Cerpen – Ibu Tak Berangkat

Spread the love

Oleh : Sanie B. Kuncoro

Penutur: Liston P Siregar

download

Kau sedang berada di pekarangan rumah Ibu. Sebuah tempat yang paling kau suka setiap kali kembali ke rumah itu. Entah sekadar singgah dari sebuah perjalanan tugas, atau saat kau bawa istri dan anak-anakmu mudik mengunjungi Ibu di kampung halaman.

Sebuah pekarangan yang senantiasa menghadirkan jejak masa kanak-kanakmu. Membelah kenangan menjadi penggalan-penggalan, yang setiap irisannya membawamu kembali menelusuri perjalanan masa silam, yang seakan terperangkap di pekarangan itu. Seakan tak ada yang benar-benar berubah di sana.

Lihatlah, pohon ketapang yang rantingnya bercabang menjalar ke empat arah itu, tetap tegak di sudut barat daya pekarangan. Helai-helai daunnya yang lebar, sebagian berwarna merah saga, adalah daun dengan merah yang sama, yang dulu sesekali menjatuhimu saat kau bermain gundu di keteduhan pohon itu.

Kau tak lagi bermain gundu sekarang, keahlian meluncurkan bola kaca kecil yang menghantam gundu lawan-lawanmu, telah menghilang darimu. Tak lagi luwes jemarimu mengarahkannya serupa peluru. Kini kau kembali berada di keteduhan pohon ketapang itu, sembari menikmati koran pagi dan secangkir teh hangatmu yang mulai mendingin.

Lalu kau dengar sesuatu.

Berapa ongkos naik haji sekarang?” Ibumu bertanya. Ringan nada katanya serupa pertanyaan yang diucapkan sambil lalu. Apalagi karena Ibu melakukannya sembari napeni. Menyingkirkan kulit gabah dan kerikil yang terbawa butiran beras.

Entahlah, barangkali sejumlah…..” kau sebutkan sejumlah angka perkiraan.

Benar sejumlah itu?” Ibumu mendadak antusias, dihentikannya gerak mengayun tampah.

Ibu ingin berangkat?” kau mendadak berdebar dengan pertanyaan itu. Pertanyaan yang membawamu pada suatu kalkulasi, perhitungan dan pertimbangan ini itu.

Tentu saja, siapa yang tidak?”

Ada cahaya samar-samar berkelip pada sirat mata Ibumu. Terlihat jelas olehmu harapan yang tersimpan di dalamnya. Seolah-olah kau melihat bayang keagungan Ka’bah, antara menjauh dan mendekat berganti-ganti. Panggilan doa bergema pada dinding-dinding liang dengarmu.

Kalau bagus hasil panen nanti, agaknya cukup untuk menggenapi saldo tabungan sejumlah ongkos itu. Insya Allah Ibumu ini akan berangkat.”

Ibumu bergumam halus. Kehalusan suara itu lebih mirip angin yang terdesir di antara batang-batang padi yang tumbuh di sebidang sawah warisan mendiang ayahmu. Dari kejauhan desiran itu berasal, namun menghampirimu hingga sedemikian dekat.

Insya Allah, Tuhan meridhoi niat mulia. Amin” ucapmu mengamini.

Desir angin dari kejauhan itu, mendesirkan hatimu, menyadarkanmu bahwa sejauh ini telah kau abaikan sesuatu. Yang satu itu luput dari perhatianmu, terlipat di antara pantauan pada kesehatan dan hal-hal material yang lebih tampak.

Kau simpan desiran itu, rapi terbungkus dalam ingatan, seumpama bekal yang kau bawa saat kau pamit pada Ibumu selepas tengah hari itu. Selembar daun ketapang warna saga melayang sesaat dan rebah di ujung kakimu ketika kau tinggalkan pekarangan rumah Ibu.

*

Kau rebahkan dirimu. Bilah-bilah cahaya matahari yang menembus partisi jendela, menampakkan partikel debu yang menari-nari dalam cahaya itu. Kau hela napas, tanpa hirau partikel lembut itu memasuki liang napasmu.

Ada apa?” istrimu bertanya. Agaknya kepekaannya menangkap sesuatu yang tak biasa pada tarikan napasmu yang berat itu.

Lagi napasmu terhela, sebelum kau jawab pertanyaan istrimu dengan pertanyaan yang berbeda.

Kapan batas waktu pembayaran tanah itu?”

Akhir bulan depan” istrimu menjawab dengan mata bertanya.

Seandainya kita tunda pembelian tanah itu, apakah kau keberatan?” tanyamu menerawang.

Teringat olehmu saat pertama kali menemukan sebidang tanah itu.

Dengan sepeda kau telusuri jalan desa itu, sebuah rute yang tak kau rencanakan. Saat itu kau hanya bosan dengan rute yang biasa kau lalui. Jarak tempuh dan situasi perjalanannya tidak lagi memberikan tantangan karena medan itu telah kau kuasai. Tak lagi terpicu sama sekali andrenalin di dalam dirimu saat menaklukan tanjakan-tanjakannya. Maka pagi itu kau arahkan sepedamu tanpa rancangan sebuah arah. Kau hanya mengayuh seakan membiarkan kemudi sepeda mencari arahnya sendiri. Berbelok acuh saat melalui persimpangan, menambah kecepatan di jalur lurus dan terengah saat melaui tanjakan. Dan kau temukan sebidang tanah di ujung itu atau sesungguhnya kau tersesat? Tanpa pertimbangan kau memilih sebuah jalan kampung, lambat roda sepedamu menggelinding menelusuri jalan tanah yang membelah ladang tembakau. Lalu kau terhenti, tak ada lagi jalan setapak setelah itu.

Baru saja kau memutar balik arah sepedamu ketika seseorang menghampirimu, menyangka bahwa kau tertarik dengan sebidang tanah yang akan dijualnya itu. Maka kau pun terperangkap untuk berbasa-basi.

Namun ternyata tanah berilalang itu mengikat hatimu.

Letaknya di ujung, dengan kontur yang agak menanjak, berseberangan dengan ladang tembakau. Luasnya 200 m, harganya bisa dinegosiasi” kau jelaskan dengan antusias pada istrimu. Antusiasme yang bernada bujukan.

Tabungan kita cukup untuk melunasinya.”

Tapi sesudah itu kita tak punya tabungan lagi” kata istrimu bimbang.

Tentu akan ada rezeki lagi. Bisnis tak berhenti, pastilah rezeki tersedia bagi para pencarinya” katamu sepenuh keyakinan, yang dengan segera menghentikan kebimbangan istrimu.

Tersimpan dalam ingatanmu, semburat yang meronai paras istrimu. Antara takjub dan angan yang melambung saat kalian meninjau tanah itu.

Apakah setuju bila menjadikannya sebagai rumah akhir pekan?” begitu istrimu berkata di antara gelembung-gelembung harapannya. “Kita bagi lahan ini menjadi dua. Seratus meter untuk koleksi tanamanmu, selebihnya untuk ruang baca dan buku-buku?”

Pembagian yang adil. Tentu kau setuju. Dan bertemulah kalian dengan pemilik lahan untuk bernegosiasi.

Dan di sinilah kau sekarang, menawarkan alternatif bagi istrimu untuk membatalkan pengambil-alihan lahan itu, justru setelah negosiasi harga dengan pemiliknya berhasil tersepakati.

Mengapa?” kau dengar lirih suara istrimu.

Kau berpaling, tak hendak menatap mata istrimu. Ah, tepatnya tak sanggup. Karena kau tahu akan mendapati luruhnya angan yang telah melangit. Angan yang kau lambungkan, dan kini kau hempaskan pula.

Ibu ingin naik haji, kupikir itu sebuah keinginan yang layak diprioritaskan” nada katamu hati-hati. Kehati-hatian yang kau lakukan demi supaya tidak mengesankan bahwa kau lebih mengutamakan seorang daripada yang lain apalagi mengesampingkan yang satu dari lainnya.

Kalau demi ibadah itu, tentu aku setuju” seru istrimu.

Dan kau terkejut mendapati tiadanya sirat kekecewaan pada suara itu. Bahkan suara itu lebih serupa seruan yang menyatakan kelegaan.

Ibadah perjalanan menuju rumah Allah tentulah lebih utama dari rumah manapun. Apalagi ibadah seorang Ibu. Rumah akhir pekan kita tentu bisa menunggu.”

Sungguh?” kau bertanya meyakinkan.

Istrimu mengangguk. “Seperti yang kau katakan, bahwa rejeki akan tersedia bagi para pencarinya. Pastilah Allah tak alpa menyediakan rejeki bagi mereka yang ikhlas demi bakti pada ibunya. Bukankah begitu?”

Seketika keharuan itu mendatangimu, menghangatkan hati. Dan kau temukan bahwa angan yang melangit itu tak luruh dari paras istrimu. Gurat wajahnya tetap menampakkan harapan yang terpeta jelas, yang seakan memberimu jalan untuk mencapainya.

*

Pagi menjelang siang saat telepon ini mengejutkanmu.

Ibu tak berangkat” kau dengar Ibumu berkata. Tak begitu bagus sambungan telepon itu, sehingga seakan-akan suara itu terdengar dari kejauhan, nyaris sayup, namun tertangkap olehmu getar yang menyertainya.

Mengapa, Ibu? Apakah terjadi sesuatu?” tak mampu kau tutupi rasa terkejut terpadu khawatir dalam dirimu.

Ada peraturan baru yang tak mengijinkan calon haji perempuan berusia 65 tahun untuk berangkat,” melirih suara Ibu “Akhir tahun lalu usia Ibumu ini sudah menjelang 70.”

Sesuatu menikam hulu jantungmu.

Kau tercekat. Lirih suara itu, kau tahu bukan karena suara itu berasal dari kejauhan sekian ribu kilometer darimu berada, melainkan karena luruhnya harapan yang tersimpan di dalam diri Ibumu.

Lirih suara itu mendekatkanmu pada suatu bayang-bayang, seolah dirimu berdiri di hadapan sebuah dinding berbata merah. Kau aduk pasir dan semen untuk melapisi batu itu. Kau lakukan dengan rapi, polesanmu halus merata hingga dinding itu tertutup sempurna, ujung-ujungnya membentuk siku 90 derajat. Namun tepat saat kau sapukan kayu penghalus sebagai penghalusan akhir, saat itulah curah hujan mengguyur deras. Luruh seketika adonan pasir dan semen yang belum sempat mengeras. Seakan dinding itu mencair, lapisan yang meluruh menampakkan kembali susunan bata yang seharusnya diselimutinya, dan lapisan itu menggenang bersama curah hujan serupa lumpur.

Demikianlah harapan itu luruh. Tidak hanya di dalam diri Ibumu, melainkan di dalam dirimu juga.

Regulasi peraturan haji. Pemerintah Arab Saudi telah menetapkan untuk tidak menerima calon haji perempuan yang telah berusia 65 tahun. Begitulah ketika negara mengambil alih hak seseorang untuk beribadah dan menjadikan prosesi ibadah sebagai monopoli sebuah negara.

Ibu, maaf….” tak selesai kalimatmu yang terucap dengan bergetar itu. Sedemikian sesak dadamu, terhimpit beban penyesalan yang menghampirimu seketika.

Tidak apa-apa. Kalau belum ada ridho Allah untuk niat ibadah Ibu kali ini, barangkali karena Allah memiliki rencana lain. Ibu ikhlas.”

Kalimat itu menghangatkan hatimu sekaligus meneguhkan keberadaan Ibu yang serupa tiang bagimu. Penyesalan itu membebanimu, dan tiang keikhlasan Ibu menjadi sandaranmu.

Namun tak tercegah ketika ingatan tentang tahun-tahun yang telah berlalu mendatangimu. Tahun-tahun berisi kesempatan-kesempatan yang telah kau lewatkan tanpa usaha yang cukup berarti untuk memberangkatkan Ibu dalam perjalanan ibadah mengunjungi rumah Allah.

Tahun-tahun yang tak akan pernah kembali.

Setengah hati terhela napasmu. Tak tahu hendak ke mana akan kau letakkan kesedihan dan penyesalan yang membebanimu.

Lalu kau ingat film itu.

Pada sebuah film Korea, seorang serdadu menemukan dirinya menjadi bagian dari pemerintah Jepang yang justru sedang menjajah negaranya. Saat menelusuri sejarah masa lalunya, serdadu itu mendapati bahwa di masa lalu dirinya gagal menunaikan tugas negara sehingga bangsanya di masa kini tetap berada dalam kekuasaan penjajah. Dalam penyesalan itu mendadak terjadi keajaiban fenomena alam yang memungkinkan serdadu itu kembali pada sebuah masa silam. Itu adalah masa lalu tepat saat dia melaksanakan tugas negara yang gagal itu. Maka diraihnya kesempatan kedua itu, diperbaikinya kesalahan diri hingga kegagalan itu tak terulang. Akhirnya serdadu itu berhasil menunaikan tugasnya dan negaranya di masa kini adalah negara yang merdeka. Di kemudian masa, anak-anak bangsa itu mengenang serdadu itu sebagai seorang pahlawan yang gugur demi kemerdekaan negaranya. Gambar dirinya terpajang di museum dan kisahnya menjadi tauladan kepahlawanan yang dituturkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Itu film. Di kehidupan nyata akankah kau temukan terulangnya sebuah peluang untuk menebus kealpaan masa lalu? Akankah kesempatan yang terlewat itu kembali, hingga kau bisa memberangkatkan Ibumu menunaikan perjalanan ibadah mengunjungi rumah Allah sebelum usia 65 tahun?

Pohon ketapang yang tegak berdiri di barat daya pekarangan rumah Ibu, seakan memerangkap seluruh masa silammu. Tahun berlalu sementara, gugur daun merah saganya silih berganti dengan tunas daun baru hingga kini.

Apakah salah satu kesempatan itu juga sekadar terperangkap, dan akan kembali mendatangimu pada suatu ketika nanti? Wallahualam.

 

***

 

Temukan kami di sini!

Leave a Comment