Penulis: Widyawati Puspita Dewi
Penutur: Widyawati Puspita Dewi
Musik: Endah Fitriana
Ibu Untukku
Aku belajar membaca hatimu dengan segala detak kasihmu yang mengaliri setiap napas hidupku. Bersayap, menebar kelopak bintang untuk menjagai dan mewarnai serat hari-hari. Membiarkan langit melindungi harapan karena langit tak pernah punya titik. Dan udara memberi tenaga untukku tanpa meminta.
Seperti saat matahari memberikan nadinya dan bulan menciptakan doa, begitulah ibu menyerahkan hidupnya untuk menjadikan aku seorang yang berhati, bisa mengerti tentang kasih dan cinta.
Dengan sederhana, ibu mengajarkan padaku bagaimana menghargai setiap yang baik sampai kekeindahan yang patah. Di semua warna, ibu tak mengijinkan aku diam seutuhnya. Sesulit apa melihat warna pada air, di doanya aku pun dapat merasakan. Dibuatnya buku dan pengetahuan buatku. Serta dianyamnya kebaikan yang seimbang dengan keajaiban. Diraciknya semua bahan dan bumbu kehidupan sehingga aku dapat menikmati apa pun rasanya dan bagaimana hikmahnya. Antara siang dan malam tak ada batas menjalin tangannya. Ada ketika minta, ada ketika tak meminta.
Jika terkadang petir menjadikan hujan, itua dalah proses, begitu selalu katamu. Mengapa tak saja bijaksana menikmatinya. Tanpa amarah tanpa merah. Karena apa yang telah terjadi kemarin bisa beribu makna untuk masa nanti. Tahu, jika hari dalam hitungan yang sempurna. Termasuk dalam pembelajaran tentang hidup, tentang akar yang mengalirkan napas pada batang, daun dan bunga.
Ketika matahari telah berganti entah untuk keberapa, tiba-tiba sinarnya tergeletak ke tanah. Sekuat tenaga, aku berusaha mencari kupu-kupu putih bersayap lebar untuk menopangmu. Tak mampu. Bukannya membentang taman untuk menyandarkanmu, tapi sering kali aku yang membakar daun hanya karena aku merasa lelah membawamu pada kesembuhan.
Bergumam tanpa suara, ibu menyembunyikan kesahnya, mengubur ekspresinya dalam pusaran mimpi yang panjang. Walau begitu pedihnya kesakitan itu mengaliri raga dalam hirupannya. Belum lagi sempat kubawa istana biru untukmu, tak ada lagi udara dalam sosokmu. Aku kehilanganmu. Meski katamu, kita tak berpisah, hanya tak mungkin lagi bertemu di sini.
Aku belajar membaca hatimu sampai detaknya telah terhenti. Begitulah caraku mencintaimu. Karena telah kuberikan segala cintaku dalam genggamanmu. Dan setengah napasmu ada dalam tubuhku. Terimakasih untuk kasihmu yang abadi, tak akan pernah henti.