Cerpen – Lukisan Siluet

Spread the love

Cerpen Ary Yulistiana

Versi cetak: Antologi Cerita: Suatu Pagi di Karlovy Vary

Narator: Noer Admadja

download

Malam ini, untuk kesekian kalinya, engkau mengajakku pergi berdua. Bukan untuk pergi berpesta, atau menyesap candu lalu terlena. Namun cukup sekadar berjalan mengikuti kaki melangkah yang terkadang tak tentu arah. Hanya berbincang tentang apa saja. Menghirup udara malam sambil sesekali melempar pandang ke arah bintang. Atau jika beruntung sembari mengirimkan senyuman kepada purnama yang anggun dan menggetarkan. Katamu setiap malam adalah istimewa, setiap malam adalah perayaan yang selalu berbeda, setiap malam adalah tabir misteri yang tak pernah sama. 

Malam masih sepekat jelaga saat tanganmu yang dingin menggamitku dengan mesra, menyusuri pedestrian di jantung kota. Kawasan yang tak pernah jenuh berdenyut dalam keramaian, tak pernah sepi dari lalu lalang orang dengan segala kesibukan. Jantung kota ini selayak tempat di mana gelak tawa bercampur dengan suka cita, ruang di mana perbincangan hangat berpadu dalam kasih mesra, dan sudut-sudut yang merekam kasak-kusuk rahasia yang berseling dusta. Di antara cangkir-cangkir kopi yang sedap aromanya, di sela-sela kepulan asap rokok yang tak berjeda, bersanding dengan santapan dari kedai-kedai kaki lima.

Aku selalu mencoba memahami kesenanganmu untuk menikmati malam. Mencoba untuk menyelami dan menikmati gelap yang berhias kerlip bintang dan rona rembulan. Hingga pada akhirnya aku juga selalu merindukan malam. Aku selalu terlena dengan suasana syahdu dan romantisnya malam-malam temaram. Aku kini menyepakatimu bahwa waktu terbaik kita bertemu adalah saat malam tiba.

Aneh juga kalau orang hidup dengan bekerja mati-matian di siang hari dan kelelahan tak berdaya di malam hari. Padahal betapa sayang suasana yang ada untuk dilewatkan. Tak perlu jauh-jauh pergi berwisata untuk bisa melipur hati. Malam yang datang pun sudah sangat menyenangkan untuk dijelajahi.

Seperti halnya situasi pedestrian di malam ini. Satu sudut menawarkan keriuhan orkestra jalanan yang membuat siapapun ingin menari di sana, dengan para pemain musik yang tampak bergairah menghangatkan suasana. Sudut lain tampak ramai dengan kerumunan anak muda yang menghabiskan makanan dari penjaja kaki lima, juga penuh dengan senda gurau yang terlihat seru dan gembira. 

Engkau mengajakku menikmati sudut yang berbeda malam ini. Pelataran sebuah toko yang disulap menjadi kafe di malam hari. Di salah satu sudutnya ada van yang dimodifikasi menyerupai bar tempat menyiapkan pesanan makanan dan minuman. Di belakang, mural dengan tulisan yang mengisahkan filosofi biji-biji kopi menjadi latar yang meneguhkan eksistensi tempat itu sebagai kafe yang kekinian. Alunan musik yang tidak terlalu kencang membangun suasana yang rileks dan nyaman. 

Dua meja sudah terisi. Di meja terluar ada dua orang gadis yang sedang bercengkerama sambil membahas sesuatu di layar ponsel mereka. Pada meja lain sekelompok lelaki berkumpul entah membicarakan apa, tampak serius di antara kepulan asap rokok yang tanpa sela. Engkau mengajakku di sudut paling dalam. Aku setuju saja sebab aku juga menyukai posisi itu. Posisi di mana kita bisa bebas mengawasi orang lain namun orang lain tak bebas untuk melakukan hal yang sebaliknya. 

Seorang lelaki muda berpakaian kasual dengan sigap menghampiri sambil membawa buku menu. Tanpa membaca, engkau memesan secangkir espreso hangat dan dari daftar menu aku memilih mix fruit juice. Menu yang kubaca ternyata tak memaksa pengunjung kafe ini untuk menikmati kopi saja, namun juga menu lain untuk yang berbeda selera. 

Sesaat aku dan dirimu sama-sama diam, memandangi jalanan yang silih berganti dengan segala macam lalu-lalang orang. Sungguh kota yang layak menyandang julukan sebagai kota wisata pilihan, sebab banyaknya manusia dengan bermacam ras dari berbagai belahan dunia meramaikan pedestrian. Aku melirikmu dalam diam. Meski masih membuatku bertanya-tanya tentang arti diammu, aku selalu berusaha menghargai pilihan sikapmu.

Saat aku hendak memulai pembicaraan, pelayan kafe kembali datang. Membawa secangkir espreso hangat dengan latte art bergambar daun seperti yang sering kulihat di berbagai iklan atau di majalah. Engkau tersenyum senang mendapati latte art itu dan mengatakan tidak tega meminumnya sebab demikian manis penyajiannya. Aku tertawa kecil melihat kekonyolanmu. Perbincangan beraroma espreso berhias latte art itu kemudian membawa kita pada pembicaraan berikutnya yang sambung menyambung dengan segala peristiwa. Diiringi senyuman, tawa, dan sesekali meleratkan duka saat mengenang kisah luka.

Saat pembicaraan masih belum terhenti, datanglah seorang seniman jalanan menghampiri meja. Seorang lelaki paruh baya dengan topi pet berwarna coklat yang seolah ingin mengesankan bahwa dirinya adalah seorang seniman.

“Mau dilukis siluet? Pasti Nona akan terlihat cantik dengan tambahan bulu mata yang lentik.”

Ramah lelaki itu menawarkan seni jalanan kepadaku. Lukisan siluet, demikian lelaki itu menamainya. Dengan cekatan dibukanya papan besar berisi potongan karyanya dan beberapa foto serta tulisan-tulisan. Dijelaskannya secara singkat tentang seni lukisan siluet itu. 

“Saya akan membuat lukisan siluet secara langsung dengan melihat wajah Nona.” 

Lelaki itu kemudian menjelaskan teknik menggunting kertas linen berwarna hitam untuk membuat lukisan siluet sembari mengeluarkan peralatan lainnya. Ia lalu berkisah begitu saja. Bercerita bahwa konon istilah siluet berawal dari seorang Menteri Keuangan Perancis abad ke-17, Ettiene de Silhouette yang memberlakukan pajak tinggi kepada orang-orang Perancis. Dampak kebijakan ekonomi keras Silhouette itulah yang menyebabkan namanya menjadi istilah untuk hal-hal yang diusahakan lebih murah. Pada masanya, profil siluet adalah cara termurah untuk mendokumentasikan penampilan seseorang. 

Aku mengangguk-angguk takjub meski kedatangan seniman itu cukup mengejutkan. Rupanya ia berhasil membuat orang memperhatikannya pada kesempatan pertama. Kepandaiannya bertutur menyihirku untuk menerima kehadirannya.

Ia tunjukkan hasil lukisan siluetnya yang berupa tampak samping wajah-wajah orang terkenal di negeri ini. Dengan melihat siluetnya, aku bisa menebak nama-nama mereka. Sebagian besar di antaranya adalah pejabat. Aku semakin  kagum dan tertarik dengan keahlian lelaki itu. Namun kulihat engkau tidak terlalu suka. Entah tidak suka dengan kedatangan lelaki itu yang menurutmu mengganggu, atau tidak senang dengan lukisan siluet yang hitam legam itu. Akupun tidak terlalu ambil pusing dengan sikapmu.

Lelaki seniman itu lalu memperkenalkan diri, 

“Nama saya Davin.”

Aku tersenyum lebar, 

“Davin? Bagus sekali.”

Ia terkekeh, dengan setengah berbisik ia berkata sambil telapak tangannya dibentangkan di samping mulutnya. Seolah memberitahukan sebuah rahasia.

“Itu nama saat di jalanan, nama seniman.” 

Aku tertawa kecil, terhibur dengan sikapnya yang tampak jenaka. 

“Apa arti nama Davin, kenapa memilih nama itu?”

Ia tersenyum simpul, 

“Davin merupakan potongan dari nama da Vinci. Leonardo da Vinci. Saya sangat mengagumi da Vinci.” 

“Kalau menggemari da Vinci kenapa tak melukis saja?” tanyaku sembari mengingat-ingat sang pelukis Renaisans dari Italia itu.

Ia menaikkan alisnya,

“Kalau melukis dengan cat dan kuas di atas kanvas kan sudah biasa. Kalau melukis dengan menggunting seperti ini tentu lebih istimewa.”

“Jadi dibuatkan siluet?” lanjutnya. 

Aku mengangguk dan melirikmu, engkau turut mengangguk dengan ekspresi wajah yang datar.

Davin menyiapkan peralatannya untuk membuat siluet  wajahku. Sehelai kertas linen hitam telah disiapkannya dan tentu saja gunting kecil yang katanya selalu ia perhatikan betul mata pisaunya agar menghasilkan potongan yang tajam dan akurat sesuai bentuk aslinya. Aku dimintanya menghadap ke arah depan dan Davin duduk di sampingku. Ia bekerja sambil terus menggunting kertas yang ada di tangannya dan sesekali melihat wajahku. 

Aku senang sembari berdebar-debar, akan menjadi seperti apakah hasilnya? Tidak sampai lima menit kemudian, Davin mengatakan dengan suara rendah, sudah selesai. Aku melihat hasil guntingannya dan menjerit kecil sebab gembira. Hasilnya bagus sekali dan kurasa itu benar-benar bayangan wajahku dari arah samping. 

Lalu kuberikan pujian dengan setulus hati atas bakat yang dimiliki Davin. Namun engkau tampak gelisah. Aku agak terkejut sebab biasanya engkau sangat menikmati suasana malam. Ah, mungkin espresomu tadi terlalu pekat sehingga cukup sulit untuk berpikir tenang seperti biasanya. Atau engkau mungkin tak suka dengan pujian yang kulontarkan kepada Davin sebelumnya.

Lalu aku bertanya soal kepandaiannya menghasilkan karya dengan bermodalkan gunting dan kertas. 

“Pernahkah salah menggunting saat membuat lukisan siluet?”

Davin menjawabnya sembari menempelkan siluet hitam ke atas kertas putih dan mengemasnya dengan plastik transparan.

“Tak pernah salah, sudah ribuan wajah saya buat siluetnya. Tak pernah meleset. Sudah belasan tahun saya tekuni. Setiap kertas yang saya gunting sudah pasti selesai untuk satu orang.” 

Aku mengangguk senang dan kuminta engkau bersiap-siap untuk dibuatkan siluet serupa. Aku setengah memaksamu saat itu. Engkau bilang tak suka digambar siluetnya, namun aku berusaha meyakinkanmu dengan segala macam cara hingga engkau menyerah pada akhirnya. Davin mengambil posisi di sebelahmu dan kubiarkan Davin untuk membuat siluet wajahmu.

Suara gunting yang menari di atas kertas menandakan pekerjaan Davin dimulai. Engkau tampak gelisah sehingga aku memintamu untuk tenang sebab pasti kau akan terlihat tampan meski hanya dalam siluet. Aku meminta engkau mempercayai Davin untuk karya seni yang ia persembahkan malam ini.

Namun gelisah ternyata kemudian juga merayapi Davin. Lelaki paruh baya itu tampak tercekat dan seperti akan mengeluarkan suara tertahan. Lalu ditaruhnya kertas yang selesai diguntingnya itu. Diambilnya kertas yang baru lagi. Kali ini Davin mengusap wajahnya dan menarik napas dalam-dalam. Tak lama Davin meletakkan kertasnya yang telah usai diguntingnya.

Diambilnya kertas yang baru lagi, ditatapnya wajahmu lagi sungguh-sungguh dan terdengarlah semacam suara tertahan di kerongkongan Davin. Aku kasihan dengan Davin yang tadinya mengaku tak pernah salah dalam menggunting lukisan siluet sebab sudah katanya amat terbiasa. Engkau mungkin juga merasa dibohongi oleh akal-akalan seniman jalanan yang entah seniman betulan ataukah seniman gadungan ini.

Namun Davin seperti terhipnotis. Kertas yang telah usai digunting lalu tanpa daya dijatuhkan dan Davin mengambil kertas yang baru lagi serta melakukan pekerjaan berulang. Menggunting-menjatuhkan kertas-

mengambil kertas baru-menggunting-menjatuhkan kertas-

mengambil kertas baru-menggunting-menjatuhkan kertas-

mengambil kertas baru-menggunting-menjatuhkan kertas-

mengambil kertas baru-

menggunting-

menjatuhkan 

kertas…

Dan telah habislah semua kertas hitam milik Davin. Aku belum sempat berkata apa-apa ketika Davin pergi dengan tergesa, hanya membawa serta papan bergambar hasil karyanya yang sejak tadi dibawanya ke mana-mana. Kertas-kertas yang berserakan tidak diambilnya. Davin melangkah amat cepat meninggalkanku, bahkan aku yang sedang mencari-cari uang di saku baju tidak dipedulikan olehnya. Padahal mestinya dia menanti-nanti bayaran ini sebab ia telah bekerja dan tinggal menanti imbalannya. 

Aku mengejar Davin beberapa langkah dan lelaki itu berjalan lebih cepat dari yang kuduga. Aku menghela napas menyaksikan keanehan Davin yang berubah begitu saja. Aku menyerah dan kembali ke tempat semula. Kukumpulkan kertas-kertas hasil karya Davin yang berserak di bawah kursi untuk melihat hasil lukisan siluetnya.

Aku tercekat.

Lukisan siluet yang entah berapa jumlahnya itu menghasilkan siluet yang sama. Wajah dengan tonjolan tanduk di dahi dan bibir dengan taring yang mencuat keluar. Tanganku bergetar hebat, kulihat lembar yang satu lagi, lembar yang satu lagi, lembar yang lain lagi.

Aku mendadak lunglai.

Aku seperti hilang akal untuk memaknai arti hasil lukisan siluet Davin malam ini. Apakah orang itu sebetulnya hanya badut pembuat lelucon ataupun cenayang yang bisa melihat sesuatu yang tak kasat mata…. 

Aku… memandang ke arahmu.

Kiranya aku menduga yang kedua, sebab baru aku menyadari, 

Engkau pun telah lenyap tanpa suara….

***

2017

 

Ary Yulistiana adalah penulis yang juga seorang pengajar bahasa Indonesia di Sekolah Menengah Kejuruan di Kota Solo. Menulis adalah salah satu caranya untuk bahagia serta turut berkontribusi dalam kegiatan literasi di Indonesia. Buku terbarunya Perpustakaan Raja Badai, sebuah kumpulan cerpen yang ditulis bersama dengan kedua buah hatinya. Bisa dihubungi di ibuary@gmail.com

 

Temukan kami di sini!

1 Comments

  1. Cerpen yang sangat luar biasa, membuka jendela imajinasi dan rasa yang begitu mendalam dalam wujud teks, koteks, dan konteks. Semoga penulis cerpen ini selalu menjadi kreator dengan karya-karyanya yang selalu menjadi motivasi, inspirasi para pembaca sepanjang masa. “Lukisan siluet begitu serasa minum espreso dan berselimut pekatnya malam’

Leave a Comment