Cerpen – Syair untuk Melur

Syair untuk Melur
Ditulis dan dituturkan oleh Liston P Siregar

download

 

Malam ini aku kembali bermimpi
Endapan rindu yang datang lagi
Luluh hatiku tak mau pergi
Untaian rindu yang terus berapi
Rasa cintaku, Melur, ternyata tak bertepi

Pada usia 31 tahun, untuk pertama kali dia menulis puisi.

Dulu sekali juga pernah, tapi untuk PR sekolah, menulis pantun, syair, dan gurindam yang ada polanya. Jadi gampanglah, selama huruf di setiap akhir baris bergantian, sama, maupun bernada serupa. Isinya tak terlalu perlu dipikirkan selama nyambung walaupun hampir semua kawan sekelasnya sepertinya berlomba-lomba untuk menulis kata-kata puitis.

Dia ingat syairnya cuma tentang naik sepeda dengan kata-kata praktis, seperti ‘aku lemah, lalu terjatuh, luka parah.’ Catatan gurunya, waktu itu, seingatnya, “Kembangkan imajinasi dengan pilihan kata-kata yang puitis.” Tak terlalu serius ditanggapinya, karena bahasa bukan keahlian dan juga bukan kesukaannya.

“Berilah aku berhitung,” katanya di dalam hati, mengulang kenangan belasan tahun lalu. Dan dia konsisten, setelah tamat dari Fakultas Informatika, kini pada usia 31 tahun dia sudah menjabat lead programmer di perusahan perangkat lunak multinasional, yang berkantor pusat di Lembah Silicon yang terkenal, di San Fransisco, Amerika. Setiap tahun, sedikitnya dua kali dia terbang ke sana dan menolak pindah ke San Francisco dengan alasan “Dingin kali di sana Pak, dan tak mau aku jauh-jauh dari Mamak,” waktu Bapaknya ikut mendorongnya pindah.

Dia sepertinya menjadi bukti tentang seorang anak Indonesia pekerja keras yang mampu bersaing dengan warga seluruh dunia namun memilih tetap menjadi Indonsia tulen.

Tapi ada bayarannya.

Hidup, bagi banyak orang, adalah keseimbangan, namun tidak bagi Tumpal Gultom. Sepanjang 31 tahun, tak banyak cinta monyetnya, ada satu dua cinta serius namun tak ada yang terwujud, dan –parahnya dia nyaris memastikan- bakal tak ada kekasihnya. Bukannya dia tidak mencoba, tapi gagal.

“Kau sebenarnya baru sekedar coba-coba, belum serius,” kata Didit, sahabatnya, yang waktu kuliah dulu gonta ganti pacar. “Kau memang lihat aku banyak pacar, tapi kau tau juga kan aku banyak ditolak.”

Dia yakin sudah mencoba maksimal, dengan Melur,  anak Fakultas Sastra, teman kelompok pegiat lingkungan yang setiap Minggu pagi membersihkan seluruh halaman kampus . Dia merasa sempat punya peluang tapi akhirnya keduluan Arief, Ketua Senat Mahasiswa yang ternyata pura-pura ikut membersihkan kampus tapi cuma mau mendekati Melur semata.

Dia suka Melur, salah seorang koordinator kelompok, yang berlesung pipit, yang selalu riang dan bergerak gesit, dengan memberi perintah sana sini secara lembut tanpa kesan ngebossi. Ada masa-masa dia kerja dekat Melur sambil ngobrol tentang kebiasaan membuang sampah sembarangan atau material di masa depan pengganti plastik. Dia suka gerakan jari-jari Melur di balik sarung tangan plastik berwarna kuning saat memungut sampah, dan dengan siasatnya selalu berhasil melihat jari-jari indah itu, ketika Melur membuka sarung tangan plastik dan melepas ikatan rambut sambil mengibaskan beberapa kali ke kiri dan ke kanan.

“Aku cinta kau Melur,” katanya di dalam hati setiap kali melihat pertunjukan anggun itu. Sekali waktu mereka berdua jalan pulang dari kampus sehingga dia jadi tahu tempat kos Melur. Diliriknya Melur yang berjalan di sebelah kirinya, menganggumi ujung hidungnya yang agak naik ke atas, dan lesung pipit kecilnya yang sesekali terlihat bersama senyumnya yang manis.

“Sampai Minggu depan ya Tumpal,” kata Melur renyah waktu mereka berpisah di tempat kos. Sejak itu, beberapa kali dia sengaja menyeberang kampus untuk makan siang di kantin Fakultas Sastra, berharap bertemu Melur. Di sana ternyata banyak sekali Melur-Melur, yang tak kalah cantiknya, tak kalah riangnya, tak kalah gesitnya, tapi jelas bukan Melur-nya. Ada yang berhidung mancung tapi ujungnya tak naik,banyak yang punga lesung pipit juga tapi terlalu besar, dan senyum mereka liar.

Dia juga sengaja jalan kaki melewati jalur tempat kos Melur menuju kampus walau lebih jauh, demi harapan bertemu Melur. Namun jalan bersama tak pernah terulang lagi.

Didit menyarankan, “Ya begitu sampai, ketemu dia, langsung bilang, ‘Melur nanti pulang bareng ya.’ Mudah dibilang, gampang direncanakan, namun sulit diwujudkan. Beberapa kali dia memang langsung mendekati Melur, yang segera menyapa, “Selamat Pagi Tumpal, semangat kan,” dan belum sempat dia membalas, Melur sudah sibuk membagi-bagikan keranjang sampah sambil menyapa kawan-kawan lain, “Semangat ya kawan-kawan.”

Kali yang lain, Melur sedang sendirian beres-beres , tapi mulutnya beku tak bergerak. Begitu di depan Melur, yang ke luar malah, “Selamat pagi Melur. Siap semangat.” Dan sepanjang pagi itu, sambil memunguti sampah-sampah, dia tak habis-habisnya mengutuk dirinya.

Dan datanglah Arief, yang tiap detik menempel ke Melur. Diaturnya sekali waktu sehingga dia bisa mengamati keduanya dan kesal menyaksikan Arief dan Melur tertawa-tawa lepas sambil memunguti sampah. Hari itu juga dilihatnya Melur pulang digonceng Arief, sementara dia terpaksa jalan kaki sendirian, sengaja tak mengayuh sepeda karena bermimpi bisa bareng jalan.

Gelisah, kesal, dan panas, dia putuskan datang ke tempat kos Melur pada satu malam Minggu. “Sudah jelaslah maknanya, malam Minggu apalagi artinya,” tegasnya. Pada Sabtu sore itu dia mandi, mengenakan kombinasi pakaian kesukaan: jins katun coklat muda dan oblong abu-abu, untuk meningkatkan rasa percaya diri. Sekitar pukul setengah delapan lewat, dia kayuh sepedanya, parkir tak jauh dari tempat Melur, disambung jalan kaki untuk tiba sekitar pukul 08.00, dengan perkiraan Melur sudah selesai makan malam.

Tapi di luar tempat kos Melur sudah ada motor Arief dan dia panik, buru-buru berbalik, khawatir sempat terlihat oleh mereka berdua untuk dijadikan lelucon. Malam itu, dia beli dua botol Bir Bintang, dan ditenggaknya di kamar kos, untuk melupakan kemarahan kepada seluruh jagat raya. Bangun esok pagi, kepalanya terasa sakit dan diputuskan tak datangan lagi ke kelompok pembersih lingkungan.  

Ada belasan malam gelisah yang harus dilewatinya dan belasan hari menghilang dari kampus, sampai Didit membentak, “Melur cantik oke, tapi banyak yang lebih cantik lagi di luar sana. Bangun kau.”

Bentakan yang berhasil melupakan Melur dan diapun mulai mencoba lagi namun terus gagal lagi. Sekali waktu dia berkenalan dengan pramugari Indonesia saat terbang ke San Fransisco naik Singapore Airlines, dan mereka berdua banyak bertemu untuk makan siang, makan malam, maupun belanja . Dia bahkan terbang  ke Singapura di akhir pekan, jika Rindang, yang tinggi langsing dengan rambut halus sebahu, sedang pas libur. Belakangan Rindang minta cium setiap kali berpisah, dengan suatu kali ciuman yang dalam dan lama.

Tapi tak ada rasa, juga tak ada yang tersisa.

Dan pelan-pelan keduanya menyadari sebenarnya hanya saling menganggumi pencapaian masing-masing, tanpa getaran di hati.

“Hebat sekali ada orang Indonesia kerja di SQ, kan standarnya tinggi,” komentarnya.

“Jadi Bang Tumpal harus rutin terbang ke Lembah Silicon. Wah saya ikut bangga jadi anak Indonesia,” tutur Rindang.

Keduanya terus berteman dan dia datang ke resepsi perkawinan Rindang dengan pria Singapura yang tinggi dan kekar, ikut gembira melihat Rindang senang.

Pernsh pula dia dikenalkan teman sekantornya dengan Martha, seorang dosen cerdas, berambut pendek, yang bersemangat, sebaya, dan juga masih sendiri. Keduanya banyak bersama, entah itu nonton film, ke konser musik, atau makan malam tapi tetap tak mampu menerobos lapisan rasa, selain menguat semata di akal. Marta tak minta cium, tapi minta peluk setiap kali berpisah setelah ngobrol panjang berjam-jam tentang banyak hal, dari kecerdasan buatan sampai pemanasan global. Namun ruang hampa yang memisahkan hati mereka makin terasa.

Maka keduanya sepakat untuk bersahabat, dan di satu kumpulan keluarga Marta, sampai perlu ada pengumuman, “Tumpal ini sahabatku, bukan pacar.” Dan orang-orang tampak iba melihatnya, yang telah dicampakkan oleh seorang perempuan. Dia tak suka rasa iba itu tapi tak bisa berbuat apapun. Dan kembali dia mengulang pengalaman yang sama, senang melihat Marta ceria saat duduk di pelaminan bersama suaminya, sesama dosen dari universitas berbeda.

“Jangan nyerah,” kata Didit dan dia diam tak menanggapi, sambil menyimpulkan ‘bukan menyerah’. “Ini nasib. Kujalani saja hari-hari dan malam-malam sendiriku,”putusnya di dalam hati, menjelang tidur pada satu malam Minggu, ketika turun hujan lebat.

Begitulah.

Malam dan harinya berlalu datar tanpa gangguan, tanpa drama, tanpa rasa, sampai suatu hari, seorang teman dari kelompok pembersih lingkungan dulu mengirim pesan WA: “Berita duka, suami Melur wafat. Kita akan berkumpul di rumah duka. Mohon kehadiran.”

Kagok rasanya dia mengenang kembali Melur.

Lama sudah dia melupakan Melur, seperti saran Didit, tapi berita itu segera pula mengangkat kembali semua kenangan indah dan perih. Mengenang Melur dan Arief tertawa lepas bersama yang memicunya menggugat takdir, “Kenapa aku tak bisa bercanda Tuhan.” Juga ada rasa menyesal untuk bersepeda, walau dulu jelas merupakan pilihan sadarnya, “Coba aku juga dulu naik motor.” Mendadak dia menyesal menjadi dirinya sendiri.

Malam yang gelisah, kesal, dan panas kembali menyerang. Dia tak mau menjadi pengecut yang datang berpura-pura mengucap duka kepada Melur namun dam-diam berharap membina lagi cinta yang tak terucap. Tapi dia juga tak mau menjadi seonggok mesin berbentuk manusia yang tak punya rasa untuk berbagi duka.

Diteleponnya Didit.

“Ya kau datang. Udah itu saja dulu. Kalaukau masih suka sama, pinggirkan dulu.”

“Tapi aku tak mau munafik.”

“Nggak bakalan ada yang tau kau suka dia. Siapa yang bisa baca isi hatimu. Jadi datang kau. Yang lain-lain, nantilah itu”

“Kalau dia tahu?”

“Mana mungkin dia tau, kau tak pernah bilang ke dia dan tak adapun tanda-tanda yang dia lihat kalau kau suka dia.”

Banyak sekali, bantahnya dalam hati. Aku sengaja kerja dekat-dekat dengan dia, aku mengamati jari jemarinya, aku nikmati gerakan rambutnya, aku jalan berdua bersamanya, dan aku lewati malam-malam tanpa tidur karena dia. “Itu jelas sekali,” tuturnya dalam hati, tapi ditutupnya telepon, “Oke bro. Kamsia.”

Pada malam tanpa tidur itu, dia panik mencari secarik kertas dan sebuah pulpen di apartemennya di tingkat delapan. Tak mudah ternyata, tapi ditemukannya juga satu buku notes kecil dengan sampul sudah berdebu dan pinsil di punggung buku. Duduk di sofa yang menghadap ke jendela kaca dengan pemandangan lautan lampu kota, diliriknya jam, pukul 04.35. Dan dia menulis,  hanya satu kali.

Malam ini aku kembali bermimpi
Endapan rindu yang datang lagi
Luluh hatiku tak mau pergi
Untaian rindu yang terus berapi
Rasa cintaku, Melur, ternyata tak bertepi

Siangnya, dia akhirnya ikut dalam barisan teman-teman lamanya yang antri untuk menyalam Melur. Terdengar jantungnya bergetar keras, darahnya mengalir kencang, dan mulutnya kembali membeku, meyakinkannya bahwa dia tak akan mampu mengucapkan “Aku ikut berduka dan hatiku selalu bersamamu Melur,” yang sudah disiapkan, sementara kertas berisi puisi berada dalam genggaman kuat tangan kiri, di dalam sakunya.

Ketika tiba gilirannya, Melur tampak kaget “Tumpal…, lama sekali kita tidak bertemu. Terima kasih sudah datang. Senang kawan-kawan Minggu pagi masih ingat aku.” Dia mengangguk-angguk, menyadari masih ada barisan panjang di belakangnya, tak enak berlama-lama. “Ikut berduka Melur,” dan dia tarik tangan kirinya ke luar dari saku, ikut menggenggam tangan Melur.

Dia memilih tinggal lebih lama, mengamati Melur dari jauh, dengan selendang hitam menutup kepala namun tak sanggup mengaburkan ujung hidungnya yang naik. Sesekali dilihatnya jari jemari Melur, yang masih gemulai dan gesit seperti dulu, mengatur sana sini. Dinikmati pertunjukan itu, dengan jantung berdebar dan hati bergetar. Cintaku padamu, Melur, tak bertepi.

Malamnya dia telepon Didit dan diceritakan semuanya, termasuk syair untuk Melur.

“Kau kasih ke dia? Gila kau!.”

Dia diam tak menjawab.

Didit meneruskan keterkejutannya, “Gila kau bro, dia masih berduka. Kau mestinya sabar sikit. Hancurlah kau, pasti dianggapnya kau orang gila.”

“Sekali berarti lalu mati,” jawabnya, mengingat salah satu pelajaran di kelas bahasa dulu.

Malam itu dia tertidur amat ringan, setelah melepas beban berat yang dipanggul selama belasan tahun.  

***

 

Temukan kami di sini!

Leave a Comment