Cerpen – Pernikahan Maryam

Spread the love

Pernikahan Maryam

Astuti Parengkuh

 

Malam melarut ditandai dengan kepulangan para tamu beberapa waktu lalu. Kusaksikan Ayah ikut membantu sanak-saudara dan tetangga mengangkut kursi untuk dimasukkan ke mobil pick-up. Ibu yang melihat laki-laki yang suka bekerja membanting tulang itu masih sibuk lantas menghampirinya.Sepertinya Ibu memperingatkan Ayah agar beristirahat, sejenak merebahkan punggung. Ibu lantas melihat ke arahku lalu tangannya menghelaku agar tak mendekat.Dia ingin aku lekas masuk rumah kembali dan tidur.

Aku masuk rumah dan membereskan beberapa pekerjaan yang belum selesai, menaruh baki-baki lamaran ke meja dan ke atas lemari.Adikku, Maryam, yang telah menjalankan upacara ijab  qabul selepas Isya tadi, dan melakukan resepsi pernikahan telah naik ke loteng bersama Jono suaminya.  Sedang adik-adikku yang lain tiduran dengan melingkar di kasur depan pesawat televisi. Pesawat televisi tak pernah bisa merebut perhatianku kecuali siaran sepak bola dan pertandingan bulutangkis.

Beberapa menit kemudian ayahku membuka pintu dan melepas jas yang dipinjamnya dari paman. Pamanku seorang pegawai kecamatan dua hari lalu menitipkan bungkusan kepadaku saat aku bertandang ke rumahnya menyampaikan hantaran berupa masakan Ibu. Ayah langsung merebah di kursi panjang yang terletak di depan lemari kayu, sebagai pembatas tempat tidurku dan adik-adik.

Ibu menyusul masuk rumah dan melepas kerudung yang menutupi wajah lembut dan cantiknya yang memudar karena kelelahan. Pintu kamar dengan engsel yang telah lepas berhasil dibuka setelah meminta pertolonganku,membuka paksa dengan sedikit tambahan tenaga. Ah, ternyata rumah kecil ini bertambah masalah saja dari hari ke hari.

Sungguh, tak terasa aku telah tertidur di ambin Ibu.Jika saja tak dibangunkan bahwa waktu subuh telah memanggil, mungkin aku akan terlambat bangun. Padahal cucian piring dan gelas sisa perjamuan semalam belum selesai kubersihkan. Begitu bangun, telah kusaksikan piring-piring dan gelas-gelas telah rapi berada di raknya. Pasti Ibu yang telah mengerjakan semuanya.

Dugaanku salah.

Kugapai pundak Ibu dan kukerlingkan senyum padanya sambil kulirik deretan piring dan gelas. Ibu membalas tersenyum, lalu arah matanya dia lempar kepada Tanto, adik Maryam. Tanto anak ketiga, sedang Maryam anak kedua. Aku anak sulung dan masih ada lagi beruntun, Jupri dan Ilham serta Sidik. Tanto mengacungkan jempol ke wajahku lalu gerakan tangannya berubah seketika seperti gerakan ingin dipijit. Dia minta upah atas pekerjaannya. Lalu kujewer telinga kirinya, tanpa bermaksud menyakitinya.

Tidak tega juga rasanya melihat Tanto kelelahan,karena sejak kemarin dialah yang membantu Ayah menata kursi-kursi serta memesan segala ubo rampe, keperluan resepsi pernikahan Maryam. Di depan pesawat televisi, Tanto aku pijit-pijit punggung dan pundaknya. Televisi sedang menyiarkan berita duka cita, sebuah bencana banjir bandang yang menelan banyak korban. Lalu kepada Tanto aku tunjukkan loteng rumah, aku bilang kepadanya jika untung rumah kita sudah ada loteng jadi jika banjir tahunan yang melanda kampung kami datang, Ayah dan Ibu tidak susah-susah untuk mengungsi. Setidaknya benda-benda berharga seperti televisi, kasur dan pakaian kami tidak basah.

Tanto mengangguk-angguk tanda mengiyakan.

***

Beberapa minggu lalu, datanglah tamu dan rombongannya ke rumah. Tak ada yang aku kenal kecuali Jono, laki-laki muda yang sering bertandang ke rumah setiap sabtu malam, selepas dia bekerja. Ibu bilang kepadaku jika Jono adalah calon suami Maryam. Saat kutanya, apa pekerjaan Jono,Ibu menjawab jika Jono seorang guru, sama profesi dengan Maryam.

Kemudian suatu malam, aku dipanggil Ayah dan Ibu serta Maryam untuk didudukkan dalam sebuah pembicaraan serius. Ayah berkata-kata, lalu kemudian Ibu juga. Sampai akhirnya Maryam menyentuh tanganku dan menciumnya. Lalu diciumnya kedua pipiku dan dia menangis. Aku tahu maksudnya, ya, aku tahu tujuan Maryam. Dia pasti sedang meminta restuku untuk acara pernikahannya. Teman seumuran Maryam sudah ada yang menggendong bayi usia tiga tahun. Adikku sudah waktunya menikah.

Dia akan melangkahiku, sebagai kakak. Kemudian dia berkata lagi kalimat seperti ini, “Mbak Muji ingin aku beri hadiah apa?” Aku menggeleng dan kuulas senyum. Aku membalas pelukannya dan kuacungkan jempol.“Aku beliin baju baru ya?” kemudian dia memegang baju yang kupakai. Kembali kugelengkan kepala. Kupikir, dia akan memerlukan banyak biaya untuk pernikahannya nanti. Tak baik merepotkannya.

Ayah berkata-kata lagi. Kusaksikan sebentuk kebahagiaan di wajah Ayah. Laki-laki yang giat bekerja sebagai petugas kebersihan di kampung kami ini bakal mantu. Dia tak pernah mengeluhkan kekurangan fisik yang disandangnya. Hanya sebelah mata ayah yang berfungsi dengan baik dan bisa untuk melihat. Gerobak sampah yang selalu menemaninya bekerja menjadi saksi betapa dia seorang Ayah yang kuat, yang mampu menyekolahkan anak-anaknya setidaknya hingga bangku SMA, kecuali aku.

Aku menolak bersekolah dan lebih memilih membantu Ibu berjualan makanan di mulut gang, tempat kami tinggal.

Malam itu juga, kuambil tabunganku berupa celengan plastik yang selama ini aku sembunyikan dibalik tumpukan pakaian di dalam lemari. Di depan Ayah, Ibu dan Maryam, aku buka benda itu lalu kuhitung lembar demi lembar. Kususun dengan rapi, sesuai gambar kemudian uang itu aku serahkan Ibu. Ibu menerimanya dengan berat hati. Kusaksikan genangan air mata yang ditahannya agar tidak jatuh ke pipi.

Maryam semula menolak, dan meminta Ibu mengembalikan uang pemberianku. Namun aku menghalaunya. Kugelengkan kepala. Mereka mungkin kaget, saat aku kembali membuka lemari kayu dan kukeluarkan dompet yang berisi beberapa perhiasanku; sepasang anting, sebentuk cincin dan seuntai kalung.Kusodorkan kepada Maryam. Kali ini Maryam benar-benar menolak. Dia lalu memakaikan semua perhiasan itu ke tubuhku. “Buat kamu pakai, Mbak Muji,” dia berisyarat.

Kursus menjahit yang ditawarkan oleh BLK telah membuatku merasa percaya diri untuk menerima jahitan dari tetangga dan teman. Kugantungkan gaun pengantin dengan potongan leher sabrina seperti yang dikehendaki oleh Maryam. Hiasan berupa payet memenuhi ujung lengan dan bagian bawah kebaya. Maryam memilih warna kuning gading, senada dengan baju pengantin yang bakal dikenakan oleh Jono.

***

Dua hari sesudah lebaran, tiba-tiba datanglah kabar itu. Ayah diberitakan mengalami kecelakaan saat bekerja. Gerobak sampahnya tersenggol mobil yang melaju dengan kencang dan Ayah terjatuh. Ibu belum membolehkan Ayah bekerja, setidaknya sampai Maryam selesai menjalani prosesi pernikahan tiga hari lagi. Namun Ayah bersikeras. Katanya, siapa lagi petugas yang akan membuang sampah warga. Ayah sampai membuka lebar-lebar kedua tangannya di depanku.

Dengan dibantu oleh beberapa warga, Ayah dibawa ke klinik pengobatan tak jauh dari rumah. Untung lukanya hanya lecet-lecet dan tak memerlukan perawatan khusus apalagi opname. Kedua kaki kurusnya semakin tampak ringkih. Kusaksikan Ayah turun dari becak dan melangkah dengan pincang, menyentuh pintu rumah. Aku termangu.

Tepat pukul tujuh malam, Maryam dan Jono  mengucap prosesi pernikahan. Kulihat Ibu tampak terharu, juga Ayah. Sekilas Maryam memandangku lalu kulempar senyum kepadanya. Dia tampak cantik sekali dengan dandanan yang sungguh anggun. Kebaya yang aku jahit, pas melekat di tubuhnya yang tinggi semampai.

Tanto yang sudah bekerja dan bisa sedikit-sedikit membantu Ibu memberi jatah uang untuk membeli beras. Tanto baik, maka tak heran jika ada beberapa teman perempuannya yang suka bertandang ke rumah. Kupikir dalam hati, pasti sebentar lagi Tanto akan menikahmenyusul Maryam.

“Muji, kapan kamu menikah?” pertanyaan dilontarkan oleh seorang kerabat seraya menunjuk kepada pengantin berdua yang tengah duduk di pelaminan. Aku membalasnya dengan melambaikan tangan.

“Aku doakan Mbak Muji segera menikah jika jodoh sudah dekat, Aamiin”, kata seorang fasilitator yang kuundang di acara resepsi pernikahan dalam bahasa isyarat. Aku merasa dia punya rasa suka kepadaku  dan sebagian hatiku turut dibawanya.

Tak ada kesunyian bagi orang tuli sepertiku. Banyak doa kebaikan. (*)

 

*Astuti Parengkuh, pengarang dan jurnalis

 

http://www.edisicetak.joglosemar.co/berita/pernikahan-maryam-157098.html

 

 

Temukan kami di sini!

Leave a Comment