-bulir padi perlambang kemakmuran.

Ada ketelatenan yang tidak biasa saat kau mengerjakan wastra pesanan itu. Ketekunanmu menggoreskan canting melukis corak batik itu, tidak demi mengejar tenggat waktu semata-mata. Melainkan lebih karena kesungguhan hatimu yang menjadi penggeraknya. Lincah gerakmu, sesungguhnya karena jemari itu hanyalah perantara dari ungkapan rasa yang mengendap di benak. Sekian lapis endapan tak terungkap, yang nyaris tak tertanggungkan. Ada gelisah yang mereda, ada risau yang menjauh seiring wastra itu menuju pada tahap akhir penyelesaiannya.

*

Laki-laki itu datang menjemput tanda mata pesanannya pada sebuah pagi menjelang siang yang teduh.            Pagar bambu yang membatasi kebunmu dengan jalan kampung, berderak pelan saat bergerak terbuka menandakan kedatangannya.

Kau bentangkan wastra kuning lembut sewarna gading. Melayang sesaat sutera itu tanpa suara, sebelum kemudian rebah pada sandaran kursi panjang. Kau temukan sepasang mata yang berpendar takjub. Menampakkan hasrat yang seolah meletup demi menelusuri wastra panjang itu dari ujung ke ujung.

“Lebih indah dari bayanganku semula, ternyatalah reputasi mumpunimu tidak menyesatkan.”

Kau diam, membiarkan udara tak bergerak di sekitarmu. Sama sekali tidak tergesa untuk tersanjung. Sejatinya kau menunggu laki-laki itu menyelesaikan kekagumannya.

“Alangkah tepat corak pilihanmu. Kuingat kekasihku pernah menginginkan batik bercorak burung hong.”

“Burung-burung itu sedang terbang menuju pulang,” katamu pelan dengan nada yang sangat terjaga.

Laki-laki itu menoleh padamu.

Gumading Peksi Kundur, (7) demikianlah kunamakan wastra ini.”

“Apa maknanya?”

“Burung-burung yang terbang menuju pulang pada sarangnya, itulah Peksi Kundur. Akan melambangkan makna yang berbeda andai diserahkan pada dua orang yang tak sama.”

“Maksudmu?”

Kau berhenti sejenak. Seolah jeda sebelum melanjutkan sesuatu.

“Dia akan menjadi tanda mata pamit untuk mengakhiri sesuatu. Telah selesai persinggahan sang burung, dan inilah tanda mata untuk melepaskan kepulangannya menuju sarang bermulanya. Pada pihak lain, ia adalah perlambang yang menandai sebuah kepulangan dari perjalanan panjang. Entah sejauh apa perjalanan itu, namun inilah saatnya untuk menemukan kembali sarang yang ditinggalkan. Adalah gabah sinawur yang menjadi isen-isen, itulah tebaran biji padi di masa awal musim tanam, menandakan bermulanya sebuah musim baru. Demikianlah sebuah musim dimulai, dengan taburan benih untuk menumbuhkan kehidupan baru menggantikan apa yang telah terlalui.”

Lurus mata laki-laki itu padamu. Pendar takjubnya telah berubah menjadi kilauan tajam serupa kelewang terasah. Kau tak gentar, apalagi terhenti.

“Mengapa kuning?”

“Gumading, itulah warna kuning selembut gading. Dengan teknik pewarnaan batik wonogiren, warna dasarnya seolah retak, terkena rembesan warna soga. Karena serupa itulah gading, senantiasa retak. Demikian juga kehidupan, terutama kasih sayang, selalu tak sempurna. Namun selama tak patah, yang retak itu tetaplah berharga.”

Kau berhenti kemudian. Lalu menunggu. Tak ada debaran tak normal di dalammu, melainkan ketenangan yang teguh. Seteguh pilihan-pilihanmu sejauh ini.

Di hadapanmu, laki-laki itu bergeming dalam hening yang panjang. Entah sedang menjalani masa suwung, demi menelusuri ulang jejak terlalui untuk menemukan jalan kembali. Ataukah tak hendak beralih dari lorong-lorong labirin, yang setiap lekuk kelokannya menjanjikan adrenalin nan menggairahkan?

Kau tak hendak bertanya.

***

Keterangan

  1. Monggo pinarak : silahkan duduk
  2. Kaweruh ing panuju : memahami tujuan
  3. Sarimbit : berpasangan, busana bercorak sama yg dipakai suami istri.
  4. Cecek : ragam hias berupa titik-titik pada pola batik.
  5. Gabah sinawur : taburan gabah
  6. Isen-isen : ragam hias yg terletak di dalam latar pola batik
  7. Gumading : kuning gading

Peksi : burung

Kundur : pulang

Cerpen – Ibu Tak Berangkat

Oleh : Sanie B. Kuncoro

Penutur: Liston P Siregar

download

Kau sedang berada di pekarangan rumah Ibu. Sebuah tempat yang paling kau suka setiap kali kembali ke rumah itu. Entah sekadar singgah dari sebuah perjalanan tugas, atau saat kau bawa istri dan anak-anakmu mudik mengunjungi Ibu di kampung halaman.

Sebuah pekarangan yang senantiasa menghadirkan jejak masa kanak-kanakmu. Membelah kenangan menjadi penggalan-penggalan, yang setiap irisannya membawamu kembali menelusuri perjalanan masa silam, yang seakan terperangkap di pekarangan itu. Seakan tak ada yang benar-benar berubah di sana.

Lihatlah, pohon ketapang yang rantingnya bercabang menjalar ke empat arah itu, tetap tegak di sudut barat daya pekarangan. Helai-helai daunnya yang lebar, sebagian berwarna merah saga, adalah daun dengan merah yang sama, yang dulu sesekali menjatuhimu saat kau bermain gundu di keteduhan pohon itu.

Kau tak lagi bermain gundu sekarang, keahlian meluncurkan bola kaca kecil yang menghantam gundu lawan-lawanmu, telah menghilang darimu. Tak lagi luwes jemarimu mengarahkannya serupa peluru. Kini kau kembali berada di keteduhan pohon ketapang itu, sembari menikmati koran pagi dan secangkir teh hangatmu yang mulai mendingin.

Lalu kau dengar sesuatu.

Berapa ongkos naik haji sekarang?” Ibumu bertanya. Ringan nada katanya serupa pertanyaan yang diucapkan sambil lalu. Apalagi karena Ibu melakukannya sembari napeni. Menyingkirkan kulit gabah dan kerikil yang terbawa butiran beras.

Entahlah, barangkali sejumlah…..” kau sebutkan sejumlah angka perkiraan.

Benar sejumlah itu?” Ibumu mendadak antusias, dihentikannya gerak mengayun tampah.

Ibu ingin berangkat?” kau mendadak berdebar dengan pertanyaan itu. Pertanyaan yang membawamu pada suatu kalkulasi, perhitungan dan pertimbangan ini itu.

Tentu saja, siapa yang tidak?”

Ada cahaya samar-samar berkelip pada sirat mata Ibumu. Terlihat jelas olehmu harapan yang tersimpan di dalamnya. Seolah-olah kau melihat bayang keagungan Ka’bah, antara menjauh dan mendekat berganti-ganti. Panggilan doa bergema pada dinding-dinding liang dengarmu.

Kalau bagus hasil panen nanti, agaknya cukup untuk menggenapi saldo tabungan sejumlah ongkos itu. Insya Allah Ibumu ini akan berangkat.”

Ibumu bergumam halus. Kehalusan suara itu lebih mirip angin yang terdesir di antara batang-batang padi yang tumbuh di sebidang sawah warisan mendiang ayahmu. Dari kejauhan desiran itu berasal, namun menghampirimu hingga sedemikian dekat.

Insya Allah, Tuhan meridhoi niat mulia. Amin” ucapmu mengamini.

Desir angin dari kejauhan itu, mendesirkan hatimu, menyadarkanmu bahwa sejauh ini telah kau abaikan sesuatu. Yang satu itu luput dari perhatianmu, terlipat di antara pantauan pada kesehatan dan hal-hal material yang lebih tampak.

Kau simpan desiran itu, rapi terbungkus dalam ingatan, seumpama bekal yang kau bawa saat kau pamit pada Ibumu selepas tengah hari itu. Selembar daun ketapang warna saga melayang sesaat dan rebah di ujung kakimu ketika kau tinggalkan pekarangan rumah Ibu.

*

Kau rebahkan dirimu. Bilah-bilah cahaya matahari yang menembus partisi jendela, menampakkan partikel debu yang menari-nari dalam cahaya itu. Kau hela napas, tanpa hirau partikel lembut itu memasuki liang napasmu.

Ada apa?” istrimu bertanya. Agaknya kepekaannya menangkap sesuatu yang tak biasa pada tarikan napasmu yang berat itu.

Lagi napasmu terhela, sebelum kau jawab pertanyaan istrimu dengan pertanyaan yang berbeda.

Kapan batas waktu pembayaran tanah itu?”

Akhir bulan depan” istrimu menjawab dengan mata bertanya.

Seandainya kita tunda pembelian tanah itu, apakah kau keberatan?” tanyamu menerawang.

Teringat olehmu saat pertama kali menemukan sebidang tanah itu.

Dengan sepeda kau telusuri jalan desa itu, sebuah rute yang tak kau rencanakan. Saat itu kau hanya bosan dengan rute yang biasa kau lalui. Jarak tempuh dan situasi perjalanannya tidak lagi memberikan tantangan karena medan itu telah kau kuasai. Tak lagi terpicu sama sekali andrenalin di dalam dirimu saat menaklukan tanjakan-tanjakannya. Maka pagi itu kau arahkan sepedamu tanpa rancangan sebuah arah. Kau hanya mengayuh seakan membiarkan kemudi sepeda mencari arahnya sendiri. Berbelok acuh saat melalui persimpangan, menambah kecepatan di jalur lurus dan terengah saat melaui tanjakan. Dan kau temukan sebidang tanah di ujung itu atau sesungguhnya kau tersesat? Tanpa pertimbangan kau memilih sebuah jalan kampung, lambat roda sepedamu menggelinding menelusuri jalan tanah yang membelah ladang tembakau. Lalu kau terhenti, tak ada lagi jalan setapak setelah itu.

Baru saja kau memutar balik arah sepedamu ketika seseorang menghampirimu, menyangka bahwa kau tertarik dengan sebidang tanah yang akan dijualnya itu. Maka kau pun terperangkap untuk berbasa-basi.

Namun ternyata tanah berilalang itu mengikat hatimu.

Letaknya di ujung, dengan kontur yang agak menanjak, berseberangan dengan ladang tembakau. Luasnya 200 m, harganya bisa dinegosiasi” kau jelaskan dengan antusias pada istrimu. Antusiasme yang bernada bujukan.

Tabungan kita cukup untuk melunasinya.”

Tapi sesudah itu kita tak punya tabungan lagi” kata istrimu bimbang.

Tentu akan ada rezeki lagi. Bisnis tak berhenti, pastilah rezeki tersedia bagi para pencarinya” katamu sepenuh keyakinan, yang dengan segera menghentikan kebimbangan istrimu.

Tersimpan dalam ingatanmu, semburat yang meronai paras istrimu. Antara takjub dan angan yang melambung saat kalian meninjau tanah itu.

Apakah setuju bila menjadikannya sebagai rumah akhir pekan?” begitu istrimu berkata di antara gelembung-gelembung harapannya. “Kita bagi lahan ini menjadi dua. Seratus meter untuk koleksi tanamanmu, selebihnya untuk ruang baca dan buku-buku?”

Pembagian yang adil. Tentu kau setuju. Dan bertemulah kalian dengan pemilik lahan untuk bernegosiasi.

Dan di sinilah kau sekarang, menawarkan alternatif bagi istrimu untuk membatalkan pengambil-alihan lahan itu, justru setelah negosiasi harga dengan pemiliknya berhasil tersepakati.

Mengapa?” kau dengar lirih suara istrimu.

Kau berpaling, tak hendak menatap mata istrimu. Ah, tepatnya tak sanggup. Karena kau tahu akan mendapati luruhnya angan yang telah melangit. Angan yang kau lambungkan, dan kini kau hempaskan pula.

Ibu ingin naik haji, kupikir itu sebuah keinginan yang layak diprioritaskan” nada katamu hati-hati. Kehati-hatian yang kau lakukan demi supaya tidak mengesankan bahwa kau lebih mengutamakan seorang daripada yang lain apalagi mengesampingkan yang satu dari lainnya.

Kalau demi ibadah itu, tentu aku setuju” seru istrimu.

Dan kau terkejut mendapati tiadanya sirat kekecewaan pada suara itu. Bahkan suara itu lebih serupa seruan yang menyatakan kelegaan.

Ibadah perjalanan menuju rumah Allah tentulah lebih utama dari rumah manapun. Apalagi ibadah seorang Ibu. Rumah akhir pekan kita tentu bisa menunggu.”

Sungguh?” kau bertanya meyakinkan.

Istrimu mengangguk. “Seperti yang kau katakan, bahwa rejeki akan tersedia bagi para pencarinya. Pastilah Allah tak alpa menyediakan rejeki bagi mereka yang ikhlas demi bakti pada ibunya. Bukankah begitu?”

Seketika keharuan itu mendatangimu, menghangatkan hati. Dan kau temukan bahwa angan yang melangit itu tak luruh dari paras istrimu. Gurat wajahnya tetap menampakkan harapan yang terpeta jelas, yang seakan memberimu jalan untuk mencapainya.

*

Pagi menjelang siang saat telepon ini mengejutkanmu.

Ibu tak berangkat” kau dengar Ibumu berkata. Tak begitu bagus sambungan telepon itu, sehingga seakan-akan suara itu terdengar dari kejauhan, nyaris sayup, namun tertangkap olehmu getar yang menyertainya.

Mengapa, Ibu? Apakah terjadi sesuatu?” tak mampu kau tutupi rasa terkejut terpadu khawatir dalam dirimu.

Ada peraturan baru yang tak mengijinkan calon haji perempuan berusia 65 tahun untuk berangkat,” melirih suara Ibu “Akhir tahun lalu usia Ibumu ini sudah menjelang 70.”

Sesuatu menikam hulu jantungmu.

Kau tercekat. Lirih suara itu, kau tahu bukan karena suara itu berasal dari kejauhan sekian ribu kilometer darimu berada, melainkan karena luruhnya harapan yang tersimpan di dalam diri Ibumu.

Lirih suara itu mendekatkanmu pada suatu bayang-bayang, seolah dirimu berdiri di hadapan sebuah dinding berbata merah. Kau aduk pasir dan semen untuk melapisi batu itu. Kau lakukan dengan rapi, polesanmu halus merata hingga dinding itu tertutup sempurna, ujung-ujungnya membentuk siku 90 derajat. Namun tepat saat kau sapukan kayu penghalus sebagai penghalusan akhir, saat itulah curah hujan mengguyur deras. Luruh seketika adonan pasir dan semen yang belum sempat mengeras. Seakan dinding itu mencair, lapisan yang meluruh menampakkan kembali susunan bata yang seharusnya diselimutinya, dan lapisan itu menggenang bersama curah hujan serupa lumpur.

Demikianlah harapan itu luruh. Tidak hanya di dalam diri Ibumu, melainkan di dalam dirimu juga.

Regulasi peraturan haji. Pemerintah Arab Saudi telah menetapkan untuk tidak menerima calon haji perempuan yang telah berusia 65 tahun. Begitulah ketika negara mengambil alih hak seseorang untuk beribadah dan menjadikan prosesi ibadah sebagai monopoli sebuah negara.

Ibu, maaf….” tak selesai kalimatmu yang terucap dengan bergetar itu. Sedemikian sesak dadamu, terhimpit beban penyesalan yang menghampirimu seketika.

Tidak apa-apa. Kalau belum ada ridho Allah untuk niat ibadah Ibu kali ini, barangkali karena Allah memiliki rencana lain. Ibu ikhlas.”

Kalimat itu menghangatkan hatimu sekaligus meneguhkan keberadaan Ibu yang serupa tiang bagimu. Penyesalan itu membebanimu, dan tiang keikhlasan Ibu menjadi sandaranmu.

Namun tak tercegah ketika ingatan tentang tahun-tahun yang telah berlalu mendatangimu. Tahun-tahun berisi kesempatan-kesempatan yang telah kau lewatkan tanpa usaha yang cukup berarti untuk memberangkatkan Ibu dalam perjalanan ibadah mengunjungi rumah Allah.

Tahun-tahun yang tak akan pernah kembali.

Setengah hati terhela napasmu. Tak tahu hendak ke mana akan kau letakkan kesedihan dan penyesalan yang membebanimu.

Lalu kau ingat film itu.

Pada sebuah film Korea, seorang serdadu menemukan dirinya menjadi bagian dari pemerintah Jepang yang justru sedang menjajah negaranya. Saat menelusuri sejarah masa lalunya, serdadu itu mendapati bahwa di masa lalu dirinya gagal menunaikan tugas negara sehingga bangsanya di masa kini tetap berada dalam kekuasaan penjajah. Dalam penyesalan itu mendadak terjadi keajaiban fenomena alam yang memungkinkan serdadu itu kembali pada sebuah masa silam. Itu adalah masa lalu tepat saat dia melaksanakan tugas negara yang gagal itu. Maka diraihnya kesempatan kedua itu, diperbaikinya kesalahan diri hingga kegagalan itu tak terulang. Akhirnya serdadu itu berhasil menunaikan tugasnya dan negaranya di masa kini adalah negara yang merdeka. Di kemudian masa, anak-anak bangsa itu mengenang serdadu itu sebagai seorang pahlawan yang gugur demi kemerdekaan negaranya. Gambar dirinya terpajang di museum dan kisahnya menjadi tauladan kepahlawanan yang dituturkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Itu film. Di kehidupan nyata akankah kau temukan terulangnya sebuah peluang untuk menebus kealpaan masa lalu? Akankah kesempatan yang terlewat itu kembali, hingga kau bisa memberangkatkan Ibumu menunaikan perjalanan ibadah mengunjungi rumah Allah sebelum usia 65 tahun?

Pohon ketapang yang tegak berdiri di barat daya pekarangan rumah Ibu, seakan memerangkap seluruh masa silammu. Tahun berlalu sementara, gugur daun merah saganya silih berganti dengan tunas daun baru hingga kini.

Apakah salah satu kesempatan itu juga sekadar terperangkap, dan akan kembali mendatangimu pada suatu ketika nanti? Wallahualam.

 

***

 

Cerpen – Kebaya Kenanga

DOWNLOAD

Oleh : Sanie B. Kuncoro

 

Kudengar pembicaraan itu pada suatu hari. Ketika itu aku sedang bertandang ke rumah Ibu sesudah mengantar anakku pergi ke sekolah. Ibu sedang menemui tamunya, yang kutahu adalah seorang duda yang istrinya meninggal 3 bulan berselang.

“Tentu lebih baik bila bahannya sutra, akan terasa lembut dan bagus jatuhnya” itu suara ibu.

“Ya, aku pasrah saja, dik Kenanga selalu tahu yang terbaik” jawab duda itu.

Kenanga adalah nama Ibuku. Tapi tidak lagi banyak orang memanggilnya dengan nama itu. Ibuku lebih dikenal sebagai Ibu Sebastian, nama ayahku, meski ayahku telah almarhum bertahun lewat.

“Warnanya?”

“Seingatku dulu kita memilih ungu muda. Tapi kalau dik Kenanga sekarang ingin memilih warna lain, tentu aku setuju”

“Ungu muda bukan warna yang lazim untuk pengantin. Bagaimana kalau putih? Akan kusulam daun anggur dan sulur-sulurnya dengan benang hijau pupus pada tepian kebaya itu, lalu tebaran bunga-bunga kecil ungu muda di sekitar lengan dan  pinggang”

“Betapa cantik Kenangaku nanti mengenakan kebaya itu”

“Ah, setiap pengantin akan selalu memancarkan kecantikannya yang khas”

Kubayangkan pastilah ibuku menjawab sanjungan itu sembari  tersipu.

Sedangkan aku, alih-alih tersipu, aku justru gemetar, bahkan nyaris membeku.

Semenjak ayahku berpulang 10 tahun lalu, sama sekali tidak terlintas dalam pikiranku bahwa ibuku akan menikah lagi. Meski hanya sekedar pengandaian. Sama sekali tidak terbayangkan bahwa akan ada sosok laki-laki lain yang akan menggantikan bayang ayahku di dalam rumah ini.

Sepuluh tahun berlalu, namun hingga hari ini segala hal tentang ayah masih hidup dengan utuh dalam benakku.

Setiap kali kembali ke rumah ini, seakan kulihat bayang ayah duduk di sudut beranda, lengkap dengan koran dan secangkir teh, seperti  yang dilakukannya sejak dulu. Bahkan sepasang sandal dan sepatu ayah, masih rapi dan utuh tertata di rak. Dua pasang alas kaki yang kupertahankan dengan teguh betapa pun Ibu berulangkali ingin membuangnya. Bahkan kuberikan order khusus pada pembantu untuk membersihkan dan merapikannya setiap hari.

Ingatan pada alas kaki itu senantiasa mengingatkan pada ritual beliau membasuh kaki dan tangan setiap kali pulang bepergian. Ritual yang kuwarisi dengan baik, bahkan kutiru dengan sempurna cara ayah melepas sepatu di ambang pintu, lalu menenteng alas kaki itu dan menelusuri rumah dengan telanjang kaki. Begitulah, tak ada bayang ayah yang terkikis dari benakku.

Maka sekarang saat menyimak pembicaraan Ibu tentang kebaya pengantin dengan duda itu, tak pelak lagi membuatku lebih dari sekedar gemetar. Aku juga  tak mampu mengungkapkan satu pertanyaan pun kepada Ibu, setelah duda itu pamit. Bukan karena kehilangan kata, melainkan lebih karena aku tak hendak menerima sebuah jawab yang tak kuinginkan.

Aku lebih memilih mencurahkan galau hatiku kepada nenek, yang adalah  mertua Ibu. Seperti biasa, nenek menyimak ceritaku dengan tekun. Caranya mendengarkan sama persis dengan gaya Ayah. Agaknya ayahku mewarisi sikap laku ibunya dengan sempurna.

“Benarkah?” tanya nenek kemudian dengan kesabaran yang terjaga.

“Ya, aku mendengar sendiri” jawabku meyakinkan

“Dulu memang mereka pernah dekat, sebelum kemudian Ibu memilih Ayahmu” nenek menepuk-nepuk punggung tanganku. “Barangkali mereka ingin menyambung kembali garis jodoh yang dulu tak sampai”.

“Apalagi yang hendak dicari?” sergahku sengit “Dengan usia nyaris uzur, bukannya lebih baik mengisi hidup dengan anak cucu?”

“Barangkali masih ada cinta masa lalu yang tersimpan”

“Lalu mereka pikir ini saat yang tepat untuk melanjutkannya?” sergahku dengan kemarahan tertahan “Tampak betul betapa tak setianya laki-laki itu, secepat ini menghampiri perempuan lain sesudah kematian istrinya”

“Sabarlah, jangan menuduh begitu “ nenek menenangkanku

“Bagaimana mungkin bersabar? Mereka akan mengkhianati ayah. Tidakkah nenek juga merasa terkhianati?”

Nenek menatapku tenang-tenang.

“Ayahmu sudah berpulang 10 tahun lebih. Hingga hari ini Ibumu tetap menjadi menantu yang baik bagiku. Kalau kemudian ditemukannya kembali seseorang dari masa lalu, akan tidak adil baginya bila kita menghalanginya atas nama kesetiaan pada almarhum ayahmu yang adalah anakku”

“Tapi ….”

Nenek mengusap punggungku. Usapan yang lunak, tapi menyalurkan sesuatu  entah apa yang mengalirkan ketentraman. Sama persis dengan usapan Ayah setiap kali menidurkan aku di masa kanak-kanak.

“Percayalah, Ibumu akan  tetap menjadi ibumu yang semula dengan atau tanpa ayah baru itu. Dia juga akan tetap menjadi menantuku seperti yang telah dijalaninya lebih dari 10 tahun lalu”

Kucari punggung nenek dan kusadarkan diriku di sana. Tipis punggung itu dengan garis tulang berbalut kulit yang renta. Namun alangkah kokoh kekuatan yang ada di dalamnya. Serupa punggung ayahku.

Lalu aku bertanya-tanya pada diriku sendiri, akankah kuwarisi kemampuan mententramkan dan melindungi itu bagi anakku?

*

 

Aku baru saja datang dan melepas alas kaki di ambang pintu ketika Ibu muncul dengan bergegas. Tampak betul rona sumringah pada garis wajahnya.

Aku melengos, mendadak merasa risih menemukan rona semacam itu –yang selayaknya meronai wajah perempuan-perempuan belia, saat berdebar mengingat kembali rayuan pacarnya semalam– tapi kini, warna yang sama meronai Ibuku.

“Kebetulan kau datang, ayo antar Ibu ke toko benang di pecinan” kata Ibu sembari membentangkan sehela kebaya sutra putih susu.

“Cantik bukan? Akan makin indah bila telah kusulam dengan bunga ungu muda”

Aku berpaling, sama sekali  tak hendak menatap kebaya itu. Kebaya pengantin Ibu. Ah, lebih tepat menamainya sebagai kebaya pengkhianatan.

“Mengapa harus ke pecinan? Beli saja di sembarang toko” tukasku acuh.

“Mana bisa? Kebaya ini harus kusulam dengan benang terbaik, dan benang sulam itu hanya ada di toko babah Hong”

Aku bergeming. Tak kupedulikan kesibukan Ibu berbenah diri.

“Ayo berangkat” ajak Ibu yang agaknya sedemikian antusias sehingga tak menyadari keenggananku “Kebaya itu harus kusulam dengan segera supaya selesai tepat waktu”

Astaga, betapa bergegasnya Ibuku untuk sesegera mungkin menyambung kembali jodoh tak sampai dari masa lalunya. Sedemikian tergesanya hingga diabaikannya keharusan untuk meminta persetujuanku. Jangankan persetujuan, Ibu bahkan tidak memberi tahu tentang rencana ‘pernikahan’ itu.

Begitulah pengkhianatan, selalu dilakukan tanpa pemberitahuan apalagi persetujuan.

“Ibu pergilah sendiri” kataku kemudian, dingin nadaku.

Ibu terkejut. Nampak sekali tak menduga sikapku

“Mengapa?”

“Aku tak hendak terlibat dalam pengkhianatan Ibu pada Ayah,” jawabku lugas

“Pengkhianatan? Apa maksudnya?” tanya Ibu heran.

“Bukankah duda itu kekasih lama Ibu? Ibu akan menikah dengannya bukan? Itu adalah pengkhianatan pada Ayah, maka aku tak hendak membantu Ibu mewujudkan kebaya pengantin itu” seruku tak tertahan. Kuluapkan apa yang telah memenuhi dan menyiksa benakku berhari-hari.

Ibu tercengang. Agaknya rasa cengang yang sedemikian hebat hingga membuatnya tak mampu berkata-kata atau melakukan sesuatu. Ibu hanya berdiri menatapku tak henti. Aku juga berdiri diam.

Rumah kami hening beberapa saat. Tak terlihat bayang ayah di sudut teras. Selalu begitu. Sejak dulu Ayah selalu menghilang setiap kali aku bertikai dengan Ibu. Nanti sesudah kami selesai, maka Ayah akan menghampiri  kami satu persatu, bergantian. Menguraikan pertikaian kami, yang selalu serupa benang ruwet, menjadi seutas tali yang terjalin rapi.

Momong siji lan sijine (mengasuh satu persatu)” begitu komentar nenek tentang perlakuan Ayah pada kami..

Sekarang Ayah juga menghilang. Akankah nanti bayang ayah mendatangi kami masing-masing? Ataukah Ayah menghilang karena tak hendak melihat pengkhianatan Ibu?

Beberapa saat kemudian Ibu menghela napas panjang, lalu dihampirinya kursi dan menempatkan diri di situ.

“Sekarang tidak ada Ayahmu yang bisa menekan kemarahanku padamu” gumam Ibu pelan, seakan lebih bergumam pada dirinya sendiri “Maka harus bisa kutekan sendiri kemarahan ini”

Aku bergeming

Kudengar lagi helaan napas panjang, lalu :

“Itu memang kebaya pengantin” lanjut Ibu kemudian dengan kesabaran yang sedemikian terjaga, yang tidak setiap kali dimilikinya.

“Tapi bukan untukku, melainkan untuk Kenanga”

“Kenanga adalah Ibu” sergahku.

Ibu menatapku lekat

“Ya, Harun menggunakan nama  itu bagi putri pertamanya, untuk mengenangku. Tak bisa kutolak karena nama manusia tidak memiliki hak patent”

Aku terkejut sesaat, tidak menduga.

“Sekarang Kenanga-nya Harun akan menikah. Mendiang Ibunya berjanji menjahit kebaya pengantin untuknya, tapi malaikat menjemputnya terlalu dini. Karena itu Harun memintaku untuk mewujudkan kebaya pengantin itu”

“Tapi…” bantahku tak selesai

“Ibumu ini adalah penjahit. Kusulam berbagai baju pengantin dan tiap helainya kujahit dengan bahan dan benang terbaik sepenuh hatiku. Dengan atau tanpa kaitan para calon pengantin itu dengan masa laluku”

Aku menunduk diam.

“Andai ada Ayahmu, tentu akan dimilikinya cara yang lebih baik untuk membuatmu mengerti” lirih suara Ibu, menampakkan keluhan yang pedih.

Aku termangu-mangu.

Hening kemudian, kami saling diam, bahkan napas kami tak saling terdengar.

Beberapa saat kemudian aku beranjak. Kuraih selop Ibu dan kuletakkan di ujung kakinya.

“Aku mau mengantar Ibu ke mana pun” kataku pelan-pelan.

Tanpa suara Ibu mengenakan selop itu. Dengan gerak yang nyaris samar, disekanya sesuatu di ujung mata, aku berpaling sembari melakukan gerak yang sama.

Sesaat sebelum kami berangkat, kulihat bayang Ayahku tersenyum-senyum di sudut teras. Ah, Ayah.

Lalu aku bertanya-tanya akankah bayang diriku akan setia menemani anakku dikemudian hari nanti sama seperti bayang Ayah menyertaiku?

 

***

 

Cerpen – Santa Klaus Tak Singgah di Rumah

Download

Sanie B Kuncoro

Adakah pijar yang lebih bahagia dari cahaya lampu aneka warna pada deretan etalase toko  di pusat kota menjelang malam natal? Di antara dominasi warna hijau dan merah beragam ornamen, segala warna seolah tak kehilangan semangat untuk terus berkedip kemayu menawarkan berbagai hal demi kemeriahan natal dan tahun baru sekaligus. Dan lihatlah arus pembeli yang tak habis itu, berbaris rapi di meja kasir mempersiapkan kartu-kartu untuk digesek. Temperature di bawah nol dan taburan gerimis salju, alih-alih menjadi penghalang, justru menjadi pelengkap perjuangan merealisasikan “wish list” yang telah disusun jauh di awal musim.

Di antara yang gemerlap itulah kau temukan dirimu terjebak di depan sebuah etalase. Berhadapan dengan manekin tanpa kepala yang mengenakan sweater orange gelap. Sebuah warna yang sungguh mengikat hatimu. Matamu tak sanggup berkedip menatapnya. Itulah warna langit pada sebuah senja yang menolak mati dalam kenanganmu. Kenangan yang membuatmu bertahan memelihara sebuah harapan. Tapi seperti harapan yang terus membenturkanmu pada kekosongan, demikian pula label harga sweater itu menjatuhkanmu tanpa belas kasihan.

“Sabar, tunggu hingga semua perayaan ini selesai, saat harga-harga melorot jatuh di akhir musim,” akal warasmu berkata. Pertanyaannya : apakah yang satu ini akan bertahan menunggumu? Dia terpajang di etalase, membuat setiap mata menengok padanya.

“Apakah harganya belum turun?” jemari kecil dalam genggamanmu bergerak lembut, menarikmu dari pusaran sensasi rajutan warna oranye yang terus memanggil. Kau menggeleng cepat.

“Apakah Ibu akan memeriksanya setiap hari?” lagi bibir kecil itu bertanya. Kau tersipu. Merasa terpergok sedang mengais harapan yang nyaris mimpi, justru oleh anakmu sendiri yang kerap kau redakan mimpi-mimpinya. Ini dana beasiswa, Nak, untuk membeli buku, bukan mainan atau jajanan… Sebaris alas an yang telah menjadi kalimat mantra bagimu.

“Ibu sangat ingin baju itu ya.” Buah hatimu itu menggoda. Kau tertawa malu, lalu mengangguk dan menarik tangan kecilnya melanjutkan langkah.

“Warnanya bagus bukan? Benangnya tebal tak berserabut,” katamu memberikan alibi atas pilihanmu.

“Mungkin Ibu bisa mendapatkannya, nanti kutanyakan Brenda.”

“Brenda yang berambut emas itu?” demikian anakmu menamai rambut pirang sahabat sebangkunya, “mengapa Brenda?”

“Supaya dia menambah jatah rumput untukku.”

“Rumput?” lagi kau bertanya. Tak kau temukan kesinambungan sweater warna senja, Brenda dan rumput. Kau tahu bahwa imajinasi anak-anak sama sekali bukan tandingan logika berpikir manusia dewasa, secerdas apa pun otak dewasa itu, namun setidaknya otakmu belum terlalu tumpul untuk mereka-reka imajinasi liar sekaligus lugu anakmu sendiri.

Kau temukan jawabnya kemudian. Anakmu mengambil sepasang sepatu, yang relatif terbaru di antara 2 sepatunya yang lain. Membersihkan dan mengisinya dengan sekantung rumput segar pemberian Brenda. Diaturnya rumput dengan rapi mengisi lubang sepatu.

“Besok malam diletakkan di depan pintu. Kata Brenda, Santa Klaus akan lewat dan kalau rusa penarik kereta memakan rumput ini, maka pemilik sepatu boleh memilih hadiahnya.” Anakmu menjelaskan dengan bersemangat. “Akan kuminta rumput lagi untuk sepatu Ibu.”

Kau tercekat. Bukan karena berhadapan dengan imajinasi di luar batas, melainkan justru merasa ironis bahwa ternyata inilah saatnya kau harus menghadapkan anakmu pada pemahaman tentang perbedaan, tentang kotak-kotak yang tak sama.

“Tapi Santa Klaus tidak singgah pada rumah yang tidak merayakan natal,” katamu pelan. Kau merasa berhadapan dengan sebutir apel ranum  dan kalimatmu menjadi pisau yang akan membelah-belahnya.

Anakmu terkejut. “Tapi Brenda bilang…”

“Hari raya kita berbeda, Nak,” matamu menatap memohon pengertian. Terdiam anakmu sesaat. Matanya berkedip-kedip menyiratkan sanggahan. Dan kau ingatkan padanya tentang hari raya yang kalian rayakan di kampung halaman beberapa tahun lalu.

“Begitu ya, Ibu yakin pak Santa Klaus itu tidak singgah?” dia meragukanmu. Kau mengangguk. Dan kau melihat sebuah harapan yang memudar. Dengan sirat kecewa yang tak tersembunyi, matanya menatap sepasang sepatu merah berisi rumput segar. Kau merasa tak berdaya.

“Tapi aku tetap ingin memberikan rumput ini untuk rusanya. Banyak anak-anak di sekitar rumah, akan membuat pak Santa lama berkeliling membagi hadiah, mungkin membuat rusa kelaparan,” gumam anakmu kemudian. Dibukanya pintu balkon, meletakkan sepatu berumput pada teras yang sempit, menatap satu kali lagi sebelum kemudian menutup pintu. Bibirmu bergetar, bukan karena dingin oleh udara yang menerobos saat pintu terbuka, melainkan karena ketulusan  hati seorang anak. Mulialah hatimu, Nak.

*

Nanti malam adalah Chrismast Eve. Pemilik kedai akan menutup kedai sebelum sore dan tutup selama satu bulan. Dia akan menikmati liburan di kampung halamannya yang hangat. Maka dia ingin kedai benar-benar bersih demi tak membuat tikus dan kecoak mampir. Tidak mudah memperoleh lisensi operasional kedai bila “tamu-tamu” liar itu terdeteksi singgah apalagi menetap. Itu membuatmu dan karyawan lain harus berberes ekstra keras, sekaligus beruntung karena banyak sisa stok makanan yang bisa dibawa pulang. Muffin aneka rasa, croissant, pie, beragam cookies. Telur mentah, sosis, bawang Bombay, fillet ikan dan ayam. Hm, semua itu bisa menghemat uang belanja sepekan lebih. Meski tetap belum cukup untuk menebus sweater warna langit senja dari etalase. O please, sudahlah.

Kau hidupkan kran, air panas mengguyur tumpukan piring kotor berlapis sisa-sisa lemak. Bergerak cepat tanganmu mencuci piring-piring itu, secepat pikiranmu berputar merancang sesuatu. Kau abaikan senandung nona Sanchez di sebelahmu yang membilas setumpuk cangkir dan gelas. Biasanya kau suka menebak-nebak lagunya. Kini yang ada di kepalamu adalah sepatu berumput di balkon itu. Kau tidak ingin membiarkannya kosong. Toko –toko masih akan buka hingga jelang malam, bisa kau beli sesuatu sesudah semua tugas ini selesai. Masalahnya. Bagaimana membayarnya? Kedai akan tutup membuatmu tak bergaji sebulan ke depan. Sementara biaya sewa apartemen telah tertunda 15 hari, kau berjanji membayarnya hari ini seterima uang lembur. Kulkasmu nyaris kosong, sisa stok makanan dari kedai hanya akan memperpanjang nafasnya satu pekan. Lalu biaya penitipan anak, janjimu pula akan melunasinya hari ini. Astaga, uang lembur yang tak seberapa itu telah kau janjikan untuk banyak hal.

Di tanganmu spon berputar cepat menyeka lemak, sebaliknya putaran di benakmu justru melambat, bahkan seolah berhenti, membuatmu tak juga menemukan cara memberikan kebahagiaan ala kadarnya pada anakmu. Kebahagiaan bahwa rumput yang disediakannya tidak sia-sia, bahwa rusa pak Santa benar-benar telah memakannya.

“Rumahmu di Dulverton Road bukan? Searah dengan rumah nyonya Gerda?” Tanya bos mendadak saat kau melepas apron yang kuyup.

“Pelanggan sepuh yang selalu datang minum teh sore itu?” kau mengangguk, “Dia tak datang beberapa hari ini.”

“Kakiknya bengkak, membuatnya tak bisa berjalan jauh. Minggu lalu dia memesan ginger cookies dan titip tukar pecahan uang kecil,” bos menjelaskan. Disebutkannya sejumlah angka, tak sedikit, tak pula besar. Cukup untuk menebus sesuatu dari toko mainan yang akan membuat seorang anak bahagia.

“Apakah kau bisa mengantarkannya pada nyonya Gerda saat pulang nanti?”  

Kau mengangguk cepat, sangat segera, tak perlu waktu lebih untuk menimbangnya. Bukan karena rumah itu searah dengan apartemenmu, melainkan karena seolah kau temukan celah dari segala yang buntu.

*

Langkahmu melambat. Bukan karena tak tahu rumah nyonya Gerda. Kau tahu betul letak jalan itu. Itulah jalan yang akan kau temukan pada simpang di depan, belok ke kanan. Sebuah blok berisi rumah-rumah kecil berpagar rendah dengan pintu aneka warna. Bos mengatakan pintu tujuanmu berwarna putih, nomor lima. Akan kau temukan dengan mudah dalam beberapa langkah. Namun kau berdiri bimbang. Bungkusan biskuit jahe dan amplop recehan rapi di dalam tas. Erat dalam dekapanmu. Hatimu berdebar dalam kecamuk yang bimbang. Langit sore pada musim dingin menerbangkan awan kelabu, tapi bukan itu yang membuatmu menggigil, melainkan jalan buntu di dalam kepala. Entah berapa menit kemudian kau temukan langkahmu bergerak pada arah yang terpilih. Bukan kanan. Menjauh dari pintu putih yang belum kau temukan.

*

Anakmu bergerak gelisah. Mengunyah makan malamnya tanpa selera dan melirik kaca pintu balkon berulangkali. Langit gelap di luar sana dengan taburan salju tipis. Lampu berkilauan aneka warna dari pohon dan rumah-rumah. Sebuah Christmas Eve yang sempurna. Persis seperti citra natal yang dulu kau temukan pada kartu natal di toko. Kini akan ditemukan pada lini masa berbagai medsos. Dan itu semua menjadi dunia nyatamu hari ini. Tapi bukannya ketakjuban, justru gelisah mendatangimu.

“Menunggu pak Santa?”

Anakmu tersipu, dilahapnya cuilan ikan berlapis panir di piring. “Aku ingin melihat rusa itu, apakah mereka benar-benar tidak akan singgah di rumah kita?”

“Entahlah,” gumammu mengambang. Tak tega meruntuhkan harapan yang terbangun dari keluguan nan bersih.

“Mengapa Tuhan kita tidak memilik Santa Klaus, Ibu?”

“Tuhan kita mengirimkan malaikat penolong yang lain,” jawabmu, “akan kita…”

“…temukan dalam doa,” sambung anakmu, menghafal apa yang selalu kau katakan padanya.

Mendadak kau tercenung. Cara anakmu meneruskan kalimat itu, seolah begitu besar keyakinannya. Doa. Sementara bagimu justru beralih menjadi rutinitas dan memberi keyakinan yang justru hilang timbul. Betapa rapuh imanmu sebenarnya, ketika kau merasa akal sehatmu mampu mengambil alih semua persoalan. Doa. Ini malam natal. Sebuah malam yang kudus bagi yang merayakannya. Akan banyak doa dipanjatkan malam ini. Akankah suara lirihmu terdengar dari negri yang asing dan jauh ini? Tatap matamu bergerak. Bungkusan untuk nyonya Gerda yang kau simpan di  meja dapur memberimu kesadaran betapa yang jauh dan asing itu adalah justru dirimu sendiri.

“Ambil mantelmu, ayo ikut Ibu sebentar,” katamu sembari bangkit. Gerimis salju belum reda, tapi tidak mungkin meninggalkan seorang anak sendirian. Kau ikatkan syal tebal di seputar lehernya.

“Kita akan ke mana?” anakmu bertanya. Matanya tak tenang meneliti balkon.

“Ibu harus pergi sebentar, tidak jauh.”

“Tapi…” anakmu mengisyaratkan penolakan. Kau tahu dia sedang menunggu.

“Kita akan segera kembali,” kau tidak memberinya pilihan.

Dengan langkah bergegas, bahkan anakmu setengah berlari demi mengejar gerakmu yang tergesa, segera kau temukan rumah berpintu putih itu. Tirai jendela yang tipis menerawangkan cahaya dari dalam ruang, penanda penghuni di dalamnya masih terjaga. Tanganmu menggerakkan pengetuk pintu. Tak segera terbuka. Tapi kau tak mengulang ketukan, kau tahu perlu beberapa saat menunggu seorang sepuh dengan kaki bengkak untuk melangkah menuju pada sesuatu. Beberapa saat kemudian terdengar suara kunci bergerak.

Nyonya Gerda mengenalimu dengan segera. Rasa jengah membuat kepalamu tertunduk saat mengulurkan bungkusan.

“Maaf terlambat mengantar,” suaramu lirih.

“Duh, aku sangat merepotkanmu bukan? Membuatmu kedinginan demi biskuit jahe-ku, mari masuklah.” Dibukanya pintu lebih lebar.

“Tapi,” perasaan malu menghadang langkahmu.

“Dingin sekali, lihat anakmu menggigil. Aku harus menghangatkan kalian,” sergah nyonya Gerda sembari meraih bahu anakmu masuk ke rumah. Anakmu melangkah tanpa menunggu dan berseru takjub saat menemukan pohon pinus kecil berhias di tengah ruang. Kado-kado aneka warna dan bentuk berserak di bawahnya.

“Akan kubuatkan sesuatu yang hangat untukmu. Coklat, susu atau teh?”  

“Coklat,” anakmu memilih tanpa sungkan. Bergegas mendekati pohon pinus yang berpijar kemayu. Matanya bercahaya mengagumi. Kau memilih diam, tak hendak menghalangi ketakjuban itu. Tak pula menghalaunya saat dia memilih aneka kue yang dihidangkan nyonya Gerda. Segala yang tak ada di dalam rumahmu.

“Kado nyonya banyak sekali, semua dari pak Santa Klaus? Nyonya menyediakan banyak sepatu berumput? Rusa itu memakan semuanya?” Tanya anakmu beruntun. Rasa penasarannya sangat kentara.

Nyonya Gerda tertawa, “Kau juga menghias sepatumu dengan rumput?”

Anakmu mengangguk, “Hari raya kami berbeda, pak Santa tidak akan mampir di rumahku. Tapi aku tetap ingin memberi rumput rusa terbang itu, rusa tidak berhari raya bukan? Dia tetap boleh makan rumputku.”

Nyonya Gerda terkejut sesaat, bersilang pandang denganmu. Tanpa kata tatap mata kalian saling bercerita. Mata dengan kelopak berkeriput itu kemudian berkedip mengisyaratkan sesuatu.

“Ah, pak Santa itu sudah tua. Kakinya sedang bengkak pula sepertiku, membuatnya malas berkeliling. Jadi dititipkannya sebagian kado-kado di sini, termasuk kado untukmu. Dia berpesan, kau boleh memilih sesuka hatimu.”

Mata anakmu membesar seketika. “Ha, benarkah? Meskipun aku tidak merayakan natal?”

Nyonya Gerda mengangguk, “Pak Santa Klaus suka pada anak yang baik hati. Memberi makan rusa adalah sebuah niat baik bukan? Nah, kau telah terpilih, ambillah hadiahmu.”

Anakmu meletakkan cangkir coklatnya, menatapmu memohon ijin. Kau duduk dalam bimbang.

“Nyonya…”suaramu bergetar, oleh perasaan yang berkecamuk di dalam diri. Nyonya Gerda mengangguk, ditepuknya punggung tanganmu, menenangkanmu. Maka kau pun mengangguk, memberi jawab pada seorang anak yang menunggu.

“Setiap orang layak mendapatkan kebahagiaan. Tidak hanya anak-anak, tapi juga manula sepertiku,” nyonya Gerda berbisik, ”telah lama aku sendirian. Setiap natal kubungkus hadiah, berharap ada yang menemaniku merayakannya. Kedatangan kalian malam ini adalah hadiahku, terimakasih.”

Kau tercengang. Merasa ironis kemudian menyadari justru sebenarnya telah merancang sesuatu.

“Maafkan saya, titipan ini seharusnya diantar sore tadi, tapi saya…,” ucapmu terbata, lidahmu kelu bagai tak sanggup berkata, tapi kau sanggup lagi berbohong, bahkan pada dirimu sendiri. “Tapi sungguh uangnya utuh, utuh.”

Nyonya Gerda memelukmu, disentuhnya bibirmu mencegah melanjutkan kata. “Aku paham apa yang sedang kau hadapi. Selalu tidak mudah hidup di negri asing. Tidak apa-apa.”

Kau menarik napas kuat-kuat. Pertahanan dirimu nyaris runtuh dalam pelukan perempuan sepuh itu.

“Tenangkan hatimu, Nak. Lalu pertimbangkan rencanaku ini,” kata nyonya Gerda tanpa melepas pelukan. “Kuperlukan bantuan untuk merapikan rumah setiap hari, maukah kau melakukannya? Anakmu bersamaku sementara kau bekerja. Dan kalau dia mau, boleh setiap hari sepulang sekolah katimbang di tempat penitipan. Dulu aku pengasuh cucu yang baik, sekarang mereka semua sudah besar dan memiliki dunianya sendiri. Kurasa akan menyenangkan bagiku memiliki cucu baru.”

Yayaya. Kau mengangguk berulang-ulang. Tak sanggup menangis. Tak sanggup berkata-kata. Di bawah pohon yang bercahaya, anakmu sedang memilih hadiahnya. Kau telah menemukan hadiahmu sendiri. Dan kalian telah menjadi hadiah bagi seorang manula yang sendirian. Santa Klaus tak singgah di rumah, tapi hadiah telah terbagi untuk setiap hati.

*

Pagi hari. Matahari musim dingin berbagi cahaya yang redup. Kau membuka pintu balkon. Ada genangan air sisa salju semalam. Sedikit rumput berserak di seputar sepatu anakmu. Hanya sejumput. Apakah ini rumput sisa? Tidak ada kado, hanya secarik kertas. Itulah kertas dengan tulisan tangan anakmu tentang hadiah pilihannya. Rasa ingin tahu seketika tak sanggup mencegahmu membuka lipatan kertas.

Pak Santa Klaus yang baik, tolong turunkan harga sweater orange untuk Ibuku ya. Terimakasih.

Seketika kau menangis tersedu-sedu.

***

 

>