Cerpen – Cinta

CINTA

cerpen: Karim

Narator: Yessita Dewi

download

 

Love requires nothing less than ‘the death’ of the ego

(Seyyed Hossein Nasr)

 

Siang itu setahun yang lalu, begitu panas dan membosankan.  Sahabatku Shanti mulai dengan pikiran2 jahilnya seperti biasa.

“Rasanya Risang tuh nggak pernah punya pacar ya?”

Aku langsung melotot memandanginya.  Aku tau persis apa yang ada dalam otaknya.  Shanti sahabatku sejak SMA. Ia memang baik dan terlihat naif, namun orang sering terkecoh dengan tampilannya.  Di balik tampang tak bersalahnya, tersimpan ide-ide jahil yang tak pernah habis-habisnya.

“Jangan main-main dengan Risang Shan!  Nanti kena batunya lho!”

Tapi bukan Shanti rasanya jika ia tidak menguji cobakan pikiran-pikiran jahilnya.

                                                ————

Dengan berjalannya waktu, aku melihat ada yang aneh pada sahabatku itu.  Dia kerap terlihat merenung sendiri. Kadang terlihat sebentuk senyum di bibirnya, namun sering juga pandangan matanya terlihat kosong menerawang entah kemana.  

Akhirnya tak tahan aku paksa ia untuk bercerita.

“Risang Ti…rasanya baru ini aku merasakannya!”

Mataku sampai nyureng melihat ekspresinya saat ini.  Apa maksudnya?

“Aku pikir aku tau apa itu cinta.  Ternyata aku sama sekali tidak tau apa-apa!” ucapnya sambil menerawang…jauh.

“Memangnya kenapa cinta?” tanyaku bingung, “Bukannya pacarmu banyak tuh jaman kuliah?, kamu masih nggak tau cinta itu bagaimana?”

“Iya…aku pikir juga begitu. Aku pikir aku sudah khatam masalah cinta.  Tapi ternyata aku baru sadar bahwa hubungan-hubunganku selama ini sama sekali tidak berlandasi cinta.  Semua dilandasi ego. Aku pikir jika orang tersebut dapat memenuhi kebutuhanku akan rasa aman, rasa nyaman, gengsi dan sebagainya, itu sudah cinta!”

“Lalu mas Hendro bagaimana?  Bukankah suamimu itu begitu mencintaimu? Ya…aku tahu sih ada beberapa masalah antara kau dan dia, tapi bukankah engkau juga begitu mencintainya?

 

“Aku pikir begitu, seharusnya begitu!  Entah Ti, aku ragu…apakah yang aku rasakan dengan mas Hendro itu cinta?  Apakah itu bukan apa yang seharusnya aku rasakan? Jangan-jangan aku merasa cinta, padahal itu hanyalah sebuah kewajiban?”

Kepalaku langsung berdenyut memandangi sahabatku.  Ia benar-benar bukan seperti Shanti yang biasanya. Biasanya Shanti selalu terlihat ringan, ekspresif dan jarang sekali terlihat begitu depresif seperti yang kulihat di hadapanku.  Aku tahu ada beberapa masalah yang menghantui hubungannya dengan mas Hendro, suaminya. Namun aku selalu merasa Shanti bisa mengatasinya. Di mataku mereka terlihat saling mencintai.  Sehingga aku tak begitu khawatir dengan keluhan-keluhan ringan Shanti tentang suaminya. Apalagi semua diucapkannya dengan nada penuh canda.

“Ti…kamu tahu persis kan bahwa Risang bukan tipeku.  Masya Allah Ti, dia tuh anak kemarin sore buatku. Umurnya saja 10 tahun lebih muda dariku.  Mahasiswa abadi dengan masa depan tak jelas begitu. Luntang lantung. Kau tau kan aku selalu mengagumi sosok-sosok pria matang yang sukses namun bijaksana dan kebapakan.  Kali ini rasanya aku benar-benar gila!”

“Lalu kenapa tiba-tiba kau mencintainya?”

“Aku juga tidak pernah menyadari hal itu.  Awalnya aku hanya jahil saja pura-pura minta dikirimi quotes-quotes sufi koleksinya. Kau tau kan aku suka sekali quotes semacam itu dan Risang punya banyak sekali simpanan quotes.  Lagipula sebetulnya aku hanya ingin menggodanya saja, penasaran melihat sikapnya yang tampak selalu dingin pada orang-orang disekitarnya. Setelah saling berkirim quotes, kami kerap mendiskusikannya.”

“Lalu…?”

“Suatu saat aku seperti merasakan debaran jantung yang luar biasa.  Aku sendiri bingung mengapa jantungku terus menerus berdebar tak karuan seperti itu.  Aku benar-benar tidak punya ide saat itu.”

“Lalu…?”

“Lama-lama aku merasa Risang semakin perhatian padaku.  Lalu aku menghubungkan debaran itu dengannya. Benar saja, setiap selesai berkirim kabar debaran itu terasa lebih keras dibanding biasanya.  Saat itu aku benar-benar merasa disorientasi. Cinta? Apakah itu cinta? Tapi apa yang kurasakan begitu indah. Tapi Risang? Rasanya tidak ada dalam dirinya yang bisa membuatku jatuh cinta.  Tapi mengapa aku merasakan cinta? Apakah itu cinta? Jangan-jangan aku tidak pernah tau rasa cinta sebelumnya, jangan-jangan selama ini aku hanya merekayasa cinta.”

Aku bengong melihat sahabatku meneteskan air matanya, terlebih pada isi ceritanya.  Bagaimana ia, orang yang paling rasional yang aku kenal bisa jadi berperilaku bak orang kehilangan akal sehatnya seperti ini?

“Ti…jangankan engkau, aku sendiri bingung dengan apa yang aku rasakan.  Dan juga malu! Masa orang setua aku jatuh cinta dengan laki-laki seumuran keponakanku sendiri?  Berondong? Please deh!  Tidak pernah ada dalam anganku Ti, engkau tau itu.  Aku tidak pernah tertarik dengan laki-laki lebih muda sama sekali!  Tapi apa yang aku rasakan ini begitu dahsyat. Aku seperti orang kehilangan daya Ti, kehilangan pijakan, kehilangan orientasi.  Aku mati! Aku kehilangan diriku!”

 

Shanti tampak pucat saat mengutarakan ini.  Dan aku tidak pernah melihat sahabatku sebingung itu, ikut bingung.  

“Bagaimana dengan Risang?”

“Entah…aku tidak pernah tahu apa yang dirasakannya.  Kamu kan tahu bagaimana tertutupnya anak itu. Tapi feelingku ia pun merasa apa yang aku rasakan.  Kau lihat sendiri bagaimana ia kini jarang masuk kuliah.  Walaupun ia tidak pernah menyatakan hal itu secara eksplisit, tapi sepertinya aku semakin terkoneksi dengan jiwanya.  Aku seperti tahu kapan ia sedang merasakan senang, kapan ia sedang ‘down’.  Rasanya seperti hati kami menyatu sehingga apa yang dia rasakan juga aku rasakan.”

“Sedalam itu?”

“Rasanya…iya!”

Sejak percakapan itu aku jadi semakin sering memperhatikan mereka berdua.  Sulit dipahami, tapi sepertinya mereka sama-sama sedang dalam keadaan yang mereka sendiri sulit untuk mengontrolnya dengan akal sehat.  Risang yang biasanya selalu terlihat percaya diri dan cuek, kali ini kerap terlihat gelisah. Sedangkan Shanti raut mukanya begitu lelah, walaupun aku melihat ada sekilas cahaya berpedar dimatanya.  Namun karena begitu sering ia terlihat menunduk, cahaya itupun jarang memedar keluar.

                                          ———————–

Suatu malam saat aku sedang iseng dengan memperhatikan status Picture Profile teman-temanku di HP. Aku melihat Risang sudah mengganti statusnya tiga kali dalam lima menit.  Terakhir aku lihat dia menuliskan status; To Love is to die to oneself.  Tak tahan, aku hubungi dia lewat WAnya.

“Hi Sang, is everything allright?”

“Fisik sih ok mbak, tapi tidak dengan jiwaku!”

“Kenapa? Boleh aku tau?”

“Mbak pasti sudah tau dari mbak Shanti kan?!”

“Hmmm, iya sih.  Cinta…?”

“:I” (emoticon berbentuk wajah orang dengan ekspresi mulut datar)

“Mengapa cinta Sang? Apa yang terjadi?”

“Entah mbak, kami seperti terjebur dalam satu kolam yang dilabel cinta.  Kami tenggelam tanpa bisa memahami apa yang terjadi?”

“Hmmm, sedalam itu?  Lalu apa yang kamu rasakan?”

 

“Ternyata cinta itu sangat dahsyat…tidak ada kata-kata yang bisa menggambarkan.  Dan cinta mencabut semua daya-daya jiwa kita, dan membutakan daya-daya tubuh kita. Rasanya berdebar terus…!”

“???????,” aku terperangah dengan penjelasannya tentang cinta.

“Mungkin ini hanya cicipan CintaNya yang dititipkan ke kami.  Tapi untuk apa? Aku benar-benar bingung mbak!”

“Kenapa harus bingung? Kalau memang kamu yakin ini cicipan CintaNya, ya nikmati saja!”

“Tapi untuk apa? Untuk apa ada cinta kalau tidak bisa mengekspresikannya. Aku sendiri bingung, karena yang aku rasakan begitu nyata.  Dan obyek cintanya pun nyata. Aku tahu diri mbak. Mbak Shanti kan sudah terikat dengan mas Hendro. Aku tidak akan merusak pagar ayu seseorang, apalagi padanya aku rasakan cinta.  Tapi rasa cinta ini terlalu besar untuk tidak terekspresi!”

“Hmm…iya Sang.  Tidak mudah ya ternyata! Lalu apa yang kalian bicarakan selama ini?”

“Jujur mbak, kami tidak pernah membicarakan tentang diri kami.  Misalnya bicara; aku cinta kamu, atau perasaanku begini begitu!…Tidak mbak.  Yang lucu kami hanya berbicara tentang cinta dan betapa dahsyatnya cinta itu. Selebihnya kami hanya membahas kajian.  Tidak ada yang lain bahkan kami juga tidak pernah saling curhat.”

“Sampai kapan kalian begitu?”

Risang tidak membalas pesanku terakhir.  Ia memang sering begitu saja meninggalkan percakapan via  WA, jadi akupun tidak ingin mendesaknya. Aku buka lagi buku pelajaran kehidupan yang ditulis seorang arifin untuk meneruskan membacanya, dan terpaku pada satu baris kalimat tentang cinta;

Man’s greatest enemy in this world is his ego, the thought of self.  All religious and philosophies teach man to crush it, and there is nothing that can crush it better than love.  The growth of love is the decay of the ego. Love in it’s perfection entirely frees the lover from all selfishness.  For love maybe called in other words annihilation. “whoever enters the school of lovers, the first lesson he learns is not to be” (Hazrat Inayat Khan).

Pantas Risang menuliskan status; To Love is to die to oneself.  Mereka berdua sedang terbakar dalam api cinta yang sekaligus juga menghancurleburkan keakuan mereka berdua. MasyaAllah betapa indahnya…tapi aku juga dapat merasakan betapa menyakitkannya…

                                        ———————–

Aku hanyalah seorang sahabat yang sedang menyaksikan kedua orang sahabatku merana karena cinta.  Apakah salah jika mereka merasakannya? Tapi kan Shanti sudah menikah? Pikiranku selalu memberi sanggahan.  Shanti telah mengucapkan sumpah nikah, sumpah di hadapan seluruh keagungan majelis Allah ta’ala untuk setia pada suaminya, Hendro.  Sebuah sumpah yang terberat kedua setelah sumpah eternal jiwa manusia di dalam Al Qur’an. Apakah dengan timbulnya cinta di hati Shanti, maka ia telah menghianati suaminya?  

Bukankah pencinta itu tidak akan khianat?  Tapi mereka pun tidak pernah melakukan apapun yang dilarang agama, mereka hanya diam-diam menyimpan cinta yang begitu besar dalam hati mereka masing-masing tanpa dapat mengekspresikannya.  Dan itu membuat jiwa mereka berdua ‘mati’.

Aku saksi bisu dari betapa cinta menghancurleburkan diri mereka.  Aku kerap mengajak Shanti hanya sekedar berjalan-jalan atau makan disuatu tempat, dan ia tampil tanpa jiwa.  Raganya persis disebelahku, matanya melihat padaku dan telinganya mendengarkan celotehanku, tapi jiwanya entah dimana.  Seperti seorang somnabulis yang berjalan dalam tidurnya Shantipun demikian. Juga Risang. Matanya hanya menunjukkan binar saat melihat Shanti di setiap kajian yang sama-sama mereka hadiri.  Mereka hanya saling tersenyum dan bicara basa basi, lalu saling berpisah. Tidak pernah aku lihat mereka jalan bersama-sama. Shanti pernah mengakui kalau mereka telah dua tiga kali makan berdua di kantin seusai kajian karena sebuah urusan yang penting harus dibicarakan, tapi yang ada mereka hanya saling salah tingkah dan tidak banyak bicara.  Setelah itu mereka lebih banyak saling menghindar dan mengatakan bahwa bertemu adalah suatu kesalahan besar yang mereka sesali.

Rasanya cinta tak pernah salah jika dibiarkan murni tanpa cela.  Yang salah jika cinta ditunggangi nafsu, seperti cinta Zulaikha saat  terpana melihat keindahan Illahi yang memancar melalui sosok Yusuf. Jika manusia menyadari betapa indah zat yang ada dalam inti dirinya maka tidak ada deretan wanita terhormat yang harus memotong tangannya saat terpesona pada keindahan Yusuf, seperti juga Zulaikha. Egonya yang tertohok dengan pengabaian anak angkatnya itu mengobarkan nafsunya untuk menundukkan Yusuf.  Tapi cinta tetaplah tidak bersalah. Cinta Zulaikha harus dimurnikan dengan serangkaian cobaan. Satu persatu kehormatannya gugur demi mempertahankan cintanya pada Yusuf. Sampai tibalah saatnya ‘ jiwa Zulaikha mati’, maka yang ada dalam dirinya hanyalah Yusuf. Disaat yang sama ia baru menyadari bahwa itu bukanlah Yusuf, tapi Dia, cintaNya yang kemudian mampu menghilangkan Yusuf dari dirinya.

 

Indeed,

We are one Soul , You and Me.

In the show and hide

You in Me, I am in You.

Here is the deeper meaning

of my relationship with You,

Because there is nor I , nor You.

Between You and Me.

Rumi

                                   ———————-

Hampir dua tahun telah berlalu sejak mereka berdua merasakan cinta.  Dan cinta itu tetap ada, hanya mereka mengaku kadarnya lebih halus dari yang mereka rasakan di awal.  

“Mungkin ada sebagian diriku yang telah hilang, jadi semua terasa sedikit lebih ringan,” ucap Shanti dengan senyum yang tampak lebih bijak dari dua tahun yang lalu.  

Lucunya ia kini lebih bisa menerima Hendro sang suami dengan lebih tulus, setulus ia menerima cinta yang demikian dahsyat tanpa dapat mengekspresikannya lebih jauh. Rupanya cinta yang dahsyat telah mengajarkannya keikhlasan cinta tak bersyarat.  Cinta juga mengajarkannya kesabaran tanpa batas. Tidak terbatas pada Risang, namun juga pada orang-orang disekelilingnya. Ia telah melepas keinginan egonya untuk memiliki cinta yang ia rasakan, ia juga telah ikhlas melepas orang yang dengannya ia merasakan cinta.  Begitu juga Risang. Pandangan matanya tidak setajam dulu, namun lebih lembut walaupun sekilas ada bayangan ‘putus asa’ yang kental. Belakangan ia pun semakin terlihat tawadhu, menunduk ikhlas.

Aku hanya saksi bisu perjalanan sebuah cinta yang luar biasa dan sulit diekspresikan melalui kata-kata. Dan aku hanya bisa mendoakan mereka dalam diam…amiiin.

 

Temukan kami di sini!

Leave a Comment