Cerpen – Bunda Tercinta

Cerpen: Tuti Nonka

Versi cetak: 8 Bahasa Cinta

Narator: Tuti Nonka

Klik di sini untuk mengunduh audio

Tempurung lututku serasa lepas ketika aku turun dari bus. Sejak naik di Lapangan Banteng sampai turun di Kebon Singkong – Klender, tak sejenak pun aku kebagian tempat duduk. Di Jatinegara turun seorang penumpang yang duduk dekat tempatku menggelantung, tapi belum lagi aku sempat bergerak seorang pemuda perlente sudah menyerobot tempat itu. Terlalu. Padahal dia tahu sejak tadi aku sudah mengincar secuil penopang pantat itu. Etika rupanya sudah usang di kota metropolitan ini. Tapi sudahlah, tak ada gunanya menggerutu. Mungkin ini yang dimaksud orang dengan “persamaan hak”.

 

Dan sopir memperlakukan rem semau dia sendiri. Aku harus berpegangan erat-erat pada palang besi di atas kepala agar tidak tumbang ke sana ke mari. Di dalam becak yang membawaku dari Kebon Singkong ke tempat kos, aku merasa teramat longgar. Segenap permukaan kulitku menghirup oksigen sepuas-puasnya dari angin yang berhembus semilir. Lega rasanya terlepas dari keruwetan kota besar dan sedang menuju rumah peristirahatanku yang aman dan terlindung.

 

Namun aku merasa gelisah. Merasa tak tenang dan terganggu. Oleh apa, aku sendiri tak tahu. Dan sebab yang tak kukenali dengan pasti itu lebih-lebih lagi membuatku cemas. Becak terasa lambat mencapai depan rumah. Dan jantungku serasa melompat ketika Tante Ris, ibu kosku, mengulurkan sepucuk amplop panjang berwarna biru muda kepadaku.

“Baru datang pukul dua tadi,” kata tante penuh rasa ingin tahu. Telegram memang selalu membuat orang ingin segera tahu isinya. Tak terkecuali aku. Mungkin berbeda dengan Tante Ris, rasa ingin tahuku bergumul dengan kecemasan yang semakin naik ke leher. Jadi inilah rupanya yang membuatku merasa gelisah tadi. 

“Terima kasih,” kubisikkan kalimat itu sambil berusaha tidak gemetar ketika menerima telegram yang diulurkan Tante Ris.

“Mudah-mudahan bukan berita buruk,” kata Tante Ris sambil berlalu ke dapur.

Kubawa telegram itu ke kamar. Kubuka cepat-cepat dan kubaca baris-baris kalimat yang tertulis di sana dalam satu tarikan napas tersengal. Isinya pendek saja, mengabarkan bahwa Ibu sakit keras dan aku diharap lekas pulang. Telegram dikirim oleh Mbak Eni, kakakku yang tinggal bersama Ibu di Yogya.

Sejenak aku tak bisa berpikir apa-apa. Lalu kulihat jam: tiga lewat empat puluh. Entah bagaimana kakiku melompat sendiri, menemui Tante Ris yang sedang sibuk menyiram kembang.

“Ibu saya sakit Tante, saya mau pulang sore ini juga,” kataku tergesa. Tante Ris memandangku dengan kaget dan menutup selang air. Sekejap kemudian ekspresi kaget itu berubah menjadi dukacita, lalu memancarkan harapan yang menenteramkan hati. Tante Ris memang orang baik.

“Mudah-mudahan sakitnya tidak payah. Kebetulan sore ini Nang mau ke Senayan. Nanti kusuruh antar kau dulu ke Gambir. Pakai kereta, toh?”

“Ya Tante, kalau tidak kehabisan tiket.”

 

Tak sempat lagi aku memilih pakaian yang akan kubawa. Kutarik saja beberapa helai yang

ada di tumpukan teratas, menyusul sejumlah uang simpanan dari laci terdalam. Lalu kotak kosmetik. Mandi tak lagi perlu, cukup mengusap tubuh dengan cologne dan menukar baju dengan celana panjang. Makan pun tak lagi terpikir. Dan semua ketergesaan itu sudah menghabiskan waktu tigapuluh menit. Ketika Taft yang dikemudikan Nang, adik Tante Ris, meluncur ke jalan, jam sudah menunjukkan pukul empat lebih sepuluh.

 

***

 

Roda kereta berderak-derak menggilas rel. Goncangannya yang ritmis membuat seisi gerbong terangguk-angguk. Sesekali gesekan roda dan rel menimbulkan desis tajam yang mengorek gendang telinga, disusul gemuruh bising ketika melintasi jembatan besi.

Kursi di sebelahku kosong. Untung benar, berarti aku bisa tidur dengan nyaman. Beberapa saat setelah kereta bergerak, sepasang remaja yang duduk di depanku permisi untuk membalikkan sandaran tempat duduk. Aku mempersilakan dengan gembira, sebab aku pun tak suka tidur beradu muka dengan orang lain. Sesudah menyelesaikan makan yang kupesan pada pegawai restorasi, aku tak punya kesibukan lagi.

Aku sendirian di kursiku, seakan terlempar ke sebuah pulau asing. Dan angan-anganku sepenuhnya melayang kepada Ibu.

Di sana, di layar ingatanku, muncul seraut wajah tua, keriput, kurus, namun memancarkan kekerasan dan ketabahan hati. Sifat Ibu memang keras, begitu juga sikap yang ditampilkannya. Ibu tak terlalu menganggap penting etika dan perkataan-perkataan lembut. Apa yang ada di hati dilontarkan begitu saja secara langsung dan lugas. Dan itu seringkali melukai hati kami, anak-anaknya.

Bapak telah mendahului kami tujuhbelas tahun yang lalu, ketika aku baru saja berumur lima tahun. Tak banyak yang kuingat tentang kehidupan Bapak dan Ibu selama masa kebersamaan mereka, tetapi kurasa Bapak pun tak jarang merasa terluka oleh ketajaman kata-kata Ibu. Hanya saja Bapak memang pendiam dan lebih suka mengalah, sehingga pertengkaran selalu dapat dihindarkan.

Bapak mengajar di sebuah SMA pada pagi hari dan kuliah di sore hari. Siang hari sekitar jam dua Bapak pulang untuk makan dan salat. Pada waktu itu kami masih kecil tak begitu memperhatikan karena Ibu tak punya pembantu dan harus menyelesaikan semua pekerjaan rumah tangga sendirian. Kami, lima orang gadis kecil, belum bisa mencuci rambut sendiri, apalagi waktu itu belum banyak orang menjual sampo. Akibatnya kepala kami banyak didiami kutu rambut. Pada masa itu memang biasa anak-anak kecil mempunyai kutu rambut. Begitulah, setiap siang  kami duduk berderet mencari kutu di kepala saudara yang lain. Termasuk Ibu, yang paling rajin mencari kutu di kepala kami.

Dan pada waktu Bapak pulang, tak seorang pun dari kami ingat untuk menyambutnya, bahkan hanya sekadar menoleh dan menyapa pun tidak. Bagaimana kami akan mengerti apa yang seharusnya dilakukan kalau Ibu sendiri tak berbuat apa-apa? Lalu Bapak – dengan berdiam diri – melepaskan sepatunya, mengganti pakaian dengan kaos dan

sarung, mencuci muka, dan salat duhur. Selesai salat Bapak makan sendirian, sebab kami anak-anak biasanya sudah makan lebih dulu. Dan selama itu jarang kulihat Ibu menemani Bapak, jangan lagi melayaninya.

Sesudah kami dewasa di kemudian hari dan menyentil masalah itu, Ibu menjawab tanpa merasa bersalah.

Lha, bapakmu terima dengan cara begitu, kok. Tidak perlu macam-macam, seperti suami jaman sekarang.” Jadi Ibu menganggap menunjukkan kasih sayang dalam sikap lahiriah adalah suatu hal yang ‘macam-macam‘. Barangkali aneh, tetapi memang begitulah adanya. Jangankan dipeluk atau dicium, disentuh dengan lembut pun aku tidak pernah. Jika waktu masih kecil aku sering digendong, karena memang begitulah cara membawa bayi yang lazim. Seolah-olah Ibu gengsi memperlihatkan rasa cinta kepada anak-anaknya. Atau memang rasa cinta itu tidak ada, aku tak tahu. Mungkin juga Ibu mengira kami akan jadi manja bila disayangi.

Ibu mendidik kami dengan disiplin yang kering. Yang ada hanyalah larangan, keharusan, dan celaan. Kalau kami berbuat salah, Ibu dengan tajam langsung mencela. Tetapi kalau kami melakukan sesuatu yang baik, Ibu pura-pura tidak melihat. Waktu masih kecil aku sering menangis bila dimarahi Ibu atau bila keinginanku tidak dipenuhi. Aku berharap tangisku akan melunakkan hati Ibu, atau setidak-tidaknya menggugah keinginan Ibu untuk bersikap lebih lembut padaku. Aku ingin sekali Ibu mencabut kata-kata kemarahannya yang begitu melukai hatiku, atau menghibur kekecewaanku oleh keinginan yang tak terpenuhi. Tapi Ibu tetap tak berubah. Sampai akhirnya aku lelah menangis dan diam sendiri.

Kadang-kadang, sehabis menangis aku bersembunyi di lemari kecil yang terdapat di bagian bawah meja tulis Bapak, dengan harapan Ibu akan mencari kalau aku lama tidak terlihat. Tapi sampai lama sekali, bahkan sampai aku tertidur di dalam lemari itu, tak ada seorang pun yang mencoba mencariku. Oh, padahal betapa aku ingin Ibu memanggilku, mendukung aku keluar dari lemari kecil itu, dan menghiburku dengan mengatakan bahwa dia tak sungguh-sungguh marah padaku. Aku tak mengerti mengapa Ibu tidak mencoba mengetahui keadaanku setelah aku menangis begitu lama.

Dan ketika akhirnya aku merangkak keluar dari bawah meja tulis Bapak, aku merasa amat sedih, kecewa, dan jengkel. Lalu akan kujumpai Ibu sedang tekun membaca koran di kamar tamu, tidak menoleh dan tidak pula bertanya apa-apa ketika aku lewat di depannya.

Sesungguhnya pendidikan Ibu tidak terlalu rendah. Ibu adalah lulusan SGB (Sekolah Guru Bantu) jaman dulu, dan pernah pula menjadi guru. 

Tapi Ibu sukar menerima sesuatu yang baru, sukar menerima hal-hal yang berbeda dengan yang biasa dilakukannya. Ibu selalu menganggap apa yang datang kemudian lebih jelek dari pada apa yang sudah ada sejak dulu. Ketika kakak-kakakku mulai remaja, Ibu menghendaki mereka memakai beha model lama yang rata dan lebar, seperti beha yang biasa dipakai orang dusun jaman dulu. Tentu saja kakak-kakakku menolak. Mereka malu memakai beha seperti itu, sebab pada waktu itu gadis- gadis sudah memakai beha yang mempunyai ‘mangkuk‘ dan sempit di bagian belakang. Ibu mencela, mengatakan beha seperti itu dibuat untuk perempuan nakal yang suka menarik perhatian laki-laki. Tapi tak ada seorang pun dari kakakku yang peduli.

Sifat-sifat Ibu yang demikian membuat kami segan membicarakan sesuatu dengan Ibu, sebab setiap kali kami mengemukakan sesuatu yang baru, Ibu pasti menentang dan mencela dengan alasan yang seringkali tidak masuk akal.

Lalu satu demi satu kami mulai bekerja. Kami punya uang sendiri, dan tentu wajar kalau sekali-sekali ingin membeli barang atau membelikan sesuatu untuk Ibu. Dan lagi-lagi Ibu tak suka. Menurut Ibu, kami membeli barang- barang yang tak perlu dan hanya menghambur-hamburkan uang saja. Termasuk ketika aku membelikan Ibu keranjang belanja, sebab keranjang yang dipakai Ibu kulihat sudah bolong-bolong, pegangannya sudah patah dan diganti tali rafia. Ibu mencela keranjang yang kubelikan, mengatakan bahwa dia tak butuh keranjang itu. Karena amat jengkel perhatianku bukannya dihargai malah dicela, kubanting keranjang itu di depan Ibu. Kutinggalkan menggeletak di tengah kamar makan. Dan ketika pada akhirnya Ibu memakai keranjang itu, aku pura-pura tak melihat.

Lalu aku pindah ke Jakarta, menjadi sekretaris sebuah perusahaan swasta dengan bekal ijazah akademi sekretaris.

Bagaimana pun, Ibu adalah wanita yang kuat dan tabah. Waktu Bapak meninggal, kakakku yang sulung baru kelas dua SMA. Aku, anak bungsu, berumur lima tahun. Dan Ibu meneruskan semua tugas sendirian. Mendidik kami, mencari nafkah, menyekolahkan sampai semua anaknya menjadi sarjana. Dan Ibu tak pernah mengeluh.

Ibu tak pernah menyuruh kami belajar, tak pernah menanyakan bagaimana sekolah kami.

Semua anak-anak sudah tahu tugasnya, dan belajar tanpa perlu diingatkan. Sesudah makan malam, kami membersihkan meja makan dan belajar bersama. Kalau ada yang akan menjalani ujian dan belajar sampai larut malam, diam-diam Ibu membuatkan minuman dan memberikan makanan kecil dari

pasar, yang sejak siang disembunyikannya entah di mana. Begitulah cara Ibu memberikan perhatian kepada kami.

Dua bulan yang lalu ketika aku pulang, Ibu kelihatan sudah tua dan letih. Badannya semakin kurus dan tak begitu kuat lagi. Sesudah anak-anak beranjak dewasa dan berani melancarkan kritik-kritik, Ibu mulai berubah. Tak terlalu otoriter lagi, dan mau menerima pendapat kami, walau kadang-kadang masih harus dengan dibujuk.

Ibu sudah tua, dan tak ada gunanya lagi mencoba mengubah sifat-sifatnya. Karakter Ibu terbentuk oleh didikan Nenek yang memang demikian caranya. Mbak Eni mengatakan Ibu sakit keras. Aku cemas, sungguh cemas yang terjadi lebih dari itu. Selalu begitu kebiasaan kami. Apabila ada seorang saudara yang meninggal, dalam telegram kami hanya mengatakan saudara tersebut sakit keras.

Rasa cemasku lebih banyak diwarnai oleh penyesalan. Penyesalan yang sungguh-sungguh menyiksa. Betapa aku berdoa kepada Tuhan agar Ibu jangan meninggal. Setidak- tidaknya jangan sekarang. Aku masih mempunyai hutang pada beliau, hutang yang akan membebani hidupku selama- lamanya apabila tak sempat aku lunasi.

Dua bulan yang lalu ketika aku pulang, Ibu mengatakan ingin meminjam uang dariku untuk mengganti gigi palsunya yang pecah. Limapuluh ribu, tak terlalu banyak sebetulnya. Tetapi pada waktu itu aku betul-betul ingin membeli lemari pakaian yang sudah lama kuidamkan, dan limapuluh ribu itu kubutuhkan.

Gigi palsu Ibu kulupakan. Keterlaluan memang. Sungguh keterlaluan. Dan itulah yang sekarang membuatku ditindih rasa penyesalan begitu berat.

Aku tertidur selama beberapa saat. Ketika kubuka mataku, kereta sedang berhenti di stasiun Kroya.

***

 

Ibu sudah dimakamkan sehari sebelum aku tiba. Telegram terlambat sampai ke Jakarta. Jadi ketika aku menerima telegram dari Tante Ris, ketika itulah Ibu diberangkatkan ke peristirahatannya yang abadi.

Aku terduduk di kamar tengah yang terasa begitu lengang seusai upacara pemakaman sehari sebelumnya. Beberapa perabot belum dikembalikan ke  tempatnya semula. Di sudut, tumpukan tikar tinggi menggunung. Banyak orang masih ramai lalu-lalang, tetapi suasana terasa mencekam. Hidungku seolah-olah masih selalu mencium bau kembang. Ya Tuhan. Ya, Tuhanku!

Tangisku meledak. Kututup wajahku dengan kedua belah tangan, dan airmataku menetes melalui sela-sela jemariku.

“Sudahlah Ike, sudahlah. Kita yakin Ibu akan diterima di sisi Allah dengan baik,” Mbak Eni mencoba meredakan tangisku, walau ia sendiri repot menahan airmata.

Mbak Eni tak mengerti! Semua orang tak mengerti apa yang pernah diminta Ibu dariku, dan tak kululuskan.

Aku tak sanggup pergi ke makam Ibu hari itu juga.  Aku ingin istirahat dulu, ingin meredakan nyeri yang menghujam dadaku, ingin menenangkan hatiku dulu.

Dua kakakku yang lain, Mbak Tri dan Mbak Lis tak dapat tinggal lama, sebab cuti mereka yang tiga hari sudah habis. Suami mereka harus kembali bekerja, anak-anak harus kembali sekolah, dan kedua kakakku harus mengurus keluarga mereka. Jadi tinggalah aku dengan Mbak Sari dan Mbak Eni yang memang menempati rumah kami.

Pada hari terakhir sebelum kembali ke Jakarta, aku pergi ke makam Ibu dengan Mbak Sari. Lama kami menekur

di depan nisan yang masih baru itu, merenung dan berdoa. Dan ketika akhirnya kami melangkah lambat-lambat meninggalkan makam Ibu, aku tak dapat lagi menahan beban hatiku sendirian.

“Aku merasa amat berdosa kepada Ibu,” kataku memulai.

“Kenapa?” Mbak Sari menoleh memandangku.

Kutarik napasku dalam-dalam. “Dua bulan yang lalu aku pulang. Ibu mengatakan gigi palsunya pecah, dan ingin memimjam uang dariku. Tapi waktu itu aku amat ingin membeli lemari pakaian yang belum kupunyai, dan aku membutuhkan uang.”

Mbak Sari tidak menjawab.

“Sekarang lemari pakaian itu tak ada lagi artinya bagiku selain penyesalan,” sambungku dengar getir.

Lama Mbak Sari berdiam diri. Kupikir dia tidak terkesan pada ceritaku, atau malahan sama sekali tak mendengarkan. Ya, sudahlah.

“Ibu mengatakan juga hal itu kepadaku,” kata Mbak Sari tiba-tiba.

“Mengatakan . . . Bagaimana?” sahutku terbata-bata. “Gigi palsunya pecah, dan ingin pinjam uang. Mungkin

setelah lama menunggu-nunggu kau tak mengirimkan uang yang dibutuhkannya.”

“Mbak Sari berikan?” tanyaku cepat, penuh harapan dan kecemasan.

Wajah Mbak Sari murung. “Waktu itu kebetulan Mas Budi amat membutuhkan uang untuk menambah modal kerja, jadi . . . “

Jadi! Jadi tak seorang pun dari kami yang meluluskan permintaan Ibu. Limapuluh ribu. Ya Tuhan, berapa, sih, banyaknya jumlah itu? Sekarang, limaratus ribu bahkan lima juta pun akan kuberikan dengan suka cita. Tetapi tak ada

gunanya sekarang, sebab Ibu membutuhkannya kemarin. Kemarin.

Bebanku ternyata bukan semakin ringan.

Ah Ibu, bundaku tercinta. Betapa banyak kau berikan pada kami, dan betapa sedikit kami berikan padamu. []

 

Cerpen – Pulang

Cerpen: Marina Herlambang

Narator:Astuti Parengkuh

klik di sini untuk mengunduh audio

 Meski sungkan aku terpaksa pulang, ke rumah Ibu, dan ke rumah Ayah. Sudah sejak lama aku tak pernah lagi merasa ada tempat yang layak untuk kusebut sebagai rumah. Sebuah rumah yang diisi dengan kasih sayang, kehangatan, tawa riang yang di dalamnya hanya ada Aku, Ibu, dan Ayah. Bukan Ibu dan Om, bukan Ayah dan Tante. Sungguh aku enggan pulang, enggan mendengar keluhan Ibu tentang Ayah dan keluhan Ayah tentang Ibu. Jengah melihat laki-laki yang bersama Ibu, karena dia bukan Ayah. Jengah melihat perempuan yang bersama Ayah, karena dia bukan Ibu. Tapi aku tetap harus pulang. Ritual ini kusebut “Ramah tamah” Demi adab, demi sopan santun. Meski jengah, meski enggan. Karena aku adalah anak sudah seharusnya seorang anak menjenguk orang tua, meski hanya datang dan diam, aku tak lagi punya selera untuk berbicara, terlebih lagi tertawa riang, semuanya menjadi dingin, kaku, membeku, tak ubahnya es batu dalam kulkas. Aku tetap harus  pulang, demi cintaku pada Ibu, demi cintaku pada Ayah, meski diam, meski dingin, sunyi. Dan harus tetap pulang, meski perempuan yang bersama ayah bukan ibu. Dan laki-laki yang bersama ibu bukan ayah. Pulang aku harus pulang.

 

****

“Hai kamu sudah datang sayang, kita makan siang bareng ya, hari ini ibu masak makanan kesukaan kamu” Senyum Ibu melebar di atas lipstick  merah marun koleksinya, dia bilang lipstick itu hadiah dari Om Robert yang dibeli dari Swiss. Aku muak dengan warna lipstickmu Bu. “Saya tidak lapar”  Sambil memasang headset ke telinga, meski tak kunyalakan musik dari ponselku, aku hanya pura-pura mendengarkan musik, aku enggan berbicara dengan Ibu lebih lama,  aku tahu Ibu tidak menyukai kalimat ‘Saya’ Terlihat jelas Ibu sedang menahan kekesalan, sambil menarik nafas dia berlalu meninggalkanku, langkah Ibu tergesa menuju kamar, aku tahu dia pasti menangis, meluapkan kekesalannya, pada bantal, pada kasur, juga Om Robert. “I her mom”  Isak Ibu, “Ok honey I know, don’t cry, you have me ” Aku muak dengan suara Om Robert yang terdengar seperti kaset kusut di telingaku. Aku masih tertegun dengan headset yang menyumpal gendang telingaku ketika ibu bilang “Dia menganggap saya orang lain, dia tidak pernah mendengarkan saya” Kau salah, Bu. Suaramu terdengar jelas menusuk gendang telingaku, aku tidak pernah memutar musik dari ponselku, aku hanya menyumbatkan headset ke dalam telingaku, aku malas berbicara, beramah tamah, semuanya hanya klise, meski kuakui aku pulang karena aku mencintaimu. Kau tahu, Bu. Hatiku pun sakit mendengar suaramu dan laki-laki itu. Akhirnya yang kudengar hanya suara cicit, persis tikus, desahan halus dari kamar Ibu, aku muak! Aku pergi, kembali pada sepi, selamat tinggal Bu, nikmati harimu dengan laki-laki itu.

 

****

Bunga-bunga di sini lebih banyak dari bunga yang ada di rumah Ibu,  ada kolam dengan ikan mas yang berwarna merah kekuningan, aku pernah berpikir apakah ikan-ikan itu juga hidup satu keluarga, punya Ayah punya Ibu, atau mereka pun punya dua Ayah dan dua Ibu sepertiku, “Tidak!” Aku hanya punya satu Ayah dan satu Ibu, “Sial” Aku tak pernah punya jawaban, kenapa aku harus memanggilnya Ayah? Kenapa aku harus memanggilnya Ibu, apa karena Dia menanam benih di Rahim Ibu lantas aku harus memanggil Dia Ayah? Atau karena aku lahir dari rahimnya dan aku harus menyebutnya Ibu? Mereka menanam benih, kemudian lahirlah aku, lalu kenapa mereka berpisah? Aku tidak percaya mereka saling mencintai kemudian melahirkan aku, dan sekarang bersekongkol menyiksa batinku, atau memang mereka tidak pernah mencintai satu sama lain? Tidak sengaja menanam benih, dan tidak menghendaki kelahiranku, mungkin aku  lahir dari Rahim yang salah? Dan masihkah aku harus menyebut mereka Ayah dan Ibu, rasanya lebih baik aku lahir dari batu, tak perlu beramah tamah, meski aku tidak tahu betapa sakitnya menjadi batu. “Kok ngelamun di sini? Ayah nunggu kamu di meja makan” Dan wanita itu haruskah aku memanggilnya Ibu? “Bagaimana kuliahmu?” Hanya basa basi, aku tahu Ayah tidak pernah perduli, tentang kuliahku bahkan ketika Guru BP mengirimkan surat ke rumah, karena tingkah lakuku yang buruk di sekolah, atau mungkin Ayah tak pernah menerimanya karena surat dikirim ke alamat Ibu, lima tahun lalu waktu aku masih SMA. “Biasa saja” Begitu datar begitu dingin, aku tahu kau menahan marahmu Yah, namun aku sudah terbiasa acuh. Kau pikir hanya kau yang bisa marah, aku pun sangat marah, meski entah marah untuk apa, untuk perceraian kalian atau karena kalian melahirkan aku. “Hari ini kamu menginap di sini ya sayang, Bunda siapin kamar buat kamu” Hah! Bunda? Lelucon apa ini, aku tak pernah keluar dari rahimmu, jangan perlakukan aku seperti itu. “Tidak usah Tante, saya pulang ke kosan” Wanita itu berhenti memasukan makanan ke mulutnya. Apa harus aku menerimanya sebagai Ibu sedang aku begitu membenci Ibu yang melahirkan aku lewat rahimnya, ‘Durhaka’ apa hanya anak yang durhaka kepada orang tua, dan kenapa orang tua selalu benar meskipun mereka menelantarkan anaknya?. “Sudah lima tahun kamu masih memanggilnya Tante” lima tahun pula aku terpuruk dalam sepi, sendiri, tanpa Ibu, tanpa Ayah, karena aku tidak pernah mau tinggal bersama salah satu dari mereka, aku memilih sendiri menikmati sepi. “Saya pulang”  Aku bergegas tanpa menunggu ayah bicara, memberi izin atau mengucap “Hati-hati di jalan” Mungkin Ayah memang tidak akan pernah mengatakan apa pun dan aku sangat enggan mendengar apa pun. Maaf, Yah. Aku masih marah, terlalu lelah dengan basa-basi, kau tahu, Yah. Karena mencintaimu aku pulang meski marah.

 

****

Dalam hingar bingar pusat pertokoan, penglihatanku mulai buram, ketika orang berjalan seperti bayang-bayang, tak dapat  kurasan pijakan kakiku yang menginjak tanah, pandanganku semakin buram, aku limbung, “Bangun Yang, Mayang bangun” aku sempat mendengar orang-orang berteriak, entah itu suara teman-temanku atau suara orang-orang yang kebetulan hanya lewat di tempat itu, yang jelas bukan suara Ayah dan Ibu. Sempat kurasakan seseorang mengguncang bahuku, sebelum semua menjadi gelap.

 

****

 Lamat-lamat aku mendengar suara tawa, seperti tak asing, tawa bocah perempuan, sesaat aku melihat cahaya putih seperti lorong, tawa itu berasal dari lorong cahaya, aku berjalan ke arah cahaya, aku melihat wajah ibu dan ayah, mereka nampak sangat bahagia, seorang bocah perempuan berlari dan tertawa riang di sekitar mereka. Itu aku, aku melihat diriku. Diriku ketika sepuluh tahun lalu, waktu ayah dan ibu masih bersatu, aku pernah bahagia, aku pernah tertawa, aku melihat senyumku yang sudah hampir aku lupa. Aku berlari ingin memeluk Ayah dan Ibu, aku berlari terus berlari, namun aku seperti berjalan di tempat, mereka begitu sulit aku gapai hingga datang sinar yang menyilaukan mataku. “Adik sudah sadar?” Dia tersenyum seorang suster dengan baju seragam serba putih sedang mengisi cairan ke dalam botol infus di sebelah ranjangku. “Sebentar ya, saya panggilkan Dokter  Alex, beliau ingin berbicra padamu” Masih dengan senyum dia bergegas meninggalkanku, aku hanya terbaring beberapa menit kemudian Dokter Alex datang menemuiku. “Sudah memberi tahu keluargamu” Aku hanya diam. “Atau kau ingin aku membantumu berbicara pada mereka?” Aku menggelengkan kepalaku. Dokter Alex mengusap tanganku, sambil tersenyum kukatakan padanya “Saya sudah siap Dok, tak perlu katakana apa-apa saat ini, jika saya sudah pergi, berjanjilah, untuk menyampaikan pada mereka, bahwa saya sangat mencintai mereka” Aku tak dapat membendung bening di pojok mataku, Ia hanya mengangguk. “Terima kasih” Ucapku lirih. “Istirahatlah”.

Aku ingin pulang dalam dekap Ibu dan Ayah, Tuhan apa aku tak punya pilihan selain memeluk sepi, mati dalam gigil dan sunyi, jika aku dapat dilahirkan kembali, aku ingin hidup dalam dekap Ibu dan Ayah, tak ada diam, tak ada sepi. Jangan dengar doaku yang ingin lahir dari batu, namun aku sadar aku tidak akan bisa lepas dari takdir-Mu, aku lelah, tuhan peluk aku.

 

****

“Tidak!, ini tidak mungkin!” Ibu menangis, nampak pula butir-butir bening dari sudut mata ayah. “Tolong jelaskan Dok” Suara Ayah terdengar sangat berat, parau “Anak Ibu mengidap leukemia tiga tahun lalu, dia melarang saya untuk memberi tahu keadaannya pada keluarganya, sebelum meninggal Ia meminta saya untuk menyampaikan bahwa Ia sangat mencintai kalian”  Ibu terisak, Ayah memeluk Ibu, Aku bahagia melihat Ayah memeluk Ibu, Aku bahagia meski tak dapat memeluk kalian, “Ayah, Ibu, maafkan aku” Selamat tinggal, aku pergi menyatu dengan angin, melebur bersama cahaya, dan di hari lain aku akan turun sebagai hujan, bahkan menjelma sebagai pelangi, tanpa kalian sadar, tanpa kalian tahu, di lubuk hatiku aku selalu mencintai kalian.

 

Puisi – Perihal Ibu

Puisi  Ryco V. Amenity

Narator: Yessita Dewi

Untuk mengunduh file suara, tekan di sini)

 

Ibu..
sederhana saja, aku menulis sajak ini untukmu
rindu kenangan syukurku panjatkan
semua terekam begitu indah
dalam nostalgia menuju senja
ibuku sayang, engkau merawat cinta dengan segala keriuhannya

Ibu..
ada cahaya di balik tatapanmu
seperti rahim yang melahirkan harapan
darahmu mengalir di tubuhku
membentuk simpul serupa kembang
tak pernah hilang dan terus terkenang

Ibu..
ingatan ini berceloteh tentang pelukanmu yang menghangatkan
menjelajah waktu melewati celah langit biru

ada bunga abadi di sini

ada jejak yang enggan beranjak

ada kepingan tak terbenam

 

Ibu..

bila merasa sepi ingatlah bahwa kau tak sendiri

tenangkan saja, pikiranmu

aku menyayangimu sepenuh hati

hingga tak ada kata-kata yang menggantikannya lagi

kuletakkan tanganku pada keningmu
semoga ibu, engkau sehat selalu

 

Geguritan – Susure Simbah

Klik tombol  di bawah ini untuk mendengarkan suara

Anggitan Endah Fitriana

Katuturake dening Endah Fitriana

 

Klik di sini untuk mengunduh suara.

 

Glodhag…….krompyang….pyarrrr…

Swara njelehi…..?

Ora!!

Kanggoku kaya dene jineman uler kambang

Panglipur setya

Kang ndadekke lambeku ra njegadhul

Lha Simbah….??

Ya ben

Nyangking garan sapu….,

nyincing tapih…,

ngoyak aku

Susure lho mbah..

Lha…., ra tiba tenan to….

Si mbah krungkep

ndhepani lemah

kang teles

luhe….

19 Maret 2010 pukul 22.35

 

>